Suami Cacatku Yang Sempurna

Suami Cacatku Yang Sempurna
Tidak Mau Berpisah


__ADS_3

Meski harus menjalani hari yang berat namun Marien tetap bersemangat apalagi dia tidak perlu memikirkan masalah dokumen karena William yang akan membantunya untuk memperbaiki dokumen itu. Sekarang dia sangat berharap dia dapat menjalin kerja sama dengan Abraham Archiles agar perusahaannya yang berada di ambang kehancuran dapat terselamatkan.


Dia bukan orang yang akan menangis selama berhari-hari untuk kejadian yang dia alami. Lagi pula jika dia sudah terpuruk akibat kejadian itu maka musuhnya akan merasa menang. Jangan sampai dia ditertawakan, dia tidak sudi. Meski dia juga tidak suka bergantung dengan orang lain tapi dia sudah memiliki suami yang bisa dia andalkan.


Sebelum pergi ke kantornya, Marien melakukan tugasnya sebagai istri terlebih dahulu yang tak boleh dia lupakan. Keadaannya sudah lebih baik, dia pun terlihat bersemangat meski dia belum tahu bagaimana dengan keadaan kantornya.


"Hari ini kau tidak akan menangis lagi, bukan?" tanya William.


"Tentu saja tidak. Kemarin aku shock, oleh sebab itu aku membutuhkan pelampiasan. Tapi aku mengambil pelajaran yang sudah terjadi karena semua yang aku alami akan mendewasakan aku agar menjadi lebih baik lagi. Tidak saja lebih baik menjadi istrimu tapi agar aku bisa menjadi pemimpin yang lebih baik di kemudian hari."


"Aku suka dengan sikapmu, Marien. Kau selalu mengambil pelajaran untuk apa yang terjadi. Percayalah denganku, kau akan menjadi pribadi yang jauh lebih baik lagi."


"Terima kasih, Will. Aku akan menunjukkan pada Alexa, apa pun yang dia lakukan padaku, dia tidak akan bisa menghancurkan aku!"


"Bagus, kau memang harus seperti itu. Marien yang aku miliki tidak boleh lemah hanya karena satu kejadian karena akan banyak lagi kejadian tidak menyenangkan yang akan kau alami setelah ini. Jika hanya satu masalah saja kau sudah menyerah, maka kau tidak akan bisa menghadapi masalah yang lainnya."


"Terima kasih atas nasehatmu, Will. Aku beruntung memiliki suami seperti dirimu."


"Benarkah?" ini kali pertama Marien mengucapkan perkataan itu.


"Yeah, tapi aku sudah harus pergi. Entah seperti apa kantorku, aku takut untuk melihatnya."


"Hei!" William meraih tangan Marien, "Jangan khawatir akan hal itu. Semua bisa diperbaiki."


"Kau benar, aku sudah harus pergi!"


"Berhati-hatilah, Honey," William menariknya mendekat agar dia bisa mencium bibir Marien, "Hubungi aku jika terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan!"


"Pasti!" untuk sejenak, sebelum Marien pergi, Marien duduk di atas pangkuan William dan berciuman dengannya. Masalah apa pun, dia harus bisa. Waktu kebersamaan mereka tidak boleh dilewatkan sebelum mereka sibuk dengan kegiatan masing-masing karena mereka hanya bisa seperti itu saat pagi. Jika kedua kaki William sudah sembuh dan perusahaannya sudah stabil barulah mereka bisa menikmati waktu bersama sesering mungkin tapi untuk saat ini, mereka sedang berjuang bersama.


Marien tiba di kantornya dengan perasaan was-was. Bagian luar memang sudah terlibat bahus dan normal. Dia tahu bagian dalam belum karena dia belum membeli perangkat komputer tapi ketika dia masuk ke dalam, Marien terkejut melihat para karyawannya sibuk bekerja untuk memindahkan beberapa data.


"Apa yang terjadi, dari mana komputer ini kalian dapatkan?" tanya Marien. Dia sedang memikirkan uang untuk membeli komputer tapi semua benda itu sudah ada bahkan masih baru.


"Apa yang Nona katakan? Suami Nona yang membelikan bahkan semua yang rusak sudah diperbaiki dan cctv pun sudah diganti yang baru," ucap sekretarisnya.

__ADS_1


"Benarkah? apa William datang?" Dia tidak tahu akan hal ini.


"Saat Nona pergi, suami Nona datang."


"Baiklah, bagaimana dengan keadaan. Apa semua sudah dibereskan?" Marien melangkah menuju ruangannya sambil melihat-lihat setiap ruangan yang dia lewati. Semua benar-benar sudah kembali bahkan lebih baik dari pada sebelumnya.


Tidak saja sampai di sana, Marien terkejut melihat ruangannya yang sudah berbeda. Sebelumnya tidak ada sofa, tidak ada apa pun kecuali meja yang dia gunakan untuk bekerja tapi sekarang, sebuah sofa sudah ada bahkan sebuah pantry kecil yang bisa dia gunakan untuk membuat makanan dan minuman berada di sisi ruangan. Kedua mata Marien berkaca-kaca, bukan menangis karena sedih tapi dia sedang terharu.


"Kau sangat beruntung, Nona. Dia langsung memerintahkan orangnya untuk memperbaiki semua kerusakan ini dan berkata hari ini sudah harus selesai agar kau tidak sedih lagi."


"Kau benar, sekarang kembali bekerja. Aku akan memeriksa beberapa data penting."


"Baik!" sekretarisnya keluar sedangkan Marien menghubungi William karena dia ingin berterima kasih. Siapa pun William, mau dia Wiliam Archiles atau siapa pun, yang pasti dia sangat beruntung dapat bertemu dengan pria yang begitu peduli seperti dirinya.


"Kenapa? Apa ada yang mengganggumu lagi?" tanya William.


"Bukan begitu, Will. Aku tidak tahu harus mengatakan apa tapi aku sangat berterima kasih padamu atas apa yang kau lakukan."


"Apa kau menyukainya?"


"Kejutan untukmu, Sayang. Aku tidak kau ingin bersedih karena kejadian itu."


"Terima kasih, aku semakin bersemangat."


"Bagus, hari ini aku akan usahakan untuk pulang cepat."


"Aku akan menyiapkan makan malam untuk kita!"


"Baiklah, aku sudah harus pergi," ucap William. Beruntungnya dia datang ke kantor Marien karena dia tahu Marien pasti akan sedih saat melihat kantornya yang berantakan. Sebelum menjalankan terapi, William pergi ke kantor sebentar karena ada yang hendak dia lakukan di sana.


Dia tidak menduga jika Fiona juga datang ke sana untuk mencari dirinya. Fiona yang sudah berada di ambang kehancuran tentu saja membutuhkan bantuan William lagi agar perusahaan Ridz dapat terselamatkan. Dia harus bisa membujuk William dan berpura-pura menyesal.


William yang sudah selesai langsung dibawa menuju mobil oleh Steve namun mereka harus terhenti gara-gara dicegat oleh Fiona. Mantan kekasih yang hendak memanfaatkan dirinya itu mendadak jatuh terduduk di bawah kakinya dan menangis tersedu seolah-olah dia sedang berada di dalam masalah dan dia memang berada di dalam masalah.


"Menyingkir dari jalanku!" ucap William sinis.

__ADS_1


"Will, aku ingin berbicara denganmu. Tolong jangan perlakukan aku seperti ini," pinta Fiona sambil berderai air mata.


"Menyingkir dari jalanku, jika tidak maka aku tidak akan segan memerintahkan Steve untuk melindas kakimu!"


"Kenapa kau jadi jahat seperti ini?" teriak Fiona tidak terima.


"Jangan memainkan drama murahan, itu memuakkan! Barang siapa yang menjahati aku, maka aku akan berbuat lebih jahat dari pada orang itu. Sepertinya selama ini kau terlalu sibuk menikmati uangku sehingga kau tidak mengenal aku!"


"Tidak begitu, William. Aku memang salah selama ini. Tolong maafkan aku," pinta Fiona.


"Memaafkan dirimu? Apa kau bertingkah seperti ini karena kau sedang membutuhkan bantuanku?"


"Bukan begitu!" ucap Fiona padahal tebakan William tepat sasaran.


"Jangan mempermalukan diri lebih dari pada ini, Fiona. Aku sudah menikah jadi aku tidak butuh kau lagi bahkan aku tidak butuh wanita mana pun lagi!"


"Aku tidak percaya kau menikah secepat itu!" teriak Fiona.


"Terserah kau, pembicaraan kita hanya berputar di tempat bahkan kau mau datang seratus kali pun, pembicaraan kita akan tetap sama jadi jangan mengganggu aku lagi. Sekarang kita jalani hidup kita masing-masing di mana seharusnya posisi kita berada!" perkataan itu tentu untuk menyinggung Fiona agar dia sadar diri di mana dia berada ketika belum bertemu dengannya.


"Oleh sebab itu maafkan aku, Will. Aku ingin hubungan kita kembali seperti semula!" inilah yang ingin dia katakan karena memang itulah tujuannya.


"Sampah yang sudah aku buang ke tong sampah tidak pernah aku pungut lagi!" cibir William seraya memberi isyarat pada Steve untuk pergi.


"Will, aku belum selesai!" Fiona mengejar namun William tidak mempedulikannya.


"Tolong maafkan aku, William. Pria itu memaksa aku agar kita berpisah, aku sungguh tidak mau berpisah darimu. Aku terpaksa melakukannya padahal yang aku cintai dirimu saja. Apa kau melupakan hubungan kita yang sudah terjalin selama beberapa tahun?" Fiona berusaha membujuk.


"Ada cinta ada uang, itu sistem dalam hidupmu dan aku, kau tipu selama beberapa tahun. Jika aku masih bisa kau tipu, maka bodohlah aku!"


"Aku tidak menipumu. Aku sungguh tidak mau berpisah denganmu!" ucap Fiona.


"Cukup! Segera pergi Steve!" ucap William.


Steve segera membantu William untuk masuk ke dalam mobil. Fiona masih saja mengucapkan perkataan manis untuk membujuk William namun pria itu begitu dingin, tidak seperti dulu lagi. Steve membawa mobilnya pergi, Fiona berteriak marah karena diabaikan. Tidak bisa, dia harus bisa mendapatkan William kembali karena dia tidak mau menjadi gelandangan. Sebaiknya dia mencari cara, apa pun harus dia lakukan untuk mendapatkan William kembali.

__ADS_1


__ADS_2