
Hari yang ditunggu tunggu pun telah tiba, pernikahan megah nan mewah Dion dan Mita.
Pernikahan yang yang sangat istimewa, dan menjadi dambaan setiap pasangan.
Mita bagaikan seorang ratu yang diapit oleh 2 wanita yang sangat menyayanginya, yaitu wanita yang telah melahirkannya, dan wanita yang telah melahirkan seorang pria yang begitu mencintainya.
Sementara Dion menantinya dalam keadaan gugup, ini pertama kali dalam hidupnya, dan mudah mudahan menjadi yang terakhir mengucapkan ijab kabul.
Setelah Mita duduk manis di sampingnya, acara pun segera dilaksanakan, dalam sekejap dan satu kali tarikan nafas, Dion mengucapkannya dengan lancar dan lantang, semua saksi dan tamu serempak mengucapkan kata Sahhhhh.
Air mata kebahagiaan tumpah di pipi Mami Dion, dia tidak menyangka akhirnya putranya yang pembangkang dan keras kepala kini telah menikah, tanpa dipaksa.
Kalau tadi saat acara akad nikah, Mita memakai kebaya modern berwarna putih yang membalut tubuh langsingnya, sekarang di acara resepsi pernikahan mereka Mita tampak cantik bak princess memakai gaun mewah berwarna gold, sementara Dion memakai tuksedo dan tak kalah tampannya.
Tamu tamu yang hadir pun tak kalah membuat siapapun akan melongo, semua orang orang penting dari berbagai kota di negara itu, tampak hadir ikut serta dalam kebahagiaan keluarga Dion.
Bukan itu saja, tamu tamu undangan tampak pula dari negara asal orang tua Mita, mereka sengaja mengundang rekan rekannya, karena ini pernikahan putri mereka satu satunya.
Walau sesal tampak di wajah Dion dan Mita, karena sahabat mereka tidak bisa menyaksikan pernikahan keduanya.
Sebenarnya orang tua Mita, berkeinginan mengadakan acara resepsi juga di negaranya, tapi berhubung Mita menolak dan mengatakan yang sudah sah, mau tidak mau mereka akhirnya menuruti kemauan putri semata wayang mereka, yang tumbuh menjadi gadis, dan sekarang telah menjadi istri.
Dari pagi hingga malam menjelang, Dion dan Mita terus berdiri menyambut para tamu, kaki Mita terasa keram dan mati rasa.
Jangan ditanyakan lagi wajahnya, rahangnya seperti kebas karena sepanjang hari bahkan sampai malam terus tersenyum, giginya terasa kering karena terlalu lama tersenyum lebar.
"Kak, kakiku keram, pegal.....!"
ucapnya mulai mengeluh.
"Sabar, sebentar lagi selesai!"
balas Dion menghibur istrinya, yang mulai letih, lelah, dan lemas.
Dion melirik jam tangan mahal yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Sudah pukul 23.00, tapi kok tamunya makin banyak yah, dan kok sekarang banyak bulenya?"
Batin Dion mulai mengkhawatirkan istrinya.
Tiba tiba Dion tersenyum cerah, karena mendapatkan ide yang bisa membuat dia dan Mita bisa beristirahat.
"Sayang, kamu pura pura jatuh aja, pura pura pingsan, nanti aku tangkap biar tubuh kamu nggak nyungsep ke lantai!"
__ADS_1
Bisik Dion di telinga Mita.
Mita melotot ke arah Dion, ide konyol macam apa itu, bagaimana kalau orang tua mereka tahu, bisa hancur reputasi menantu kesayangan di depan mertua.
"Emang nggak bakal ketahuan Kak?"
"Enggak, tenang aja, serahin sama aku!
sekarang aku hitung sampai 3, dalam hitungan ke 3 kamu harus pingsan, Ok!"
Mita mengangguk, walau ragu dengan rencana konyol suaminya itu, dengan wajah sayu dan kepala yang terasa pening, dia menunggu aba aba dari suaminya.
"satu, dua, ti.....!"
Tiba tiba tubuh Mita sudah ambruk dan dengan cekatan Dion menangkapnya, orang tua mereka yang melihat Mita tiba tiba pingsan segera berlari dan melihat keadaannya.
Dengan cepat Dion menggendong tubuh wanita yang telah menjadi istrinya itu, pelayan berjalan cepat di depannya, untuk menunjukkan kamar mereka.
"Dion, Papi udah panggil dokter untuk melihat keadaan menantu Papa, jangan khawatir!"
ucap Pria paruh baya itu, sambil menepuk pundak putranya.
Setelah membaringkan tubuh istrinya, Dion menatap wajah Mita yang tampak pucat, tapi masih mengira istrinya pura pura pingsan, padahal istrinya benar benar pingsan karena kelelahan, dan penyakit Maag yang kambuh.
Dia baru menyadari kalau istrinya benar benar pingsan, bukan pingsan bohongan.
Saat bersamaan dokter datang dan memeriksa, setelah itu mulai berbicara dan kepada Dion, lalu menuliskan resep obat yang harus ditebus.
Dion masih memperhatikan wajah istrinya, ternyata gadis itu benar benar pucat, mungkin kecapean dari pagi sampai tengah malam begini, tak ada secuil makanan yang masuk ke dalam perutnya.
Setelah dokter meninggalkan kamar beserta orang tua mereka, karena harus menemani tamu yang masih banyak yang datang untuk memberi selamat kepada sang pengantin
Mita mulai menggerakkan tangannya, begitupula dengan kelopak matanya, yang perlahan mulai terbuka.
"Airrrrrr.......!"
ucapnya lirih.
Dion segera mendekat, dan memberikan minum kepada istrinya.
"Kak kok aku di kamar?"
tanya Mita begitu melihat tempat yang sekarang dimana dia berada.
__ADS_1
"Tadi kamu disuruh pura pura pingsan, eh malah pingsan beneran!"
Ucap Dion sambil mencubit pipi Mita lembut.
"Sekarang kamu makan dulu, setelah itu minum obat, kata dokter kamu nggak pernah makan sehari semalam ini, nikah kok tapi menyiksa diri!"
Omelan Dion terdengar, walau tidak marah tapi kelihatan mengkhawatirkan istrinya.
Dion mengambil makanan yang tadi diantarkan pelayan, dan menyuapi istrinya.
"Kak, biar aku makan sendiri!
kakak juga makan ya, kakak juga belum makan bukan?"
Mita merebut piring yang berada di tangan Dion, mau tidak mau dia terpaksa mengambil makanan dan ikut makan bersama istrinya.
Setelah selesai, Dion memberikan obat kepada Mita, lalu membersihkan bekas makan mereka.
"Kak, sebaiknya temui tamu tamu kita, nggak enak kita disini sementara mereka masih ada di luar sana!"
Setelah berdebat panjang akhirnya Dion keluar dari kamar juga, dan berjalan menuju aula tempat diadakannya pesta resepsi pernikahan mereka.
Dion bengong melihat acara pernikahannya berubah menjadi lantai joged, tapi pesertanya bapak bapak berjas beserta istrinya sedang melantai mengikuti irama musik.
Semua seakan menikmati acara itu, yang muda muda hanya menjadi penonton dan bertepuk tangan ria.
Dion memijit pelipisnya melihat kelakuan orang tua dan mertuanya, ini pasti ide dari mereka, yang menjadikan resepsi pernikahannya menjadi sebuah acara lawas.
Tampak di tengah tengah para peserta orang tuanya sedang berjoged ria ala ala dangdutan khas Indonesia, tidak ketinggalan mertuanya yang tidak mau ketinggalan.
"Dari kepalaku pusing melihat kelakuan mereka, lebih baik aku ke kamar melihat keadaan istriku!"
Dion kembali membalikkan badannya dan melangkah menuju lift untuk melihat keadaan istrinya di kamar.
Setelah sampai dia melihat istrinya masih terbaring dengan pakaian pengantinnya, sesekali jemarinya memijit keningnya sendiri, mungkin masih pusing.
"Sayang, mandi dulu biar lebih segar, sini aku bantu bukain pakaiannya!"
Mita kaget, karena mulut Dion yang berbicara bersamaan dengan tangannya yang mengangkat tubuhnya untuk duduk, lalu melepas pengait gaunnya yang berada di bagian punggungnya.
"Sudah, sekarang kamu mandi!"
Mita masih belum sepenuhnya sadar, karena perbuatan Dion, yang membuka pakaiannya dan menggantinya dengan kimono mandi.
__ADS_1
Saat Mita masih terbengong, tiba tiba tubuhnya terasa melayang, ternyata Dion telah mengangkat tubuh langsing itu menuju kamar mandi.