Suamiku Kakak Sepupuku

Suamiku Kakak Sepupuku
Bab 121


__ADS_3

Aulian berlari kesenangan, saat melihat hewan hewan di depannya, yang biasanya hanya bisa ia lihat di buku dan di TV saja, tapi kali ini dia bisa melihatnya langsung.


Anak gembul itu sangat bahagia, bahagia dengsn hal hal sederhana uang dilihatnya, Zerena tersenyum melihat putranya, ternyata anak itu protes karena ingin kebersamaan dengan orang tuanya.


Aulian anak yang cerdas, kalau dia merasa tidak diperhatikan dia suka protes, dan drama tadi pagi salah satu bentuk protes anak itu.


Zerena juga teringat wanita yang mereka jumpai di taman, Mekar....


Mekar adalah wanita yang sama dengan yang mereka temui semalam, sepertinya Zerena mulai terusik pikirannya, dia sedikit sedikit paham kalau wanita itu menyimpan rasa pada suaminya.


Zerena memilih duduk di sebuah bangku dibawah pohon yang rindang, sambil memperhatikan suami dan anaknya yang sedang bermain.


Mereka leluasa berlarian kesana kemari karena hari ini bukan hari libur, sementara Ryan sesekali melirik dan memperhatikan wajah istrinya yang sedang galau.


"Aku tidak habis pikir, kenapa setiap wanita yang melihat atau sekedar bersiap hai hai dengan Kak Ryan, kok dengan mudah bisa jatuh cinta,


jangan jangan pria es balok itu punya Jimat pengasih...


aku harus menggeledah dompetnya, kalau pulang nanti!"


Batin Zerena polos.


"Kamu mikirin apa?"


Zerena hampir saja terjungkal dari bangku kayu itu, karena tiba tiba saja, pria es balok tiba tiba sudah berdiri di depannya.


"Kak, kamu ngagetin aku, jantung aku hampir copot!


anak kamu mana, kok ditinggal sendiri sih, ini kan bahaya, banyak hewan buas?"


Ucap Zerena seraya berdiri, dan mencari cari putranya.


"Unda....


Lian di cini Unda!


Sela anak gembul karena merasa sedang dibicarakan.


Zerena bingung, sejak kapan suami dan anaknya tiba tiba sudah ada disini, bahkan anak gembul itu sekarang sedang minum susu kotak favoritnya.


"Sayang, kamu seperti banyak beban pikiran, ada apa sih?


ngomong dong sama Ayah!"


Ucap Ryan sambil mengelus pipi Zerena lembut.

__ADS_1


Zerena menarik nafas panjang, tidak mungkin kan, dia berterus terang pada pria itu, kalau dia sedang galau, atau tepatnya tidak suka melihat suaminya di dekati lagi oleh wanita ulat bulu seperti Mekar.


Benar kata orang, pria beristri memang selalu menjadi incaran wanita wanita gatal di luar sana, selain karena mapan, katanya pria beristri lebih berpengalaman, entahlah berpengalaman di bidang yang mana, hanya wanita wanita saja yang tahu.


"Huuuuufff.....


Kak, aku nggak suka lihat Kakak didekati wanita yang dadanya berat itu, kesal aku lihatnya!"


Ucapnya mengeluarkan unek uneknya.


Ryan mengernyitkan keningnya, "wanita yang dadanya berat?"


Ucapnya mencoba mengingat ngingat, siapa yang istrinya maksud, tapi dia benar benar tidak tahu, karena Ryan selalu menundukkan pandangannya pada wanita manapun, dia tidak pernah memandang anggota tubuh manusia yang satu itu, kecuali milik istrinya yang mungil.


"Siapa sayang, aku tidak pernah melihat selain punya kamu, jadi aku tidak tahu?"


Ucapnya Pria itu membuat Zerena gemas dan jadi malu sendiri.


Dia mencubit paha suaminya, wajahnya sudah memerah seperti tomat masak, "Unda, wajahna Unda Napa melah lelah, Unda anash!"


Ya ampun si anak gembul, bisa bisanya memperhatikan wajah Bundanya yang memerah, dan alhasil membuat wanita muda itu memalingkan tubuhnya malu malu meong.


Ryan meraih tubuh istrinya dan memeluknya, dia tahu istrinya itu sedang dilanda cemburu, cemburu merem deh kayaknya.


"Sebaik dan secantik apapun di luar sana, tidak akan bisa menggantikanmu, karena kamu berbeda dari mereka, kamu pilihan Allah dan pilihan kedua orang tuaku!


sementara mereka hanya kiriman syaitan untuk menggoda iman Ayah, jadi Bunda harus ingat itu, dan jangan pernah tinggalkan shalat, lebih banyak istighfar dan shalawat, biar hati Bunda tenang, dan tidak muda tergoda bujuk rayu iblis!"


"Iya sih Kak, tapi jangan panggil aku Bunda, cukup Lian aja yang panggil Bunda, Kak Ryan nggak boleh!"


ucapnya bersungut sungut.


"Lho, emang harus begitu kan?


kamu Bundanya Aulian, jadi dipanggil Bunda!"


jawab Ryan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal, melihat kelakuan istrinya yang kadang tidak bisa ditebak.


"Kak, kakak jangan ketemuan lagi sama tuh si dada berat, kalau ada yang penting cukup Alvin aja, kalau perlu biarin aja si Alvin yang jadi korbannya!"


"Ya ampun, istriku kenapa jadi sensitif begini?"


Batin Ryan sambil tersenyum melihat tingkah istrinya.


Setelah drama drama lebay mereka selesai, mereka bertiga kembali melanjutkan petualangan mengelilingi, kebun binatang itu, Ryan menggendong putranya, ketika memasuki area hewan buas.

__ADS_1


Suara Auman singa membuat Aulian menyembunyikan kepalanya di dada bidang Ayahnya, ternyata nyalinya ciut juga, tidak seperti ketika akan masuk kemari, semangatnya sangat menggebu gebu.


Ryan mencoba membujuk dan merayunya agar putranya mau melihat si Raja hutan, sedikit sedikit anak itu, melirik dan menatap wajah sangar di terali besi itu.


"Sayang, Lian tidak boleh takut, itu ada om pawang yang jagain singainya!"


Aulian menegakkan kepalanya, dan benar saja dia melihat seorang pria berdiri di samping kandang singa itu,


"Ayah, Lian peyuk peyuk Boyeh?"


Ucapnya sambil tangan terulur akan memeluk


singa.


Wajah Ryan dan Zerena seketika menjadi puas, tidak mungkinkan, putra satu satunya mereka izinkan berpelukan dengan singa.


Bisa bisa dia jadi menu makan siangnya si Raja hutan.


"Sayang, gimana kalau kita cari burung burung disana, burung cantik cantik lho, warnanya seperti pelangi!"


Zerena mencoba mengalihkan perhatian putranya, lalu memberi kode ke Ryan agar berjalan pelan meninggalkan tempat berbahaya itu.


"Buyungnya sepelti pelangi Unda?"


Kata si gembul sambil memikirkan ajakan Bunda.


"Iya sayang, cantik sekali burungnya, kita kesana yuk!"


Zerena mencoba mengambil anak itu dari gendongan Ayahnya, dan benar saja dia menurut, sekarang wajahnya kembali ceria begitu matanya tertuju pada burung merak dan cendrawasih.


"Inda, itu bulungna....."


Aulian berteriak begitu melihat burung burung yang dimaksud Bundanya, sekarang berada tepat didepannya.


Zerena bernafas lega, ternyata anaknya tidak mengingat lagi hewan buas itu, di sini dia bisa melepas Aulian dari gendongannya.


Sementara Ryan tetap menggandeng tangan mungil putranya, dia tetap mengawasi putranya, jangan sampai masuk ke dalam kandang hewan buas, karena sangat memungkinkan melihat tubuh kecil putranya.


Anak itu tertawa terkekeh saat menjumpai burung beo, yang sedang berbicara seperti manusia, diapun ikut mendekat dan berbicara kepada si Beo.


Tangan mungilnya sesekali bertepuk tangan, saat Beo itu meniru yang Aulian ucapkan.


Tapi itu tidak berlangsung lama, karena seketika anak gembul itu tiba tiba mendekati Ayah Bundanya, dan memeluknya sambil terisak.


"Unda......"

__ADS_1


__ADS_2