Suami Cacatku Yang Sempurna

Suami Cacatku Yang Sempurna
Balasan Untuk Fiona


__ADS_3

Fiona yang sudah dicampakkan oleh Ridz karena sudah tidak berguna lagi tampak frustasi. Sekarang dia benar-benar sudah terbuang tapi dia belum menjadi pecundang secara sepenuhnya karena dia masih memiliki banyak barang berharga yang diberikan oleh William sewaktu mereka berpacaran.


Ketika ulang tahun, William pasti akan memberikannya kalung berlian. Ketika Valentine datang, William pasti akan memberinya gelang atau cincin berlian. Semua barang itu masih ada dan tentunya banyak. Tidak saja perhiasan, beberapa jam mewah yang diberikan oleh William pun masih ada. Oleh sebab itulah Ridz meminta Fiona untuk menjual barang-barang berharga miliknya untuk menyelamatkan perusahaan yang dia miliki.


Beruntungnya tidak dia lakukan. Sekarang dia sangat menyesal. Jika dia tahu akan terjadi kejadian itu, dia pasti meminta sebuah rumah mewah pada William sebagai hadiah ulang tahunnya tahun lalu. Dengan begitu hidupnya lebih terjamin tapi sekarang, dia harus pergi agar dia tidak kehilangan segalanya.


Selama barang-barang berharga yang dia miliki masih ada sebaiknya dia segera pergi yang jauh. Dia tidak mau William mengambil barang-barang berharga yang tersisa sehingga dia benar-benar menjadi gelandangan. Lebih baik dia mencari aman oleh sebab itu Fiona sedang membereskan barang-barang miliknya.


"Aku tidak boleh kehilangan barang-barang ini. Semua ini milikku dan tidak ada yang boleh mengambilnya!" Fiona membuka kotak berisi perhiasan, senyuman menghiasi wajah karena barang-barang berharga yang dia miliki cukup untuk membiayai kehidupannya di kota lain serta cukup untuk memenuhi gaya hidupnya.


Dia akan kembali menjerat pengusaha kaya dan kali ini dia tidak akan membuat kesalahan seperti yang sudah dia lakukan. Kali ini dia harus bisa menikah dengan pengusaha kaya tersebut, dengan begitu dia akan memiliki kehidupan aman tanpa kekurangan.


Kotak perhiasan dimasukkan ke dalam koper, di satukan dengan beberapa kosmetik. Sebentar lagi dia harus pergi karena dia takut William mendatanginya untuk membuat perhitungan atas apa yang telah dia lakukan semalam. Beberapa barang yang sudah berada di dalam koper dimasukkan ke dalam mobil, Fiona tidak sadar jika dia sedang diawasi. Yang dia inginkan hanya pergi oleh sebab itu dia tidak menyadarinya.


Fiona kembali menaikkan barang yang lain, orang-orang yang mengintai terus melihat apa yang dia lakukan sampai akhirnya Fiona keluar dengan sebuah koper yang lebih kecil. Baiklah, target sudah terkunci karena koper terakhir sudah pasti berisi barang berharga dan koper itulah yang menjadi target mereka.


Fiona buru-buru pergi membawa mobilnya, rumah yang dia tempati adalah rumah sewa oleh sebab itu dia bisa kapan saja sesuka hatinya. Sekarang waktunya kembali menata hidup dan menemukan tempat aman serta pengusaha kaya yang bisa dia manfaatkan kembali. Orang-Orang yang mengikutinya pun mengejar, sudah cukup jauh sampai ketika hampir tiba di perbatasan kota, Fiona baru menyadari saat jalanan sudah sepi karena dia terus diikuti.


Aneh, perasaannya jadi tidak nyaman. Siapa orang-orang yang mengikuti dirinya? Dua mobil mulai mengapit mobil yang dia bawa, seseorang pria bertopeng mengeluarkan pistol dari kaca yang terbuka dan menodongkan senjata apinya ke arah Fiona.

__ADS_1


"Hentikan mobilnya!" teriak teriak pria tersebut. Fiona terkejut, kedua tangan dan kaki gemetar karena takut.


"Tidak!" Fiona membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dia sungguh tidak menduga ada perampok yang mengikuti. Sebaiknya dia lari karena dia akan habis jika para perampok itu mengambil barang berharga miliknya. Apakah dia sudah diintai sejak dari rumah?


Fiona terus membawa mobilnya dalam keadaan panik. Dia harus bisa melarikan diri namun dua mobil yang mengejar mulai membenturkan mobil mereka ke mobil yang dibawa oleh Fiona. Wanita itu berteriak, Fiona semakin panik oleh sebab itu tabrakan yang kedua membuatnya hilang kendali. Mobil yang dia bawa berguling di jalanan dan setelah itu, mobilnya kembali ditabrak sehingga mobilnya terdorong dalam keadaan sudah miring.


Fiona berteriak keras, api mulai memercik dari badan mobil yang menggesek aspal.  Mobilnya terus di dorong cukup jauh namun sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi lalu menabrakkan mobilnya dengan keras. Mobil itu kembali berguling di jalanan beberapa kali lalu menghantam pembatas jalan dan berhenti dalam keadaan hancur.


Fiona masih sadar, namun kepalanya terluka. Kedua kaki terjepit dan satu tangannya pun terjepit pintu yang rusak. Fiona tidak bisa bergerak apalagi seluruh badannya terasa remuk. Orang-Orang yang mengejar serta menabraknya menghampiri mobil Fiona yang sudah mau terbakar, mereka mencari koper yang berisi benda berharga milik Fiona terlebih dahulu untuk mereka periksa.


"To-Tolong aku," pinta Fiona memohon.


"Ja-Jangan ambil tas milikku!" pinta Fiona namun tasnya sudah diambil dan digeledah. Fiona hendak dikeluarkan tapi dia terjepit. Kedua kakinya sulit untuk dikeluarkan akibat terjepit begitu juga dengan satu tangannya. Fiona berteriak saat ditarik dengan paksa. Rasa sakitnya benar-benar tak tertahankan tapi dia tetap dikeluarkan lalu ditinggalkan begitu saja. Kedua kakinya sudah hancur akibat terjepit, satu tangannya pun demikian dan sudah dipastikan amputasi adalah jalan satu-satunya yang harus dilakukan jika ada yang menolongnya.


Hari itu, Fiona mendapatkan balasannya. Dia mengira sudah dirampok tapi sesungguhnya bukan karena orang-orang yang mengikutinya adalah anak buah Steve. Sesuai dengan perintah William, dia memerintahkan anak buahnya untuk menyamar menjadi perampok dan mengikuti Fiona. Karena kedua kaki dan satu tangan Fiona sudah hancur jadi mereka tidak perlu mematahkannya lagi. Dengan begini Fiona tidak akan dendam karena dia mengira sudah dirampok tapi jika dia masih mengganggu, maka kolam buaya akan menjadi tempat terakhirnya.


Steve sudah mendapatkan kabar itu, dia pun segera menghubungi William untuk memberikan kabar jika dia sudah berhasil menyingkirkan Fiona. Steve juga mengirimkan beberapa foto keadaan Fiona yang dikirimkan oleh anak buahnya pada bosnya. William terlihat puas, sesungguhnya dia hanya berniat menjadikan Fiona sebagai gelandangan tapi Fiona justru sudah melakukan perbuatan yang di luar batas.


"Apa yang kau lihat? Kenapa kau terlihat senang?" tanya Marien yang sangat heran melihat ekspresi William.

__ADS_1


"Tidak ada apa-apa," William meletakkan ponselnya, dia tidak mau Marien melihat keadaan Fiona yang mengenaskan.


"Ngomong-Ngomong, Will. Sebenarnya dari mana Fiona tahu rumah ini? Apa dia mengikutimu atau dia mengikuti aku?"


"Aku merasa ada orang ketiga, bukan karena dia mengikuti aku atau mengikutimu."


"Apa Alexa? Selain dirinya, aku tidak mencurigai yang lainnya."


"Jika bukan dia, lalu siapa lagi?"


"Sepertinya kita sepemikiran. Sepertinya kakakku sudah lama tidak dipukul!" Marien menekuk kepalan tangannya, mendadak dia jadi suka memukul.


"Ngomong-Ngomong soal itu, aku sudah menyiapkan tontonan menarik untukmu, Sayang."


"Oh, yeah? Apa itu?"


"Berharaplah kita belum melewatkan tontonan menariknya, Honey. Kau bisa membawa popcorn jika kau mau."


"Wah, aku jadi tidak sabar!" ucap Marien. Entah apa yang sudah dilakukan oleh William yang pasti dia sudah tidak sabar.

__ADS_1


William mengusap kepala Marien yang sedang bersandar di dadanya karena mereka berdua sedang bersantai di atas ranjang. Satu sudah disingkirkan, Fiona mau hidup atau mati dia tidak peduli karena dia sudah membalas apa yang Fiona lakukan padanya. Tinggal kekasihnya saja karena pria itu akan menjadi gelandangan esok pagi. Apa yang telah dia berikan, benar-benar akan dia ambil lalu akan dia berikan pada yayasan milik ibunya karena anak-anak yatim lebih membutuhkan dan dia lebih senang memberikannya pada mereka dari pada memberikannya pada Fiona yang memanfaatkan dirinya selama ini serta kekasihnya.


__ADS_2