Suami Cacatku Yang Sempurna

Suami Cacatku Yang Sempurna
Penyesalan Seorang Ayah


__ADS_3

Hari-Hari Gavin lalui seorang diri. Hampa, itu yang dia rasakan karena tidak ada yang menemaninya lagi. Kedua putrinya benar-benar sudah mengabaikan dirinya, tidak ada lagi yang mau peduli. Alexa mungkin bisa dimaklumkan karena dia sedang berada di dalam penjara tapi tidak dengan Marien yang tidak peduli sama sekali.


Kejahatan yang dilakukan oleh Alexa sudah disidangkan dan dia mendapatkan hukuman selama belasan tahun. Marien tidak menuntut apa yang Alexa lakukan padanya oleh sebab itu Alexa hanya menanggung hukuman yang harus dia tanggung akibat perbuatan liciknya yang telah membunuh Zack. Meski bukan dia yang melakukan tapi dialah otak dari pembunuhan itu dan hukuman yang dia dapatkan sudah cukup sepadan.


Marien memang belum membantu, belum karena belum saatnya. Beberapa bukti bisa dia berikan untuk meringankan hukuman Alexa tapi William berkata untuk menyerahkan semua itu padanya. Dia ingin Marien fokus pada perusahaannya dan fokus pada dirinya sendiri karena dia ingin Marien menjaga kesehatan.


Keadaan Gavin yang ditinggalkan oleh putrinya semakin memburuk. Dia rindu dengan Alexa dan dia rindu dengan Marien. Padahal kedua putrinya menyayangi dirinya tapi dia terlalu pilih kasih akibat rasa cintanya yang teramat dalam pada ibu Alexa yang sudah mengkhianati dirinya. Sekarang, dia hampir kehilangan semuanya akibat tindakan bodohnya tapi apalah yang tersisa dari dirinya? Hanya harta saja sedangkan kedua putrinya telah meninggalkan dirinya.


Entah sudah berapa kali dia ingin menemui Alexa tapi dia selalu gagal karena Alexa tidak mau bertemu dengannya. Tidak saja Alexa, Marien pun tidak mau bertemu dengannya. Ini memang hukuman yang harus dia dapatkan karena perlakuan tidak adilnya bahkan dia baru sadar jika dia belum meminta maaf pada Marien sampai sekarang.


Apa ini yang membuat Marien tidak mau memaafkan dirinya? Apa karena dia tidak meminta maaf pada Marien sehingga Marien tidak mau memaafkan dirinya? Mendadak dia jadi sadar jika memang itulah yang telah membuat Marien benci dengannya karena yang dia pikirkan selama ini hanyalah Alexa saja. Dia bahkan tidak memikirkan bagaimana keadaan Marien setelah kejadian itu dan dia tidak pernah bertanya apakah Marien baik-baik saja atau tidak. Ayah seperti apa dia? Sekarang dia benar-benar sadar dengan kesalahan yang telah dia lakukan setelah tidak ada satu orang pun bersama dengannya.


Menyadari kesalahan yang telah dia lakukan pada Marien membuat Gavin memutuskan untuk pergi menemui Marien. Sekarang dia tahu di mana Marien berada, akhir-akhir ini putrinya selalu masuk majalah karena perusahaan yang dia jalani mulai berkembang. Banyak pengusaha yang menjalin hubungan kerja sama dengannya setelah kerja sama yang dia jalin dengan ayah mertuanya berjalan dengan sukses dan memberikan keuntungan yang besar untuk perusahaannya.


Usahanya untuk memajukan perusahaan yang dipercayakan oleh William padanya tidak sia-sia karena sekarang dia menuai hasilnya tapi akibat pekerjaan yang begitu banyak, membuatnya lelah dan sakit kepala luar biasa. Marien baru saja selesai menemui seorang klien tapi dia kembali dengan tidak bersemangat oleh sebab itu Marien berbaring di atas sofa yang ada di dalam ruangannya. Sepertinya dia harus pulang setelah keadaannya lebih membaik karena dia benar-benar butuh istirahat.


"Nona, kau sepertinya tidak sehat?" tanya asistennya saat melihat keadaan Marien yang memang tidak sedang baik-baik saja.


"Aku merasa sedikit lelah karena pekerjaan yang begitu banyak. Antarkan aku pulang, aku akan membaik setelah aku beristirahat dan tunda beberapa pertemuan yang harus aku lakukan hari ini," pinta Marien.

__ADS_1


"Baik, Nona. Apa Nona bisa jalan sendiri?"


"Tentu saja, tolong siapkan mobil!" pinta Marien. Setidaknya dia sudah menggunakan mobil sendiri tapi mobil itu akan dia gunakan untuk bepergian saja atau situasi seperti itu tapi untuk datang dan pergi, dia selalu bersama dengan William.


Meski dengan kepala yang terasa pusing, Marien berusaha untuk bertahan untuk keluar dari ruangannya. Dia berjalan dengan pelan sambil berpegangan dinding sesekali agar tidak terjatuh. Sepertinya dia harus istirahat satu hari agar keadaannya cepat pulih.


Gavin yang datang untuk bertemu dengan putrinya pun sudah berada di luar sana. Dia meminta seorang resepsionis untuk mengantarnya agar dia bisa bertemu dengan Marien tapi ketika melihat putrinya keluar dari lift dan tampak sempoyongan, Gavin bergegas mendekati Marien.


"Marien, Daddy ingin berbicara denganmu!" pinta Gavin yang hampir berlutut namun dicegah oleh Marien.


"Jangan lakukan, Dad. Jangan membuat aku malu!" ucap Marien.


"Setelah begitu lama, kenapa kau baru sadar, Dad? Kenapa baru sekarang?" bukannya tidak mau memaafkan ayahnya tapi setelah beberapa waktu telah berlalu tapi kenapa baru sekarang ayahnya sadar jika dia tidak dipedulikan sama sekali? Tapi itu lebih baik bukan, dari pada tidak sama sekali.


"Daddy benar-benar minta maaf, Marien. Daddy bahkan akan bersujud di bawah kakimu jika kau mau agar kau mau memaafkan Daddy. Daddy memang sudah salah, Daddy mengabaikan dirimu selama ini bahkan Daddy tidak peduli dengan keadaanmu. Sekarang Daddy sangat sadar jika yang Daddy lakukan padamu selama ini adalah salah. Maafkan perbuatan Daddy yang sudah berlaku tidak adil padamu. Daddy hanya mempedulikan keadaan Alexa saja tanpa memedulikan dirimu padahal kau juga putri Daddy. Sekarang Daddy sangat sadar, benar-benar sadar akan kesalahan yang telah Daddy lakukan jadi berikan kesempatan pada Daddy untuk memperbaiki diri agar Daddy bisa menjadi ayah yang baik bagi kalian berdua. Biarkan Daddy menebusnya,  Daddy juga sedang berupaya untuk mengeluarkan kakakmu dari penjara jadi maafkan Daddymu yang tidak berguna ini!" pinta Gavin memohon.


"Entahlah, Dad. Aku sedang tidak enak badan. Aku pun tidak bisa menjawab permintaan Daddy saat ini. Kau memang ayahku tapi kau tidak pernah bersikap seperti ayahku selama ini. Aku tidak melarangmu membantu Alexa, aku harap Daddy bisa intropeksi diri agar lebih baik lagi. Sekarang ijinkan aku pulang, aku mau beristirahat."


"Apa yang terjadi denganmu, apa kau baik-baik saja?" tanya ayahnya yang berjalan mendekati Marien.

__ADS_1


"Aku sedang tidak sehat, Dad. Aku mau pulang, kita bicara lagi lain kali!" ucap Marien yang sedang memegangi kepalanya yang semakin sakit. Sungguh bukan waktu yang tepat untuk berbincang.


Marien bahkan hampir terjatuh namun ayahnya segera membantu dan menopangnya. Marien benar-benar terkejut, dia tidak pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya.


"Kau harus banyak beristirahat. Daddy akan mengantarmu pulang," ucap ayahnya.


"Terima kasih, antarkan saja aku ke mobil," pinta Marien.


"Kau mungkin tidak mau menerima kebaikan Daddy karena Daddy tidak pernah mempedulikan dirimu tapi percayalah, Daddy sangat menyesal telah mengabaikan dirimu selama ini jadi ijinkan Daddy menebusnya!"


"Aku tahu, tapi antarkan aku ke mobil saja, Dad," pinta Marien.


"Baiklah, baik. Daddy antar sekarang!" Gavin memapah putrinya lalu membawanya ke mobil di mana asistennya sudah menunggu dan tidak berani mengganggu mereka. Untuk pertama kali, Gavin peduli dengan putrinya. Entah ayahnya tulus atau tidak, dia tidak boleh langsung percaya begitu saja.


"Aku mau pulang dan aku tidak bisa mengantar Daddy," ucap Marien setelah dia berada di mobil.


"Tidak apa-apa, Marien. Daddy bisa pulang sendiri, jaga kesehatanmu baik-baik!" ucap ayahnya.


"Thanks, Dad," Marien mengatakan hal itu tanpa memandangi ayahnya. Pintu mobil ditutup, Gavin memandangi kepergian Marien dengan perasaan sedih karena dia bisa melihat jika Marien tidak begitu peduli dengannya. Dia tahu tidak mudah tapi dia akan meminta maaf pada putrinya secara perlahan dan mengambil hati Marien agar putrinya mau memaafkan dirinya.

__ADS_1


__ADS_2