Suami Cacatku Yang Sempurna

Suami Cacatku Yang Sempurna
Terapi Terakhir


__ADS_3

Untuk mempersiapkan pernikahannya dengan William, Marien pergi dengan Silvia dan Samantha untuk mencari gaun pengantin serta beberapa barang yang diperlukan untuk pernikahannya dengan William. Karena William masih menjalani terapi oleh sebab itu, William menyerahkan semuanya pada ibunya dan Marien.


Dia ingin bisa berdiri lama saat hari pernikahannya. Jangan sampai akibat kakinya yang sakit, dia harus kembali duduk di kursi roda padahal itu hari pernikahannya. Selama ini dia tidak pernah mengeluh bagaimana beratnya dirinya menjalani terapi, dia pun tidak pernah mengatakan pada Marien jika selama ini dia berjuang dengan keras. Saat dia berusaha berdiri untuk pertama kali, suntikan yang dia dapatkan di bagian kaki ketika memasukkan obat untuk merangsang kembali sarafnya dia dapatkan begitu banyak. Memang tidak terasa sakit tapi ketika dia mulai merasakan rasa sakit, efek dari suntikan itu mulai dia rasakan namun dia menahan semua itu.


William tidak mau Marien tahu, dia tidak mau Marien mengkhawatirkan dirinya. Sudah cukup dia membuat Marien mengalami kesulitan dan dia tidak mau Marien semakin mengalami kesulitan.


Hari ini, William akan menerima suntikan terakhir yang berisi cairan obat yang akan semakin memperbaiki saraf kakinya yang rusak akibat kecelakaan. karena dia sudah bisa merasakan rasa sakit, tentu dia sudah bisa merasakan efek dari obat tersebut. Obat itu memang diperlukan sebelum dia menjalani terapi.


Steve sedang pergi melayat sesuai perintah. Dia juga diperintahkan untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan Zack dan siapa pelaku yang telah melakukannya.


Jarum suntik sudah disiapkan dengan sebotol cairan obat. Dari semua yang dia lakukan untuk menyembuhkan kakinya, bagian memberi obat itu yang paling tidak dia sukai karena rasa sakit yang tak tertahankan. Dia bukan cengeng, dia pun yakin tidak ada yang mau merasakan rasa sakitnya di mana tulang-tulang kaki terasa remuk dan semua syaraf seperti ditarik hingga terlepas, Dia harus menahan rasa sakit itu selama lima menit, lima menit yang menyiksa tapi semua sudah dia lalui dan ini yang terakhir. Rasa sakit akibat obat tentu harus dia rasakan karena dengan obat itu, saraf yang tadinya tidak berfungsi menjadi berfungsi kembali dan rasa sakit itu reaksi normal yang harus dia rasakan.


Kedua tangan William diikat di ranjang begitu juga dengan kedua kakinya, itu dilakukan agar dia tidak memberontak saat rasa sakit itu datang. Untuk yang terakhir, sudah pasti rasanya tidak menyenangkan. Kedua tangan bahkan sudah mengepal erat saat seorang perawat menghampiri dirinya dan mengambil jarum suntik yang ada.


"Ini yang terakhir, Tuan. Dosisnya lebih tinggi tapi setelah obat ini, kau pasti bisa berlari dalam dua minggu ke depan," ucap sang perawat.


"Obat yang terdengar menakutkan!"


"Ada harga yang harus dibayar untuk sebuah kesembuhan."


"Kau benar, sekarang lakukan. Untuk yang terakhir, aku tidak akan menyerah untuk sembuh karena aku sudah tidak sabar menggendong istriku di hari pernikahan kami nanti!"


"Sepertinya kau sangat mencintai istrimu, Tuan," tanya perawat itu.


"Tentu saja, dia sangat berarti bagiku!"


"Dia wanita yang sangat beruntung."

__ADS_1


"Tidak, akulah yang sangat beruntung. Sekarang lakukan, aku akan menahan rasa sakitnya sambil membayangkan wajah istriku yang bahagia!"


"Baiklah!" obat disuntikan di kedua kaki William dalam jarak waktu yang tidak lama. Ini yang terakhir, William mencengkeram kedua tangan dengan erat dan memejamkan matanya ketika rasa sakit itu mulai dia rasakan. Rasa sakit dimulai dari kedua lutut lalu menjalar di seluruh kaki. William menahannya sambil menggertakkan gigi, kedua kakinya bagaikan dihantam oleh puluhan palu. Dia merasa tulangnya seperti remuk, syaraf pun terasa ditarik-tarik. Rasa sakit yang luar biasa tapi ekspresi bahagia MarienĀ  membuatnya bertahan dari rasa sakit itu.


William mulai meronta, keringat bergulir dari dahi. waktu lima menit yang sangat menyiksa. Dia dibiarkan begitu saja karena dia memang harus mengalaminya jika ingin kedua kakinya sembuh dengan cepat. Mesti sudah merogoh kocek yang dalam tapi metode itu begitu cepat menyembuhkan kedua kakinya. Teriakannya pun terdengar, rasa sakit yang luar biasa dan pada akhirnya dia berhasil melewatinya.


William berbaring tak berdaya dengan napas terengah. Kedua kakinya masih terasa sakit, benar-benar ada harga yang harus dia bayar untuk sebuah kesembuhan. Kedua kakinya seperti tercabik-cabik namun rasa sakit itu berangsur hilang.


Ponsel adalah benda pertama yang dia ambil, dia meminta perawat untuk diam karena dia ingin menghubungi Marien, sang penyemangat yang selalu membuatnya bertahan melawan rasa sakit yang harus dia dapatkan setiap kali dia melakukan terapi.


"Marien, apa kau sedang sibuk?" tanyanya saat Marien sudah menjawab.


"Tidak, aku sedang bersama dengan ibu dan istri pamanmu. Kau sendiri, apa kau sedang sibuk, Will?"


"Tentu saja tidak, Sayang. Aku sedang menjalani terapi dan ini yang terakhir kali. Aku sudah sangat tidak sabar menggendongmu di pesta pernikahan kita nanti."


"Tentu saja, tunggulah. Aku akan menggendongmu setelah kita memperbaharui janji pernikahan kita."


"Aku tunggu, Will. Jam berapa kau akan pulang? Aku akan menunggu."


"Aku tidak tahu, tapi aku akan menghubungimu. Maaf mengganggu waktumu, Honey. Aku hanya ingin mendengar suaramu saja sebelum aku menjalani terapi agar aku semakin bersemangat."


"Kau membuat aku tersanjung, Will. Ini yang terakhir, bukan? Jalanilah dengan sungguh-sungguh. Aku akan mendukungmu."


"Baiklah, dukungan dari istriku sangatlah berarti. Aku sudah harus memulai agar aku bisa cepat pulang dan menghabiskan waktu denganmu di rumah!"


"Aku hanya bisa memberimu semangat dari jauh, Will.

__ADS_1


"Itu sudah cukup, Sayang. I love you," ucap William sebelum mengakhiri percakapan mereka. Marien tersenyum, sepertinya dia harus menyambut suaminya dengan sedikit istimewa untuk merayakan kesembuhan kaki William padahal dia sudah mendapatkan vonis jika kedua kakinya tidak bisa sembuh.


"Marien, apa yang kau lakukan di sana. Kemarilah!" teriak Silvia.


"Coming, Mom!" ponsel disimpan, Marien melangkah mendekati ibu mertuanya yang sedang sibuk memilih gaun pengantin.


"Apa yang kau lakukan di sana, apa kau tidak suka dengan gaun pengantin yang ada di sini?" tanya Samantha.


"Bukan begitu, Aunty. Aku sedang berbicara dengan William."


"Baiklah, lihat ini. Aku rasa ini cocok untukmu," sebuah gaun diberikan pada Marien, "Pergilah untuk mencobanya," ucap Samantha.


"Baik, tunggu di sini sebentar!" Marien melangkah pergi dengan gaun yang diberikan oleh Samantha. Waktu itu dia memang sudah menggunakan gaun tapi dia tidak tahu siapa yang memilih gaun itu bahkan dia tidak ingat bagaimana dengan modelnya.


Seseorang membantu Marien menggunakannya, Silvia dan Samantha sudah tidak sabar menunggu dan begitu selesai, mereka tampak kagum melihat penampilan Marien yang luar biasa. Marien terlihat cantik, gaun yang dia kenakan melekat indah di tubuhnya. Marien bahkan takjub melihat dirinya sendiri di depan cermin. Meski tanpa polesan berarti namun dia sudah terlihat luar biasa.


"Kau benar-benar terlihat luar biasa, kita ambil yang ini!" ucap Silvia.


"Tapi, Mom. Apa tidak terlalu berlebihan?" tanya Marien.


"Tidak, menantu keluarga kami harus terlihat luar biasa apalagi pernikahan hanya dilakukan satu kali untuk seumur hidup dan aku harap, kau tidak mengkhianati William!" ucapnya Silvia.


"Benar, sekali kau bergabung maka kau tidak boleh mundur karena kami tidak selalu menjunjung tinggi pernikahan!" ucap Samantha pula.


"Aku tahu, oleh sebab itulah aku memutuskan untuk menjadikan pernikahan sementara kami menjadi nyata!"


"Bagus, kita ambil yang ini. Setelah ini kita pergi untuk mencari beberapa barang, aku pun sudah memanggil seorang desainer untuk membuatkan gaun malam yang akan kau kenakan nanti di hari pernikahanmu. Menantu pertama keluargaku, harus terlihat luar biasa di hari pernikahannya!"

__ADS_1


Marien tersenyum, dia sangat beruntung karena tidak perlu bersusah payah mengurus sendiri pernikahannya. Ibu mertua yang baik, keluarga yang harmonis dan baik. Dia sangat beruntung dapat bergabung dengan mereka dan menjadi bagian mereka. Tidak sia-sia dia membayar William dan menawarkan pernikahan waktu itu karena sekarang, dia mendapatkan keluarga yang selama ini tidak dia miliki.


__ADS_2