Suami Cacatku Yang Sempurna

Suami Cacatku Yang Sempurna
Tidak Bisa Lari Lagi


__ADS_3

Silvia yang curiga dengan putranya yang selalu menahannya untuk tidak kembali tentu saja mengajak suaminya segera pulang apalagi dia curiga jika ada yang putranya sembunyikan. Meski dia belum melihat namun tidak biasanya William memintanya seperti itu.


Pesawat mereka baru mendarat siang itu ketika William dan Marien masih berada di restoran untuk makan siang. Karena mereka baru tiba dan mereka pun tahu William pasti berada di kantor jadi Silvia tidak langsung meminta putranya pulang. Lagi pula dia tahu putranya pasti akan pulang nantinya jadi mereka akan memberikan kejutan untuk putra mereka yang selalu menahan mereka untuk pulang. Silvia ingin melihat alasan apa yang William miliki sehingga menahannya untuk pulang.


William yang tidak tahu kepulangan kedua orangtuanya tentu saja tidak akan menduga jika rahasia yang dia sembunyikan pada mereka akan segera terbongkar. Tidak saja keadaannya yang lumpuh akibat kecelakaan namun pernikahan rahasianya dengan Marien pun bisa tebongkar.


Kedatangan Fiona yang membuat ulah membuat makan siang mereka sedikit mengalami gangguan. Marien kini memiliki dua musuh. Karena selain kakaknya, dia pun memiliki musuh lain yaitu mantan kekasih William yang entah untuk apa datang menemui William.


"Sepertinya malam ini aku akan pulang sedikit terlambat, Will. Kau tidak keberatan, bukan?" tanya Marien yang baru saja menyelesaikan dessert manis sebagai pencuci mulut setelah mereka makan.


"Apa ada pekerjaan penting?" William melihat Marien sejenak sebelum meneguk minumannya.


"Yeah, aku tidak mau kau salah paham jadi kau harus tahu. Aku sedang mendekati seorang pengusaha agar dia mau bekerja sama denganku. Jika berhasil maka aku memiliki kesempatan besar untuk mengangkat nama perusahaan yang kau berikan padaku jadi aku tidak mau kau salah paham dan mengira aku pergi dengan pria lain untuk sesuatu yang tidak benar."


"Di mana kau dan pengusaha itu akan bertemu?"


"Sebuah bar, tapi tidak hanya aku saja. Ada beberapa pengusaha kecil seperti aku ini pergi menemuinya untuk mengajukan kerja sama. Doakan aku berhasil mendapatkan kesempatan besar ini," ucap Marien.


"Aku yakin kau bisa, Marien," William mengusap telapak tangan Marien yang ada di atas meja. Sepertinya dia tidak perlu membantu Marien karena dia yakin dengan kemampuan yang Marien miliki, dia bisa mendapatkan kerja sama yang dia inginkan itu tapi dia harus memerintahkan seseorang untuk menjaga Marien dari jauh karena dia khawatir apalagi bar bukan tempat bagus untuk seorang wanita sendirian meski tidak semua bar demikian.


"Terima kasih atas kepercayaanmu, William. Jadi kau tidak keberatan aku pulang malam, bukan? Aku tidak suka ada kesalahpahaman di antara kita jadi aku membutuhkan ijin darimu. Masalah di luar dan orang-orang terdekat sudah membuat sakit kepala jadi aku tidak mau ada masalah denganmu. Aku ingin menjalani masa pernikahan kita tanpa adanya debat atau cekcok meski kemungkinan ada tapi aku tidak mau yang terlalu berat karena aku mengajakmu menikah bukan untuk mencari rekan untuk berdebat!"


"Kau terlalu baik, Marien. Aku suka sifat jujurmu ini. Tentu saja aku tidak keberatan apalagi kau sudah meminta ijin dan kau pergi untuk urusan bisnis," William kembali mengusap punggung tangan Marien, sungguh untuk seumur hidup dia tidak pernah bertemu dengan wanita yang jujur seperti ini. Padahal mereka hanya menikah di atas kontrak tapi Marien begitu totalitas memerankan peran sebagai istrinya.


"Terima kasih, jadi makanlah di luar sebelum pulang karena aku tidak bisa memasak. Soal mandi, sebaiknya kau tunggu aku pulang saja," ucap Marien seraya meraih gelas yang ada di atas meja.


"Entah kenapa ini terdengar seperti sebuah undangan," goda William.


"Maksudmu?" Marien melihatnya dari balik gelas yang ada di mulut.


"Apa itu berarti kau ingin mandi berdua denganku?" tanya William.


Marien terkejut mendengarnya, air yang ada di mulut pun hampir keluar namun Marien menahan sehingga membuatnya tersedak oleh air.

__ADS_1


"Berendam berdua sepertinya bukan ide buruk!" William tersenyum setelah mengatakannya sedangkan Marien semakin tersedak oleh air sehingga membuatnya terbatuk-batuk.


"Hei, kau baik-baik saja bukan?" William mengambil selembar tisu untuk Marien.


"Be-Bercandamu tidak lucu!" ucap Marien.


"Memang tidak, aku serius!" ucap William dengan ekspresi seriusnya.


"Jangan bercanda dengan ekspresimu yang seperti itu, tidak lucu!"


"Jadi kau pikir aku bercanda?" tanya William.


"Ya, Tuan. Apa kau sudah selesai? Jika sudah sebaiknya kita kembali. Aku harus kembali ke kantor dan menyiapkan beberapa berkas penting yang aku perlukan nanti malam!"


"Tentu saja, tunggu sebentar!" William memanggil seorang pelayan karena dia ingin membayar.


Marien melihat ponselnya sesekali, semoga saja kesempatan nanti malam tidak terlewat dan dia bisa menang dari beberapa pengusaha yang menjadi saingan sehingga dia mendapatkan proyek yang akan memberikannya keuntungan besar serta bisa memajukan perusahaannya meski dia tahu tidak akan mudah.


"Jika Fiona mendatangimu dan mencari masalah denganmu, jangan ragu untuk mengatakannya padaku, Marien!"


"Apa kau berniat melemparnya?"


"Seharusnya aku melakukan hal itu. Jika aku tahu dia akan melemparmu maka sudah aku lempar dia keluar sebelum kau datang!"


"Baiklah, aku tahu kau bisa melakukannya! Wanita seperti itu tidak perlu dibahas, hanya akan membuatmu kesal saja. Sebaiknya kita membicarakan hal lain, yang lebih berguna!"


"Kau benar!" William memegangi tangan Marien yang berada di bahu.


Steve sudah datang dengan mobilnya, Marien membantu William seperti biasanya. William akan mengantarnya terlebih dahulu karena dia tidak mungkin membiarkan istrinya kembali ke kantor seorang diri. William yang masih tidak menaruh curiga jika kedua orangtuanya sudah kembali tentu santai saja. Dia bahkan berniat menyambut Marien nanti.


"Terima kasih sudah mengantar aku!" Marien mengambil tasnya karena dia sudah tiba di kantor.


"Berjuanglah dan dapatkan kerja sama itu," ucap William.

__ADS_1


"Terima kasih," Marien mendekatinya dan memberikan sebuah ciuman di pipi, "Terima kasih atas makan siang dan ijinnya."


"Tidak perlu berterima kasih!" wajah Marien diusap sebelum sebuah kecupan mendarat di dahinya. Mereka berdua saling pandang dengan senyuman menghiasi wajah setelah saling memberikan ciuman meski hanya di wajah.


"Aku sudah harus bergegas," ucap Marien.


"Hubungi aku jika terjadi sesuatu!"


"Pasti!" Marien turun dari mobil dan bergegas pergi. William menatap kepergiannya sampai Marien masuk ke dalam kantor.


"Apa kau tidak akan membantunya, Sir?" tanya Steve. Dia belum menjalankan mobil karena belum mendapatkan perintah.


"Tidak perlu, aku mempercayai kemampuannya. Lagi pula saat ini aku sedang menjadi orang yang tidak memiliki apa pun tapi aku ingin kau mengutus beberapa orang untuk menjaganya."


"Baik, Sir. Sekarang apakah kita akan kembali ke kantor?"


"Yes, ada beberapa pekerjaan yang harus aku selesaikan!"


"Baik, Sir!" mobil pun dijalankan untuk kembali ke kantor.


William kembali menyibukkan diri saat tiba, dia pun enggan kembali ke rumah terlalu cepat karena tidak ada Marien. Dia tahu pasti akan membosankan karena sebagian waktunya selalu dia habiskan dengan Marien. Waktu berputar dengan cepat. Tidak terasa sudah jam tujuh malam. Sepertinya mau tidak mau harus kembali oleh sebab itu dia mengajak Steve untuk kembali.


William yang tidak tahu ibunya sudah kembali pun menjawab panggilan dari ibunya saat berada di mobil yang akan membawanya kembali.


"Ada apa, Mom?"


"Kenapa kau belum pulang juga? Jam berapa sekarang?" tanya ibunya.


"Apa maksud Mommy?" William menegakkan duduknya.


"Mommy dan Daddy sudah pulang jadi pulang sekarang!" perintah ibunya.


"Apa?" William terkejut. Kedua orangtuanya sudah pulang? Celaka, bagaimana dia mengatakan keadaannya pada mereka nanti? Sial, dia tidak menduga ibunya justru kembali padahal dia sudah mencegah dan sepertinya kali ini dia benar-benar tidak bisa lari lagi dan menyembunyikan keadaannya.

__ADS_1


__ADS_2