Suamiku Kakak Sepupuku

Suamiku Kakak Sepupuku
Bab 113


__ADS_3

Kedua pasangan kekasih itu, berbelanja ngebut, dan sisanya mereka pakai jalan jalan, rencana untuk pulang besok malah Dion percepat malam ini.


Dion kapok, tidak mau kecolongan, ini adalah aib yang harus ia dan Mita simpan seumur hidup, dia tak akan menceritakan pada siapapun, termasuk anak cucu mereka kelak.


Dion membawa semua barang bawaan Mita, sebagai seorang wanita disuruh belanja sampai puas membuatnya khilaf.


Dia benar benar menghabiskan uang yang diberikan Dion tadi pagi.


Tidak butuh waktu lama untuk menunggu, pesawat yang mereka tumpangi akhirnya mendarat, Di depan telah menunggu anak buah Dion, mereka mengantar Mita terlebih dahulu lalu pulang ke apartemennya.


Selesai shalat Isya, Zerena membuka buka ponselnya, dan melihat berita berita menarik, tak sengaja ia membuka akun media sosialnya, dan melihat Mita telah kembali dari liburannya.


Di foto itu tampak Mita dan Dion memakai kacamata hitam berdiri berdampingan, dengan wajah tegang.


Zerena tertawa melihat tingkah sahabatnya yang menurutnya aneh, lama bergaul dengan Dion membuat sahabatnya itu ikut ikutan berwajah datar, seharusnya Mita tidak usah ikut ikut, cukup Ryan dan Dion saja.


Ryan mendekat, dan duduk di samping Zerena, dia membelai lembut rambut istrinya, "ada apa hem?"


Zerena menunjukkan foto keduanya, sambil menutup mulutnya menahan tawa, Ryan ikut tersenyum simpul.


"Sebentar lagi mereka menikah, Dion telah melamar Mita ke orang tuanya langsung di Sidney!"


Ryan memberikan keterangan yang cukup akurat, membuat Mita melongo.


"Jadi karena itu mereka ke Sidney, bukan mau liburan?"


Ryan mengangguk mengiyakan pertanyaan istrinya.


"Wahhh hebat, ternyata asisten Kakak geraknya cepat ya?"


ucap Zerena polos.


"Hussss, ngomongnya jangan ngeres!"


Ryan menyentil kening Zerena, wanita itu mengasuh walau tidak keras, tapi tetap saja keningnya perih karena sentilan Ryan.


"Ngeres bagaimana coba?


aku cuma bilang geraknya cepat dibilang ngeres!"


Omelnya karena merasa tidak berkata yang tidak tidak.


"Pikir saja sendiri!"

__ADS_1


sambung Ryan, sambil merebahkan tubuhnya di samping Zerena, perlahan dia mulai memejamkan matanya, tidak lama dengkuran halus terdengar dari nafasnya, menandakan dia telah tertidur pulas.


Zerena pun ikut merebahkan tubuhnya, dengan pelan ia masuk ke dalam dekapan pria di sampingnya, seperti seekor anak kucing.


Pagi hari, Zerena sudah bersiap siap untuk ke kampus, setelah menyiapkan kebutuhan suami dan putranya pagi pagi.


Seperti biasa mereka sarapan bertiga, anak gembul itu sudah terbiasa bangun pagi dan ikut sarapan bersama Ayah Bundanya.


Selesai sarapan Zerena dan Aulian mengantar Ryan ke depan, mereka baru masuk ketika mobil sang Ayah sudah hilang dari pandangan keduanya.


"Sayang Bunda mau ke sekolah boleh?"


Tanya Zerena pada putranya ketika mereka sudah masuk ke dalam rumah untuk mengambil tas dan semua perlengkapan Zerena.


Bocah itu mengerjap ngerjapkan matanya mencoba menelaah kata kata Bundanya.


"Oleh Unda, api Lian Icut oleh?"


ucapnya sambil mengedip ngedipkan kedua bola matanya lucu.


Zerena sangat gemes melihatnya, hari ini putranya kembali merajuk dan minta ikut ke kampus, Zerena mengangguk karena dia memiliki baby sister gratis di kampus yang siap menjaga Aulian selama yang Zerena minta.


siapa lagi kalau bukan Alvin, sahabatnya.


"Ayo kita berangkat!"


ucapnya girang, sambil berlari lari kecil didepan Zerena, tingkah bocah yang hampir berumur 2 tahun itu semakin menggemaskan, yang ia heran kenapa putranya tidak cadel kalau berbahasa Inggris.


Zerena memakaikan putranya seat belt,Zerena melajukan mobil kesayangannya menuju ke kampus, sepanjang perjalanan anak itu terus mengoceh apapun yang ia lihat, kalau dia tidak tahu benda yang mereka lalui ia akan bertanya, dan pertanyaannya akan terus berlanjut sampai kepala Zerena nyut-nyutan mencari jawaban dari semua pertanyaan putranya.


Saat sampai kampus belum begitu ramai, di parkiran Mita dan Alvin sedang menunggu kedatangannya, mereka menepuk jidat saat si pria kecil turun dari mobil.


Keduanya menepuk jidat, saat pria itu dengan wajah tersenyum tapi senyuman yang mengintimidasi seperti ayahnya, mendekat ke arah mereka.


"Hi Uncle, Hi Aunty, how are you?"


Ucap Aulian sambil tersenyum dan memeluk kaki Alvin dan Mita bergantian.


Pria kecil itu, merentangkan tangannya ke arah Alvin, Alvin membungkukkan badan dan mengangkat bocah itu, ke dalam gendongannya.


"I am fine Baby!"


ucapnya mengecup puncak kepala Aulian, bocah itu memeluk erat tubuh Alvin sang Baby sister dadakan.

__ADS_1


Mita melongo mendengar pria kecil itu dengan fasih berbahasa Inggris, dia tidak menyangka anak kecil yang berumur kurang dari 2 tahun sangat lihai berbahasa Inggris, sedangkan dirinya saja kadang kadang masih kerepotan.


"Ren, kok anak kamu pintar banget ngomong Inggrisnya?"


Tanya Mita masih terpukau dengan performa Aulian.


"Anakku minumnya susu ASI, bukan susu SAPI, jadinya pinter!"


Jawab Zerena sombong.


"Unda....


Unda asyuk kelash aja, Lian Ama Uncle mo maen!


Aulian kembali membuat Mita menutup mulutnya, bisa bisanya menyuruh Bundanya masuk kelas, sementara dia mau nebeng ke Alvin.


Zerena mengangguk, setelah pamit dan mencium anak gembul itu, diapun melangkah meninggalkan Aulian yang sedang berceloteh dengan Alvin.


Bahkan dengan berani Alvin membawa masuk anak itu ke dalam kelasnya, membuat dosen menampakkan wajah seramnya.


"Di sini bukan tempat penitipan anak, dan anak anak dilarang masuk ke dalam kelas selama mata kuliah saya berlangsung!"


kata dosen itu menatap tajam ke arah Aulian.


"Uncle, pak Laden na, malah malah Ama Uncle, emang uncle calah apa?"


ucapnya penasaran melihat dosen galak di depannya.


"Ni anak nanyain salah gua, yang salah tuh Mak lu, ngapain bawa bawa orok ke kampus, trus dikasih ke gue!"


Batin Alvin.


"Maaf pak , keponakan saya tidak ada yang menjaga makanya saya bawa ke kampus, tapi dia anteng kok pak, nggak bakal mengganggu!"


Alvin mencoba membujuk dosen agar bisa mengerti.


Si anak gembul hanya diam memperhatikan orang dewasa sedang beradu argumen, yang ia tahu Uncle nya sedang dimarahi karena memiliki kesalahan, tapi dia tahu kalau kesalahan Uncle karena membawa si gembul masuk kelas.


Dan benar saja, selama mata kuliah berlangsung anak itu hanya diam, sesekali dosen itu melirik ke arah pria kecil di depannya, sebenarnya ia penasaran karena wajah sang anak kok familiar, kayak pernah lihat, dimana gitu?


Begitu Dosen selesai membawakan mata kuliahnya, Alvin bernafas lega, dengan cepat ia membawa Aulian keluar dari kelas, untuk diantar menemui emaknya.


"Hai Emaknya Aulian, lain kali kalau mau bawa orok ya mikir mikir dulu, aku jadi dimarahin dosen gara gara bawa si gembul masuk kelas!"

__ADS_1


ucapnya menunjuk nunjuk wajah Zerena.


Zerena hanya nyengir kuda, mendengar suara Alvin yang masuk ke telinga kanan dan keluar ke telinga kiri.


__ADS_2