
Hari yang dinantikan oleh Marien akhirnya datang karena hari ini, dia akan menandatangani kerja sama yang sudah dia sepakati sebelumnya dengan Abraham Archiles. Ini benar-benar langkah awalnya untuk maju dan kabar yang dia dapatkan setidaknya mengurangi rasa sedih yang sedang dia rasakan.
Pagi-Pagi sekali, Marien sedang bersiap-siap untuk pergi ke kantor begitu juga dengan William. Ada yang hendak mereka lakukan terutama William. William ingin pulang ke rumah karena dia ingin meminta ayahnya melakukan sesuatu untuk memberikan kejutan pada Marien tentunya tanpa sepengetahuannya.
"Apa siang ini kau sibuk, Will?" Marien sedang menyisir rambutnya, sedangkan William memakai dasi. Dia akan mengantar Marien ke kantor sebelum dia pulang.
"Maaf, Honey. Sepertinya aku akan sibuk sampai malam," ucap William beralasan padahal hari ini dia tidak sibuk selain menjalani terapi.
"Apa ada yang kau inginkan? Aku akan memerintahkan Steve membawa apa yang kau inginkan jika ada."
"Tidak, Will. Aku pikir ingin mengajakmu makan siang bersama. Hanya itu saja."
"Lain kali kita akan melakukannya tapi tidak hari ini. ada urusan penting yang harus aku lakukan dan kemungkinan aku akan pulang sedikit malam jadi jangan menunggu aku."
"Baiklah, tapi kau harus menebusnya jika sudah ada waktu!"
"Aku tidak keberatan. Bagaimana jika kita pergi jalan-jalan ke luar negeri? Semenjak menikah kita belum pergi berbulan madu."
"Ide bagus, kita bicarakan lagi nanti karena aku sudah harus pergi. Apa kau sudah selesai?" Marien mendekati William lalu merapikan dasinya yang sesungguhnya sudah rapi.
"Kau sudah terlihat tampan," puji Marien dan ini pujian pertama yang dia berikan pada suaminya.
"Kau juga terlihat luar biasa, Sayang. Duduk sebentar di sini!" pinta William seraya menepuk pahanya.
"Bagaimana dengan keadaan kedua kakimu, Will? Apa terapi yang kau jalani sudah memberikan hasilnya? Apa kau belum bisa merasakan sakit atau belum bisa menggerakkan salah satu dari kakimu?" tanya Marien. Dia sangat ingin tahu oleh sebab itu Marien memijit paha William yang sedang dia duduki saat ini.
"Bagaimana? Apa kau bisa merasakan pijatan tanganku?"
William tersenyum, usapan pelan diberikan di wajah Marien. Marien mengernyitkan dahi karena dia sangat penasaran apakah William sudah bisa merasakan pijatan tangannya atau tidak.
"Kenapa kau diam saja, Will? Jangan-Jangan kau sudah bisa berjalan!" ucap Marien curiga.
"Tidak, aku belum bisa tapi aku sudah bisa merasakan berat badanmu ini!" ucap William.
__ADS_1
"Benarkah?" tanya Marien dengan ekspresi senang.
"Yes, sebentar lagi aku akan menjadi suami yang sempurna untukmu!"
"Aku sangat senang, Will!" Marien memeluknya, ini kabar yang sangat bagus untuk mereka berdua, "Ini benar-benar kejutan untukku dan aku harap dalam waktu dekat kau bisa berjalan kembali. Aku jadi membayangkan betapa gagahnya dirimu nanti."
"Oh, yeah? Coba jawab aku. Apa kau sedang membayangkan aku gagah di atas ranjang ataukah ketika aku sedang berjalan?"
"A-Apa?"
"Aku tidak keberatan kau membayangkannya, Marien!"
"Ja-Jangan mengucapkan perkataan yang membuat aku malu!" ucap Marien dengan wajah memerah. Gagah di atas ranjang? Tiba-Tiba otak kotornya jadi membayangkannya dan dia semakin malu dibuatnya.
"Tidak perlu malu, tapi apa kita akan seperti ini sepanjang hari? Jika kau mau maka aku tidak akan keberatan."
"Tentu saja tidak, ayo kita pergi!" Marien beranjak dari atas pangkuan William, dia sudah harus pergi untuk menyiapkan beberapa hal.
Marien mendorong William keluar dari kamar. Sepatu milik suaminya diambil lalu dikenakan dan setelah itu mereka pergi. William mengantar Marien terlebih dahulu sebelum dia pulang ke rumah untuk meminta bantuan pada ayahnya tanpa mengatakan jika dia ingin mempertemukan istrinya pada kedua orangtuanya.
Marien yang sudah menyiapkan segala sesuatu segera pergi untuk menemui Abraham untuk menandatangani kerja sama mereka. Semua berjalan dengan lancar, Marien sangat senang bahkan dia sudah tidak sabar membagi kebahagiaannya dengan William.
"Aku sangat berterima kasih atas kesempatan yang kau berikan, Sir," ucap Marien setelah mereka selesai menandatangani surat perjanjian di antara perusahaan mereka.
"Ini baru awal, Nona Douglas. Aku harap kau tidak mengecewakan aku nantinya!"
"Tentu saja tidak karena ini adalah kesempatan emas yang aku dapatkan dengan susah payah. Aku sungguh beruntung padahal aku hanyalah seorang pemula."
"Keahlian tidak dinilai dari pemula atau tidak, tapi semua itu dinilai dari kemampuan yang dimiliki. Meski kau sudah berbisnis lama tapi jika kau tidak memiliki kemampuan, bukankah semua itu sama saja dengan bohong?"
"Kau sangat benar, Sir. Tapi ini benar-benar sebuah keberuntunganku!" Marien tersenyum lebar karena dia tidak bisa menyembunyikan perasaan bahagianya.
'Wah, sepertinya aku juga beruntung. Bagaimana jika kita melakukan sebuah perjamuan untuk merayakan kerja sama di antara perusahaan kita. Aku harap Nona Douglas tidak menolak undangan dariku ini," ucap Abraham.
__ADS_1
"Tentu saja aku tidak menolak, Sir. Bisa dijamu oleh orang hebat seperti dirimu merupakan sebuah keberuntungan untukku dan aku, sudah pasti tidak akan menolaknya."
"Senang mendengarnya, Nona. Jika begitu datanglah ke alamat ini," Abraham memberikan sebuah kartu nama di mana alamat rumahnya tertera, "Aku dan istriku akan mengadakan jamuan makan dan aku harap kau mau datang."
"Aku pasti akan datang, Sir," Marien mengambil kartu nama yang diberikan, "Tapi apakah aku boleh membawa pasangan?" tanyanya karena dia ingin mengajak William.
"Tentu saja, itu lebih baik," entah apa maksud William memintanya untuk mengundang Marien Douglas untuk makan malam padahal wanita itu sudah menikah. Abraham tidak curiga, dia justru mengira putranya dan Marien saling mengenal saja.
Marien yang mendapatkan undangan tak terduga tentu saja menghubungi William untuk memberinya kabar itu dan tentunya ingin mengajak William pergi bersama untuk memenuhi undangan perjamuan makan dari Abraham Archiles, mungkin saja William dan pria itu bisa saling mengenal dan mungkin saja suaminya juga memiliki peluang untuk berbisnis dengan Abraham Archiles tapi Marien belum bisa menghubungi William karena ponselnya sedang sibuk. Itu karena William sedang diinterogasi oleh ayahnya yang mendadak memintanya untuk mengundang Marien, sungguh dia sangat curiga dengan hal itu.
Tidak ingin mengganggu, Marien memutuskan kembali ke kantor untuk kembali bekerja sebelum waktu untuk menghadiri perjamuan tiba. William yang sudah selesai diinterogasi pun menghubungi Marien, dia ingin tahu hasilnya meski dia sudah tahu.
'"Bagaimana, Marien? Apa semua berjalan dengan lancar?" tanya William basa basi.
"Tentu saja, Will. Aku benar-benar senang semua berjalan dengan lancar."
"Bagus, aku juga sangat senang mendengarnya."
"Tapi dia mengundang aku makan malam. Apa kau bisa ikut denganku, Will? Aku sudah bertanya apakah aku boleh membawa pasangan atau tidak dan Tuan Archiles mengijinkan aku membawa pasangan!"
"Malam ini?"
"Yes, jam tujuh malam. Kau bisa, bukan?"
"Maaf, Sayang. Aku tidak bisa. Aku sedang sibuk dan kembali jam sembilan malam. Kau pergilah sendiri, aku akan memerintahkan Steve mengantarmu dan kita akan pulang bersama nanti!"
"Jadi kau tidak bisa?" Marien sedikit kecewa.
"Maaf, tapi aku tidak melarangmu untuk pergi karena ini kesempatanmu. Jangan menolak undangannya agar tidak menyinggung Abraham Archiles."
"Baiklah, aku tahu apa yang harus aku lakukan dan aku tidak akan lama."
"Bagus. Nikmati waktumu, Honey."
__ADS_1
"Thanks, Will," Meski tidak bisa pergi dengan William tapi dia harus menghadiri undangan perjamuan makan dari Abraham Archiles tapi sesungguhnya undangan itu adalah rencana suaminya sendiri dan sebentar lagi dia akan mendapatkan kejutannya.