Suami Cacatku Yang Sempurna

Suami Cacatku Yang Sempurna
Kabar Tak Menyenangkan


__ADS_3

Semua berjalan dengan baik setelah Alexa setuju hukumannya diringankan dan setelah hubungan Alexa dan ayahnya membaik, semua keadaan benar-benar membaik. Alexa sudah tidak lagi menolak kedatangan ayahnya, dia pun bekerja sama dengan Steve dan pengacara yang Steve percayakan untuk membantunya.


Hari persidangannya bahkan akan diadakan hari ini tapi sayangnya, sepertinya Marien tidak bisa hadir karena dia tidak enak badan sejak pagi. Perutnya terasa tidak nyaman begitu dia bangun tidur. Kepalanya juga sakit bahkan dia tidak bisa makan. Setiap kali Marien makan sesuatu, makanan itu pasti akan dimuntahkan. Entah apa yang terjadi dengannya, keadaannya tentu saja membuat William panik.


Marien kembali muntah, untuk yang kesekian kalinya. Lantai kamar kembali kotor karena dia tidak sempat mengambil wadah. Kamar mereka pun jadi bau muntahan dan hal itu membuatnya semakin sakit kepala. Meski semua jendela sudah dibuka tapi bau dari muntahannya benar-benar menyengat apalagi yang dia minum hanya susu.


Beberapa pelayan membersihkan muntahannya, Marien berbaring lemas setelah memuntahkan susu yang baru dia minum. Sekarang dia benar-benar tidak berdaya dan William semakin cemas luar biasa karena Marien tidak pernah seperti itu sebelumnya.


"Bagaimana dengan keadaanmu?" William sedang mengelap bagian yang terkena muntahan dengan handuk basah. Dia pun akan menggantikan baju istrinya yang kotor. Entah sudah keberapa kali, yang pasti dia sudah melakukannya secara berulang-ulang tapi dia tidak akan bosan malah dia semakin khawatir apalagi wajah Marien sangat pucat.


"Entahlah, aku lelah," Marien menjawab dengan lemah dan dia memang terlihat lelah luar biasa.


"Kita ke rumah sakit setelah ini. Aku tidak bisa melihatmu seperti ini dan tidak bisa membiarkan kau selalu seperti ini apalagi kau tidak makan apa pun sejak pagi."


"Aku hanya ingin berada di rumah, Will. Aku tidak mau pergi ke mana pun!"


"Ayolah, Sayang. Lakukan demi bayi kita. Bayi kita perlu nutrisi dan kau pun membutuhkannya."


"Aku hanya lelah!" Marien mengucapkan perkataan yang sama sambil menutup mata.


"Marien!" William hampir berteriak melihat melihat keadaan istrinya akibat rasa takut.


"Jangan berteriak, Will. Kepalaku sakit!"

__ADS_1


"Kau membuat aku takut, Sayang. Kita ke rumah sakit sekarang.  Aku tidak tenang melihat keadaanmu yang seperti ini!" tanpa menunggu jawaban dari Marien, William sudah bergerak untuk membawa Marien ke rumah sakit. Marien tidak menjawab, dia terlalu lelah hanya untuk mengucapkan sepatah kata saja bahkan dia tidak bisa memikirkan apa pun karena rasa sakit kepala yang luar biasa.


William memerintahkan para pelayan untuk membersihkan kamar sampai bersih sebelum dia keluar dari kamar. William bahkan berlari agar istrinya bisa segera dia bawa ke rumah sakit. Marien benar-benar terlihat lemah, napasnya menjadi pelan sehingga membuat William yang melihat keadaan istrinya itu semakin diliputi dengan perasaan takut.


"Jangan menakuti aku, Marien. Jangan menakuti aku!" pintanya.


Marien mendengar apa yang suaminya katakan tapi dia terlalu lemah untuk menjawab. Untuk kali pertama, William benar-benar merasa takut. Tubuh istrinya bahkan dipeluk dengan erat, dia harap tidak terjadi apa pun pada istri dan calon bayi mereka.


Gavin yang tidak tahu akan keadaan putrinya pun pergi ke rumah Marien karena dia ingin mengajak Marien pergi ke persidangan untuk mengikuti persidangan Alexa namun dia hanya disambut oleh pelayan saja sedangkan putrinya tidak terlihat.


"Di mana Marien? Katakan aku ingin bertemu dengannya!" ucap Gavin.


"Nyonya sedang sakit dan sekarang Tuan sedang membawanya ke rumah sakit!"


"Apa? Apakah parah?" tanya Gavin yang terlihat mencemaskan keadaan putrinya.


"Rumah sakit mana?"


"Maaf, kami tidak tahu."


Gavin mulai panik, dia pun segera menghubungi William untuk tahu rumah sakit mana Marien akan dirawat. Sekarang pikirannya jadi terbagi, antara Alexa dan Marien, entah mana yang harus dia pentingkan saat ini karena waktu persidangan Alexa akan dimulai tapi dia harus melihat keadaan Marien terlebih dahulu.


William yang baru saja tiba di rumah sakit bergegas meminta istrinya untuk segera ditangani karena keadaan Marien yang semakin memprihatinkan. Marien bahkan sudah tidak sadarkan diri lagi saat mereka tiba. Rasa takut semakin dia rasakan dan hal itu membuatnya tidak tenang.

__ADS_1


Ponsel yang berbunyi sedari tadi diabaikan William sesaat. Hal itu tentu saja membuat Gavin semakin cemas. Dia benar-benar berada di dalam kebingungan karena satu sisi dia harus hadir sebagai saksi untuk putrinya tapi di sisi lain dia harus tahu bagaimana dengan keadaan putrinya yang lain.


Jika dia tidak datang ke persidangan untuk meringankan hukuman Alexa seperti yang dia ucapkan setiap saat, apakah Alexa akan marah? Tapi jika dia tidak melihat keadaan Marien, apakah Marien akan marah dan mengira dirinya tidak peduli? Mendadak dia jadi sakit kepala akan hal ini namun dia akan tenang setelah mengetahui keadaan Marien.


Gavin kembali menghubungi William, dia harap William segera menjawab panggilan darinya. Cukup lama dia menunggu dalam kecemasan sampai akhirnya William menjawab juga panggilan darinya.


"Sepertinya Marien tidak bisa datang ke persidangan kakaknya, ayah mertua," ucap William yang sudah tahu kenapa ayah Marien menghubunginya.


"Bagaimana dengan keadaannya? Apa dia baik-baik saja?" tanya Gavin dengan rasa cemas yang tak bisa dia singkirkan sebelum dia tahu bagaimana dengan keadaan Marien.


"Entahlah, aku baru tiba di rumah sakit jadi Marien baru ditangani oleh dokter."


"Katakan padaku di mana dia dirawat, aku akan pergi ke sana!" ucap Gavin.


"Tidak perlu. Bukankah kau harus menjadi saksi untuk putrimu? Pergilah, aku yang akan menjaga Marien dan aku akan menjelaskannya padanya nanti saat dia sudah sadar."


"Tapi aku tidak tenang jadi biarkan aku melihatnya sebentar!" semoga dia bisa melihat keadaan putrinya agar dia tenang saat berada di persidangan nanti.


"Marien sedang ditangani dan aku pun belum bisa melihat keadaannya jadi kau fokus saja pada persidangan Alexa. Aku akan memberimu kabar nanti setelah aku tahu keadaannya."


"Baiklah tapi kau harus mengatakan pada Marien jika aku mengkhawatirkan keadaannya saat dia sudah sadar nanti. Jangan sampai dia salah paham dan mengira aku tidak mengkhawatirkan dirinya. Aku akan segera bergegas ke rumah sakit setelah aku selesai memberikan kesaksian untuk meringankan hukuman putriku."


"Tidak perlu khawatir, Marien bisa mengerti akan hal itu!" ucap William yang saat itu tak hentinya melihat ruangan di mana Marien sedang ditangani.

__ADS_1


"Baiklah, aku akan segera menjenguknya setelah selesai!" mau tidak mau dia harus pergi ke persidangan Alexa terlebih dahulu karena waktunya sudah mau dimulai. Dia adalah saksi kunci karena dialah yang menyaksikan Alexa di siksa oleh Zack. Meksi ada rekaman dan bukti dari rumah sakit tapi dia harus tetap memberikan keterangan. Meski dalam keadaan cemas pada putri bungsunya, tapi dia sudah berjanji pada putri sulungnya. Semoga Marien tidak mengira dirinya pilih kasih karena dia tidak punya pillihan apalagi Marien sakit di saat yang tidak tepat.


William yang menunggu istrinya semakin cemas saja, dia menunggu dengan keadaan murung. Ayah dan ibunya yang mendapatkan kabar tak menyenangkan itu pun segera datang untuk tahu keadaan menantu mereka. Entah apa yang terjadi tapi mereka berharap Marien dan bayi yang sedang dia kandung baik-baik saja.


__ADS_2