
Gavin berusaha menghubungi Marien karena dia ingin putrinya datang. Sesungguhnya ada hal penting yang ingin dia lakukan, dia ingin berbicara dengan Marien agar Marien membantu kakaknya meski hubungannya dengan Alexa tidak baik.
Bagaimanapun mereka adalah saudara jadi sudah sepantasnya Marien membantu kakaknya di saat keadaan kakaknya sedang seperti itu. Dia juga akan tetap meminta Marien pulang bersama dengan William agar dia lebih mudah mengutarakan niatnya pada menantunya itu.
Marien yang sedang bekerja tampak enggan menjawab panggilan dari ayahnya karena dia tahu apa yang ayahnya inginkan. Dia tidak mau dimanfaatkan apalagi dia tahu ayahnya juga ingin memanfaatkan William. Lebih baik pura-pura tidak tahu tapi ayahnya tak juga berhenti menghubunginya. Marien mulai gusar apalagi mengganggu pekerjaannya. Dia jadi tidak berkonsentrasi melakukan pekerjaannya. Dari pada membuat kesalahan lebih baik dia menjawab panggilan dari ayahnya terlebih dahulu agar ayahnya berhenti menghubunginya.
"Ada apa lagi, Dad? Sudah aku katakan aku tidak bisa pulang!"
"Teganya kau, Marien. Kakakmu sedang mengalami musibah tapi kau tidak peduli sama sekali. Terbuat dari apa hatimu?" tanya ayahnya.
"Tidak perlu berbicara seperti itu. Aku yakin Alexa tidak akan senang melihat kedatanganku dan aku khawatir dia akan semakin membenci aku!"
"Apa yang kau inginkan? Apa kau ingin disambut dengan meriah oleh kakakmu barulah kau mau datang?"
"Dad, bukan seperti itu!" ucap Marien.
"Jangan banyak alasan, Marien. Kakakmu baru saja mendapatkan musibah, seharusnya sebagai seorang adik kau peduli dengannya. Kakakmu memang membenci dirimu tapi tidak seharusnya kau juga membencinya sehingga memperkeruh suasana. Seharusnya kau bisa lebih lunak di bandingkan dengan kakakmu agar hubungan kalian membaik!"
"Aku tahu Alexa tidak membutuhkan itu dan dia tidak akan senang dengan kedatanganku karena dia begitu membenci aku oleh sebab itu aku tidak mau datang agar dia tidak semakin membenci aku!"
"Tapi kau adalah saudaranya jadi jangan berbuat jahat dan tidak peduli seperit itu. Apa kalian akan selalu berselisih sampai aku mati? Jika itu yang kau mau maka aku akan mati di depan mata kalian berdua! Alexa sudah begitu keras kepala jadi aku harap kau juga tidak!"
"Tidak perlu berkata seperti itu. Katakan di mana rumah sakitnya, aku akan pergi menjenguknya!" ucap Marien kesal.
"Bagus, Daddy harap kau datang dengan suamimu!"
"Suamiku sibuk, kirimkan saja alamatnya!" setelah berkata demikian, Marien mengakhiri percakapannya dengan sang ayah. Ayahnya masih saja tidak lupa dengan niat awalnya. Padahal dia tidak mau pergi karena akan semakin dibenci tapi mau tidak mau dia harus pergi.
Alexa yang tidak bisa menerima apa yang terjadi terlihat tidak senang dengan perkataan ayahnya. Dia tidak suka Marien datang dan melihat keadaannya yang menyedihkan. Dia tidak sudi ditertawakan oleh Marien apalagi keadaan dirinya akibat perbuatan Marien.
"Kenapa Daddy memintanya untuk datang? Apa Daddy ingin aku ditertawakan olehnya?" tanya Alexa.
"Bodoh, dia bisa membantumu terhindar dari amarah Zack!" ucap ayahnya.
__ADS_1
"Apa yang bisa dia lakukan? Dia tidak bisa melakukan apa pun!"
"Kau terlalu bodoh, Alexa. Apa kau mau berlutut di bawah kaki William untuk meminta maaf padanya? Apa kau mau melakukan hal itu? Jika kau mau maka aku tidak akan memintanya untuk datang!"
'"Apa yang sedang Daddy rencanakan?" Alexa menatap ayahnya dengan tatapan curiga. Jangan katakan jika ayahnya akan mengatakan hal yang membuatnya malu. Dia sungguh tidak sudi, jangan sampai dia semakin malu akibat perkataan ayahnya.
"Kau tidak perlu khawatir, Daddy yang akan berbicara padanya. Hanya dia yang bisa membantumu agar kau tidak berlutut di bawah kaki William."
"Aku harap Daddy tidak membicarakan hal yang memalukan!"
"Tidak perlu khawatir, Daddy hanya ingin menolongmu!"
Alexa membuang wajah, dia tidak mau dibantu oleh Marien tapi dia pun tidak mau berlutut di bawah kaki William seperti yang diperintahkan oleh Zack. Tidak masalah, sekarang dia berada di posisi yang lemah tapi nanti, dia akan membalas apa yang telah terjadi.
Marien yang tidak bisa menolak permintaan ayahnya pun datang sambil membawa buah-buahan. Terserah mau dimakan atau tidak, dia tidak peduli. Kedatangannya tentu membuat ekspresi wajah Alexa tidak senang, awas saja jika Marien berani tertawa maka akan dia lempar wajahnya.
"Bagaimana dengan keadaanmu?" tanya Marien basa basi.
"Tidak perlu bertanya, apa kau buta?" Alexa menjawabnya dengan begitu sinis.
"Lalu, kau ingin menertawakan aku?"
"Cukup, Alexa. Sudah Daddy katakan untuk tidak membuat keributan jadi jangan memulai. Adikmu sudah mau datang, seharusnya kau senang!"
"Aku tidak senang sama sekali!"
"Ya sudah jika begitu, aku pergi saja!" Marien memutar langkah, lebih baik dia pergi tapi ayahnya justru mencegah.
"Tidak, Marien. Abaikan kakakmu, Daddy ingin berbicara denganmu!"
Alexa menatap dengan tatapan iri saat ayahnya menghampiri Marien dan mengajaknya untuk duduk di sofa. Sekarang semua perhatian ayahnya mulai tertuju pada Marien setelah ayahnya tahu Marien memiliki perusahaan dan setelah ayahnya tahu siapa suami Marien. Inilah yang tidak dia suka, perhatian ayahnya mendadak berpaling.
"Aku tidak bisa lama, Dad. Aku sibuk!" ucap Marien.
__ADS_1
"Daddy tahu, Daddy hanya ingin berbicara denganmu saja."
"Apa yang Daddy inginkan, segera katakan karena aku masih ada pekerjaan."
"Baiklah, bagaimana dengan perusahaanmu?" tanya ayahnya.
"Baik-Baik saja. Apa hanya itu?"
"Dengar, kakakmu memang sudah salah padamu. Sebagai adiknya, Daddy ingin kau memaafkan perbuatannya dan membantunya dalam menyelesaikan masalahnya."
"Masalah apa? Aku tidak yakin bisa membantu permasalahannya."
"Kau bisa karena hanya kau yang bisa."
"Semua ini tidak ada hubungannya dengan suamiku, bukan?" tanya Marien curiga.
"Memang ada hubungannya. Zack sangat murka karena suamimu melakukan sesuatu padanya oleh sebab itu dia memukuli kakakmu bahkan membuatnya mengalami keguguran. Tidak hanya itu saja, Zack ingin menceraikan kakakmu tapi dia ingin kakakmu berlutut di bawah kaki suamimu untuk meminta maaf. Sebagai adiknya, apa kau tega melihat kakakmu berlutut di bawah kaki adik iparnya? Kita adalah keluarga jadi jangan sampai terjadi hal memalukan seperti ini!" ucap ayahnya.
"Jadi Daddy ingin aku membujuk suamiku agar dia memaafkan Zack supaya Alexa tidak perlu berlutut di bawah kakinya?" tanya Marien seraya melihat ke arah kakaknya.
"Benar, kau harus melakukannya. Kakakmu baru saja mengalami keguguran, jadi jangan membuatnya berada di dalam masalah lagi."
"Aku tidak butuh bantuanmu!" teriak Alexa.
"Diam!" bentak ayahnya.
"Aku tidak janji meski dia tidak mau, yang memutuskan bukan aku tapi suamiku. Sebaiknya menjauh dari Zack dan jika dia memang ingin menceraikan Alexa maka lebih baik bercerai saja!"
"Aku tidak perlu nasehat darimu, Marien. Urusan kita belum selesai!"
"Aku tidak ingin mencari perkara denganmu, Alexa. Sebaiknya urus dirimu sendiri, aku akan mencoba berbicara pada suamiku agar Zack tidak terlalu marah padamu!"
"Jangan kira aku akan berterima kasih padamu karena sudah membantu aku, Marien!" teriak Alexa.
__ADS_1
"Terserah kau saja. Aku melakukan hal ini untuk Daddy dan mengingat hubungan kita sebagai saudara tapi aku tidak berjanji akan hasilnya karena itu bukan urusanku. Aku sudah harus pergi, jaga dirimu baik-baik!" Marien pamit pergi, sudah cukup percakapan mereka meski dia tidak tahu harus bagaimana berbicara dengan William nantinya.
Alexa mengepalkan kedua tangan, tidak apa-apa. Dia akan menjadi pecundang hari ini tapi nanti, dia akan membalasnya sehingga dialah yang menjadi pemenangnya.