Suami Cacatku Yang Sempurna

Suami Cacatku Yang Sempurna
Masih Ada Rintangan


__ADS_3

Pernikahan Marien dan William berjalan dengan lancar. Mereka menyapa tamu secara bergiliran. Hari yang tak akan mereka lupakan, mereka bahkan masih ingat ketika mereka sepakat untuk menikah. Saat itu semua dilakukan secara kilat bahkan tidak sampai satu jam tapi sekarang, mereka benar-benar menikmati acara pernikahan mereka.


Pernikahan yang disaksikan oleh keluarga dan banyak orang ternyata terasa berbeda dari pada menikah diam-diam. Mereka berdua berkeliling untuk menyapa tamu sampai Marien merasa kedua kakinya mulai pegal akibat sendal hak tinggi yang dia gunakan dan gaunnya yang cukup berat.


"Boleh aku duduk sebentar?" pinta Marien pada William saat mereka baru saja selesai berbicara dengan dua pengusaha yang memberikan selamat untuk mereka.


"Apa kakimu sakit?" tanpa menunggu lama, William sudah berjongkok untuk melihat kaki Marien.


"Will, jangan di sini!" pinta Marien sambil melihat sekitar.


"Pergelangan kakimu memerah, Sayang. Ayo istirahat sebentar!" William beranjak lalu menggendong Marien.


Marien terkejut dan hampir memekik, ini pertama kalinya William menggendongnya setelah kedua kakinya sembuh. Marien melingkarkan kedua tangannya ke leher William dengan cepat. Mendadak dia jadi gugup dengan takut mereka berdua terjungkal.


"Will, kakimu?"


"Sudah aku katakan padamu, bukan? Aku akan menggendongmu di hari pernikahan kita!"


"Tapi apa kau yakin aman untuk kedua kakimu yang belum lama sembuh? Jangan sampai setelah menggendong aku yang berat ini, kedua kakimu kembali sakit!"


"Tentu saja tidak, Marien. Percayalah padaku, kedua kakiku sudah sembuh seratus persen."


"Aku senang mendengarnya, Will. Sepertinya mulai sekarang aku bisa memintamu menggendong aku setiap hari," ucap Marien bercanda.


"Dengan senang hati, Sayang. Sekarang duduk di sini, aku akan memijitkan pergelangan kakimu!"


"Thanks, Will," Marien tersenyum ketika William menurunkannya di atas sofa. William kembali berjongkok, untuk melihat kedua kaki Marien yang memerah akibat sendal yang dia kenakan. Pergelangan kaki Marien dipijat dengan perlahan sampai Marien merasa pegal di kakinya berkurang.


"Will, aku penasaran dengan satu hal," ucap Marrien.

__ADS_1


"Apa? Jangan katakan kau penasaran dengan seorang pria!"


"Bukan begitu, adikmu itu?" Marien melihat ke arah Samuel yang sedang berbincang dengan Jacob dan Edward.


"Oh, adikku pecinta kebersihan oleh sebab itu dia seperti itu."


"Oh," jawab Marien sambil mengangguk. Pantas saja dia adik iparnya terlihat sedikit aneh. Meski dia sudah mendengar tapi dia penasaran.


"Mau bergabung dengan mereka?" tanya William.


"Boleh, tapi aku haus. Bisa ambilkan kau air minum sebentar?" pinta Marien.


"Seperti keinginanmu, Sayang," William mengecup dahinya sebelum dia pergi, "Tunggu di sini baik-baik!" pintanya.


Marien mengangguk dan tersenyum, William sudah pergi untuk mengambilkan air minum untuknya dan setelah dia pergi tidak lama, seseorang menghampiri Marien.


"Boleh aku meminta waktu sebentar, Nyonya Archiles?"


"Aku Becky, memang bukan waktu yang tepat untuk membahas hal ini tapi aku sangat ingin membahas bisnis dengan Nyonya Archiles. Apa setelah ini anda memiliki waktu untuk berbincang berdua denganku?" tanya wanita bernama Becky itu.


"Tentu saja, Nona. Tapi kau tahu ini bukan waktu yang tepat. Kau bisa menghubungi sekretarisku nanti untuk membahasnya lebih lanjut," ucap Marien. Dia tidak mungkin menolak apalagi Becky adalah tamu undangan dan kemungkinan dia adalah salah satu kolega ayah mertuanya.


"Senang mendengarnya, aku akan segera membuat janji dengan sekretaris anda!" ucap Becky.


Marien mengangguk, perusahaannya memang masih membutuhkan banyak rekan bisnis dan dia harus memanfaatkan situasi apalagi ada yang menawarkan kerja sama dan dia tidak perlu bersusah payah mencari pengusaha yang mau menjalin kerja sama dengannya.


William yang sudah kembali dengan segelas air minum sangat heran mendapati istrinya sedang berbicara dengan seseorang yang sangat asing dan tidak dia kenal. Entah apa yang mereka bicarakan, yang pasti mereka terlihat sangat serius namun wanita yang berbicara dengan Marien justru pamit pergi saat William semakin mendekat.


Marien tersenyum seperti tidak ada yang salah dan memang tidak ada karena dia dan wanita yang bernama Becky itu benar-benar membicarakan bisnis yang cukup menarik.

__ADS_1


"Siapa wanita tadi, Marien?" tanya William seraya memberikan air minum yang Marien inginkan.


"Dia salah satu rekan bisnis ayahmu dan dia berkata ingin berbisnis denganku."


"Oh, yeah? Dari perusahaan mana?" tanya William sedikit curiga. Meski yang diundang memang rekan bisnis tapi tidak semua harus dipercaya tapi ketika Marien menyebut nama sebuah perusahaan, perasaan curiganya sirna karena dia tahu perusahaan yang Marien ucapkan.


Setelah Marien selesai minum. William pun mengajak Marien untuk bergabung dengan keluarganya. Karena mereka sudah pernah bertemu, Marien berbincang dengan akrab. Tidak ada yang mengucilkan dirinya atau memandanginya dengan sebelah mata meski yang hadir di acara pernikahannya hanya sang ayah yang sedang sibuk mencari muka dari beberapa pengusaha yang ada di sana.


Pesta pernikahan berjalan cukup lancar. Marien sudah berganti pakaian. Kini tubuhnya dibalut dengan gaun malam yang indah. Marien dan William pun sudah berada di lantai dansa untuk menikmati waktu mereka. Semua sibuk untuk menikmati waktu mereka begitu juga pasangan pengantin yang menjadi sorotan. Beberapa kamera mengambil foto mereka berdua namun salah seorang dari orang-orang yang mengambil foto mereka patut dicurigai namun tidak ada yang curiga apalagi semua yang datang adalah tamu exclusive.


Bersama yang lain, Marien dan William menikmati dansa pertama yang mereka lakukan setelah mereka menikah. mereka berdua saling tatap dengan senyuman menghiasi wajah, hari ini Marien benar-benar bahagia karena dia tidak pernah menduga akan mendapatkan pernikahan yang luar biasa itu.


"Terima kasih, Will. Aku tidak menduga akan mendapatkan pernikahan seperti ini."


"Kau pantas mendapatkannya, Sayang. Bahkan aku merasa apa yang aku berikan padamu saat ini tidaklah cukup untukmu yang terlalu baik untukku. Jika mengingat hubungan kita waktu itu, kau adalah wanita luar biasa yang aku dapatkan!" ucap William.


"Dan kau suami cacatku yang sempurna waktu itu!" ucap Marien.


"Benarkah?" tanya William yang tak percaya Marien menganggapnya sempurna di saat dirinya sedang mengalami kelumpuhan dan dianggap sebagai pecundang.


"Yes, bagiku kau seperti itu."


"See, betapa beruntungnya aku. Di saat aku dianggap sebagai pecundang tapi kau justru menganggap aku berbeda!"


"Mereka tidak mengenal dirimu, sebab itulah mereka menganggapmu seperti itu!"


"Aku tidak menyesal menjual diriku padamu waktu itu," ucap William.


"Stts, kau bisa dianggap sebagai gi*golo!" Marien melihat sekitarnya, takut ada yang mendengar. William terkekeh dan menghentikan langkah. Mereka berdua saling pandang, ekspresi mereka menunjukkan jika mereka berdua sangat bahagia.

__ADS_1


"I love you, Marien," ucap William.


"Me too," Merien membalas ungkapan cintanya sebelum William mencium bibirnya. Mereka berdua berciuman cukup lama di lantai dansa sebelum mereka kembali berdansa. Hubungan yang indah dan hari yang sangat membahagiakan tapi masih ada rintangan yang harus mereka lewati karena sebuah rencana sudah dibuat untuk Marien dan tentunya itu bukanlah rencana yang baik.


__ADS_2