Suamiku Kakak Sepupuku

Suamiku Kakak Sepupuku
Bab 46


__ADS_3

Pelayan datang membawa obat yang telah ditebusnya dari apotik, tak lama kemudian Mama Sinta juga datang membawa semangkuk bubur di tangannya.


"Biar aku aja Ma, Mama tolong jagain Aulian aja dulu!"


Ryan menaruh bubur itu di atas nakas, Mama Sinta menatap sebentar Anak dan menantunya, lalu keluar dari kamar itu.


Ryan menyuapi istrinya sedikit demi sedikit, setelah dirasa cukup dia memberikan obat itu kepada istrinya.


Tiga hari telah berlalu, keadaan Zerena sudah mulai membaik, Ryan dengan telaten menjaga dan merawat istrinya.


Hari ini Zerena mulai turun ke bawah mencari keberadaan putranya, rasanya sudah sangat lama dia tidak pernah menyusui putranya tampannya itu, dia hanya memompa ASI nya lalu memberikannya pada Mama Sinta.


Zerena berlari kecil menuruni anak tangga, Ryan kesalahan melihat tingkah istrinya itu, dia menghampiri sang mama yang sedang bermain bersama Aulian,


"Ma......,


sini Aulian sama aku, aku kangen banget sama dia."


Ucapnya sambil mengambil putranya dari pangkuan Mamanya.


"Emang ku udah sehat sayang, jangan capek capek dulu!"


"Lihat putra kamu badannya makin gede aja."


Mama Sinta berkata sambil merapikan hijab putrinya.


Dari arah belakang Ryan berjalan mendekati mereka, memperhatikan istri dan anaknya yang sedang bercengkrama.


"Hai jagoan Ayah lagi main sama Bunda yah?"


Ryan menunduk mencium puncak kepala putranya.


"Ma, makasih udah jagain anak aku selama Zerena sakit, karena nggak bisa ngurus dua duanya!"


"Sebagai imbalannya Mama mau minta apa sama Ryan bakal Ryan kabulkan, asal jangan nyuruh Ryan pergi dari Zerena."


Ryan menaik turunkan alisnya sambil tersenyum jahil ke arah Mama Sinta.


Mama Sinta memutar bola matanya malas, tapi seketika wajahnya berubah riang dan bersemangat mengingat perkataan menantu kesayangannya alias keponakannya itu.


"Yan.....


beneran kamu mau mengabulkan apapun permintaan Mama???"


"Aish...., sepertinya Mama kurang percaya sama anak sendiri, Apapun yang Mama mau pokoknya Ryan kasih deh!"


"Mama mau belanja belanja, perhiasan, berlian, jalan jalan ke Eropa, atau ke Taman mini Indonesia indah?"


Ryan terkekeh geli melihat Mamanya melotot saat dia mengucapkan Taman mini.


"Ngapain juga Mama jalan jalannya ke TMII Yan??"


Mama Sinta gemes melihat kelakuan menantunya, akhirnya satu bantal sofa mendarat cantik di kepala sang menantu.


Zerena dan putranya menyimak pembicaraan dua orang itu, kayaknya mereka akan mengadakan meeting dadakan sehubungan imbalan buat Mama.

__ADS_1


"Mama nggak perlu perhiasan atau jalan jalan nak!"


Wajah Mama Sinta berubah sendu, dia menunduk, sebuah butiran kristal keluar dari mata bening wanita itu.


"Mama kenapa nangis, emang Mama maunya apa?


bilang sama Ryan!"


Ryan merangkul Mama Sinta, menghapus air mata Wanita yang telah melahirkan wanita cantik yang menjadi istrinya sekarang.


"Mama pengen ke Malaysia, mau nengok adik adik kamu di sana sayang!"


"Ya Allah Ma, tanpa Ryan kasih ijin pun Mama berhak untuk ke sana, melihat adik adik aku!"


Ryan memijit pelipisnya melihat kelakuan Mamanya, yang kadang kadang otaknya suka kegeser.


"Yan , kamu nggak ngerti nak, Papa kamu nggak kepengen ikut, dia masih trauma dengan kejadian kecelakaan yang menimpa kalian bersama Kakek dan Nenek.


"Ya udah Ma,


Mama berangkatnya bareng sama Raka aja!"


Zerena tiba tiba menyela pembicaraan mereka, karena dari tadi hanya terdiam menyimak pembicaraan mereka.


"Setelah Mama pikir pikir dengan berat hati ide kalian Mama terima dengan senang hati, tapi Yan tentang belanja belanja itu, kayaknya terpaksa deh harus terima."


"Kok terpaksa Ma?"


Zerena mendekatkan wajahnya ke arah Mamanya, dengan kedua alis saling taut, saking penasarannya.


gimana caranya Mama jalan jalan disana, terus belanja belanja?"


"Mama kok matre banget sama anak sendiri, Kak Ryan itu bukan orang lain Ma, ponakan Mama itu lho!"


Zerena ikut ikutan sok drama, membuat yang lain ikut tertawa mendengar Zerena bicara seperti itu.


"Ya udah nanti Mama ngomong dulu ke Papa sayang, mudah mudahan Papa kasih ijin."


Mama Sinta lalu pamit ke kamar, untuk membicarakan hal itu kepada suaminya.


"Kak Mama mana, kok cuman berdua eh bertiga sama si bocil maksudnya?"


Raka masuk ke ruang keluarga, sambil mencari keberadaan Mamanya.


"Lagi nyamperin Papa di kamar,


emang kenapa?"


Zerena yang sedang bermain bersama Aulian menoleh dan memperhatikan adiknya yang beberapa hari ini tak pernah dilihatnya.


Wajahnya semakin tampan, garis garis wajahnya semakin terlihat jelas, rahangnya yang terpahat hampir sempurna, wajahnya sangat identik ke wajah Papa Roy, bahkan bila lama dipandang akan semakin mirip dengan Ryan.


"Kakak ngapain liatin kayak gitu?


Raka emang taman Kak, jadi susah kalau mau dicari sisi jeleknya dimana, karena Raka itu udah amat sangat sempurna."

__ADS_1


Raka mengelus rambutnya bak play boy cap teri, membuat Ryan tertawa terbahak bahak mendengar penuturan adiknya itu.


Sikapnya emang jauh berbeda dari Rezky yang lebih pendiam dan dingin,


dia lebih humoris dan kocak, nyaman diajak bercanda, dan pintar membawa suasana.


"Ya ya ya, kamu memang tampan, dan sudah sangat sempurna, tapi jangan sampai karena hal itu kamu jadi cowok yang suka mainin hati wanita, itu bukan tipe pria sejati!"


Zerena menasehati sang adik, takutnya dia menjadi cowok yang manfaatin anak gadis orang.


"Ya enggaklah Kak, Raka itu emang pecinta wanita tapi bukan buaya, yang setia pada seribu gadis Kak, jadi tenang aja, Ok!"


"Raka itu lirik lagu...."


Zerena gemes melihat tingkah Ryan, yang menjiplak lirik lagu Irwansyah yang pernah populer di jamannya.


Raka cengengesan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal,dan menggeliat geli saat cubitan kecil mendarat di pinggangnya.


"Kak Ryan ponsel Kakak mana?,


pinjem dong, untaku ketinggalan di kamar."


Ryan menyodorkan Handphone miliknya ke istrinya, Zerena lalu mencari nomor yang ingin dia telpon, tak lama panggilan Video Call mulai tersambung.


Tampak wajah cantik terpampang di seberang sana.


"Assalamualaikum Sisil."


"Waalaikumsalam Kak."


"Kamu lagi ngapain Sil?"


"Lagi belajar Kak, kakak sendiri lagi ngapain, terus disitu kok rame?"


"Iya....


Kakak, Kak Ryan, Raka, dan Aulian lagi kumpul bareng di ruang keluarga, ini lagi ngajak ponakan kamu main main."


"Bentar Kak, aku keluar dulu."


Sisil berlari lari kecil keluar kamar lalu berlari menuruni tangga, mencari anggota keluarganya yang lain, di belakang tepatnya di taman, Mama Vera lagi bersantai bersama Papa Andre dan Rezky.


"Pa, Ma......


ini ada Video Call dari Kak Rena!"


Mama Vera meraih Handphone dari tangan Sisil, sambil tersenyum melihat orang dari layar handphonenya Sisil.


"Hai Yan, Ren, Ka....


Ehh Aulian, hai cucu sayangnya Grandma apa kabar sayang???"


Mama Vera sangat bahagia bisa melihat semua anggota keluarganya walau hanya melalui Video Call, itu sudah cukup mengobati rindunya ada mereka, terutama pada Aulian.


Begitupun dengan Sisil, Papa Roy dan Rezky, mereka tersenyum sumringah melihat keluarganya disana.

__ADS_1


__ADS_2