
Satu persatu karyawan mulai meninggalkan perusahaan untuk menemui keluarga mereka di rumah, sementara Ryan masih sibuk dengan berkas yang teronggok manis di depannya.
Sekilas diperhatikannya istrinya yang tertidur di sofa, setelah merengek ingin pulang memakai ojek online, tapi mendapat tatapan mematikan dari suaminya, akhirnya dia memilih tidur, daripada mencari masalah.
Setelah semua selesai, dia menghubungi Dion agar menemuinya di ruangannya, tak lama Dion datang dan menunduk hormat ke arah bosnya.
"Dion, antar kami pulang!"
ucapnya jelas tak ingin ada bantahan.
Dion keluar setelah membawa ku konci mobil, sementara di belakangnya Ryan mengikutinya sambil menggendong istrinya yang masih tertidur pulas.
Sekertarisnya Lisa melongo, melihat sang bos menggendong seorang gadis dari dalam ruangan pribadinya, pikirannya yang kotor bergerilya kemana mana, walau tidak jelas melihat siapa gadis yang berada dalam gendongan sang CEO tampan.
Ryan sengaja menutup wajah istrinya dengan ujung hijabnya, karena tak ingin ada yang melihat wajah manis istrinya saat tidur, bukankah itu terlalu protektif untuk ukuran seorang CEO.
Ryan membaringkan tubuh istrinya dengan hati hati begitu sampai di dalam mobil, setelah bosnya masuk, Dion kembali menutup pintu, dan membawa mobil itu menuju kediaman Sanjaya.
Mobil memasuki pintu gerbang utama, dan disambut beberapa penjaga dan pelayan rumah, Ryan kembali menggendong istrinya masuk.
"Dion sebaiknya kau bermalam saja, ini sudah larut!"
Dion hanya mendesah lalu, menyuruh pelayan menyiapkan kamar untuknya, dia ingin berendam dengan air hangat untuk merelaksasi tubuhnya yang seharian bekerja ektra untuk bos sekaligus sahabatnya itu, setelahnya mungkin coklat panas akan membuatnya lebih nyaman.
Sementara Ryan telah sampai di kamarnya, membaringkan tubuh istrinya.
Dia kemudian keluar untuk mencari putranya, dia memasuki sebuah kamar, ya kamar itu dibuat saat Zerena sakit, jadi semenjak kejadian Zerena sakit, Aulian memiliki kamar sendiri, dia akan ditemani oleh beberapa Baby sister.
Kecuali untuk saat saat tertentu Zerena akan membawa putranya ke kamarnya, dan tidur bersama anaknya.
Ryan tersenyum simpul melihat putranya tertidur nyenyak, perlahan dia mendekati anak itu lalu mengecup puncak kepala putranya, baby sister yang menjaganya tersentak kaget mengetahui keberadaan majikannya.
Dia buru buru berdiri dan menunduk sopan, memberi hormat.
Ryan memberi isyarat agar diam, mereka mengikuti arahan sang majikan tampan, yang memberi kode agar jangan berisik karena anak kesayangannya sedang tidur nyenyak.
Setelah memastikan putranya baik baik saja, dia kembali ke kamarnya, masuk ke kamar mandi dan membersihkan seluruh tubuhnya.
__ADS_1
Saat keluar dilihatnya istrinya sudah bangun dan duduk bersandar pada bantal.
Ryan mendekat lalu duduk di samping Zerena, perlahan dielusnya rambut panjang istrinya yang sudah tak tertutup hijab.
"Kak, kok aku tiba tiba sudah ada disini, kenapa nggak bangunin aku?".
Ryan tersenyum melihat istri kecilnya yang terus meracau.
"Tadi kamu tidur nyenyak sekali, aku tidak tega membangunkanmu!"
"Aku mau mandi kak, badan aku gerah banget.
Zerena menyeret kakinya memasuki kamar mandi, walau matanya masih sangat mengantuk tapi dipaksa ya untuk mandi.
Dia kaget melihat air yang sudah disiapkan di dalam Bathtub, ia tersenyum ini pasti pekerjaan suami es baloknya.
"Masih hangat", gumam Zerena lalu masuk berendam ke dalam Bathtub yang berisi air hangat, Ryan sengaja menyiapkan air hangat untuknya, rencananya dia akan membangunkan istrinya untuk mandi, tapi ternyata dia sudah bangun duluan.
Setelah puas berlama lama di dalam sana, dia keluar dengan menggunakan kimono putih, dan handuk masih melekat di kepalanya.
Sambil memakai pakaian dan segala macam perawatan kulitnya, dia menunggu suaminya kembali.
Benar saja tak lama kemudian, Ryan kembali dengan membawa nampan berisi dua gelas coklat panas, dan camilan.
"Zerena menyongsong suaminya dan meraih nampan yang dibawa suaminya, dia jadi tidak enak melihat suaminya sampai harus mengerjakan semua pekerjaan yang seharusnya menjadi tanggung jawabnya.
"Kenapa dia tidak menyuruhku, apa dia tidak capek bekerja dari pagi sampai malam, dan sekarang malah melayani aku!
aku kan jadi tidak enak, huhuhu."
Zerena meletakkan nampan di meja sambil terus bergelut dengan pikirannya sendiri.
Ryan mengambil laptopnya lalu duduk di samping Zerena, sambil menikmati coklat panas sesekali dia mengecek email yang masuk.
"Kak, besok kan hari Minggu!"
"Lalu....?"
__ADS_1
Zerena memutar bola matanya, sikap Ryan kadang kadang sangat menyebalkan, pria dingin itu menjawab hanya sekenanya saja
"Teman aku Mita mau kesini, boleh kan???
lagian aku bosan Kak, di rumah sendiri, Mama kan masih lama di sana!"
Zerena memajukan bibirnya, membuat Ryan tergelak melihat tingkahnya, Ryan menutup laptop miliknya karena sebenarnya dia tahu istrinya sepertinya tidak senang melihatnya terus bekerja.
"Ya udah, tapi tidak dengan Alvin, dia banyak pekerjaan, aku tidak mau dia terus menempel dengan kalian berdua, lama-lama dia bisa melambai."
Ryan bermonolog sambil memperagakan gaya khas waria, membuat Zerena tertawa. terpingkal-pingkal dibuatnya.
Ternyata usut punya usut, Alvin putra sahabat Papa Andre, walaupun tidak tinggal di negara yang sama, tapi mereka tetap menjalin hubungan baik.
Orang tua Alvin bukanlah pengusaha atau pebisnis, melainkan seorang Advokat alias pengacara.
Dia lebih banyak berada di luar negeri daripada di negara ini, nah maka dari itu, dia meminta Andre untuk membimbing putranya, putranya yang keras kepala yang tidak ingin mengikuti jejaknya sebagai Advokat, tapi lebih memilih menjadi pengusaha.
Dan atas rekomendasi dari Papanya, dia pulang dan pindah kuliah di sini, sekalian belajar belajar berbisnis pada Ryan.
Awalnya dia sebenarnya sangat terkejut, ternyata Papanya mengirimnya kepada Ryan suami Zerena sahabatnya, sekaligus gadis yang pernah membuatnya jatuh cinta.
Tapi itu dulu, dulu sebelum Zerena menikah dan menjadi istri Ryan Sanjaya.
Alvin harus bekerja ektra untuk membuat Ryan percaya kepadanya, dia tidak mau kesempatannya belajar dan bekerja di perusahaan raksasa milik keluarga Sanjaya, hilang begitu saja.
Semua dia lakukan, termasuk menjadi penguntit Zerena.
Tapi hal yang dia petik, semenjak ikut dengan Ryan, yaitu walaupun terkesan dingin dan tak banyak bicara, Ryan orang yang baik dan perhatian, walau perhatiannya tak pernah dia tampakkan, tapi melalui perintah dan larangannya, Alvin mulai terbiasa.
Apalagi kalau menyangkut keluarganya, Ryan akan meninggalkan segalanya demi keluarganya, itu yang dilihat Alvin dalam diri Ryan.
Dia sudah bertekad, harus menjadi pengusaha terkenal dan kaya raya seperti Ryan, walau tidak bisa bersikap dingin.
"Kalau aku bersikap dingin sedingin es balok maka langit akan runtuh dan bumi akan rata dengan tanah, lalu siapa yang akan menggoda gadis gadis manis di luar sana???"
pertanyaan paling narsis yang pernah ada!!!
__ADS_1