
Dua anak buah Zack yang sudah menginterogasi kedua pengusaha yang menghentikan kerja sama mereka dengan Marien bergegas mencari Zack untuk memberikan laporan. Zack yang sedang pusing akibat beberapa kejadian tak terduga membuatnya berada di dalam masalah.
Steve sudah menjalankan perintah sesuai dengan apa yang William perintahkan. Steve mencari tahu siapa saja pengusaha yang bekerja sama dengan Zack dan setelah itu dia menghubungi pengusaha-pengusaha itu yang secara kebetulan bekerja sama dengan perusahaan mereka. Steve menawarkan sebuah proyek tapi dengan syarat, mereka harus menghentikan kerja sama mereka dengan Zack.
Tentu itu bukan hal yang bagus bagi Zack, semakin para pengusaha itu menghentikan kerja sama mereka maka semakin perusahaannya berada di dalam masalah. Jangan sampai dia mengalami kebangkrutan oleh sebab itu, dia sudah sangat ingin mencari akar permasalahan dari apa yang telah terjadi.
Kedatangan kedua anak buahnya tentu membuat Zack terlihat serius, dia sudah sangat ingin mendengar kabar yang mereka dapatkan dari dua pengusaha bodoh yang telah melakukan kesalahan. Padahal dia tidak memberi perintah apa pun tapi beraninya mereka membawa namanya sehingga dia dimusuhi oleh William Archiles.
"Bagaimana? Apa kau menemukan petunjuknya?" tanya Zack dengan tidak sabarnya.
"Kedua pengusaha itu berkata jika mereka mendapatkan perintah dari istrimu yang menggunakan namamu, Sir," jawab salah satu anak buahnya.
"Apa maksud perkataanmu? Istriku?" Zack mengernyitkan dahi. Istri yang mana? Istri pertamanya tidak pernah mencampuri pekerjaannya bahkan istrinya tidak mungkin meminta hal bodoh itu pada rekan bisnisnya. Dia yakin bukan istri pertamanya yang tidak memiliki dendam pada siapa pun dan jika bukan istri pertamanya itu berarti? Jangan katakan Alexa adalah tersangkanya!"
"Apa mereka menyebut siapa yang memerintahkan mereka?"
"Tidak, mereka hanya menyebut istrimu saja!"
"Baiklah, kalian boleh pergi!" dia yakin Alexa yang telah memerintahkan kedua pengusaha itu karena tidak ada yang lainnya lagi.
"Kami juga mencari tahu siapa pemilik perusahaan itu, Sir."
"Siapa?" tanya Zack ingin tahu.
"Perusahaan itu memang sudah akan bangkrut tapi dibeli oleh seseorang dan pemilik perusahaan itu adalah Marien Douglas," ucap anak buahnya.
"Apa kau bilang?" Zack terkejut mendengar apa yang anak buahnya katakan. Jadi pemilik perusahaan itu adalah Marien Douglas? Jika Marien pemilik perusahaan itu lalu kenapa Willian Archiles sangat marah saat perusahaan Marien diusik? Zack terlihat berpikir namun tidak lama. Pria tua itu beranjak, sial.
Sepertinya tebakannya selama ini sangat benar. William adalah William Archiles. Marien Douglas sudah menyembunyikan identitas suaminya selama ini dan William menipu dirinya tapi itu bukanlah inti dari permasalahan yang sedang terjadi karena Alexa sudah membuatnya berada di dalam masalah. Sekarang terjawab sudah kenapa William sangat marah dan dia hanya bisa menghubungi pria itu lalu meminta maaf padanya. Semoga saja William berbaik hati dan mau memaafkan dirinya karena semua itu bukan kesalahannya.
Yang dilakukan oleh Zack pertama kali sudah pasti menghubungi asisten William meski dia sudah sangat ingin menemui Alexa dan menghajarnya. Jika mengikuti emosi, sudah pasti dia mencari Alexa terlebih dahulu dan memberikan pukulan pada Alexa. Meski sudah malam, tapi dia tetap mencoba menghubungi Steve.
"Apa yang kau inginkan, Tuan Erson?" tanya Steve.
__ADS_1
"Aku ingin berbicara dengan Tuan Archiles, tolong beri tahu aku nomor ponselnya," pinta Zack memohon.
"Sudah malam, Tuan sudah tidur dengan istrinya dan tidak mau diganggu oleh siapa pun. Jika ada urusan kau bisa menemuinya besok!"
"Ada hal penting yang harus aku bicarakan padanya jadi tolong hubungkan aku dengannya," Zack masih berusaha meminta.
"Tidak bisa, kau bisa menemuinya besok atau katakan padaku, apa yang ingin kau bicarakan sehingga aku bisa menyampaikannya pada bosku!"
"Ini masalah serius, aku tidak bisa meminta dirimu menyampaikannya tapi tolong sampaikan pada Tuan Archiles, aku sangat bertemu dengannya untuk meminta maaf dan membahas sesuatu yang sangat penting."
"Baiklah, akan aku sampaikan!" setelah berkata demikian, Steve mengakhiri percakapan mereka tapi dia menghubungi William. Sepertinya Zack sudah tahu oleh sebab itu Zack ingin bertemu dengan bosnya dan meminta maaf padanya.
William baru saja ingin tidur karena malam memang sudah larut. Suara ponsel benar-benar mengganggu dan dengan cepat, William mengambil ponsel yang ada di atas meja dan menjawab panggilan dari Steve.
"Sudah malam, apa kau tidak tahu ini, Steve?" tanya William.
"Maaf mengganggu waktumu, Sir. Zack baru saja menghubungi aku dan mengatakan jika dia ingin berbicara denganmu."
"Aku rasa, dia berkata dia ingin meminta maaf padamu dan membicarakan hal penting!"
"Baiklah, besok aku akan berbicara dengannya. Semoga saja ada tontonan menarik untuk kita!"
"Jangan lupa ajak aku, Sir. Aku sudah memesan popcorn sejak dua hari yang lalu," ucap Steve.
"Kau begitu bersemangat, Steve, kita lihat saja besok!"
"Baik, Sir, Maaf telah mengganggu waktumu!" Steve mengakhiri percakapan dengan bosnya, musuh satu persatu tumbang akibat perbuatan mereka sendiri. Semoga saja besok ada pertunjukkan bagus karena dia sudah tidak sabar menjadi penonton.
William menyimpan ponsel dan kembali berbaring di sisi Marien yang sedang tidur. Marien bergerak mendekat lalu memeluknya.
"Siapa yang menghubungimu?" tanya Marien.
"Steve, dia hanya menyampaikan laporan penting yang sudah sangat ingin aku dengar."
__ADS_1
"Laporan? Laporan apa?"
"Apa kau mau menonton pertunjukkan menarik, Sayang?"
"Pertunjukkan apa?" Marien membuka kedua mata yang mengantuj, dia jadi penasaran dengan pertunjukkan apa yang suaminya maksudkan.
"Ini kejutan untukmu tapi aku harap kita tidak terlambat untuk menyaksikan pertunjukkannya!"
"Tapi aku harus pergi menemui Abraham Arhiles besok untuk mengajukan kerja sama. Aku rasa aku akan melewatkannya," Marien kembali memejamkan kedua mata dan mempererat pelukannya.
"Percayalah kita masih bisa menyaksikan pertunjukkan itu dan lakukan yang terbaik untuk mendapatkan kerja sama itu," ucap William seraya memberikan ciuman di dahi.
"Tentu saja, aku tidak akan melewatkan kesempatan yang ada di depan mata oleh sebab itu sebaiknya kita tidur. Aku harus memiliki banyak stamina besok!"
"Kau benar, Honey," William kembali mencium dahi Marien serta mencium wajahnya, "Good night," ucapnya sebelum William mendaratkan kecupan lembut di bibir Marien. Marien tersenyum, dekapannya pun semakin erat. Rasanya sudah tidak sabar tapi semoga mereka tidak melewatkan tontonan yang menarik.
Zack yang sangat murka mendatangi kediaman rumah Douglas. Dia dibiarkan masuk ke dalam karena dia memang selalu datang ke rumah itu namun ketika dia berada di dalam rumah, Zack justru berteriak dengan lantang.
"Alexa, keluar kau!" Zack berteriak sambil melangkah menuju kamar Alexa.
"Alexa, kau benar-benar istri kurang ajar. keluar!" teriaknya lagi sambil menendang pintu kamar Alexa hingga terbuka tapi Alexa tidak berada di dalam kamarnya.
"Apa yang terjadi? Kenapa kau membuat keributan?" tanya Gavin yang terkejut akibat teriakan menantunya itu.
"Mana Alexa? Kenapa dia tidak ada?" teriak Zack.
"Alexa pergi dengan para sahabatnya beberapa hari belakangan. Apa dia tidak mengatakannya padamu?"
"Tidak, dia benar-benar kurang ajar!" Zack menahan emosi, padahal dia sudah sangat ingin menghajar Alexa tapi dia harus menahan dirinya lagi dan lagi.
"Apa yang terjadi, Zack?" tanya Gavin tidak mengerti.
"Hubungi dia dan perintahkan untuk kembali besok jika tidak, aku akan berhenti memberinya uang!" ancam Zack yang mau tidak mau pergi dari tempat itu. Gavin benar-benar tidak mengerti, apa yang sebenarnya terjadi? Zack terlihat begitu marah dan jangan katakan Alexa sudah melakukan kesalahan fatal. Semoga saja tidak tapi memang itulah yang terjadi dan Zack, sudah tidak sabar memberi hukuman pada istri keduanya itu yang bisa membuatnya hancur.
__ADS_1