
"Sayang, bagaimana kabarmu, juga anak istrimu??"
Tanya Mama Sinta saat memasuki mobil, Ryan sengaja datang sendiri menjemput kedua mertuanya.
"Kami semua baik baik saja Ma, Mama dan Papa juga sehatkan selama di Malaysia???"
"Alhamdulillah sayang, kedua orang tuamu titip salam, dan adik adikmu."
"Iya Ma, salam balik!"
Ryan membalas senyuman kedua mertuanya, mertua sekaligus Om dan Tantenya.
Ryan menatap Papa mertuanya dari kaca spion yang sedari tadi terdiam, Ryan mengerti perasaan pria itu.
Saat ini keluarganya dalam bahaya, tapi dia mencoba menghubungi semua anggota timnya yang dulu bergabung dengannya.
Saat mereka sampai di rumah, Mama Sinta turun dengan buru buru, hal pertama yang dia cari adalah cucunya, dia berteriak kencang saat mendapati Aulian sedang belajar berjalan.
Mendekati cucunya dan menggendongnya, melupakan kehadiran putrinya yang menatapnya penuh senyum.
Dia memeluk dan menciumi wajah gembul itu, selama ditinggal ternyata cucunya sudah semakin pintar, dan semakin gembul saja pipinya.
"Mama, mama kok nggak nyariin Rena???"
Rena berucap sambil memanyunkan mulutnya, jurus andalannya saat pura pura ngambek.
"Ya ampun sayang, Mama lupa kalau putri kesayangan Mama ada disini", ucapnya mendekati Zerena dan memeluk dan mengecup kening putrinya.
Roy memberi kode kepada menantunya, dan merekapun bergegas masuk ke ruang kerja Roy, yang berada di belakang, bersebelahan dengan dapur, tapi selama ini selalu tertutup, dan tidak satu orangpun yang diperbolehkan masuk ke tempat itu, kecuali Mama Sinta.
Sebuah ruangan tak berpintu, tapi saat tangan Roy ditempelkan pada dinding, dengan jelas pintu langsung tampak di depan mereka, dan sebuah tombol dengan angka angka terpampang di depan mereka.
Tangan Roy dengan lincah menekan tombol dan memasukkan kode sandi, di dalam kamar hanya ada kegelapan, Roy mencari saklar lampu dan menyalakannya, ruangan yang gelap itu berubah terang benderang.
Ryan memerintahkan Ryan untuk menutup dan mengunci pintu itu.
__ADS_1
Ryan takjub bercampur heran, selama ini tidak sekalipun ia melihat tempat ini, dari kecil sampai dewasa, ini pertama kalinya, dia memasuki ruangan ini.
Tidak ada yang istimewa dari ruangan itu, semua sama dengan ruangan kerja pada umumnya, Ryan kembali dibuat terperangah saat Papanya kembali menempelkan telapak tangannya pada sisi dinding di depannya, muncullah sebuah layar seperti sebuah layar komputer, Roy kembali menempelkan tangannya disana.
Ryan menganga, saat dinding terbelah dan di baliknya dinding yang terbelah itu, ada sebuah tangga yang mengarah ke bawah.
"Apa itu ruang bawah tanah", Batin Ryan sambil mengikuti langkah Papa Roy.
Mereka terus menuruni anak tangga, merek sampai ke sebuah ruangan, yang temaram karena pencahayaannya yang hanya menggunakan lampu seadanya saja.
Roy kembali menekan saklar lampu di dinding, maka teranglah seluruh tempat itu, mata Ryan terbelalak melihat begitu banyak senjata di ruangan itu, mulai dari yang paling kecil sampai yang paling besar.
Ryan benar benar tidak menduga kalau Kedua Papanya benar benar mantan gangster.
Terbukti dengan adanya benda benda ini, Ruangan ini tampak bersih terawat, meski telah ditinggalkan hampir satu bulan oleh sang pemilik.
"Ryan, Papa menunjukkan ini ke kamu, karena kamu adalah anak laki laki Papa yang paling besar, Rezky dan Raka masih terlalu kecil, untuk berurusan dengan benda benda seperti ini.
Ambil dan bawalah yang mungkin akan kamu butuhkan!"
"Disini Papa dulu selalu melatih Zerena dan Sisil, karena walaupun perempuan, Papa ingin membekali
putri Papa dengan pengetahuan beladiri dan menembak."
"Jadi sebenarnya Zerena, bisa beladiri dan menembak Pa???"
Roy mengangguk, mengiyakan pertanyaan menantunya,
"Termasuk kedua adik laki lakimu, mereka memiliki dasar, tinggal bagaiman nanti kamu bisa membimbing mereka, saat Papa sudah tua dan pikun."
Ryan mengambil sebuah senjata Laras panjang, dan mengarahkannya ke papan
target menembak.
Dengan mudah peluru melesat dan menembus di tengah tengah lingkaran, Roy tersenyum karena dia tahu Ryan, pasti sangatlah mahir dalam dunia menembak, Andre pasti telah menggemblengnya menjadi laki laki yang kuat.
__ADS_1
Ryan, memilih beberapa senjata, untuk berjaga jaga, dan sekalian akan diberikan kepada Dion dan Alvin.
Bagaimanapun juga mereka adalah partner yang mendukung apapun yang terjadi pada keluarga Ryan saat ini.
Setelah semua selesai, Roy dan Ryan kembali ke atas, dan sebelum keluar Roy mengganti semua kode pin ruangan dengan kode telapak tangan Ryan, agar dengan mudah Ryan dapat masuk ke sana kalau ada apa apa.
"Pa, darimana, kita mau makan ini???"
ucap Mama Sinta yang baru melihat kehadiran Suami dan menantunya, setelah keduanya mencuci tangan mereka kemudian makan siang bersama, sengaja Ryan hari ini mengosongkan semua aktivitasnya di kantor, karena dia ingin menyambut kedatangan kedua orang tuanya, ya Ryan selalu menganggap mereka orang tuanya, bukan mertua.
Karena dia tumbuh dari kasih sayang mereka berempat, Papa Andre, Papa Roy, Mama Vera, dan Mama Sinta, selalu memberinya dan keempat adik-adiknya kasih sayang berlimpah.
Selesai makan, Mama Sinta membantu Zerena membersihkan meja makan dan semua bekas bekas peralatan makan mereka.
Sedari dulu Mama Sinta selalu mengajarkan anak anaknya untuk melakukan yang bisa dia lakukan, tanpa harus merepotkan pelayan dan bibi di rumah itu.
Zerena kemudian empat gelas es cendol gula merah, dan membawa ke ruang keluarga, dimana Papa dan Suaminya sedang mengobrol.
Tampak si gembul sedang bermain dengan Opanya, anak itu sedang berlatih berjalan, dengan langkah tertatih tatih, dia terus melangkah mendekat ke arah opanya yang sedang memegang biskuit kesukaannya.
"Ya Allah Papa, cucu aku kok dibikin menderita kayak gitu, ngapain diiming-imingi makanan kayak gitu?
nggak tega akunya Pa!"
Anak itu tertawa riang saat tangannya berhasil meraih biskuit di tangan Opanya, usahanya berhasil walau dengan cucuran keringat yang penuh perjuangan.
Dia memasukkan makanan itu ke dalam mulutnya, sedangkan Mama Sinta terus mengomel tidak terima cucu kesayangannya, diperlakukan seperti itu.
Dia menghampiri dan megambil cucunya dari tangan suaminya, "kalau tidak segera diambil entah siksaan apalagi yang akan di dapatkan cucuku!"
Ucapnya terus saja mengomel, Ryan dan Zerena tersenyum melihat orang tuanya yang begitu menyayangi cucu mereka.
Ryan melirik wajah istrinya, masih terngiang ucapan Papanya tadi, kalau Zerena jago beladiri dan menembak.
"Aku harus segera memberitahu keadaan yang sebenarnya pada Zerena, agar dia bisa siap menghadapi bila sesuatu tiba tiba terjadi!"
__ADS_1
Zerena menyerahkan segelas es cendol untuk suaminya, mereka meminumnya dengan semangat karena kebetulan cuaca di luar uang sangat panas, sepertinya sangat pas dengan minuman di tangan mereka, bisa mendinginkan tenggorokan dan perasaan mereka yang sedang kalut.