Suami Cacatku Yang Sempurna

Suami Cacatku Yang Sempurna
Saling Memanfaatkan


__ADS_3

Fiona yang pulang dalam keadaan telanjang hampir saja ditangkap oleh polisi bahkan dia dianggap gila bagi yang melihat dirinya. Fiona menutupi bagian tubuh pentingnya menggunakan tas karena hanya itu yang bisa dia lakukan namun hari itu adalah hari paling buruk dan paling memalukan dalam hidupnya.


Tidak saja gagal menjebak William, wajahnya harus babak belur bahkan dia bisa merasakan kedua pipinya yang membengkak akibat pukulan Marien. Rasa sakit yang dia rasakan pun tak tertahankan. Bagian belakang tubuhnya pun sakit akibat tendangan yang diberikan oleh Marien. Wanita itu pun melemparnya tanpa perasaan. Akan dia balas, apa yang dia alami saat ini pasti akan dia balas.


Fiona yang sedang dikejar oleh polisi bersembunyi di sebuah lubang selokan. Dia sudah meminta Ridz menjemput namun Ridz belum bisa datang karena sibuk sehingga membuatnya harus bersembunyi terlebih dahulu.


Fiona bahkan sudah kedinginan. Sungguh cobaan yang bertubi-tubi. Beruntungnya Marien memberikan tasnya jika tidak, dia benar-benar harus menunggu tengah malam baru bisa pulang dan dia pun harus berjalan kaki cukup jauh karena tidak bisa menghubungi Ridz.


Ridz yang diminta datang untuk menjemput pada akhirnya datang. Dia sangat terkejut saat Fiona berlari ke arahnya dalam keadaan telanjang dan kotor akibat bersembunyi. Keadaannya yang babak belur pun membuat Ridz tak kalah terkejutnya apalagi bau tubuh Fiona yang busuk.


"Apa yang terjadi padamu?" tanya Ridz setelah Fiona masuk ke dalam mobil. Pria itu bahkan menutup hidungnya karena bau.


"Apa kau tidak bisa melihat? Apa kau buta?" tanya Fiona penuh emosi. Dia semakin merasa kedinginan akibat pendingin yang ada di mobil.


"Berikan jasmu padaku!" pinta Fiona.


"Ck, kau benar-benar membuat aku malu. Bagaimana jika ada yang melihatmu dalam keadaan seperti ini? Aku akan jadi bahan gunjingan karena kau adalah kekasihku. Reputasiku bisa hancur gara-gara dirimu!" Ridz melepaskan jas yang dia pakai lalu melemparkannya pada Fiona. Cukup sudah, Fiona bukannya membantu tapi justru menghancurkan reputasinya. Dia akan semakin hancur gara-gara perbuatan Fiona.


"Aku melakukan hal ini untukmu. Bukankah kau yang ingin aku kembali membujuk William agar dapat kita manfaatkan lagi? Jadi jangan bertingkah seolah-olah aku sengaja ingin membuatmu hancur!" keadaannya sudah sangat memalukan tapi Ridz tidak menunjukkan rasa khawatir sama sekali. Sesungguhnya Ridz menganggapnya apa? Apa pria itu hanya memanfaatkan dirinya saja?

__ADS_1


"Cukup, Fiona. Aku tidak mau berdebat. Sekarang bagaimana, apa kau berhasil menjebaknya? Apa kita bisa memanfaatkan dirinya lagi?" ini yang paling penting dari apa pun karena dia membutuhkan suntikan dana yang cukup besar untuk perusahaannya.


"Baj*ngan, kau tidak mengkhawatirkan aku dan tidak bertanya kenapa aku bisa jadi seperti ini tapi yang kau pedulikan hanya keberhasilanku saja. Sebenarnya kau menganggap aku apa? Apa kau hanya memanfaatkan aku saja untuk memperkaya dirimu?" dia sedang mengalami kesialan tapi Ridz justru mempedulikan keberhasilannya saja.


"Kau ingin apa, Fiona? Aku sudah datang menjemputmu, apa lagi yang kau inginkan? Apa kau ingin aku gendong seperti bayi yang sedang telanjang?"


"Sialan kau, Ridz!" teriak Fiona seraya memberikan sebuah pukulan di wajah Ridz. Air mata tak bisa dibendung lagi, pria yang dia bela dan dia pertahankan ternyata sangat mengecewakan. Dia membuang William demi sampah itu? Dia benar-benar bodoh dan buta karena dia telah rela melakukan apa pun demi Ridz.


"Beraninya kau memukul aku, Fiona!" Ridz yang tersulut emosi pun memberikan sebuah pukulan di wajah Fiona. Fiona berteriak, rasa sakit di wajahnya bertambah bahkan darah mengalir dari hidung akibat pukulan Ridz yang begitu kuat.


"Beraninya kau memukul aku, Ridz? Beraninya kau melakukan hal ini padaku?" Fiona menatap pria yang dia pertahankan dengan banyak pengorbanan dengan tatapan kecewa dan air mata berlinang. Perasaan kecewa memenuhi hatinya. Selama ini William saja tidak pernah memukulnya bahkan satu tamparan belum pernah dia dapatkan dari William meski pria itu dia khianati tapi beraninya Ridz yang selama ini dia pertahankan justru memukulnya?


"Aku kecewa denganmu, Ridz. Benar-Benar kecewa. Aku melakukan apa pun untukmu, aku rela mengkhianati William hanya untukmu. Aku memanfaatkan dirinya juga untukmu tapi kau tidak peduli padaku sama sekali bahkan kau begitu tega memukul aku. Kau pun tidak peduli dengan keadaanku yang memalukan. Kau lebih mempedulikan reputasimu dari pada aku bahkan kau memukulku tanpa ragu. Aku sungguh kecewa padamu. William yang aku khianati tidak memukul aku meski dia marah tapi kau? Aku benar-benar sudah salah telah membela dirimu!" ucap Fiona dengan perasaan menyesal yang teramat dalam. Seharusnya dia tidak menghianati William, seharusnya tidak. Sesungguhnya apa yang dia lihat dari Ridz sehingga dia mau saja memperjuangkan pria itu dan mau melakukan apa saja? Dia benar-benar bodoh.


"Tidak perlu mengucapkan perkataan yang sama secara berulang-ulang. Jika kau kecewa sebaiknya kita putus!" perkataan itu begitu mudah diucapkan oleh Ridz karena dia merasa Fiona sudah tidak berguna lagi untuk dirinya.


"Apa kau bilang?" bagaikan disambar petir, Fiona begitu shock mendengar perkataan Ridz.


"Kita putus, Fiona. Kau begitu kecewa padaku jadi ya sudah, kita selesai!"

__ADS_1


"Kurang ajar kau, Ridz. Begitu mudahnya kau mengakhiri hubungan kita? Apa yang aku lakukan padamu selama ini tidak kau pertimbangkan?"


"Untuk apa aku mempertimbangkannya? Kau yang mau melakukannya untukku jadi aku tidak perlu mempertimbangkannya!"


"Sialan, kau benar-benar baji*ngan! Betapa bodohnya aku yang telah melakukan banyak hal untukmu dan mencampakkan William padahal dia jauh lebih baik dari pada dirimu?" Fiona benar-benar marah, sudah jatuh tertimpa tangga. Itu pepatah yang sangat tepat untuknya karena tidak saja gagal dalam menjebak William, kini Ridz mencampakkan dirinya dengan begitu mudahnya.


"Jika begitu kembalilah pada William jika kau bisa. Sekarang keluar dari mobilku, aku sudah tidak butuh dirimu lagi!" ucap Ridz tanpa perasaan.


"Kau baijin*ngan kurang ajar!" Fiona mulai memukuli Ridz menggunakan tasnya. Dia benar-benar sudah tertipu oleh pria itu dan sekarang dia sudah seperti sampah yang dibuang begitu saja.


"Hentikan, Fiona. Jangan sampai aku memukul wajahmu lagi!" teriak Ridz sambil menghindari pukulan yang Fiona berikan.


"Aku tidak akan berhenti, kau baji*ngan yang memang harus aku pukul sampai mati!" Fiona masih memukul dengan air mata berderai. Dia sungguh wanita bodoh yang telah membuang berlian demi seorang sampah seperti Ridz. Kekecewaannya semakin bertambah saat Ridz kembali memukul wajahnya. Fiona hanya bisa menerima itu dengan rasa sesal yang menyesakkan dada. Ridz bahkan keluar dari mobilnya lalu menarik Fiona keluar dan menghempaskannya ke sisi jalan.


"Mulai sekarang jangan mencari aku lagi. Aku sudah tidak butuh dirimu jadi kita berdua selesai. Jika kau berani muncul di hadapanku, maka aku tidak akan tinggal diam!" ucap Ridz tanpa perasaan padahal Fiona yang mengangkat dirinya namun pria itu memang memanfaatkan Fiona.


Ridz pergi, meninggalkan Fiona di sisi jalan dalam keadaan hancur dan penuh penyesalan. Fiona berteriak dengan keras, menangisi kebodohannya selama ini. Dia memanfaatkan William tanpa tahu jika dia pun sedang dimanfaatkan oleh Ridz.


Sekarang, yang terbuang sebagai sampah justru dirinya. Yang seorang pecundang justru dirinya. Rasanya hinaan pedas yang dia berikan pada William waktu itu kembali padanya. Sungguh, dia sangat menyesal telah mengkhianati William dan sekarang, pria yang dia perjuangkan telah membuangnya seperti sampah yang tidak berguna tapi itu belum berakhir karena masih ada pembalasan yang akan dia dapatkan atas perbuatannya hari ini.

__ADS_1


__ADS_2