Suami Cacatku Yang Sempurna

Suami Cacatku Yang Sempurna
Sedikit Cemas


__ADS_3

Hijau, semua makanan yang ada di atas meja serba hijau. Dari salad ikan, bayam, brokoli dan hampir semua sayuran hijau berada di atas meja. Tidak saja sayuran, ikan juga menjadi menu makan malam mereka. Ikan tim jahe, itu kesukaan Silvia tapi hari ini harus menjadi makanan kesukaan Marien.


Untuk kesekian kali, Marien dan William saling pandang. Setelah selesai bertingkah konyol dengan gaun ala putri yang membuat William sakit kepala, mereka memutuskan untuk makan malam. Silvia meminta mereka untuk menginap malam ini. Tentunya Marien dan William tidak menolak dengan permintaan itu.


Abraham yang sangat menginginkan cucu perempuan memerintahkan para pelayannya untuk menyiapkan sayuran dan ikan sebagai menu makan malam mereka malam ini. Dia mendengar dari sahabatnya jika menginginkan bayi perempuan maka harus banyak makan sayur oleh sebab itulah, semua makanan yang ada di atas meja adalah sayur. Informasi yang dia dapat tidak salah tapi sudah terlambat untuk dilakukan.


"Ada apa dengan menu makanan hari ini, Mom?" tanya William tidak mengerti. Mereka bukanlah vegetarian jadi sudah tentu sangat aneh melihat hanya ada sayuran dan ikan saja di atas meja.


"Jangan bertanya padaku, tapi bertanyalah pada ayahmu!" jawab ibunya.


"Aku dengar harus banyak makan sayur dan ikan jika menginginkan bayi perempuan jadi segera berikan istrimu makan sayur dan ikan yang banyak!" perintah ayahnya.


"Dad, bukankah itu sudah terlambat?"


"Apa maksudmu sudah terlambat?" tanya ayahnya.


"Dad, entah kau mendapatkan semua informasi ini dari mana dan mitos konyolmu itu yang pasti bukan seperti itu caranya ingin mendapatkan bayi perempuan!"


"Tidak mungkin. Aku sudah mendapatkan dari sumber yang sudah terpercaya jadi tidak mungkin aku salah!" ucap ayahnya.


"Tidak apa-apa, Will. Jangan menghancurkan usaha ayahmu yang susah pasti disiapkan dengan susah payah. Lagi pula sayuran dan ikan adalah makanan sehat jadi tidak masalah. Sebaiknya kita makan sebelum makanannya dingin!" ucap Marien.


"Marien benar, ayahmu sudah bekerja keras untuk semua ini jadi tidak perlu dipermasalahkan," ucap ibunya pula.


"Baiklah, tapi hanya hari ini saja Dad. Jangan mengulanginya besok!"


"Apa? Daddy belum selesai!" ucap ayahnya.


"Dad, tunggu dua bulan lagi untuk mengetahui jenis kelaminnya jadi jangan melakukan hal konyol!"


"Baiklah, baik. Ayo kita makan!" ajak ayahnya yang terlihat sedikit kesal padahal dia belum selesai.


"Jika ada yang ingin kau makan, katakan saja. Mommy akan membuatkannya untukmu dan mulai sekarang, jangan terlalu sibuk dengan pekerjaan di kantor!" Silvia berbicara pada menantunya karena dia ingin Marien lebih fokus pada kesehatannya dan bayi yang sedang dia kandung dari pada pekerjaannya.

__ADS_1


"Aku tahu, Mom. Aku sudah mengurangi jadwal kerjaku dan aku pun sudah memutuskan untuk tidak selalu pergi ke kantor."


"Itu bagus, bagaimana dengan kabar ayah dan kakakmu?" tanya Silvia lagi yang sudah mendengar jika kakak Marien berada di dalam penjara.


"Mereka baik-baik saja, Mom. Terima kasih."


"Bagaimana dengan pertemuan dengan kakakmu tadi, Marien?" tanya William.


"Alexa terlihat semakin baik bahkan dia semakin bisa diajak bicara dan tidak terlihat seperti yang sudah-sudah."


"Itu bagus, setidaknya penjara sudah membuatnya lebih baik!"


Marien tersenyum, sesungguhnya ada yang ingin dia bahas tapi nanti saja karena dia tidak mau merusak kebersamaan mereka malam ini. Permasalahan keluarganya tidak mau dia bahas saat bersama dengan keluarga William kerana mereka tidak ada hubungannya apalagi dia malu..


"Sudah, nanti baru bicara lagi. Sekarang makan, jangan sampai calon cucuku kelaparan!" ucap Abraham.


"Benar, nanti kita bicara lagi!" Silvia mengambilkan makanan untuk menantunya terlebih dahulu barulah mengambilkan makanan untuk suaminya. William juga mengambilkan makanan untuk Marien karena istrinya butuh banyak makan.


Makan malam yang menyenangkan, Marien mendapatkan perhatian dari ibu dan ayah mertuanya. Bukan karena dia sedang hamil saja, tapi karena dia adalah menantu keluarga mereka. Silvia dan Abraham sudah pasti mendengar banyak tentang Marien saat Marien tidak tahu siapa William yang sebenarnya. Ketulusan Marien tentu saja tidak diragukan, dia bahkan menolak tawaran yang Silvia berikan. Mereka tahu, William benar-benar tidak salah memilih calon istri.


"Bagaimana dengan kakakmu? Apa kau sudah berbicara dengannya?" sesungguhnya William ingin tahu tapi sepertinya Marien tidak mau membahasnya tadi jadi dia tidak bertanya lebih.


"Tentu saja. Aku sudah berbicara dengannya dan sekarang tergantung dirinya mau memaafkan ayah kami atau tidak!"


"Sebaiknya kau tidak memaksanya, Marien. Biarkan saja dia mengambil keputusan sendiri."


"Aku tahu, Will. Aku hanya memberinya nasehat saja dan aku tidak akan memaksa Alexa karena sebuah maaf itu datang dari hati sendiri, tidak bisa dipaksakan. Aku hanya bisa berharap Alexa mengambil keputusan yang baik untuk dirinya sendiri dan aku pun harap dia berdamai dengan ayah kami!"


"Baiklah, kau benar-benar memiliki hati yang luar biasa. Mengenai masa hukuman yang akan dijalani oleh kakakmu, aku sudah memerintahkan Steve mengupayakannya. Semoga saja hukumannya bisa berkurang lima atau enam tahun sehingga dia cepat bebas."


"Apa bisa?" tanya Marien yang sepertinya tidak yakin.


"Tentu saja!" William beringsut mendekati Marien lalu memeluk istrinya yang sedang berbaring.

__ADS_1


"Steve sedang mengupayakannya. Dia pasti bisa melakukannya dan masa tahanan kakakmu bisa berkurang sehingga dia bisa cepat bebas!"


"Terima kasih, Will. Hari ini kau benar-benar memberi aku banyak kebahagiaan. Terima kasih!"


"Apa dengan melihat penampilan anehku itu benar-benar membuatmu bahagia?"


"Tentu saja, itu pemandangan langka!"


"Itu hanya pemandangan memalukan!" jika diingat dengan penampilannya tadi, dia benar-benar malu tapi karena istrinya sangat senang jadi dia mau melakukannya.


"Tapi kau terlihat keren!" ucap Marien seraya memberikan ciuman di pipi suaminya.


Mereka berdua saling pandang dengan senyuman menghiasi wajah. Tangan William sudah berada di wajah Marien dan mengusapnya dengan perlahan. Kebahagiaan yang mereka rasakan juga terpancar dari tatapan mata mereka berdua.


"Jika anak kita laki-laki, apakah ayahmu akan kecewa lalu memintamu untuk menikah lagi?" tiba-tiba saja pertanyaan itu terlontar begitu saja.


"Apa? Pemikiran konyol macam apa itu?"


"Bisa saja hal itu terjadi, bukan? Karena ayahmu sangat menginginkan cucu perempuan tapi yang lahir justru laki-laki. Ayahmu jadi kecewa lalu memintamu untuk menikah lagi!"


"Ayahku tidak mungkin seperti itu, percayalah. Ibuku juga tidak. Sudah aku katakan, keluargaku menjunjung tinggi pernikahan jadi kedua orangtuaku tidak mungkin meminta aku menikah lagi hanya karena mereka tidak mendapatkan cucu perempuan."


"Aku sedikit cemas," ucap Marien.


"Singkirkan rasa cemasmu karena mereka tidak akan seperti itu!"


"Baiklah, aku berharap anak pertama kita perempuan agar keinginan ayahmu terkabul."


"Kau benar, sudah malam jadi sebaiknya kita tidur!"


Marien mengangguk, senyuman kembali menghiasi wajahnya ketika William mencium dahinya.


"I love you, Honey!" ucap William yang kembali mencium pipinya.

__ADS_1


"Me too!" kedua mata Marien terpejam saat William mencium bibirnya dengan mesra. Mereka saling tatap sambil tersenyum untuk kesekian kali. Bahagia, sudah pasti mereka berdua rasakan. William memeluk istrinya sambil mengusap perut Marien yang sudah sedikit membesar. Sebentar lagi, pernikahan mereka yang terjalin di atas ketidaksempurnaan akan menjadi sempurna karena buah hati mereka yang akan lahir nanti akan menyempurnakan pernikahan mereka yang terjadi di atas sebuah kontrak.


__ADS_2