
Meski harus mendapatkan malu saat hari pernikahannya dan meskipun Zack tidak datang dan sulit dihubungi, namum Alexa tidak peduli. Selagi pria itu berstatus sebagai suaminya dia pasti akan datang. Dia sudah mendengar dari ayahnya jika istri pertama Zack datang ke acara pesta lalu membuat kekacauan dan dia tidak peduli dengan hal itu selain kejadian memalukan yang dia alami karena kejadian itu bagaikan mimpi buruk yang tak akan terlupakan.
Semua pasti menertawakan dirinya, kejadian memalukan yang tidak bisa dia lupakan untuk seumur hidupnya. Siapa pun pelakunya tidak akan luput. Untuk mengobati emosinya yang tidak stabil akibat rasa malu, Alexa menghibur diri dengan membuka hadiah yang dia dapatkan dari para sahabatnya.
Beruntungnya dia sudah mendapatkan hadiah dari Zack sebelum mereka mengucapkan janji suci. Sebuah rumah mewah, perhiasan, mobil mewah serta sejumlah uang yang dia minta sudah dia dapatkan. Oleh sebab itu jika Zack tidak kembali pun dia tidak peduli. Lebih bagus lagi pria itu tidak kembali, dengan begitu dia tidak perlu melayani pria tua itu.
Hadiah yang dia dapatkan setidaknya membuatnya tersenyum dan melupakan kejadian buruk yang dia alami karena hadiah yang dia dapatkan sangat memuaskan kecuali hadiah dari Marien yang tidak dia buka sama sekali. Dia menganggap itu hanya sampah yang tidak perlu dia lihat.
"Aku pulang, Dad!" Marien yang baru tiba berteriak memanggil ayahnya. Alexa beranjak saat mendengar suara adiknya, dia pun terlihat tidak senang. Untuk apa Marien pulang ke rumah? Apa belum puas menertawakan dirinya?
Alexa melangkah keluar, dia terlihat tidak senang dengan keberadaan Marien karena dia berpikir Marien pulang untuk menertawakan dirinya.
"Untuk apa kau pulang?" tanya Alexa dengan sinis.
"Aku pulang ke rumah ayahku, apa salah? Aku rasa kau tidak berhak melarang aku karena ini bukan rumahmu!" Marien melewatinya setelah berkata demikian, dia malas berdebat karena dia pulang hanya untuk melihat keadaan ayahnya saja.
"Kurang ajar! Kau tidak pulang untuk mengejek aku, bukan?" teriak Alexa.
"Aku tidak seperti kau, Alexa. Aku bukan orang yang suka mengejek jadi aku kembali bukan untuk melihat keadaanmu!"
"Tunggu, Marien. Semua yang terjadi gara-gara kau dan suamimu, bukan?Aku tahu tidak ada yang lain selain kalian berdua!" Alexa kembali berteriak sambil mengikuti langkahnya.
"Bukan aku, jangan asal menuduh jika tidak ada bukti. Aku tidak pernah melakukan hal licik meski kau bermaksud melakukan perbuatan jahat padaku!"
"Jangan sembarangan menuduh, aku tidak melakukan apa pun!" sangkal Alexa.
"Berhenti kalian berdua! Apa kalian tidak bisa akur untuk sebentar saja?" teriak ayahnya yang baru saja keluar dari kamar setelah mendengar pertengkaran kedua putrinya.
"Dia yang memulai terlebih dahulu, Dad. Aku pulang untuk melihat keadaanmu tapi dia menuduh aku ingin mengejek dirinya. Lagi pula Daddy yang meminta aku pulang jadi aku pulang!" ucap Marien.
"Tutup mulutmu! Kau pulang untuk menertawakan aku dan melihat keadaanku apakah menyedihkan atau tidak karena semua yang terjadi padaku adalah ulahmu dan suamimu!" tuduh Alexa.
__ADS_1
"Apa itu benar, Marien?" tanya ayahnya.
"Jangan percaya, Dad. Aku tidak ada hubungannya. Bagaimana aku bisa melakukannya? Aku sibuk mencari pekerjaan. dari pada Daddy mencurigai aku, kenapa Daddy tidak mencari tahu apa yang hendak dia lakukan padaku di pesta pernikahannya itu?" Marien bersedekap dada, dia ingin lihat siapa yang akan menang dari debat itu.
"Apa itu, Alexa? Apa kau hendak mencelakai adikmu?" kini ayahnya memandangi Alexa dengan ekspresi curiga.
"Aku tidak melakukan apa pun, Daddy jangan mempercayai perkataannya!" jawab Alexa.
"Tidak perlu menyangkal karena aku tahu kau hendak memberi aku obat tidur dan obat per*angsang lalu menjual aku pada seorang baj*ngan yang sudah menunggu di salah satu kamar di hotel itu dan aku tidak mungkin salah dengan hal ini!"
"Dari mana kau tahu?" teriak Alexa. Siapa yang memberitahu Marien akan hal itu? Tidak ada yang tahu rencana liciknya selain anak buahnya jadi siapa yang memberitahu Marien? Sial, dia yakin pasti ada seseorang yanh berperan di belakang Marien dan rasa curiganya pada suami Marien semakin kuat.
"Daddy lihat, dialah yang memiliki rencana jahat, bukan aku!"
"Sialan kau, Merien. Dari mana kau tahu akan hal ini!" teriak Alexa penuh emosi namun pada saat itu, Plaaakkk! Satu tamparan keras mendarat di pipinya. Alexa terkejut, begitu juga dengan Marien yang tidak menyangka jika ayahnya akan memukul Alexa.
Alexa memegangi pipinya yang panas, kedua mata menatap ayahnya dengan tajam. Dia pun melihat ke arah Marien yang telah membuatnya mendapatkan tamparan itu. Dia benci, benar-benar benci pada Marien yang seharusnya tidak boleh ada.
"Kau sudah keterlaluan karena kau sudah merencanakan hal licik itu pada adikmu. Apa kau sudah gila hendak menjebak adikmu sendiri dengan obat, Alexa?" tanya ayahnya dengan emosi tertahan.
"Bukankah Daddy yang menginginkan mereka untuk berpisah? Sejak awal aku menangkap Marien agar dia menikah dengan Zack tapi Daddy tidak marah tapi kenapa harus memukul aku?" teriak Alexa.
"Aku memang menginginkan mereka untuk berpisah tapi aku tidak memintamu untuk menggunakan cara licik seperti ini apalagi menggunakan obat terkutuk itu!" teriak ayahnya lagi.
"Jika begitu lakukan sendiri!" teriak Alexa dengan air mata mengalir akibat emosi.
"Dad, sudahlah. Kau tidak perlu berteriak seperti itu karena kau hanya akan memperburuk keadaanmu saja!" Marien mendekati ayahnya lalu menenangkan dirinya.
"Semua gara-gara kau!" teriak Alexa penuh emosi.
"Aku heran dengan kalian berdua, yang menikah aku dan yang menjalani kehidupan adalah aku. Meski suamiku cacat tapi dia cukup perhatian dan menyayangi aku. Soal uang bisa dicari bersama karena aku pun masih mampu untuk bekerja lalu untuk apa kalian ingin memisahkan aku darinya?"
__ADS_1
"Daddy hanya ingin kau menikah dengan pria yang jauh lebih baik, Marien!" ucap ayahnya.
"Pria normal dan kaya belum tentu sempurna Dad, dan bagiku dia adalah suami paling sempurna yang aku miliki meskipun dia cacat!"
"Kau hanya dimanfaatkan olehnya saja, bodoh. Dia akan mencampakkan dirimu saat dia sudah bisa berjalan!" ucap Alexa.
"Itu urusan belakangan, Alexa. Jika kami berjodoh makanhubungan kami akan terus berjalan maka tidak, maka kami tidak bisa memaksa untuk bersama!"
"Kau sungguh bodoh berpikir demikian. Sebaiknya kau tinggalkan suami cacatmu itu. Tidak perlu menipu diri, aku yakin kau tidak akan puas dengan permainannya di atas ranjang apalagi aku rasa kau yang harus selalu berperan!" kali ini Alexa mencibir sesuatu yang lebih sensitif lagi.
"Perkataanmu sungguh kejam, Alexa. Dia lebih kuat dari pria mana pun dan aku puas!" Marien memperlihatkan ekspresi wajah puasnya meski dia tidak tahu William sekuat apa.
"Cukup, pembicaraan ini sudah melenceng jauh. Tidak perlu berdebat lagi, kalian seharusnya akur sebagai saudara."
"Tidak butuh, aku tetap akan membalas kematian Mommy!" Alexa melangkah pergi setelah berkata demikian.
Marien menghela napas, dendam yang tak berkesudahan. Lupakan, sebaiknya dia mengajak ayahnya untuk makan karena dia membawa makanan untuk ayahnya.
"Apa Daddy sudah makan?" tanya Marien.
"Tentu, bagaimana dengan kehidupanmu dengan si pecundang itu?"
"Baik tapi jangan memanggilnya pecundang karena dia bukan pecundang!"
"Bagi Daddy dia adalah pecundang!"
"Lupakan, Daddy dan Alexa tidak jauh berbeda. Jika Daddy sudah makan, maka aku pergi karena aku sedang sibuk!" Marien meletakkan makanan yang dia bawa ke atas meja.
"Marien, ini juga rumahmu jadi pulanglah sesekali tapi tidak dengan pecundang itu!" ucap ayahnya.
"Jika rumah ini tidak menerima suamiku maka aku pun tidak mau kembali. Jaga diri Daddy baik-baik, aku pergi!" Marien melangkah pergi sedangkan ayahnya hanya bisa menggeleng. Kehidupan kedua putrinya benar-benar kacau dan dia akan tetap berusaha memisahkan Marien dari suaminya yang tidak berguna itu. Sebaiknya dia mencari seorang pria yang bisa merebut Marien dari suami cacatnya itu. Yeah... Ini bukan ide buruk yang bisa dia lakukan untuk putrinya.
__ADS_1