
Marien memeriksa semua yang dia perlukan karena sebentar lagi dia harus pergi menemui Abraham Archiles, sang penguasa yang tidak dia sadari jika pria itu adalah ayah mertuanya. Kali ini dia tidak boleh gagal seperti itu waktu itu karena ini adalah kesempatan terbesarnya untuk memajukan perusahaan miliknya yang masih tidak memiliki apa pun.
Permasalahan yang ada sudah selesai bahkan masalah hutang dapat dia selesaikan meski dia harus membayar dengan cara dicicil. Tapi dia harus mendapatkan proyek besar jika dia ingin memajukan perusahaan itu dan jika dia ingin semua hutang lunas, maka dia harus rajin mencari rekan bisnis.
Proposal kerja sama sudah berada di atas meja, Marien sedang merapikan rambutnya karena dia harus terlihat rapi. Kesempatan itu tentu dia dapatkan dari seorang rekan bisnis yang mengatakan jika Abraham sedang memberikan peluang bagi pembisnis baru untuk menjalin kerja sama dengannya tentu yang akan mendapatkannya adalah pembisnis yang potensial serta yang memberikan tawaran menarik. Itu adalah peluang terbesar oleh sebab itu tidak saja dia yang akan bertemu dengan Abraham namun beberapa pengusaha baru ikut serta.
"Apa kau sudah selesai, Miss? Rapatnya akan segera dimulai," ucap sekretarisnya yang masuk ke dalam ruangan.
"Bagaimana dengan penampilanku? Apa sudah terlihat sopan?" tanya Marien.
"Tentu saja sudah, itu sudah cukup."
"Baiklah. Aku hanya gugup saja, sekarang waktunya kita pergi!" proposal diambil, Marien meyakinkan dirinya jika dia bisa mendapatkan kerja sama itu.
Abraham yang tidak tahu akan bertemu dengan calon menantunya tentunya datang untuk menggantikan putranya untuk bertemu dengan beberapa pengusaha muda yang akan dia beri peluang untuk menjalin kerja sama dengannya. Dia memang sering melakukan hal itu, lagi pula memberikan peluang untuk pengusaha baru tidak merugikan karena biasanya yang baru itu yang lebih menjanjikan.
Para pengusaha baru sudah berada di ruang rapat termasuk Marien. Pandangannya tak lepas dari Abraham, ternyata pria itu rupanya. Tapi dia merasa sedikit aneh karena Abraham menggunakan sarung tangan. Itu karena penyakit OCD yang dia derita. Tunggu, Marien melihat ayah mertuanya sendiri dengan begitu serius, kenapa rasanya mirip dengan seseorang?
"Kenapa melihat aku seperti itu, Nona? Jangan katakan kau tidak tertarik dengan tawaran ini dan lebih tertarik melihatku?" ucap Abraham tiba-tiba karena dia menyadari tatapan mata Marien yang tidak berpaling darinya.
"A-Apa? Tidak, bukan!" ucap Marien dengan gugup, sedangkan yang lain menertawakan dirinya. Marien memukul kepalanya sendiri dan tertunduk malu, bodoh. Dia hanya merasa jika pria itu tidak asing tapi sepertinya hanya perasaannya saja. Lupakan, sebaiknya dia fokus pada kesempatan itu.
Meski sempat malu akibat terlalu ingin tahu, namun Marien menyampaikan apa yang harus dia sampaikan dengan sangat baik. Dia bahkan begitu bersemangat agar Abraham tertarik dengan proposal yang dia ajukan. Semangatnya semakin mengebu apalagi ketika dia mengingat jika William juga sedang berjuang untuk menyembuhkan kedua kakinya saat ini.
Dia tidak mau mengecewakan William dan kali ini, dia harus bisa menarik perhatian pria nomor satu itu agar peluang untuk menjalin kerja sama dengannya terbuka lebar. Cukup lama Marien menyampaikan presentasinya, Marien selesai dengan napas terengah namun mendadak dia mendapat tepuk tangan untuk semangat yang dia tunjukkan.
__ADS_1
Marien jadi tersipu malu, semangatnya jadi over power akibat tidak mau kehilangan kesempatan yang mungkin akan sulit dia dapatkan lagi.
"Sekian dariku, terima kasih!" ucap Marien seraya membungkuk lalu duduk. Setelah dirinya tentu saja yang lain tapi Abraham justru tertarik dengan gadis yang penuh energy itu. Apa yang dia tawarkan memang tidak begitu menarik tapi semangatnya justru membuatnya yakin jika Marien bisa memperbaiki kekurangan yang ada di dalam kerja sama yang dia ajukan. Akan dia beri kesempatan dan dia akan berbicara dengan wanita itu setelah selesai.
Rapat itu berjalan hampir tiga jam, banyak hal yang mereka bahas apalagi yang ada di sana adalah para pembisnis pemula. Mereka belajar banyak hal begitu juga dengan Marien, sekarang dia sadar ternyata tidak mudah menjadi seorang pembisnis handal. Masih banyak yang harus dia pelajari, lagi pula dia masih baru jadi dia tidak boleh kecewa jika dia gagal.
"Nona Marien Douglas, bisa kau tinggal sebentar?" pinta Abraham.
"Tentu, Sir," Marien yang hendak pergi kembali duduk.
"Bagus, berikan proposal yang kau miliki padaku!"
Marien yang tidak mengerti dengan apa pun tentu saja memberikannya. Dia berdiri agak jauh dan menunggu dalam diam, sedangkan Abraham memeriksa proposal yang baru saja diberikan oleh Marien.
"Aku suka semangatmu, itu nilai lebih yang ada padamu," ucap Abraham tanpa melihat ke arah Marien.
"Itu sangat bagus, proposal yang bagus tanpa semangat tidak ada gunanya tapi kesalahan yang ada di proposal ini bisa kau perbaiki jadi tetap pertahankan semangatmu."
"Terima kasih," ucap Marien. Ternyata pria yang cukup baik. Dia tidak berharap lebih, dapat belajar untuk memperbaiki diri saja sudah sangat bagus karena banyak yang memiliki tawaran menarik di bandingkan dirinya.
Abraham tidak berkata apa-apa lagi, dia memang mencari pengusaha yang berpotensi jadi dia akan menilai dari segala segi. Memberikan peluang pada pengusaha baru itu memang sangat penting karena jika tidak ada mereka maka perusahaannya juga akan jalan di tempat.
"Aku sudah mencoret bagian-bagian yang harus kau perbaiki. Aku harap saat kita bertemu lagi kau sudah memperbaikinya dan membuat proposal ini menjadi menarik!" Abraham meletakan proposal milik Marien ke atas meja.
"Aku sangat berterima kasih, Sir. Kau benar-benar memberi aku kesempatan yang sangat besar. Aku akan memperbaikinya dan tidak mengecewakan dirimu!" Marien sudah mengambil proposalnya dan membungkuk. Dia sangat beruntung mendapatkan teguran langsung karena ini sangat berharga.
__ADS_1
"Temui aku minggu depan dan aku harap kau tidak mengecewakan!" entah kenapa dia ingin memberikan kesempatan itu pada Marien padahal banyak yang lebih kompeten.
"Sekali lagi terima kasih, Sir," Marien membungkuk semakin dalam. Meski dia sudah diberi kesempatan bukan berarti dia akan mendapatkan apa yang dia mau dengan mudah karena dia harus berusaha. Setelah keluar dari ruangan, Marien melompat akibat girang namun dia harus menahan rasa senangnya sampai dia keluar dari ruangan itu.
Rasanya sudah tidak sabar mengatakan hal itu pada William. Mungkin dia bisa menghubungi suaminya. Semoga saja tidak mengganggu. William yang sedang menjalani terapi berhenti sejenak untuk menjawab panggilan dari Marien.
"Bagaimana, apa kau mendapatkannya?" tanya William.
"Tidak, tapi aku memiliki kesempatan."
"Bagus, kesempatan apa?" dia tahu ayahnya tidak mungkin sembarangan memberikan peluang pada pengusaha yang tidak kompeten. Jika ayahnya memberikan Marien peluang itu berarti Marien bisa menarik perhatian ayahnya. Itu bagus, dengan begini Marien akan berusaha mendapatkan kerja sama itu dan tidak menyia-nyiakan kesempatan yang ayahnya berikan. Ternyata keputusannya untuk tidak terlibat sangat benar karena dengan begini, suatu saat ayahnya akan tahu siapa menantunya.
"Abraham Archiles berkata proposal milikku tidak menarik tapi dia suka dengan semangat yang aku tunjukkan oleh sebab itu dia memberikan aku peluang untuk memperbaiki proposal itu dan menemuinya lagi minggu depan. Aku sangat senang, Will. Aku masih diberi kesempatan ini," ucap Marien.
"Itu sangat bagus, Marien. Tidak ada orang yang bisa sukses dalam satu malam. Semua orang pasti melewati jalan yang sulit dan aku percaya kau bisa melewati jalan itu!"
"Terima kasih, Will. Aku akan berusaha agar mendapatkan kesempatan itu."
"Aku percaya kau pasti bisa."
"Terima kasih. bagaimana dengan harimu?"
"Begitulah, aku harus menjalani terapi yang berat."
"Seberat apa pun, aku harap kau tidak menyerah," ucap Marien.
__ADS_1
"Tentu saja, Honey. Kau pun tidak boleh menyerah dan jangan sia-siakan kesempatan yang kau dapatkan!" dia harap Marien tidak mengecewakan ayahnya karena itu bisa menjadi poin lebih untuk Marien saat dia membawa Marien untuk memperkenalkannya pada kedua orangtuanya.
Setelah berbicara dengan William, Marien keluar dari perusahaan itu dengan penuh semangat. Dia akan kembali ke kantor lalu memperbaiki proposal agar dia sudah siap sebelum waktunya tiba namun tanpa dia sadari, ada yang mengikutinya dari jauh dan orang-orang itu ditugaskan untuk mencari tahu apa yang dia lakukan.