
"Ada apa denganmu hari ini, William?" pertanyaan itu terlontar dari Marien yang berusaha memundurkan tubuhnya ke sisi bathtub yang lain. Kedua tangan sedang menutupi dadanya karena dia takut terlihat.
"Ada apa? Tidak ada apa-apa!" jawab William yang sudah berada di dalam bathtub yang tidak cukup besar itu.
Marien mengira William tidak akan bisa masuk ke dalam bathtub dengan keadaannya tapi tanpa dia duga, pria itu bisa melakukannya tanpa bantuannya oleh sebab itu, William sudah bersama dengannya di dalam bathtub.
"Ini sudah di luar perjanjian kita, William!" Marien bersandar di sisi bathtub dengan kedua tangan yang masih menutupi dadanya. Bagaimana dia keluar nanti? Dia tidak mungkin memperlihatkan tubuh polosnya pada William karena dia malu apalagi dia belum pernah menunjukkan tubuhnya pada pria mana pun.
"Aku rasa tidak, kita hanya sepakat untuk tidak berhubungan badan tapi soal madi bersama sepertinya tidak ada di surat perjanjian.
"Serius, ada apa denganmu hari ini? Kau benar-behar bersikap aneh!" Marien benar-benar tidak mengerti dengan sikap William yang seperti itu.
"Kemarilah, Marien. Jangan takut seperti itu. Aku tidak akan memakanmu. Lagi pula kau sudah pernah menjalin hubungan, bukan? Aku rasa ini bukan pertama kali untukmu melakukan hal seperti ini."
"Me-Memang bukan!" Marien mengangkat wajahnya tinggi. Jangan sampai William menertawakan dirinya padahal dia tidak pernah seperti itu sebelumnya.
"Jika begitu kemarilah, aku tidak akan menyentuh apa pun!"
"Aku akan percaya jika kau meletakkan kedua tanganmu ke atas bathtub!" ucap Marien.
"Oke!" William mengangkat kedua tangannya dan meletakkannya ke sisi bathtub seperti yang diinginkan oleh Marien, "Kedua tanganku sudah berada di sana sekarang!" ucapnya.
"Tutup matamu!" pinta Marien lagi.
"Oke!" William pun menutup kedua matanya.
"Awas jika mengintip!" Marien mulai mengancam dan bergerak maju. William dapat merasakan pergerakan airnya yang menandakan jika Marien sudah bergerak mendekatinya. Jantung Marine berdegup, wajahnya merona karena dia sangat malu. Dia harap William tidak melakukan hal yang aneh karena dia tidak mau namun satu tangan William yang meraih pinggangnya membuatnya terkejut.
"Will, jangan lupa dengan janjimu!"
"Aku hanya ingin memelukmu saja. Jangan takut seperti itu, aku bukan baj*ngan."
"Aku merasa kita tidak boleh seperti ini!"
"Kenapa? Apa kau punya pacar?"
"Tidak, tentu saja tidak punya!" jawab Marien.
"Jika begitu tidak akan ada yang melarang karena kita sama-sama tidak memiliki pasangan saat kita memutuskan untuk menikah!"
"Tapi pernikahan kita?"
__ADS_1
"Di atas kontrak," sela William, "Aku tahu itu dan aku rasa kau sudah mendengar keinginanku untuk menjadikan pernikahan kita berdua menjadi pernikahan yang nyata!"
"Tapi aku takut, William!" Marien memeluk dirinya, jujur dia takut hubungan mereka justru jadi hancur setelah mereka memutuskan untuk menjalin hubungan yang serius.
"Apa yang kau takutkan? Katakan padaku!" William menarik Marien mendekat dan mengusap bahu Marien dengan satu tangannya.
"Aku takut hubungan kita jadi kurang baik setelah kita memutuskan untuk berhubungan secara serius!"
"Kenapa kau harus takut seperti itu, Marien? Sekarang jawab pertanyaanku waktu itu, jika kita memiliki hubungan spesial satu sama lain, apa kau mau melanjutkan hubungan kita ataukah kau ingin mengakhirinya. Jawab aku, Marien. Aku ingin tahu jawabannya sekarang!" pinta William.
"Jika memang ada perasaan di antara kita, tidak menutup kemungkinan kita akan melanjutkan hubungan kita, William. Tapi untuk saat ini, kita tidak memiliki perasaan satu sama lain jadi aku takut hubungan kita jadi hancur berantakan!"
"Itu sebabnya, aku akan membuatmu jatuh cinta padaku!" William kembali mengusap bahu Marien lalu mendaratkan kecupan di sana.
"La-Lalu bagaimana denganmu?" Marien kembali merasa gugup karena ciuman yang William berikan di bahunya.
"Aku sudah pasti akan jatuh cinta pada wanita seperti dirimu jadi, aku akan membuat kau jatuh cinta padaku dan asal kau tahu, akan berat dicintai oleh aku karena aku akan mencintaimu sampai seumur hidup jadi bersiaplah!"
"Oh yeah, apa ini semacam peringatan?"
"Yes!" kedua tangan William sudah berada di pinggang William dan menarik Marien semakin mendekat, "Aku tidak akan memaafkan pengkhianatan oleh sebab itu, aku tidak akan pernah memaafkan Fiona meski dia memohon dan berlutut di bawah kakiku!" ucapnya lagi.
"Baiklah, tidak perlu membahas mantan. Apa mau aku sikatkan punggungmu?" Marien mengalihkan pembicaraan karena dia rasa sudah cukup pembahasan mereka dan dia pun sudah mendapatkan jawaban atas sikap William yang aneh.
"Enak saja, bagian itu gosok sendiri!" Marien buru-buru pergi mengambil sabun yang ada di ujung bathtub lain. Tidak saja wajahnya yang memerah namun jantungnya tidak baik-baik saja.
Marien menggosok punggung Wlliam terlebih dahulu dan setelah itu, dia menggosok bagian depan yaitu dada William. Marien tidak berani menatap William secara langsung, jujur saja dia masih merasa malu apalagi William tak melepaskan pandangan darinya.
"Aku kira ada apa dengan sikapmu hari ini," ucap Marien yang mencoba mencairkan suasana agar dia tidak terlalu gugup.
"Kenapa kau mengintip aku tadi?" William merapikan rambut Marien dan memainkan jarinya di wajah Marien dengan perlahan.
"A-Aku kira kau alien yang sedang menyamar!"
"Alien? Apa ada yang seperti itu?"
"Entahlah, itu hanya pikiran konyolku saja karena kau sangat aneh hari ini!"
"Aku merasa tidak boleh menyia-nyiakan wanita baik seperti dirimu jadi aku pikir, aku harus mempertahankan dirimu. Jangan sampai aku menyesal setelah kau pergi dariku!"
"Tapi aku tidak sebaik itu, Will. Tolong jangan tertipu dengan apa yang aku lakukan karena aku tetap memiliki banyak kekurangan. Aku takut saat aku berbuat salah suatu saat nanti, kau kecewa atas apa yang aku lakukan!"
__ADS_1
"Hal itu tidak akan terjadi, Marien."
"Tentu bisa, terkadang satu kesalahan yang kita lakukan akan menutup semua kebaikan yang telah kita lakukan sehingga orang yang kita sakiti hanya mengingat satu keburukan itu saja tanpa mengingat kebaikan yang telah diberikan dan ini adalah hukum alam!"
"Aku tidak seperti itu, aku lebih banyak memiliki kekurangan dan memiliki kesalahan!"
"Apa kau berjanji tidak akan menghakimi aku jika aku membuat sebuah kesalahan?"
"Tentu saja tidak!" William menarik Marien mendekat lalu memeluknya. Aku tidak akan melakukan hal itu dan melupakan kebaikan serta perhatian yang telah kau berikan. Jika aku melakukannya, kau bisa mengutuk aku!"
"Terima kasih, aku harap hubungan kita tetap seperti ini, Will. Aku bukan orang yang suka memiliki hubungan rumit apalagi pertengkaran yang tiada henti."
"Aku pun bukan orang yang suka bertengkar oleh sebab itu, aku ingin kau mengatakan padaku jika ada sesuatu yang kau inginkan dan jika ada yang mengganggumu. Meski kedua kakiku seperti ini, tapi aku harap kau mempercayai aku dan mengandalkan aku."
"Tentu saja, kita sudah terlalu lama berendam. Aku rasa sudah saatnya kita menyudahi mandi kita!" Marien melepaskan pelukannya namun William menahan lengannya.
"Tunggu, kau belum menjawab apakah aku boleh mencium bibirmu atau tidak!" ucap William.
"Se-Sebaiknya kita lakukan setelah kita memiliki perasaan satu sama lain!" ucap Marien.
"Baiklah, pada saat itu tiba kau tidak boleh mengelak lagi. Kau mengerti?"
"Tentu tapi sekarang tutup kedua matamu!" pinta Marien.
"For what?"
"Aku mau mengambil handuk jadi tutup kedua matamu!" pinta Marien.
"Kenapa? Biarkan aku melihatnya!"
"Ti-Tidak boleh! Kau boleh melihatnya setelah kita memiliki perasaan satu sama lain!" lagi-lagi Marien memberikan alasan yang sama.
"Baiklah, cukup simple. Berarti aku akan mendapatkan semuanya setelah kita saling mencintai!"
"Apa artinya itu?"
"Aku sudah menutup kedua mataku, Marien!" William sudah menutup kedua matanya.
"Awas jika mengintip, semua kesepakatan batal!" ancam Marien.
"Wow... ancamanmu sangat menakutkan, Nyona!" William dapat merasakan air yang bergerak bertanda jika Marien sedang beranjak dari bathtub. Rasanya ingin mengintip tapi dia tahu itu bukan hal yang baik karena Marien akan kecewa padanya.
__ADS_1
Marien buru-buru mengambil handuk dan memakainya. Meski dia tidak mengharapkan kedekatan mereka yang seperti itu tapi William menepati janjinya dan tidak melakukan hal yang tidak menyenangkan. Keinginan William yang ingin hubungan mereka menjadi serius memang sangat mendadak, entah apa yang membuat William menginginkan hal itu tapi entah kenapa dia tidak keberatan sama sekali.
Marien segera membantu William meski agak sulit karena pria itu sangat berat baginya tapi dia pun sudah terbiasa dengan kegiatannya sebagai istri William bahkan dia sudah menikmati kegiatan itu dan sudah terbiasa dengan apa yang sedang dia lakukan.