Suamiku Kakak Sepupuku

Suamiku Kakak Sepupuku
Bab 100


__ADS_3

Berhubung karena hari ini weekend, Zerena ke rumah orang tuanya, dia sudah kangen banget ingin bertemu Aulian, apa kabar anak gembul itu, kira kira pipinya sudah sebesar apa ya?


Zerena berlari lari kecil, setelah mengucapkan salam dia menghampiri Aulian dan memeluknya erat, sambil menangis.


Papa Roy yang melihat putrinya menangis, sampai menghentikan kegiatannya membaca koran pagi pagi.


"Kamu kenapa sayang, kok nangis?


Ryan tidak bikin kamu kesusahan kan, atau dia udah bangkrut, atau dia pelit mungkin?"


Berbagai pertanyaan beruntun dari Papa Roy,sukses membuat Zerena memutar bola matanya jengah.


"Kalau suamiku bangkrut, pasti Papa juga ikut bangkrut, selama suamiku bekerja disini, Papa kan kerjanya cuma ongkang ongkang kaki doang!"


Gumam Zerena tapi masih bisa di dengar Papa dan Mamanya.


"Ren, Papa dengar lho!"


Tegur Papa Roy, karena merasa disindir oleh putrinya sendiri


"Jangan tersinggung sama anak sendiri dong Pa, kan kenyataannya emang gitu!"


Mama Sinta bukannya membela suaminya tapi malah ikut menyudutkannya.


Papa Roy cuma cengengesan sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Dia pun sebenarnya mengiyakan kata kata putri dan istrinya, semenjak Ryan pindah kemari, ia memang lebih banyak menghabiskan waktu di rumah atau ke tempat tempat liburan bersama istrinya.


"Wajar saja kalau Zerena protes kan Pa, orang yang menghidupi kita sekarang Ayahnya Aulian seorang!"


Ujar Mama Sinta masih kekeh melanjutkan drama Mertua vs Menantu, padahal masih pagi.


Ryan hanya tersenyum melihat keluarganya berdebat masalah sepele.


Memang Papa jarang ke kantor, tapi dia selalu bekerja di rumah atau dimana saja, dan mengirim semuanya melalui email ke Ryan.


Pura pura bodoh dan pikun di depan istrinya, adalah salah satu kegiatan dalam rangka menyenangkan hati istri yang suka membully dan menganiaya suami sendiri.


"Kembali ke topik pembicaraan semula, kenapa Zerena sampai menangis tadi?"


Papa Roy mengulang pertanyaannya.


"Rena kangen putra Rena Pa, jangan main rebut anak orang, udah ada anak juga!"

__ADS_1


Sambil menunjuk Raka yang sedang sibuk makan dan minum, oleh oleh bawaan Zerena.


Raka yang ditunjuk mengedip ngedipkan matanya, seperti boneka chucky, berharap sedikit lucu.


Mereka tertawa bersama, membuat Aulian menoleh dan ikut tertawa bersama.


Sedangkan di sebuah perumahan sederhana, tampak seorang Ibu dan dua anaknya sedang ketakutan, karena kedatangan orang orang yang berbadan besar di rumahnya.


Orang orang itu seperti Hulk saja, mereka menyeret Ibu beserta dua anak perempuannya masuk ke dalam mobil.


Mereka meronta ronta, tapi kekuatan mereka tidak bisa dibandingkan dengan orang orang yang bertubuh besar itu.


Mata dan mulut mereka di tutup dengan kain, tapi mereka terus saja berontak, karena tak ingin menimbulkan kecurigaan, mereka bertiga akhirnya dibius.


Mereka membuka mata, mereka keheranan karena telah berada di sebuah rumah mewah, tepatnya sebuah Villa.


Villa itu begitu besar, dilengkapi dengan taman dan kolam renang, dan beberapa penjaga serta pelayan.


Mereka ketakutan karena melihat seorang yang jauh lebih besar dari teman temanya, mendekat ke arah mereka.


"Kalau kalian masih mau bernafas, jangan banyak bertanya, kalian tinggal disini dulu, tapi kalau mau makan masak sendiri, kalian disini bukan ratu atau putri.


jadi berlakulah layaknya seorang pelayan!"


Sedangkan Ibunya hanya diam, tidak bergeming.


"Tuan, bisa anda jelaskan!


kenapa saya dan anak anak saya harus berada disini?"


Ibu itu bertanya dengan pandangan kosong, Pria bertubuh besar tersenyum menyeringai, dia menatap satu persatu wanita di depannya dengan seksama.


"Ok, biar anda tidak penasaran saya beritahu anda, Putra kesayangan anda, telah menyalahgunakan wewenangnya sebagai dokter, dia memberikan obat perangsang ke salah satu mahasiswa yang sedang magang, di Rumah sakit tempatnya bekerja.


Dia hampir saja memperkosa istri orang lain, dia bahkan berani menantang suami wanita itu, agar rela melepas istrinya dan mau menikah dengan putra anda.


Putra anda itu, sudah seperti orang setengah gila, dia melakukan berbagai cara agar keinginannya bisa tercapai.


Dia tidak sadar dan seperti tidak mau tahu dengan siapa ia berhadapan!"


"Sudahlah, kalian istirahat saja, dan jangan coba coba lari, kalau masih ingin keluar hidup hidup dari tempat ini!


Oh ya, tolong jangan ke kolam di belakang, tempat itu berbahaya!"

__ADS_1


Pria berjalan pergi tapi kembali dihentikan oleh pertanyaan gadis kecil di belakangnya.


"Kenapa kolamnya bisa berbahaya, apa bahayanya?"


ucap gadis itu menantang.


"Kau ikut kalau mau melihatnya, langsung!"


Pria itu menyeringai, membuat gadis kecil yang berusia 14 tahun itu, sedikit gemetar.


Mereka akhirnya berjalan bertiga mengikuti pria yang di depannya.Setelah sampai di belakang.


pria itu menaikkan tangan menyuruh mereka berhenti, tapi gadis kecil yang pemberani tidak perduli, dia tetap berjalan dan mensejajarkan tubuhnya dengan pria besar itu.


Pria itu mengambil sebuah bungkusan di meja, dia mengambil isinya, dan ternyata daging ayam yang masih mentah.


Mereka bertiga heran, buat apa ayam mentah itu, belum sempat mereka bertanya tiba tiba pria itu melempar daging daging itu ke tengah kolam.


Tiba tiba saja air beriak, dan muncullah hewan melata yang mengerikan, ya di kolam itu puluhan buaya sedang berebut daging ayam, dengan mata merah menyala.


Gadis kecil tiba tiba merasa kakinya ngilu, dan bergetar hebat, hampir saja ia nyungsep ke dalam kolam buaya, untung saja Si pria besar, dengan cepat menangkapnya.


"Makanya kalau orang bicara dengerin, tidak semua yang lihat buruk itu benar benar buruk.


Buktinya kakakmu, dia bahkan terlihat sangat polos, tapi memiliki jiwa iblis, bahkan sampai tega ingin merampas sesuatu yang bukan haknya.


"Sudahlah kalian masuk saja, mereka tidak mengganggu, kalau tidak diganggu juga, jadi biarkan mereka tenang, dan kalian pun akan ikut tenang.


Ibu Hafsah, Alya, dan Anina, mereka adalah Ibu dan adik adik Dokter Alief, selama ini mereka hidup bergantung pada Dokter Alief, karena Ayah mereka sudah meninggal saat mereka masih kecil.


Selama ini Dokter Alief, selalu menuruti kemauan adik adiknya, apalagi Ibunya, mereka benar benar tidak percaya, Alief bisa melakukan hal konyol seperti itu, dan mempertaruhkan nyawa Ibu dan adik adiknya.


Karena merasa lapar, akhirnya Alya memberanikan diri mendekati pelayan dan meminta ijin untuk masak.


Pelayan dengan senang hati menunjukkan dimana dapurnya.


"Maaf ya Non, saya tidak bisa memasakkan makanan untuk Non...?"


"Alya Bu"


Ucap Alya ke pelayan itu.


"Em Non Alya, masak sendiri ya, cari aja bahannya ada di kulkas, tinggal dipilih mau masak apa, nanti kalau saya bantuin saya bisa dipecat Non, maaf ya!"

__ADS_1


__ADS_2