Suami Cacatku Yang Sempurna

Suami Cacatku Yang Sempurna
Pilih Kasih


__ADS_3

Gavin pulang ke rumah, meninggalkan Alexa yang masih tidak diijinkan pulang. Gavin pulang karena ada yang harus dia lakukan. Selain mandi dan berganti pakaian, Gavin pun ingin membuat sup untuk putrinya agar keadaan Alexa cepat pulih. Dia yakin Marien pasti akan mengabulkan permintaannya. Lagi pula dia tidak akan membiarkan Alexa berlutut di bawah kaki William karena hal itu bisa mencoreng pamornya apalagi Alexa akan menggantikan dirinya nanti.


Marien sudah mendapatkan orang yang tepat menjadi pendamping hidupnya meski dia sempat ragu dan menganggap suami Marien sebagai pecundang tapi dia tidak menduga pria yang dinikahi oleh Marien bukanlah pria biasa. Sekarang yang harus dia pedulikan adalah Alexa dan dia harus membantu Alexa untuk lepas dari Zack.


Marien yang sudah mendapatkan ide cemerlang menghubungi ayahnya. Dia akan memanfaatkan ayahnya untuk mencari kebenaran. Ayahnya bisa memanfaatkan dirinya jadi dia pun harus bisa memanfaatkan ayahnya. Sistem jual beli harus dia lakukan pada ayahnya yang lebih menyayangi Alexa.


Gavin yang sudah akan kembali ke rumah sakit menjawab panggilan dari Marien. Dia harap putrinya memberikan kabar baik dan mengatakan padanya jika William akan memaafkan Zack supaya Alexa tidak perlu berlutut di bawah kaki William. Dia pun berharap dengan kabar itu, Alexa dapat lepas dari Zack dengan mudah. Dengan begini mereka tidak memiliki hubungan apa pun lagi dengan Zack.


"Bagaimana, Marien. Kau sudah membicarakan hal ini dengan suamimu, bukan?" tanya Gavin dengan harapan besar.


"Aku ingin membicarakan hal ini secara langsung dengan Daddy. Di mana Daddy sekarang?"


"Daddy berada di rumah tapi sebentar lagi akan ke rumah sakit jadi pergilah ke rumah sakit. Kita bicara di sana."


"Baiklah, kebetulan aku ingin Alexa mendengarnya jadi aku akan ke rumah sakit!" ucap Marien.


"Mendengar apa maksudmu?" tanya ayahnya tidak mengerti.


"Kita bicarakan nanti!" Marien mengakhiri percakapan mereka. Dia tidak mau membicarakannya di telepon karena dia ingin berbicara langsung dengan ayahnya.


"Tolong antar aku ke rumah sakit, Steve," pinta Marien pada Steve. Marien dan William baru saja keluar dari rumah secara bersama-sama untuk pergi ke kantor.


"Apa ayahmu berada di sana?" tanya William.


"Yeah, itu lebih bagus karena Alexa bisa mendengar kebenarannya!"


"Nona, aku sudah menyiapkan popcorn. Apa tidak ada kabar mengenai kakak Nona itu?" tanya Steve.


"Kita sudah melewatkan tontonannya, Steve!" ucap William.


"Apa? Tidak mungkin!"


"Tontonan apa?" tanya Marien yang tidak mengerti dengan apa yang William dan Steve maksudkan.


"Sesungguhnya dia sangat ingin menonton kakakmu mendapat hukumannya dari Zack. Tapi kita sudah melewatkannya!"


"Ck, aku mengira kalian mau menonton apa. Tidak menyenangkan melihatnya dipukuli. Lebih baik kau mencari pacar dan mengajaknya pergi menonton untuk menghabiskan popcorn yang kau miliki."

__ADS_1


"Tidak ada yang mau denganku, Nona," ucap Steve.


"Tidak mungkin tidak ada yang tidak mau. Kau harus memberikan cuti padanya Will, agar Steve mencari pasangan hidup."


"Ide bagus, kau boleh mengambil cuti nanti Steve."


"Terima kasih, Sir. Setidaknya popcorn yang aku beli tidak sia-sia!"


"Jadi, kau akan pergi ke rumah sakit?"


"Yeah, aku harus melakukannya. Aku harap mendapatkan petunjuk untuk hal ini!"


"Semoga saja kau mendapatkan kebenarannya, Sayang."


Marien mengangguk lalu bersandar di lengan suaminya. Dia harap dapat mendengar kebenarannya sehingga perselisihannya dengan Alexa dapat selesai. Marien bersandar di lengan Willam sampai mereka tiba di rumah sakit.


"Hubungi aku setelah kau selesai!"


"Tentu saja!" Marien mengambil tas lalu mengecup bibir suaminya, "Aku pergi terlebih dahulu!" ucapnya.


"Semoga harimu menyenangkan, Sayang."


"Marien?" ayahnya memanggil ketika melihat putrinya.


"Dad, kebetulan. Aku mengira Daddy belum datang!"


"Kenapa kau datang sendiri? Kenapa suamimu sudah tidak menemani dirimu?"


"Sudah aku katakan suamiku sedang sibuk. Dia tidak punya waktu untuk berbasa basi dengan masalah keluarga kita!"


"Tapi dia sudah menikah denganmu jadi dia adalah bagian keluarga kita."


"Tapi bukan berarti dia harus tahu apa yang keluarga kita ributkan. Lagi pula aku tidak mau dia melihat perkelahianku dengan Alexa karena itu sangat memalukan!"


"Ck, kau benar-benar tidak mau suamimu menjadi bagian dari kita!"


"Bukan begitu, Daddy jangan asal bicara!"

__ADS_1


"Baiklah, sekarang katakan padaku apakah kau sudah berbicara dengan suamimu atau tidak?"


"Aku ingin kita membicarakan hal ini di hadapan Alexa karena ada yang aku inginkan dari Daddy!" Marien melangkah masuk ke dalam lift diikuti oleh ayahnya.


"Apa yang kau inginkan dariku?" tanya ayahnya.


"Kita bicarakan hal ini di ruangan Alexa!" dia tidak mungkin bertanya pada ayahnya di tempat itu karena banyak orang.


Gavin tidak bertanya lagi. Sepertinya Marien ingin meminta hal yang serius. Tidak jadi soal, akan dia berikan apa yang Marien mau apalagi Merien putrinya. Mereka tidak membicarakan apa pun sampai akhirnya mereka keluar dari lift dan berjalan menuju ruangan di mana Alexa masih menjalani perawatan.


"Bagaimana dengan keadaan Alexa, Dad?" tanya Marien basa basi.


"Dia butuh istirahat dan tidak boleh terlalu lelah. Daddy akan mengupayakan perceraiannya dengan Zack karena Daddy tidak sudi kakakmu bersama dengan pria tua yang ringan tangan itu!"


"Kalian berdualah yang salah sejak awal. Kalian hendak menjual aku pada pria tua itu. Apa yang sebenarnya Daddy pikirkan? Alexa mungkin ingin menghancurkan aku akibat dendamnya tapi Daddy? Daddy menyetujui ide gila Alexa bahkan Daddy tidak membela aku padahal aku diikat oleh Alexa dan akan dijual seperti barang dengan cek yang aku temukan di jas milik Zack. Seandainya waktu itu aku tidak melarikan diri, aku pasti sudah menjadi istri kedua Zack dan aku rasa Daddy tidak akan peduli seandainya aku yang mengalami kekerasan dan terbaring di rumah sakit!"


"Cukup, Marien! Kakakmu mengalami musibah dan tidak ada yang mau mengalaminya jadi jangan mengungkit apa yang terjadi. Lagi pula kau sudah mengambil cek satu juta dolar milik Zack jadi anggap saja sudah impas."


"Sungguh luar biasa, Dad. Benar-Benar luar biasa. Entah aku ini putrimu atau bukan, kau begitu pilih kasih antara aku adan Alexa!"


"Diam!" bentak ayahnya dengan nada tidak senang, "Jangan mengatakan hal yang tidak menyenangkan. Aku menyayangi kalian berdua jadi jangan berkata seolah-olah aku pilih kasih!"


"Memang seperti itu kenyataannya!"


"Cukup! Kakakmu sudah cukup stres akibat kehilangan bayinya jadi jangan memperburuk keadaan yang bisa membuatnya semakin stres. Untuk kali ini saja, Daddy harap kau tidak membuat keributan!"


Marien tersenyum dengan sinis, jadi dia yang membuat keributan selama ini? Sungguh lucu! Mereka sudah berada di depan ruangan oleh sebab itu mereka tidak berdebat lagi. Mereka masuk ke dalam bersama-sama tapi Gavin terkejut karena tidak mendapati Alexa berada di sana.


"Alexa!" Gavin berteriak memanggil dan mencari putrinya di kamar mandi.


"Alexa, di mana kau?" teriaknya lagi namun Alexa tidak ada.


Marien pun membantu ayahnya mencari keberadaan Alexa tapi informasi yang mereka dapat sungguh mengejutkan karena perawat mengatakan jika Alexa sudah pergi. Gavin tampak shock mendengar kepergian putrinya. Apa Alexa pulang ke rumah? Rasanya tidak mungkin lalu di mana Alexa? Gavin juga menghubungi putrinya tapi nomor ponsel Alexa benar-benar sudah tidak aktif lagi. Gavin jatuh terduduk dan terlihat sedih karena putrinya pergi begitu saja.


"Tidak perlu sedih seperti itu, dia pasti akan kembali lagi!" ucap Marien.


"Kenapa kau bisa berkata seperti itu? Dia kakakmu!"

__ADS_1


"Alexa sudah terlalu jahat, tapi Daddy masih saja mendukungnya. Sekarang katakan padaku, apa yang menyebabkan kematian ibunya? Jika Daddy tidak menjawab, maka Zack tidak akan pernah melepaskan Alexa karena aku akan meminta William untuk tidak melepaskan Zack oleh sebab itu, jawab pertanyaanku baik-baik.  Apa yang sebenarnya terjadi pada ibu Alexa?" Marien kembali mengulangi pertanyaannya.


Gavin memandangi putrinya dengan serius sedangkan Marien menunggu, menunggu ayahnya menjawab pertanyaannya dan dia harap ayahnya mau mengatakan kebenarannya.


__ADS_2