
Alexa sangat senang saat mendapati adiknya datang untuk menjenguknya. Setelah sekian lama, akhirnya Marien bisa mengunjungi dirinya. Sudah lama tidak melihatnya, Marien tampak sehat-sehat saja meski badannya sedikit gemuk dari pada sebelumnya karena kehamilannya.
Begitu melihat adiknya, Alexa berlari mendekat untuk memeluk Marien. Beberapa saat tidak bertemu ternyata membuatnya rindu padahal selama ini dia tidak pernah peduli pada Marien apalagi merindukan dirinya.
"Bagaimana dengan keadaanmu? Apa kau dan bayimu baik-baik saja?" tanya Alexa.
"Aku baik, bagaimana dengan kakak?" Marien balik bertanya meski dia bisa melihat keadaan adiknya yang baik-baik saja.
"Kau bisa melihatnya, Marien. Aku baik-baik saja."
"Aku senang, kau terlihat sedikit gemuk," ucap Marien. Alexa memang jadi sedikit gemuk. Entah dia yang salah lihat ataukah karena sudah lama tidak bertemu kakaknya tapi dia memang merasa demikian.
"Hampir setiap hari pemuda gila itu datang dan membawakan makanan untukku, bagaimana aku tidak gemuk?"
"Wah, sepertinya kakak dan Steve mulai dekat. Aku sangat ingin mendengarnya," ucap Marien.
"Ayo kita berbincang sambil duduk, kau tidak boleh terlalu lama berdiri," ajak Alexa.
"Terima kasih, kakak. Aku membawakan makanan kesukaanmu. Ayo kita makan bersama."
"Lagi-Lagi makanan, bagaimana aku tidak gemuk?"
Marien terkekeh, dia jadi sangat penasaran dengan hubungan Steve dan Alexa. Dia yakin Steve pasti tidak akan mundur begitu saja dan dia harap hubungan mereka sudah ada kemajuan.
"Apa kau hanya datang sendirian? Mana suamimu?" tanya Alexa karena hanya ada Marien saja.
"William menunggu di luar, dia bilang tidak mau mengganggu waktu kita berdua."
"Baiklah, bayimu baik-baik saja bukan?" Alexa menatap perut adiknya yang membesar. Seandainya bayinya masih ada, perutnya pasti akan sebesar itu. Ekspresi wajah Alexa terlihat sedih, dia bahkan menunduk dan melihat perutnya.
"Kakak, kenapa kau jadi sedih? Apa kau tidak suka aku datang?" tanya Marien.
"Bukan, bukan begitu Marien. Jangan salah paham," pinta Alexa.
"Lalu, kenapa kakak jadi sedih seperti itu?"
__ADS_1
"Aku hanya sedih saja. Jika bayiku masih hidup, mungkin perutku sudah sebesar itu dan mungkin saja bayiku sebentar lagi akan lahir."
"Kakak, apa yang telah terjadi jangan terlalu disesali. Coba kita lihat dari sisi baiknya, jika kakak melahirkan anak Zack, aku rasa Zack akan merebutnya lalu tidak membiarkanmu bertemu dengan anakmu nanti. Seharusnya kau tahu bagaimana dengan watak Zack. Bukankah dia menikah lagi agar mendapatkan anak laki-laki? Bagaimana jika yang kau lahirkan adalah anak laki-laki? Dengan sifat Zack, dia akan memisahkanmu dari anakmu dan itu lebih menyakitkan lagi. Lagi pula sudah ada yang mengatur semua itu, jadi jangan terlalu bersedih dengan apa yang telah terjadi. Yakinlah, di setiap kejadian buruk yang tidak telah kita alami pasti telah menunggu hal indah yang tidak kita ketahui."
"Seandainya aku memiliki pikiran terbuka seperti dirimu, Marien. Aku sungguh iri denganmu, kau benar-benar seperti ibumu yang baik hati."
"Daddy telah mengatakan hal ini padaku. Sekarang makanlah dan katakan padaku bagaimana hubunganmu dengan Steve?"
"Hubungan apa? Kami tidak memiliki hubungan apa-apa. Dia hanya pemuda tidak waras yang datang setiap hari dengan makanannya yang bisa membuat aku semakin gemuk!" ucap Alexa dengan wajah sedikit tersipu.
"Kenapa kakak menganggapnya tidak waras? Apa karena dia ingin menikahi kakak?" goda Marien.
"Apa? Jangan bercanda, Marien!"
"Kenapa? Bukankah kakak menyukai anak-anak? Kakak tidak akan mendapatkannya jika menjadi seorang biarawati tapi kakak akan mendapatkannya jika kakak menikah!"
"Tapi aku sudah memutuskan!" ucap Alexa.
"Aku tahu yang kau pikirkan, Alexa. Tapi untuk menebus dosa tidak selalu harus menjadi biarawati. Hiduplah lebih baik, dan jangan mengulangi kesalahan yang sama. kau bisa melakukannya lalu membangun keluarga barumu dengan orang yang tepat. Percayalah, setiap orang berhak bahagia dan kau pun berhak! Tidak perlu menghukum diri hanya untuk menebus dosa."
"Ayolah, jangan menghakimi diri seperti itu. Steve pemuda yang baik, apa kau mau membuatnya kecewa? Kesempatan tidak datang dua kali, Kakak. Jangan sampai nanti dia jadi bosan karena kau selalu menolak lalu dia pergi barulah kau menyadari jika kau membutuhkan dirinya tapi ketika kau sadar, dia sudah pergi. Sebaiknya tidak menolak niat baik seseorang dan percayalah padaku, jika kalian berjodoh maka kalian akan bersama apa pun caranya tapi dari pada menyesal akibat ego yang selalu menganggap diri tidak pantas, bukankah sebaiknya kau menerima dirinya? Itu jauh lebih baik, jadi cobalah belajar untuk menerima dirinya."
Alexa tersenyum tipis, lagi-lagi nasehat yang diberikan oleh adiknya sangat benar. Selama ini dia terlalu tenggelam akan dosa yang telah dia lakukan, sepertinya sudah saatnya dia mengikuti apa yang dikatakan oleh adiknya tapi waktu enam tahun tidaklah singkat.
"Baiklah, aku akan mencobanya," ucap Alexa.
"Itu baru kakakku, sekarang makan. Jangan sampai waktu yang ada habis untuk kita berbincang sebelum makanan ini tersentuh sama sekali!"
"Baiklah, adikku datang memberi aku begitu banyak nasehat jadi aku harus mendengarkannya!"
"Kakak memang harus mendengarkan!"
Mereka berdua tersenyum, hubungan kakak adik yang jauh lebih baik dari pada sebelumnya bahkan mereka sangat akrab sebagai saudara. Alexa menikmati makanan yang dibawakan oleh adiknya. Dia rasa jika dia selalu dikunjungi seperti itu maka waktu enam tahun yang harus dia jalani di penjara pasti tidak akan terasa.
"Ngomong-Ngomomg, bayimu laki-laki atau perempuan?" tanya Alexa.
__ADS_1
"Perempuan, sesuai yang diinginkan oleh mertuaku."
"Wah, mereka pasti sangat senang. Kau sangat beruntung dapat menikah dengan William."
"Yeah, aku memang beruntung," ucap Marien.
"Siapa yang beruntung?" tanya William yang baru saja masuk dan tanpa sengaja mendengar percakapan mereka berdua dan dia masuk bersama dengan Steve yang baru saja datang.
"Adikku, dia beruntung dapat menikah menikah denganmu."
"Tidak, yang sangat beruntung adalah aku karena dia mau menikahi aku yang saat itu dianggap sebagai pecundang hanya karena kedua kakiku yang lumpuh!"
"Sudah, tidak perlu dibahas secara berulang. Sepertinya kita sudah harus pergi karena Steve sudah datang," Marien hendak beranjak dari tempat duduk dan pada saat itu, William buru-buru membantu.
"Apa sudah selesai?" tanya William.
"Yes, kita tidak boleh mengganggu mereka berdua!"
"Marien!" Alexa melotot agar adiknya tidak menggodanya lagi.
"Ingat dengan nasehatku, Kakak. Gunakan waktu yang ada," ucap Marien.
"Aku tahu!" jawab Alexa.
Marien dan William pamit pergi, hari ini Steve tidak mendapatkan tatapan tajam lagi dari Alexa. Meski pemuda itu tidak mengatakan apa pun dan hanya duduk di depan Alexa saja tapi hal itu cukup membuat Alexa salah tingkah apalagi Steve tak memalingkan pandangannya. Alexa menunduk, dengan wajah tersipu. Semua gara-gara adiknya sehingga membuatnya jadi seperti itu.
"Nasehat apa yang kau berikan pada kakakmu?" tanya William ketika mereka sudah berada di luar.
"Sedikit nasehat untuk kakakku agar dia mau menerima Steve."
"Sepertinya kau benar-benar ingin menjodohkan mereka."
"Tentu saja, sebab itu kau harus mendukung dan tidak boleh melarang Steve untuk pergi menemuinya!" pinta Marien.
"Perkataan istriku adalah perintah, sekarang waktunya pergi membeli barang-barang untuk bayi kita!"
__ADS_1
Marien mengangguk dan tersenyum. Semoga dengan nasehat yang dia berikan, Alexa benar-benar membuka hatinya dan tidak menyia-nyiakan pemuda baik seperti Steve karena kesempatan baik itu, sulit untuk terulang untuk kedua kalinya.