
"Brak!" meja digebrak dengan keras oleh Zack Erson saat rapat sedang berlangsung. Pria tua itu tidak terima karena kerja sama antara perusahaannya dengan perusahaan William dihentikan begitu saja padahal selama ini mereka selalu bekerja sama dengan baik.
Keputusan itu tentu langsung diutarakan oleh William secara langsung. Namun tidak Zack saja yang mendapatkan kabar itu, beberapa pengusaha pun mendapatkan imbas yang sama seperti dirinya. William melakukan hal itu karena mereka memang sudah tidak kompeten untuk diajak untuk terus bekerja sama namun kasus Zack, sedikit berbeda.
"Apa artinya ini, Tuan Archiles?" tanya Zack tidak terima, tatapan mata tajamnya tertuju pada pria bertopeng yang duduk di hadapannya. Agar Zack tidak curiga, William duduk di kursinya. Dia tidak duduk di kursi roda apalagi dia tidak perlu berjalan ke sana kemari.
"Tidak perlu arti, aku hanya mengakhiri kerja sama di antara kita!" ucap William yang berusaha menyamarkan suaranya.
"Apa alasannya?" Zack masih tidak terima. Sungguh sial. Padahal dia berniat mendekati putra dari Abraham Archiles dan mengajaknya untuk kembali bekerja sama tapi dia justru mendapatkan kabar tidak baik sebelum dia bisa mendekati pria itu untuk mengajukan kerja sama kembali karena dia mendapatkan keuntungan besar dari kerja samanya yang dia sepakati dengan Abraham Archiles.
"Sudah aku jelaskan jadi tidak perlu kembali bertanya. Lagi pula tidak kau saja, aku juga memutuskan kerja sama dengan yang lain tapi mereka tidak seperti dirimu. Percayalah, sekali lagi kau menggebrak meja itu, kau akan kehilangan separuh saham yang kau miliki di perusahaanmu!" ancam William.
Zack terdiam, dia tidak berani lagi menggebrak meja. Semua yang ada di sana diam, tidak ada satu pun yang bersuara karena ancaman yang diucapkan oleh William bukan isapan jempol belaka namun Zack masih tidak terima dengan keputusan William yang telah mengakhiri kerja sama mereka.
Semua pengusaha sudah pergi saat rapat telah selesai, hanya tersisa Zack saja. Pria tua itu melangkah mendekati William yang sedari tadi melihatnya dan ingin tahu apa yang diinginkan oleh pria tua itu lagi padahal sudah jelas jika kerja sama mereka sudah berakhir.
"Apa ada yang hendak kau sampaikan, Tuan Erson?" tanya William.
"Tuan Archiles, tidak masalah kau membatalkan kerja sama antara aku dan ayahmu tapi ini benar-benar kesempatan bagiku untuk menjalin kerja sama baru denganmu," meski harus kehilangan kerja sama yang sudah lama tapi dia bisa memulai yang baru dan meraup keuntungan yang lebih besar dari pada sebelumnya.
"Oh, apa yang hendak kau tawarkan padaku?" William bersandar di kursi dan menautkan jari jemarinya. Dia ingin melihat apa yang hendak Zack tawarkan padanya.
"Jika kau tertarik, aku akan membuat proposalnya untukmu," ucap Zack.
"Aku belum tahu apa yang akan kau tawarkan lalu bagaimana aku bisa tahu jika itu menarik?"
"Benar, kau sangat benar. Jika begitu aku akan membuat proposalnya lalu memberikannya padamu. Aku yakin yang kali ini tidak akan mengecewakan dan akan memberikan keuntungan besar untukmu!"
"Aku tunggu, Tuan Erson. Aku harap lebih menarik dari yang sebelumnya jika tidak, maka aku tidak bisa menerima tawaran darimu!"
"Pasti, aku akan segera membuatnya dan memberikannya padamu!"
__ADS_1
"Aku tunggu!" William tersenyum, ingin menjalin kerja sama dengannya kembali? Orang yang sudah dia depak tidak akan dia berikan jalan untuk masuk lagi tapi dia akan mempermainkan Zack sampai pria itu memohon pada dirinya yang dianggap sebagai pecundang.
"Apa kau benar-benar akan bekerja sama dengannya lagi, Sir?" tanya Steve yang baru masuk setelah mengantar kepergian Zack sembari mengambil kursi roda untuk bosnya.
"Apa kau berpikir demikian, Steve? Apa aku harus memberikan peluang lagi padanya?" tanya William pula.
"Sepertinya kau memiliki ide bagus," ucap Steve. Beberapa berkas yang ada di atas meja dibereskan sebelum dia membantu bosnya untuk berpindah ke kursi rodanya.
"Coba kau tebak, apa yang akan dia lakukan saat tidak ada yang mau bekerja sama dengan proyek baru yang akan dia tawarkan nanti?" William tersenyum licik, mereka bisa berbuat licik lalu kenapa dia tidak?
"Jadi kau ingin mempermainkan dirinya, Sir?" Steve menebak demikian karena dia rasa akan ada sedikit akal licik untuk membuat Zack kehilangan pamornya dalam berbisnis.
"Yes, biarkan saja dia membuat proposal dan mengajukan kerja sama. Dengan alasan hendak mempelajari proposal yang dia berikan, aku akan membuat waktunya habis bahkan dia tidak akan mendapatkan satu pengusaha pun untuk bekerja sama dengannya. Dengan begitu dia tidak akan mendapatkan apa pun bahkan dia akan rugi besar. Sekarang, perintahkan beberapa pengusaha untuk menghentikan kerja sama mereka dengan Zack Erson dan katakan aku akan menggulingkan perusahaan mereka jika tidak ada yang mau. Aku tidak main-main, aku akan membuat pria itu mundur dengan perlahan lalu kita akan lihat nanti, apakah dia akan datang dan memohon padaku yang mereka anggap sebagai pecundang ini atau tidak!"
"Kau melakukan sejauh ini, apa untuk Nona Marien. Sir?"
"Yes, aku memang melakukannya untuk Marien!"
"Aku harap kau tidak salah lagi, Sir. Aku harap Nona Marien benar-bebar tulus dan tidak menipumu seperti yang dilakukan oleh Nona Fiona sehingga kau tidak mengalami pengkhianatan untuk kedua kalinya."
"Apa dengan begitu kau akan menjalin hubungan serius dengannya?" Steve melirik bosnya karena dia ingin tahu jawaban dari bosnya yang mendadak ingin menjalin hubungan serius dengan wanita yang dia nikahi tanpa adanya perasaan cinta.
"Apa itu buruk, Steve? Di saat kau dikhianati oleh kekasih yang selama ini begitu kau cintai tapi mendadak Tuhan mengirimkan seseorang yang begitu tulus, apa kau harus menyia-nyiakan kesempatan yang kau dapatkan tanpa sengaja itu? Jika aku melepaskannya, maka akan ada pria yang sangat beruntung karena memilikinya dan aku, mungkin saja lagi-lagi akan berakhir dengan wanita yang memanfaatkan uangku sedangkan Marien, dia tidak bertanya siapa aku sampai sekarang padahal aku tidak akan menutupinya jika dia memang ingin tahu!"
"Kau benar, Sir. Aku bahkan sempat berpikir untuk mengantri di belakangmu!"
"Hei, apa maksudnya itu?" William melotot ke arah sang asisten.
"Aku hanya bercanda Sir, tapi aku serius!" Steve masih juga bercanda.
"Kau bisa melakukannya jika kau sudah bosan hidup!" ancam William.
__ADS_1
"Oleh sebab itu, ini baru rencanaku saja karena aku akan maju saat kau tidak menginginkannya lagi."
"Sembarangan, sekarang cepat bantu aku!"
"Yes, Sir!" Steve bergerak cepat untuk membantu bosnya. Rencana sempurna untuk menggulingkan musuh dan bodohnya Zack Erson masih mempercaya jika William akan menjalin kerja sama dengannya lagi tapi meski begitu, dia sangat kesal karena William mengakhiri kerja sama di antara mereka. Sebaiknya dia menghubungi Abraham Archiles dan berbicara dengannya serta membujuknya untuk menerima tawaran kerja samanya yang baru.
Seperti yang William katanya pada ayahnya, Zack benar-benar menghubunginya. Meski enggan namun Abraham tetap menjawab panggilan dari Zack.
"Untuk apa kau mencari aku, Tuan Erson?" Abraham sok basa basi padahal dia tahu tujuan Zack.
"Maaf jika aku lancang. Aku hanya ingin membicarakan bisnis denganmu, Tuan Archiles. Apa kau punya waktu?" tanya Zack dengan harapan yang cukup tinggi.
"Untuk bisnis, kau bisa mencari putraku karena aku tidak terlibat lagi di perusahaan!"
"Apa? Apa aku tidak bisa membicarakan bisnis denganmu lagi?"
"Maaf, aku sudah pensiun!" ucap Abraham padahal sebenarnya tidak.
Zack sangat kecewa mendengar pernyataan Abraham yang sudah pensiun padahal dia sengat berharap pada pria itu tapi sekarang dia hanya bisa berharap pada William Archiles tapi tunggu, kenapa nama William terasa tidak asing. Pasti tidak ada hubungannya, bukan?
Setelah dihubungi oleh Zack, Abraham menghubungi putranya karena ada yang hendak dia bicarakan. Anak yang sudah begitu berani menyembunyikan sesuatu, awas saja nanti.
"Aku sudah melakukan apa yang kau inginkan!" ucap Abraham.
"Sudah aku duga dia akan menghubungimu. Terima kasih, Dad!"
"Sekarang kau harus melakukan apa yang aku inginkan!" ucap ayahnya.
"Apa itu?" tanya William.
"Segera menikah dan beri aku seorang cucu!"
__ADS_1
"Apa? Tapi aku?"
"Tidak boleh membantah, jika tidak awas kau. Tamat riwayatmu!" setelah mengancam, Abraham mengakhiri pembicaraan mereka. William menggeleng, mendadak dia mendapatkan sebuah misi. Menikah dan memberikan cucu? Menikah sudah dia lakukan tapi memberikan cucu? Apa ayahnya kira misi itu gampang?!