Suamiku Kakak Sepupuku

Suamiku Kakak Sepupuku
Bab 102


__ADS_3

"Kau bahkan tidak berpikir, kalau kau memiliki adik, yang bisa saja hukum karma berbalik padamu, coba kau pikir kalau mereka, adik adik kesayanganmu yang menjadi target, seperti istriku, bagaimana perasaanmu?"


Alief terdiam, tidak menduga kata kata Ryan bisa membungkam mulutnya, yang tadi berapi api ingin memuntahkan semua lahar panas kemarahannya.


"Tapi ini urusan kita berdua, jangan libatkan adik adikku dalam masalah ini!"


"Lalu bagaimana dengan istriku yang kau libatkan langsung, apa aku tidak boleh mengungkitnya, apa kau pikir aku malaikat yang bisa dengan muda memaafkan semua perlakuan burukmu itu.


kau bahkan tidak pantas disebut Dokter!"


"Buat apa kau kemari, sebaiknya pergi dan cari keluargamu yang hilang itu!"


Ryan berkata lirih, sambil menunjuk pintu pagar yang masih terbuka, dan Pak Security yang sedang menunggu di luar, tidak mau mendengar pembicaraan Tuan Mudanya.


Ryan melenggang pergi, tidak sudi berlama lama dengan pria laknat itu, dia terus memikirkan bagaimana caranya membuat pria itu jadi semakin gila, tanpa ia sadari sebuah senyuman lolos dari bibirnya.


"Sepertinya, ide yang tadi boleh juga!"


Ryan lalu mengambil ponselnya dan berbicara dengan orang suruhannya,


"Suruh pelayan meminta pakaian dalam gadis gadis itu, lalu kirim ke alamat Dokter Alief.


aku mau melihat bagaimana reaksinya, dan jangan lupa, berikan sedikit noda darah pada pakaian itu, agar semakin meyakinkan.


tapi ingat jangan berani menyentuh atau menyakiti mereka!"


Ryan mematikan panggilan telponnya, tanpa menunggu lama.


Dia kembali masuk ke dalam rumah, dan mencari keberadaan istrinya, dia mencari wanita kesayangannya itu, ternyata sedang membuat pisang goreng di pantry, sambil mengulek sambel untuk cocolannya.


Zerena memang paling bisa kalau membuat makanan kampung, itu kata adik adiknya, itu karena so Mbok yang selalu memberinya makanan seperti itu dari kecil, dari kebawa sampai sekarang.


Siapa yang tidak tergiur melihat pisang kepok mengkal digoreng pakai tepung crispy, lalu cocolannya sambel terasi dengan tomat dan ektra pedas gila.


membuat yang makan kapok tapi nambah.


Ryan membawa makanan itu ke belakang, diikuti Ryan dan Aulian.


sedangkan Papa dan Mamanya, siang siang begini,kalau sudah bosan paling nyetak gol lagi aja.

__ADS_1


Biasa Papa Roy, jadi jangan heran kalau anaknya bisa banyak, soalnya dia memang rajin bercocok tanam.


Beda lagi kalau si Raka, dia makannya suka pilih pilih, lebih senang makanan instan, jadi kalau si Mbok bikin sesuatu ya pas kalau ada Zerena aja.


Zerena merebahkan punggungnya di bangunan yang luas, tapi seperti saung, yang membedakan ukurannya lebih besar dari saung yang telah diganti dengan bangunan ini.


"Luas banget ya Kak, bisa buat main bola ini!"


Ucap Zerena kagum.


"Nanti punya kita dibuat kayak begini, kamu mau?"


Kata Ryan yang mengerti isi kepala Zerena.


Zerena tersenyum mengangguk, sambil mulai mengunyah pisang goreng bikinannya sendiri.


Dengan lahap Aulian juga memakannya, seperti nya bayi anak itu tidak pemilih kalau soal makanan.


Buktinya dia memakan apapun yang diberikan oleh Bundanya.


Ryan juga melahapnya, setiap makanan sederhana yang istrinya buat, akan sangat enak di lidahnya.


Mereka bertiga menikmati makanannya sambil mengobrol dan bercanda ringan, sesekali terdengar suara tawa ketiganya.


Dan di tempat lain, tepatnya di Villa tempat Adik adik dan Ibu Dokter Alief di sekap.


seorang pelayan datang ke kamar dan meminta pakaian kotor kedua gadis itu untuk di cuci, dengan perasaan tegang keduanya menyerahkan pakaian kotornya, termasuk pakaian dalam mereka.


Mereka tidak tahu sama sekali, akan rencana seseorang untuk mereka.


Begitu keluar dari tempat itu, pelayan itu mulai mengepak pakaian itu, tidak lupa memberikan noda merah ke pakaian dalam gadis itu.


Setelah rapi dan menuliskan alamat, sesuai dengan yang dikirimkan bosnya, dia menyerahkan kepada penjaga.


Penjaga itu memberikannya kepada bosnya, dan dengan cepat barang itu dibawa ke kota, dan dikirim ke alamat Dokter Alief sesuai pesan bos besar mereka.


Malam tiba, mereka turun dari mobil membawa paperbag berisi barang yang harus mereka sampaikan kepada Dokter itu langsung.


Salah seorang dari mereka pergi mencari alamat Dokter Alief, sebuah apartemen yang lumayan mewah, "

__ADS_1


punya apartemen mewah tapi keluarganya di kampung kok hidup biasa biasa aja!"


gumam orang itu.


Setelah memastikan alamatnya sudah benar, dia menekan bel, dia harus menekan berkali kali agar sang pemilik keluar.


"Ada apa?"


Ucap Alief ketika sudah membuka pintu.


"Maaf, ada paket untuk anda, apa benar anda Dokter Alief?"


Jawab orang suruhan Ryan, yang menyamar menjadi kurir.


"Iya benar, itu barang apa, saya tidak merasa memesan barang apapun?"


Dokter Alief mulai gusar, teringat kata kata Ryan tadi siang.


"Tolong tanda tangani di sini Tuan, saya juga tidak tahu, saya hanya kurir pengantar paket!"


Ucapnya sambil menyodorkan kertas dan pena untuk dia tandatangani.


Alief pun menandatangani dan masuk kembali setelah menerima paket itu.


Dia tertegun sebentar, sambil duduk di sofa dia mulai membuka paket tersebut.


dan selanjutnya matanya membulat sempurna kala melihat benda di depannya.


Itu adalah pakaian dalam adik adiknya, Alief masih ingat betul dalaman itu, karena adiknya sering menjemur dalaman mereka sembarangan.


Matanya memerah dan panas, tak terasa bulir bulir berjatuhan dari sudut matanya, sengaja ia tak pernah membawa adik adiknya ke kota, karena tidak ingin adiknya ikut pergaulan bebas yang semakin marak di Jakarta ini.


Dia menggenggam erat dalaman itu, "Ryan benar benar sudah sangat keterlaluan, bahkan dia tega menodai adikku yang masih kecil, dia baru berumur 14 tahun!"


Alief terus menangis, entah bagaimana masa depan adiknya nanti, kalau mereka berdua hamil bagaimana, atau menjadi pemuas nafsu Ryan dan anak anak buahnya.


Alief berteriak sekeras mungkin, hatinya benar benar terpukul, dia tidak pernah membayangkan, perlakuan buruknya pada Zerena berimbas pada adik adik kesayangannya.


"Benar yang kau bilang, hukum karma itu ada, selama ini aku yang terus mengejar dan hampir menggagahi istrimu, tapi kenapa kau tega menodai adik adikku yang masuk kecil, kau hancurkan masa depannya, tidakkah ada sedikit saja hati nuranimu?"

__ADS_1


"Aku gagal menjadi Anak yang berbakti, menjadi kakak yang bertanggung jawab, sekarang adik adikku hancur, karena ulahku sendiri, aku benar benar tidak berguna, seharusnya aku yang mati saja, aku yang kalian siksa saja, jangan adik adikku, yang tidak tahu apa apa!"


Alief masuk ke kamar mandi, menyalakan shower dan membasahi seluruh tubuhnya dan kepalanya yang terasa panas, bayang bayang adiknya menari nari di kepalanya, siksaan demi siksaan terlintas seperti sebuah cuplikan film di televisi.


__ADS_2