
"Pa, Ma aku mau ngomong", kata Ryan dengan mimik serius.
"Ada apa nak?",
jawab Papa Andre.
"Gini pa, perusahaan kita disana sudah stabil kembali, perkebunan sudah kembali normal, semua kendali perusahaan, pabrik dan perkebunan sekarang juga dalam masa peremajaan, menarik napas dalam-dalam dan membuangnya perlahan.
"Lalu......?"
Papa Andre kembali bertanya.
"Sebenarnya aku bisa mengontrol semuanya dari sini, cuma......"!
"Kamu mau ngomong apaan sih Yan, dari tadi muter muter terus?,
Mama sampai pusing dengernya".
Sungut mama Vera memanyunkan mulutnya ke depan.
"Iya sayang ada apa?"
Kata Mama Sinta.
"Gini Ma, Pa......
Aku punya ide, gimana kalau Rezky ntar kuliahnya di Malaysia aja, sekalian belajar menjalankan perusahaan kita di sana, mama nggak usah khawatir, ada Juan yang akan mendampinginya dan memenuhi segala kebutuhannya, itupun kalau mama dan papa setuju".
ujarnya.
"Kalau semuanya setuju aku akan urus semua, dan mendaftarkan Rezky di tempat Rena dulu kuliah".
"Ky.....
Gimana apa kamu mau kuliah disana, ada Juan di sana yang akan membantumu kamu nak?"
kata papa Andre selanjutnya.
"Kalau Rezky seneng seneng aja kok Pa, ma, Rezky bahkan seneng banget bisa kuliah sambil belajar menjalankan perusahaan disana".
Sedari tadi Sisil dan Raka hanya diam mendengarkan mereka, mereka saling berpandangan, mungkin mereka sepemikiran, lalu Sisil memotong pembicaraan mereka,
"Kak kenapa Sisil nggak diajak?,
Sisil juga mau kuliah disana, Sisil juga mau ngurus perusahaan kita disana".
Semua terdiam mendengar Sisil mengungkapkan unek uneknya.
__ADS_1
"Pa.....
Terus Raka gimana????
kalau kak Rezky kuliah di luar negeri, trus kak Sisil juga ikut ikutan, terus Raka disini sekolahnya Sama siapa?"
"Ya kamu sekolah disini sayang, kamukan baru masuk SMA, masih lama kuliahnya, kata Mama Sinta mengingatkan Raka.
Setelah semua dimusyawarahkan akhirnya diputuskan Raka dan Sisil akan kuliah ke di Malaysia, Papa Roy akan mengurus kepindahan Sisil, karena Rezky baru lulus tahun ini, jadi tinggal menunggu ijazahnya keluar, setelah semuanya kelar mereka akan berangkat bersama Papa Andre dan Mama Vera.
Bagaimanapun orang tua itu tidak akan membiarkan anak anak itu berjalan sendiri disana, Rezky harus digembleng langsung oleh Papa Andre, agar kelak dapat memimpin perusahaan keluarga ini.
Kalau Sisil, itu pasti cuma akal akalan dia saja, supaya bisa kuliah di sana, Karena tidak mudah baginya untuk bisa membujuk mama Sinta untuk memberinya ijin kuliah ke luar negeri.
Dari amal semua sudah tahu, bagaimana protektifnya sang Mama kepada anak anaknya, terutama kepada anak perempuannya.
karena Zerena tidak mungkin menikah muda di umur 17 tahun kalau bukan karena Mama Sinta yang terlalu naif berpikir.
Baginya anak perempuan itu seperti cangkir yang ditaruh di atas kepala, salah sedikit saja, cangkir itu akan jatuh dan pecah, begitulah penggambaran mama Sinta mengenai anak gadisnya.
Dia lebih memilih menikahkan mereka di usia belia, sekolah bisa dilanjutkan setelah bersuami, bukannya tidak mampu menyekolahkan anak anaknya, tapi kehormatan anaknya lebih penting dari segalanya, dia tidak mau sampai kecolongan.
Dia mengijinkan Sisil kuliah di sana setelah berembuk panjang dengan suaminya, itupun karena Mama Sinta yang menengahi dan bersedia menjadi penggantinya, selama anak anaknya kuliah diluar negeri.
"Ver....
Heiiii.....
Aku juga Ibu mereka tidak mungkin kubiarkan anak anakku masuk ke lembah kegelapan, ingat itu, dan satu lagi kau jangan terlalu berlebihan, ingat segala yang berlebihan itu tidaklah baik".
Mama Vera berbicara panjang lebar karena kesal melihat kelakuan Mama Sinta yang dianggapnya terlalu berlebihan.
"Jadi kita putuskan Minggu depan anak anak akan berangkat", kata papa Roy menutup musyawarah yang tidak hikmat itu, hehehe.....
Karena hari sudah mulai gelap, akhirnya mereka bubar menuju kamar masing masing, termasuk Ryan dia berjalan ke arah kamar istrinya, setelah masuk dia tak mendapati istrinya di sana, " mungkin sedang mandi".
Benar saja tak lama Zerena keluar dari kamar mandi sambil menenteng handuknya, dia memakai stelan baju tidur berwarna peach, dengan potongan celana sepaha, membuatnya makin manis.
Zerena terbiasa memakai pakaian pendek jika hanya berdua dengan suaminya, tanpa menggunakan hijab, rambutnya yang lurus terurai, dia berjalan perlahan lahan, sampai yang melihatnya pasti akan bosan menunggu kapan nyampenya coba....🙄.
Melihat istrinya kesusahan berjalan Ryan menghampiri istrinya lalu menggendongnya.
"Kak, nggak usah.......
aku bisa jalan sendiri, aku tidak mau terbiasa selalu bergantung sama kakak"
ucapnya kesal.
__ADS_1
Ryan cuma cengengesan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Dia mendekati box bayi, dan melihat putranya tidur dengan antengnya sambil mengisap jempolnya.
Ryan tidak sanggup menahan tangannya untuk tidak mencubit pipi gembul putranya. ingin rasanya menggigit pipi itu kalau saja Zerena tidak ada di sana.
"Jangan digangguin kak!",
ucap Zerena melotot ke arah suaminya.
"Sayang, apa dia sudah mandi?"
"Sudah.....
Ayahnya aja yang belum mandi, kata Zerena sambil menutup hidungnya.
Ryan mendekati Zerena dan memeluknya erat biar nggak mandi sebulan aku tetap wangi sayang",
ucapnya sambil menyandarkan kepala istrinya ke dada bidangnya, dibelainya rambut istrinya lalu dikecupnya puncak kepala sang istri.
"Ya udah aku mandi dulu sayang", ucapnya sambil mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi.
Setelah mandi Ryan hanya memakai kaos dan celana bola andalannya, tapi tak mengurangi kadar kolesterolnya, ehh salah maksudnya kadar keasaman,
uupppss salah lagi maksudnya, kadar ketampanannya.
Terlihat Zerena sibuk melipat semua pakaian si kecil, yang dibawa dari rumah sakit.setelah semua rapi Zerena memasukkannya ke dalam lemari, yang disiapkan sebelumnya
Zerena kemudian perlahan berusaha menggapai pinggir sofa, Ryan segera membantu istrinya.
"Kak aku pengen banget makan mie ayam,boleh nggak?
soalnya saat hamil anak kita, aku udah pengen, tapi di Malaysia susah dapetnya, jadi aku diam aja kak, nggak pernah ngomong ke kamu".
"Seharusnya kamu ngomong sayang, kamu tidak ingat siapa suamimu ini hemm?".
Zerena tertawa dia menepuk jidatnya, dia benar benar lupa suaminya adalah pria es balok, ehhh maksudnya pria yang disegani dan ditakuti, apapun bisa didapatkannya dengan mudah.
"Ya sudah sayang,aku pesankan mie ayam impian kamu",
diambilnya hpnya lalu memesan mie ayam melalui aplikasi online.
20 menit kemudian pesanan Ryan datang, dia turun ke bawah untuk menjemput pesanannya, setelah membayar dan memberikan tip kepada kurir itu, dia masuk kembali ke dalam rumah, langsung menuju ke dapur menyiapkan mie ayam pesanan istrinya.
Sengaja dipesannya 2 porsi, untuk mencoba mencicipi mie ayam yang kata Zerena terENDUL sedunia, setelah semuanya siap diatas nampan, Ryan membawa nampan tersebut ke kamar istrinya.
"
__ADS_1