
Marien sudah tidak sabar untuk tahu hadiah apa yang akan diberikan oleh William untuk Alexa dan Steve. Waktu satu minggu benar-benar membuatnya gelisah. Rasanya sangat ingin memutar waktu agar waktu satu minggu itu cepat datang namun dia benar-benar sudah tidak tahan.
Marien sangat ingin meminta William mengatakan padanya apa sebenarnya hadiah yang akan William berikan untuk Alexa tapi dia merasa canggung karena baru lewat dua hari.
Dia harus bisa bersabar, harus bisa namun dia sudah tidak tahan lagi karena rasa penasaran itu bisa membunuhnya. Sudah cukup, lebih baik dia mencari suaminya yang sedang menenangkan Emely yang tak kunjung berhenti menangis.
William berada di balkon untuk menenangkan tangisan Emely. Marien pun mendekatinya dengan perlahan lalu berdiri di sisi William. Senyuman menghiasi wajahnya, dia tersenyum semanis mungkin sampai membuat William curiga jika ada yang istrinya inginkan tapi dia menebak Marien bertingkah seperti itu akibat sudah tidak sabar untuk tahu kejutan yang ingin Alexa berikan padanya.
"Kenapa? Apa ada yang kau inginkan?" tanyanya sengaja.
"Seharusnya kau tahu, Will," jawab Marien yang semakin mendekatinya.
"Kau tidak mengatakan apa pun, bagaimana aku bisa tahu?" ucap William pura-pura tidak mengerti.
"Ayolah, Will. Katakan padaku hadiah apa yang sebenarnya ingin kau berikan pada Alexa dan Steve?" akhirnya dia pun mengucapkan perkataan itu.
"Kau benar-benar tidak sabar, Sayang. Aku kira kau akan bersabar untuk hal ini tapi sepertinya kau benar-benar tidak sabar sama sekali!"
"Aku memang tidak sabar jadi katakan padaku hadiah apa yang akan kau berikan pada mereka?"
"Aku rasa aku tidak bisa mengatakannya padamu sekarang!"
"Please, Will. Beri tahu aku sekarang juga karena aku sudah sangat ingin tahu!"
"Jangan memaksa aku, Nona. Aku tidak akan mudah terbujuk!" William melangkah pergi, pura-pura menghindar namun Marien yang tidak menyerah mengejar dirinya karena dia ingin membujuk suaminya agar William segera memberitahu apa kejutan yang akan dia berikan pada Steve dan Alexa agar dia tidak semakin penasaran.
"Will, jangan menghindar. Cepat katakan padaku hadiah apa yang hendak kau berikan pada mereka!" pintanya sambil mengikuti langkah suaminya.
"Baby, sepertinya Mommy menginginkan sesuatu dan sebentar lagi dia akan memaksa Daddy!" ucapnya pada Emely yang sudah tidak menangis lagi.
"Will, serius. Cepat katakan padaku!" Marien mulai memaksa.
"Wah.. Wah, jangan memaksa seperti itu, Sayang!"
"Aku serius, dasar menyebalkan!" kini Marien menarik baju suaminya, hari ini juga dia harus tahu jawabannya.
"Hei, jangan menarik seperti itu! Bagaimana jika Emely terjatuh? Kau harus berhati-hati!" ucapnya.
"Kau tidak mau mengatakannya maka aku akan memaksa sampai kau mengatakannya!"
"Kemarilah!" pinta William sambil menggerakkan satu jarinya sebagai isyarat agar Marien semakin mendekatinya. Marien yang sudah sangat ingin tahu tentu saja tidak membuang waktu. Marien segera mendekat tanpa membuang waktu, dia harus segera tahu apa yang hendak suaminya katakan.
__ADS_1
"Apa? Cepat!" pintanya.
"Kau benar-benar tidak sabar tapi aku memintamu mendekat bukan untuk memberi tahu apa yang hendak aku berikan pada mereka," goda William.
"William!" Marien memekik dan terlihat cemberut.
"Baiklah, baik. Aku hanya menggoda dirimu saja. Segeralah bersiap-siap, kita akan pergi ke penjara sekarang juga!"
"Benarkah? Apa kau serius?"
"Mau atau tidak?" tanya William.
"Mau, tentu saja mau, Tunggu sebentar, aku akan segera bersiap-siap dan mempersiapkan barang-barang milik Emely." Marien bergegas untuk mempersiapkan semuanya karena dia sudah tidak sabar.
"Pelan-Pelan, Nyonya. Bukankah kau berkata masih sakit?"
"Ups, aku lupa!" ucap Marien yang mulai berjalan sepelan mungkin.
William menggeleng, sudah dia duga Marien tidak akan tahan untuk tahu dengan hadiah yang akan dia berikan pada Steve. William masuk ke dalam kamar, dia akan membantu Marien bersiap-siap. Lagi pula Emely sudah tidur, dia bisa membantu istrinya untuk mengambil barang kecil. Dia pun harus menghubungi Steve karena Steve harus pergi ke penjara bersama dengannya apalagi hadiah yang hendak dia berikan untuk suami kakak iparnya itu. Meski Steve tidak mengerti tapi dia tetap menjalankan perintah dan bergegas datang untuk menjemput William.
Marien membereskan semua barang Emely yang hendak dia bawa dibantu oleh pengasuh Emely. Dia tidak mau menunda karena dia memang sudah sangat tidak sabar untuk tahu. Setelah Steve datang, mereka pun bergegas pergi ke penjara. Alexa yang mendapat kabar jika ada yang menjenguknya tentu saja sangat senang. Dia mengira hanya Steve yang menjenguk tapi ketika mendapati Marien datang sambil menggendong putrinya, Alexa benar-benar sangat senang.
"Kau terlihat baik-baik saja, kakak. Kau pun terlihat semakin gemuk saja!" ucap Marien.
"Setiap hari Steve membawakan aku makanan, bagaimana aku tidak gemuk?"
"Itu bagus, bukan? Steve memanjakan dirimu dan begitu menyayangimu!"
"Kau benar, sekarang biarkan aku menggendong Emely. Aku sudah tidak sabar!" ucap Alexa.
"Tentu saja, kau bisa menggendongnya!" Marien memberikan putrinya dengan hati-hati pada kakaknya. Alexa pun menggendong Emely dengan hati-hati, ekspresi wajahnya berseri ketika Emely berpindah ke dalam gendongannya. Perasaan bahagia memenuhi hati, Alexa tersenyum dan meneteskan air mata tanpa dia inginkan.
"Dia sangat mirip denganmu," ucapnya.
"Yes, semua berkata demikian!" ucap Marien. Senyuman menghiasi wajahnya, dia tidak menyangka Alexa begitu menyukai anak-anak di balik sikap menyebalkannya selama ini.
"Lihat, dia sangat lucu dan menggemaskan. Apa kita akan memiliki anak yang lucu seperti ini nantinya?" kini Alexa bertanya pada Steve yang sedang berdiri di sisinya untuk melihat Emely.
"Kita akan memiliki beberapa anak yang lucu setelah kau bebas nanti!" ucap Steve.
"Aku sungguh sudah tidak sabar, Steve. Semoga saja kita tidak begitu lama memiliki anak setelah aku bebas!" ucapnya.
__ADS_1
"Steve, sesungguhnya ada yang hendak aku sampaikan padamu!" ucap William yang sedari tadi menunggu mereka selesai.
"Apa itu, Sir? Apa aku melakukan sebuah kesalahan?" tanya Steve.
"Saat bersama denganku, tidak perlu memanggil aku seperti itu apalagi kau dan aku sudah menjadi ipar!" ucap William.
"Aku tidak terbiasa, Sir. Bagaimana aku bisa memanggilmu dengan tidak sopan padahal kau adalah bosku!"
"Baiklah, tidak perlu dipikirkan. Sekarang aku mengajakmu datang karena aku ingin memberikan hadiah pernikahan yang belum aku berikan untuk kalian berdua," ucap William.
"Hadiah pernikahan?" Steve dan Alexa saling pandang dengan ekspresi heran.
"Yeah, aku belum memberikannya jadi aku rasa sudah saatnya aku memberikan hadiah pernikahan untuk kalian. Bukan uang, bukan juga barang tapi aku ingin memberikan kalian sesuatu yang pasti sangat kalian inginkan!" ucapnya.
"Apa itu, Sir?" tanya Alexa yang penasaran.
"Tidak lama lagi istrimu akan bebas!" ucap William.
"Apa?" Steve dan Alexa terkejut secara bersamaan tapi Marien pun terkejut sama seperti dirinya.
"Bagaimana bisa, Sir?" tanya Steve lagi.
"Jangan tanya bagaimana, tapi aku memang membantumu agar istrimu segera bebas. Bukan berarti akan bebas esok hari tapi masa hukumannya akan semakin dipersingkat dan tidak sampai enam tahun lagi!"
"Apa itu benar. Sir?" Steve dan Alexa benar-benar senang.
"Ya, ini adalah hadiah pernikahanmu dengan Alexa. Aku rasa kau lebih membutuhkan hal ini dari pada uang atau barang!"
"Aku memang lebih membutuhkan hal ini. Terima kasih, Sir, Terima kasih!" Steve melangkah mendekati William dan hendak memeluknya namun William segera menghindar.
"Jangan lakukan!" ucapnya.
"Jangan menolak, Sir. Anggap pelukan sebagai sesama ipar!" ucap Steve.
"Jangan coba-coba, aku akan membatalkannya!" ancam William.
"Baiklah, tidak jadi!" ucap Steve.
"Memang seharusnya tidak!" ucap William.
Marien tersenyum, dia sangat senang karena William memberikan hadiah yang sungguh tak terduga pada Steve dan Alexa. Dia tidak menduga akan hadiah itu dan dia yakin, Steve pun tidak menduga begitu juga dengan Alexa. Entah bagaimana cara William melakukannya yang pasti Alexa akan segera bebas tidak lama lagi dan dia tidak perlu berada di dalam penjara sampai enam tahun lamanya.
__ADS_1