Suamiku Kakak Sepupuku

Suamiku Kakak Sepupuku
Bab 45


__ADS_3

Ryan membawa Istrinya pulang ke rumah utama, rumah keluarga Sanjaya.


Di sana nampak Mama Sinta sedang menunggu kedatangan mereka, ke 4 laki laki itu masuk dan duduk di sofa, kecuali Ryan, dia membawa istrinya naik ke kamar.


"Sayang mandilah dulu biar kamu enakan,"


ucap Ryan sambil membawa istrinya duduk di sisi ranjang.


"Kak, temani aku, aku takut ke kamar mandi!"


Zerena gemetar saat mengingat dirinya dibekap oleh orang yang tak dikenalnya, saat akan masuk ke dalam toilet di kampus.


"Ya sudah aku temani,"


ucap Ryan, membantu melepas hijab istrinya.


Setelah Zerena selesai mandi, Ryan menidurkan istrinya, membelai rambut lurus indah Zerena dengan penuh kasih sayang.


Tak perlu waktu lama akhirnya Zerena tertidur, Ryan menutup tubuh istrinya dengan selimut, dikecupnya puncak kepala istrinya, setelah itu baru kemudian ia keluar untuk menemui Papanya dan kedua sahabatnya.


Ryan berjalan menghampiri Papa dan kedua sahabatnya.


"Gimana istrimu Yan?"


Kata Mama dari arah dapur menggendong Cucunya, Di belakangnya pelayan membawa nampan berisi minuman.


"Udah tidur Ma,"


ucap Ryan sambil tersenyum manis ke arah putranya, mencoba bermain dengan bati kesayangannya.


Dion dan Alvin saling berpandangan menyaksikan Bosnya yang sangat manis di hadapan keluarganya.


Ini yang kedua mereka dibuat melongo, tadi saat di mobil mereka juga melihat Ryan menangis saat memeluk istrinya.


Mereka tak menyangka pria dingin dan kejam itu, bisa juga bersikap sangat hangat bila bersama dengan orang orang yang disayanginya.


Setelah meminum minumannya Papa Roy pamit ingin membersihkan tubuhnya dan istirahat, kini tinggallah mereka bertiga disana, karena Mama Sinta juga membawa Aulian untuk tidur di kamarnya, karena tak ingin mengganggu tidur putrinya.


"Dion.....


Pastikan orang itu tidak kembali lagi ke kota ini, aku tidak ingin bertemu lagi dengannya, dan ingat buat dia menyesal karena telah mengganggu istriku."


"Iya Bos, saya pastikan semuanya akan sesuai dengan permintaan anda,"

__ADS_1


ucap Dion dengan senyum menyeramkan.


"Alvin…...


Seperti biasa, kau tetap bekerja paruh waktu di kantor, dan menemani Zerena kemanapun dia pergi."


"Jangan ulangi lagi kesalahan yang sama, kamu akan tetap menjadi sahabat yang selalu ada untuknya."


Ryan terdiam sejenak memikirkan sesuatu.


"Pakai Ini untuk jaga jaga Vin!" ucapnya mengeluarkan sepucuk senjata api dari dalam saku dalam jasnya.


Alvin menerima benda tersebut, memasukkan di balik Hoodie yang dikenakannya.


Setelah berbicara berjam jam lamanya akhirnya mereka bertiga membubarkan diri, kedua orang kepercayaan Ryan itu, akhirnya pamit untuk pulang.


Ryan masuk kembali ke dalam kamarnya, dilihatnya istrinya tidur dengan Mukenahnya, berarti tadi Zerena terbangun untuk shalat.


Itu yang sangat dikagumi Ryan dari Zerena, sesuntuk apapun dia, secapek apapun dia, dia tidak akan pernah meninggalkan shalatnya.


Ryan membuka pakaiannya, lalu mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi, dari luar terdengar suara gemercik air pertanda dia sedang mandi.


Tak lama ia keluar, setelah membersihkan rambutnya yang basah, ia mencari pakaian santai di lemari, sebuah celana bola, dan kaos yang berbahan dingin menjadi pilihannya.


Dari kejauhan terdengar suara adzan berkumandang menandakan waktu shalat subuh telah tiba, Ryan menggeliat, dilihatnya istrinya masih tertidur pulas, Ryan kemudian bangun dan menuju kamar mandi membersihkan diri, sebelum akhirnya shalat subuh.


Ryan memperhatikan istrinya, tidak pernah Zerena tertidur senyenyak itu di kala subuh, dia akan bangun lebih awal dari siapapun, bahkan dari pelayan.


Digenggamnya tangan istrinya, Ryan kaget karena tangan Zerena terasa sangat panas, ternyata Zerena demam tinggi.


Ryan segera turun dan mengambil air hangat di wadah, lalu membawanya kembali ke kamar, diambilnya handuk kecil lalu dikompresnya Zerena dengan air hangat.


Matahari sudah mulai menampakkan batang hidungnya, tapi suhu tubuh Zerena tak juga turun, akhirnya Ryan menelpon dokter keluarga Sanjaya, yang selama ini membantu setiap ada anggota keluarga yang sakit.


Ryan turun ke bawah dan melihat keluarganya tengah berkumpul di ruang makan, dia mendekat lalu mengatakan bahwa Zerena demam tinggi.


Papa dan Mamanya segera mengikuti langkah Ryan menuju ke kamar, sang duduk di sisi putrinya, lalu dipegangnya tangan putrinya itu.


Benar saja tangan Mama Sinta seperti tersengat karena Anas dari tubuh putrinya, Papa Roy duduk di Sofa mengamati putrinya.


Ada luka yang terbersit dari kilatan matanya, sedangkan Ryan mondar mandir di depannya seperti setrikaan panas.


"Dokternya kok lama banget Ma?"

__ADS_1


Ucapnya sambil meremas rambutnya kasar.


"Sabar sayang, sebentar lagi pasti datang kok!"


ucap Mama Sinta berusaha menenangkan menantunya itu.


"Ma Aulian mana, kok dari pagi nggak kelihatan?"


Ucapnya kembali sambil menatap sang Mama.


"Tenang dong Yan, Anak kamu aman dijaga oleh pelayan pelayan di bawah, lagian rumah kita ini aman dari jangkauan orang orang seperti Fadhil itu."


"Aku tahu Ma, tapi aku tidak mau kecolongan lagi, karena kalau sampai itu terjadi jangan harap aku mau mendengarkan kata kata Papa untuk memaafkannya, dia sudah berani mengusik hidup keluargaku, membuat Istriku syok sampai sakit seperti ini."


"Aku akan pastikan dia tidak akan sanggup menahan semua penderitaannya, jangankan perusahaannya bekerja sebagai dosen pun dia tidak akan pernah bisa lagi"


ucap pria itu penuh penekanan.


Amarah tampak jelas berkobar di kedua bola matanya yang tajam, rahangnya mengeras membuatnya tampak begitu menyeramkan.


Tak lama pelayan datang mengantarkan seorang pria seumuran Papa Roy, mengenakan stelan jas berwarna putih, menandakan dia adalah seorang dokter.


Beliau masuk lalu menyapa Papa Roy, setelah bercengkrama sebentar, dia lalu memeriksa Putri sahabatnya itu, dengan teliti dia memeriksa Zerena.


Setelah itu dia menulis resep obat yang ditebus di apotik,


"tidak apa apa, dia hanya syok dan mungkin sedikit trauma, setelah minum obat secara teratur dia akan pulih kembali, tapi untuk sementara jangan melakukan kegiatan yang bisa membuatnya lelah."


"Makasih Ham, sudah repot repot datang,"


Papa Roy kembali merangkul dokter yang bernama Ilham itu, dokter pribadi sekaligus sahabatnya.


"Anak muda jangan khawatir istrimu akan baik baik saja!"


Ucapnya menepuk pundak Ryan sambil berlalu pergi.


Ryan memberikan resep obat itu kepada pelayan, agar segera menebusnya, sedangkan Mama Sinta turun ke bawah untuk membuatkan bubur untuk putrinya.


Setelah semuanya pergi dari kamar itu, Ryan kembali duduk di sisi istrinya, dilihatnya wajah cantik itu sangat pucat, selama bersama Zerena baru kali ini dilihatnya istrinya seperti ini.


"Sayang maafkan aku, aku tidak bisa menjagamu dengan baik, jangan pernah seperti ini lagi, aku tidak sanggup melihatnya!"


Air mata pun lolos keluar dari mata tajam sang pria dingin, hatinya benar benar terluka melihat istrinya terbaring lemah tak berdaya seperti sekarang.

__ADS_1


__ADS_2