
Matahari sudah menampakkan sinar keemasannya saat seorang Ibu muda sedang menggendong putra kecilnya menyusuri taman dan kolam ikan di area belakang rumahnya.
Sambil menunggu sahabatnya, ia membawa putranya berjemur di matahari pagi.
Zerena membawa putranya duduk di saung tempat favoritnya.
Tak lama seorang pelayan datang membawa minuman dan makanan kecil untuknya, tak lupa makanan buat bayinya.
Zerena tersenyum manis saat seorang pria dari jauh berjalan mendekatinya, pria yang selalu menemani hari harinya, dan selalu ada untuk menyayanginya.
Ryan terlihat sangat tampan dengan rambut yang masih sedikit basah, kulit putihnya semakin bersinar saat diterpa sinar mentari.
Tubuh tingginya yang terbalut kaos longgar dan celana pendek bahan, menambah kadar ketampanannya.
Ryan menutup mulut istrinya yang melongo menatapnya.
"Kenapa, kau terpesona melihat suami tampan mu ini hem?"
Zerena kaget, tidak sadar kalau Ryan telah duduk disampingnya.
Ahhhh dia benar benar malu, ketahuan kan kalau dia memang terpesona melihat suaminya.
"Kenapa dia semakin tampan saat memakai pakaian rumahan begitu, ahh aku kan jadi malu ketahuan!?"
Zerena menunduk, wajahnya sudah Semerah tomat, untung saja tidak ada orang lain disini, kalau ada, bisa hilang malunya berkali kali lipat.
"Sayang, bukannya temanmu mau kemari, terus kenapa kamu malah disini?"
Ryan berbicara di sela sela makannya.
"Mungkin sebentar lagi, aku tadi ngechat dia, kalau udah datang langsung ke belakang aja!"
Ryan manggut manggut mengerti, setelah puas bermain main dengan anaknya, dan bercanda bersama istrinya, dia kemudian pamit, katanya dia mau mengurus pekerjaan bersama Dion dan Alvin.
Zerena memang melihat Dion pagi-pagi tadi, tapi Zerena malas mengajaknya bicara, bukan karena apanya, Dion akan berbicara singkat,sesingkat singkatnya.
Setelah kepergian suaminya, Zerena kembali bermain bersama Aulian, anak itu sudah banyak perkembangan, di usianya yang sudah memasuki usia 8 bulan, begitu banyak hal hal yang sudah bisa dilakukannya, dia sudah bisa memanggil, Ayah dan Bunda, walau itu menurut versinya sendiri.
Dia juga sudah bisa berdiri, saat menemukan sesuatu yang bisa dia pakai untuk bisa berdiri.
Makanya Zerena selalu ektra hati hati, dan mewanti wanti baby sister agar menjaga anaknya sebaik mungkin, bisa saja dia berdiri di boks bayinya, dan terjungkal ke bawah.
Sementara di luar sana, bel rumah berbunyi nyaring berkali kali, sepertinya tamu yang datang itu tipikal orang tidak sabaran menunggu.
Karena merasa terganggu, Dion yang berjalan dari dapur setelah mengambil botol air putih di kulkas, akhirnya berinisiatif membukakan pintu untuk tamu tersebut.
"Hai.....
__ADS_1
Assalamualaikum, selamat pagi Kak, Zerenanya ada???"
Mita melambaikan tangan ke arah Dion sambil tersenyum bodoh tanpa dosa, dan belum sempat Dion menjawab salamnya dia sudah berjalan melewati tubuh Dion.
Dion mengerutkan alis melihat kelakuan gadis aneh itu, lalu menutup pintu kembali.
Dion memang sudah tahu tentang sahabat dari istri bosnya, tapi baru kali ini berhadapan langsung, ternyata sangat pecicilan.
Mita berlari lari kecil menuju ke belakang, dimana Zerena sudah menunggunya, suaranya yang nyaring membuat semua pelayan menutup telinga.
"Non Mita apa kabar, kok baru nongol lagi??"
tanya seorang pelayan yang mengenal Mita, karena dari dulu Mita memang sering bermain kemari.
"Baik Mbak, ini Mita bawa makanan banyak di bagasi mobil, aku nggak kuat bawa semuanya, tolong dibagi bagi ke yang lain, sekalian buat aku sama Rena di belakang ya!"
"Baik Non, makasih ucap mereka senang."
Mita memang dekat dengan para pelayan dan seluruh yang bekerja di rumah ini, dia sudah terbiasa membawa banyak makanan kalau berkunjung kemari, sampai sampai mereka akan berkumpul untuk menghabis semua makanan yang dibawa gadis itu.
Mita tersenyum cengengesan, menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada, pertanda permintaan maafnya, karena telah menyuruh dan merepotkan mereka.
Tapi semua pelayan malah tertawa lalu menaikkan jempol ke arah Mita.
Suara cempreng Mita terdengar sampai ke dalam ruang kerja milik Ryan, mereka bertiga saling berpandangan lalu tertawa.
"Dia memang cerewet, banyak bicara dan satu lagi, dia juga sangat ceroboh,
jadi dia itu sangat butuh sahabat seperti aku yang selalu mengingatkan kekurangannya itu!"
"Tapi dia itu miliki kecantikan di atas rata rata."
Alvin melirik ke arah Dion, yang fokus pada kertas kertas di depannya, merasa diperhatikan Dion ikut menatap Alvin.
"Aku tidak menyukai orang yang banyak bicara dan ceroboh!"
Ucapnya lalu kembali fokus menatap kertas kertas yang berserakan di depannya.
"Iya kau tidak menyukai gadis ceroboh, tapi kau pasti menyukai gadis cantik bukan??"
Karena kesal Dion melempar Alvin dengan botol air mineral yang tadi dibawanya.
Alvin tertawa terbahak bahak, melihat Dion yang mulai terpancing emosinya, lalu meminum air mineral, sisa Dion.
Ryan yang melihat dan mendengar pembicaraan mereka berdua, ikut tersenyum dan berfikir mungkin memang Mita cocok untuk Dion.
"Hai Ren......
__ADS_1
Sorry aku telat, aku singgah sebentar ke mini market!"
Mita duduk sambil mengipasi wajahnya dengan tangannya.
"Ehh ada Aulian, sini sayang!"
Mita mengambil Aulian yang duduk sambil memainkan mainannya, dia ikut tersenyum melihat kehadiran Mita.
"Mit.......
nggak usah digendong, biarin aja dia main, nanti kebiasaan, emang kamu nggak capek???"
Mita hanya menggeleng, lalu sibuk bercerita dan bersuara aneh, mungkin memang Aulian mengeri karena setiap kata katanya akan direspon Aulian, dengan senyum atau tertawa, bahkan dia akan membalas kata kata Mita yang jauh lebih aneh.
Zerena tertawa terpingkal pingkal, melihat putranya dan sahabatnya seperti menemukan teman yang pas.
Seorang pelayan datang membawa makanan botol dan kaleng,dan beberapa bungkus Snack yang tadi dibeli Mita sebelum kemari.
"Ren.....
Kamu beruntung banget yahh, punya suami yang sayang banget sama kamu, ganteng banget lagi!"
Mita cengengesan sendiri karena ucapannya, Zerena hanya tersenyum mendengar sahabatnya berceloteh.
Zerena beranjak masuk, diikuti Mita di belakangnya.
"Mit.......
kamu tunggu di meja makan, aku bawa Aulian ke kamar dulu!"
Mita mengangguk, lalu Zerena membawa Aulian menuju ke kamarnya, setelah membersihkan tubuh putranya, mengganti popok dan pakaiannya, Zerena menyerahkannya pada Baby sister yang bertugas menjaga putranya.
Zerena kemudian turun lagi ke bawah setelah urusan putranya selesai, sebelum ke ruang makan, Zerena mengganti pakaiannya sendiri, memakai baju stelan santai, lengkap dengan hijabnya.
Zerena mengetuk pintu, sebelum memutar kenop pintu, terlihat 3 orang laki laki sedang duduk di depan laptop dan kertas kertas yang menumpuk.
"Kak Ryan.....
Makan siang dulu, ucapnya sambil mendekati suaminya."
"Iya sayang!"
Ryan tersenyum sambil merangkul istri kecilnya itu.
Kedua pria jomblo di depannya, melongo melihat bosnya bisa juga bersikap lembut rupanya.
Tapi perlu diralat, hanya bila bersama istrinya dia bisa bersikap lembut seperti itu.
__ADS_1