
Hari pernikahan sudah usai namun kebahagiaan Marian dan William akan pernikahan mereka tetap mereka rasakan apalagi mereka berencana pergi berbulan madu untuk melengkapi hari bahagia mereka. Swiss menjadi pilihan karena Marien ingin menikmati pemandangan alam yang indah.
Itu baru rencana yang akan mereka lakukan nanti. Tentunya mereka harus mempersiapkan perjalanan mereka dengan matang tapi untuk saat ini, mereka cukup bahagia dengan pernikahan mereka apalagi mereka baru saja melewatkan malam pernikahan mereka yang berga*rah sebagai suami istri.
Setelah selesai acara pernikahan, mereka memutuskan menginap di hotel untuk satu malam. Acara yang melelahkan serta malam yang menguras banyak tenaga membuat mereka terlelap dan belum bangun meski suara alarm berbunyi sedari tadi. Marien masih tidur dengan nyenyak dalam pelukan William begitu juga dengan William namun suara ponsel William yang sudah berbunyi sedari tadi selain suara alarm mengganggu tidur Marien.
"Will, ponselmu!" Marien memukul lengan William agar suaminya segera menjawab supaya dia bisa kembali tidur.
"Hm," William hanya bergerak malas.
"Jawab dulu, mungkin ibumu!" pinta Marien.
"Baiklah, aku akan kembali!" William memberikan ciuman di pipi Marien sebelum mengambil ponselnya. Marien kembali tidur sambil memeluk bantal sedangkan William menjawab panggilan dari ibunya.
"Ada apa, Mom?"
"Maaf mengganggu tidurmu, Will. Mommy ingin mengabarimu jika kami semua akan pergi jalan-jalan. Apa kau dan Marien mau ikut?" tanya ibunya.
"Sepertinya tidak, kalian pergilah. Banyak yang hendak kami lakukan, kami berencana pergi berbulan madu ke Swiss jadi kami harus melakukan persiapan agar kami bisa cepat pergi."
"Baiklah jika begitu, mumpung adikmu kembali dan semuanya ada jadi kami pikir kami akan pergi jalan-jalan untuk menikmati waktu bersama-sama."
"Nikmatilah waktu kalian, Mom. Aku dan Marien di sini saja untuk menikmati waktu kami dan menyiapkan perjalanan bulan madu kami."
"Baiklah, jika kami belum kembali saat kalian akan berangkat, hubungi Mommy agar kami tahu kau sudah pergi atau belum."
"Baik, Mom. Aku pasti akan menghubungi Mommy."
"Mommy senang mendengarnya, Sayang. Tanyakan pada istrimu, apa yang dia inginkan? Mommy akan membelikannya dan ingat, jangan terlalu lelah agar cucu Mommy cepat jadi!"
"Baiklah, Marien masih tidur. Aku akan bertanya padanya nanti."
"Jika begitu Mommy tidak akan mengganggu. Nikmati waktu kalian."
"Thanks, Mom!" William melihat ke arah Marien sejenak sebelum meletakkan ponselnya. Sebaiknya dia memesan sarapan untuk mereka, Marien pasti lapar karena dia makan hanya sedikit semalam. William memakai celananya sebelum ke kamar mandi. Mereka memang tidak memakai sehelai benang pun saat itu.
Marien masih tidur akibat lelah luar biasa. Dia bahkan tidak tahu jika William sudah membereskan semua pakaian mereka yang berserakan di atas lantai. William pun sudah meminta Steve membawa baju bersih untuk mereka dan William juga sudah memesan makanan.
Marien terbangun ketika William membuka pintu untuk mengambil baju bersih yang Steve antarkan. Dia pun hendak memberikan perintah pada Steve oleh sebab itu, William keluar dan merapatkan pintu agar Steve tidak bisa melihat ke dalam karena Marien sedang tidak menggunakan sehelai benang pun. Bisa celaka jika Marien tiba-tiba bangun dan membuka selimut yang sedang menutupi tubuhnya.
__ADS_1
"Steve, aku dan istriku akan melakukan perjalanan honeymoon ke Swiss jadi aku ingin kau mempersiapkan semua yang diperlukan!" perintah William setelah mengambil baju bersih yang Steve berikan.
"Baik, Sir. Kapan kau akan pergi?"
"Semakin cepat semakin baik jadi segera siapkan semuanya!"
"Akan segera aku kerjakan!"
"Bagus, kau bisa kembali!" William membuka pintu dan masuk ke dalam sedangkan Steve berjalan pergi untuk menunggu perintah selanjutnya serta mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan oleh bosnya untuk perjalanan bulan madunya.
"Kau berbicara dengan siapa, Will?" tanya Marien yang sudah bersandar di ranjang dengan selimut menutupi sebagian tubuhnya.
"Hei, apa tidurmu jadi terganggu?" William meletakkan pakaian bersih lalu menghampiri istrinya, "Morning, Honey," sebuah ciuman pun mendarat di dahi Marien.
"Kenapa tidak segera membangunkan aku?"
"Kau terlihat lelah, Sayang. Aku tidak mau mengganggu tidurmu."
"Baiklah, aku sudah lapar. Apa kau sudah memesan sarapan?"
"Tentu saja sudah, segeralah bersihkan diri dan pakai pakaianmu agar tidak ada yang melihat keadaanmu ini!"
"Hei, jangan tiba-tiba!" protes Marien.
"Tiba-Tiba lebih menyenangkan, Sayang? Apa tidurmu nyenyak? Kakimu tidak sakit, bukan?"
"Sekarang kau yang memberikan pertanyaan itu padaku?"
"Aku khawatir dengan kakimu, apa masih pegal?"
"Tidak, yang pegal justru pinggangku karena kau terlalu bersemangat!" ucap Marien.
"Baiklah, aku memang terlalu bersemangat apalagi kau sudah tidak perlu berada di atas!"
"Mesum!" ucap Marien seraya memukul dada William.
William menurunkan Marien dari gendongan sambil terkekeh, sekarang mereka akan melakukan kegiatan seperti itu setiap pagi dan Marien tidak perlu repot lagi memandikan dirinya dan membantunya untuk berpindah dari kursi roda ke tempat lain.
"Aku akan mengambilkan pakaian bersih untukmu," ucap William.
__ADS_1
"Tapi kita tidak bawa baju, Will."
"Aku sudah memerintahkan Steve membawakan baju untuk kita!" karena mereka tidak berencana menginap oleh sebab itu mereka tidak membawa baju tapi karena Marien sudah mengeluh sangat lelah oleh sebab itu William memutuskan untuk menginap.
Marien membersihkan diri, sedangkan William pergi mengambil baju mereka tapi pada saat itu sarapan yang dia pesan pun datang. Sangat kebetulan karena istrinya yang sudah lapar. Setelah selesai, Marien keluar dari kamar mandi dengan menggunakan handuk. William baru saja menutup pintu karena pelayan hotel baru keluar.
"Aroma yang harum, apa yang kau pesan?" tanya Marien sambil menyisir rambut.
"Sarapan yang kau sukai," paper bag berisi baju diambil dan setelah itu William membantu Marien memakainya.
"Siapa yang menghubungimu tadi?"
"Mommy, dia mau mengajak kita pergi jalan-jalan tapi aku berkata kita akan pergi berbulan madu sebentar lagi!"
"Apa kau sudah mempersiapkan semuanya?" tanya Marien.
"Tentu saja, Sayang. Aku sudah memerintahkan Steve untuk mempersiapkan semua jadi tunggulah kabar baiknya."
"Baiklah, sebelum pergi ada beberapa pekerjaan yang harus aku selesaikan agar aku bisa pergi dengan tenang."
"Bahas pekerjaannya nanti, sekarang sarapan!" William mengangkat dagu Marien lalu memberikan kecupan lembut, "Sarapan pembuka sudah aku dapatkan!" ucapnya.
"Kurang!" ucap Marien sambil mengalungkan kedua tangan di leher William.
"Kau mulai nakal!" William kembali mencium bibir Marien dan menggendongnya. Kedua kaki Marien sudah melingkar di pinggangnya dan mereka menikmati ciuman mereka yang bergai*rah sebelum ada yang mengganggu pagi mereka yang berharga.
William membawa Marien menuju meja, di mana sarapan untuk mereka sudah terhidang. Sebagai suami istri, mereka melewatkan pagi mereka yang berharga sebelum mereka pulang ke rumah.
"Makan yang banyak, agar bayi kita cepat jadi!" ucap William.
"Hei, kenapa jadi begitu gencar?"
"Mommy dan Daddy yang sudah tidak sabar!"
"Baiklah, mungkin sudah ada yang jadi di sini!" ucap Marien sambil mengusap perut.
"Benarkah?"
"Mungkin, aku hanya menebak karena kita sudah sering melakukannya!"
__ADS_1
"Oh, aku sudah tidak sabar, Sayang. Sekarang makan yang banyak!" William mengambilkan makanan untuk Marien agar istrinya makan yang banyak. Marien tersenyum, dia tidak keberatan melahirkan anak untuk William apalagi mereka memang sudah menjadi suami istri dan dia pun sangat menyukai anak-anak. Bukan kedua orangtua William saja, Marien juga sudah tidak sabar hamil anak William agar pernikahan mereka semakin sempurna saat buah hati mereka melengkapi kehidupan mereka.