Suamiku Kakak Sepupuku

Suamiku Kakak Sepupuku
Bab 69


__ADS_3

Bruuuukkkk.......


Tiba tiba Sisil menabrak sesuatu sampai membuatnya hampir terjatuh, untung saja pria itu bisa menangkap tubuhnya, dia sangat mengenal wangi parfum tersebut, kepalanya masih setia menempel di dada bidang pria yang ditabraknya.


Setelah kesadarannya terkumpul, dia merapikan rambutnya, lalu menatap pria di depannya.


"Kamu jangan judes sama Kak Alvin, dia itu sudah membantu Papa dan Kak Ryan, dan mempertaruhkan nyawa demi menyelamatkan Mama dan ponakan kamu!"


Kata kata Zerena kembali terputar di memory Sisil, membuatnya sedikit menarik kedua sisi bibirnya kiri dan kanan, membentuk sebuah senyuman yang sangat tipis, perlu dicatat ya, senyum yang sangat tipis!🤦🏼‍♀️


"Maaf Kak!!!"


Ucap Sisil singkat, jelas, dan padat.


Membuat Alvin menautkan kedua alisnya, karena gadis kecil itu ternyata masih bisa tersenyum dan meminta maaf.


Alvin melihat, Zerena berjalan dari dapur membawa minuman ke ruang tengah,


"Ohooo ini pasti pekerjaan Nona muda kita!"


Batin Alvin sambil mengetuk ngetuk dagunya menggunakan telunjuk.


""Nggak apa apa kok Sil, jangan dipikirin!"


ucapnya sambil menepuk angin di depan wajah Sisil.


"Vin, kamu sudah datang?"


Suara bariton Ryan mengalihkan pandangan keduanya, Alvin hanya mengangguk mengiyakan pertanyaan Ryan.


"Ikut saya ke ruang kerja, Dion sudah ada disana!"


Alvin pamit ke Sisil melalu bahasa tubuh, dia mengangguk dan melirik ke arah Ryan, Sisil pun ikut mengangguk, setelah itu Alvin mengejar Ryan yang telah menjauh.


"Cieeeee......


Kak Sisil, Bang Alvin ganteng ya???"


Tiba tiba si pria pengusik datang lagi dan kali ini dia sudah mulai mencoba menggoda sang Kakak.


"Mereka kembali kejar kejaran, bahkan samai ke ruang tamu, Mama Vera sampai sibuk melerai anak anak yang tidak pernah akur itu.


Setelah, Mama Vera mengomel ke kiri dan ke kanan, seperti lirik lagu poco poco tempo dulu, akhirnya mereka baru bisa berhenti.


"Kakak kamu kemana Sil?"


Papa Andre bertanya pada Sisil, suaranya yang dingin dan dalam, membuat orang yang mendengarnya akan merinding, jelas sudah, dari sanalah Ryan memperoleh sikap dinginnya yang sedingin es balok.


Tapi bukan hanya Ryan, karena Sisil sepertinya ikut terkontaminasi oleh Papa kedua mereka ini.

__ADS_1


Sedangkan Rezky, sepertinya tidak mudah untuk berubah haluan dia tetap mewarisi sikap Papa Roy yang hangat pada siapa saja, tapi akan berubah garang pada musuhnya.


"Kak Ryan ke ruang kerjanya Pa, sepertinya ada kerjaan solnya Kak Dion dan Kak Alvin juga pada dateng!"


ucap Sisil tetap kalem.


"Pa Alvin bukannya anak teman kuliah Papa dulu kan???"


Tanya Mama Vera, kelihatannya mengenal samar samar wajah Alvin.


"Iya dia putra tunggal Abram!"


jawab Andre.


"Papa,


Bukannya Abram itu pengacara kondang dari Singapura ya Pa?"


Ucap Rezky penasaran, setelah mendengar pembicaraan Papa Andre dan Mama Vera.


"Ia, dia itu orang Indonesia sayang, tapi berkarir dan menetap di Singapura!"


Jatah untuk Papa Andre ngomong, malah diserobot oleh Mama Vera, membuat Keempat anak anak Mama Sinta kompak menutup mulutnya dengan kedua tangan mereka, karena menahan tawa.


Seperti itulah kebahagiaan keluarga Sanjaya saat berkumpul, ada ada saja yang mereka lakukan sehingga mengundang gelak tawa.


Papa Roy sendiri, kini menemani istrinya, yang sedang berbaring lemah di kamar, dia sebenarnya ingin ikut bergabung bersama anak anaknya, tapi karena kondisi istrinya uang masih lemah, dia jadi tidak tega meninggalkannya sendiri.


Jadi, mencintai anak boleh dan itu wajar, tapi jangan karena mencintai anak kita melupakan cinta istri, karena istri yang akan menemani kita di masa tua dan renta kita nanti bukan anak.


"Papa, Ini minuman buat Papa!"


Zerena masuk dan membawa segelas Coffeelatte spesial buat Papa kesayangannya.


"Duduk disini sayang!"


Zerena menurut, dan duduk di sebelah kanan Mamanya, sesuai perintah sang Papa.


"Bagaimana keadaan cucu Papa?"


Roy menatap wajah putrinya yang kelihatan sangat lelah, tapi karena kedatangan adik adik dan mertuanya, dia berusaha kuat.


"Aulian baik Kok Pa, tadi bangun dan minta susu terus tidur lagi dia, mungkin capek dianya Pa!"


"Terus kamu sendiri bagaimana, sudah bisa menggunakan ilmu beladiri dan menembak kamu secara langsung kan sayang?"


"Alhamdulillah Pa, Rena senang banget dan seru banget bisa ikut berkelahi langsung Pa!"


ucap Zerena sangat antusias.

__ADS_1


Pleetaakkk


Zerena meringis saat, Papanya menyentil keningnya, walau Roy menyentil dengan pelan.


"Mudah mudahan ini yang pertama dan yang terakhir kamu melakukan itu, Papa tidak mau kamu jadi perempuan kasar, Papa tidak suka, jadilah seperti Mamamu yang selalu lembut ke suami dan anak anaknya!"


"Iya Pa, Rena akan selalu ingat pesan Papa, tapi anak gadis Papa itu kenapa jadinya kayak Papa Andre sih Pa, dingin dan Arogan anak gadis Papa tuh!


"Dia anak gadis Papa sekarang!!"


suara Papa Andre tiba tiba menggema di kamar itu, membuat Roy melemparnya dengan bantal.


"Kecilkan suaramu Ndre, istriku butuh ketenangan!"


Andre tersenyum ke arah adiknya.


Satu hal yang Zerena lihat, saat Andre bertemu dengan Roy sikap dingin dan Arogannya seakan menghilang begitu saja, dia selalu bisa membuat adiknya tersenyum dan tertawa.


"Roy, ikhlaskan Sisil, dia dan Rezky akan aku didik menjadi pebisnis bertangan dingin."


Kau pikir putriku ikan ******, sampai harus bertangan dingin?"


alhasil perdebatan diantara mereka tidak dapat dihindarkan.


"Papa......


Berisik banget sih!!!"


Mama Sinta membuka matanya, melihat kedua pria yang sedang beradu argumen.


"Papa jangan berisik, Mama jadi bangun.


sekarang Papa dua duanya keluar jangan berantem disini!"


Zerena membuka pintu dan menarik kedua pria itu keluar dari kamar.


Roy menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, berjalan menuju ke ke depan mencari anak anaknya, dia merangkul bahu putranya, Rezky ber Alik karena ada seseorang yang merangkulnya.


Ternyata Papa Roy yang sedang merangkulnya dari belakang, "Papa kenapa?"


ucapnya sambil tersenyum manis, wajahnya persis seperti Papa Roy saat masih muda.


"Tidak apa apa nak, Papa cuma senang melihat putra Papa sudah sebesar ini, bahkan sudah jadi CEO sekarang!"


"Papa apaan sih!"


ucapnya dengan wajah merona karena dipuji oleh Papanya.


"Hai ini putri kecil Papa kenapa diam aja, lagi mikirin apa sayang???"

__ADS_1


Roy duduk diantara putra dan putrinya, Roy mengacak rambut putrinya, sampai membuat pemiliknya memanyunkan mulutnya, sambil merapikan rambutnya yang berantakan akibat perbuatan Papanya.


Tiada kebahagiaan yang paling indah bagi seorang Ayah apabila masih bisa melihat anak anaknya tumbuh dewasa, seperti sekarang ini.


__ADS_2