
Zerena bertepuk tangan senang, saat Ryan datang dengan 2 mangkok mie ayam di tangannya. Dengan senyum sumringah dia bergegas duduk di sofa mengikuti Ryan yang membawa nampan berisi 2 mangkuk mie ayam.
Dengan lahap dimakannya makanan itu, setelah mencampur semua sambel dan kecap yang telah disediakan mas mas penjualnya, peluh bercucuran di keningnya, Ryan mengambil tissue dan mengusap keringat di kening istrinya.
Ryan tidak habis pikir bahwa segampang itu membuat Zerena senang.
"Sayang.....
Aku sudah bicara soal rencana aku ke papa, dan mereka setuju Minggu depan mereka akan berangkat"
Rena berhenti mengunyah makanannya, dia menoleh menatap sang suami,
"Mereka?????"
"Iya Rezky tidak pergi sendiri, Sisil juga mau ikut kuliah disana, dan Papa Andre dan Mama akan ikut mengawal, lebih tepatnya jadi orang tua pengganti mereka disana".
Zerena manggut mangut mengerti, sambil memasukkan potongan potongan ayam ke dalam mulutnya.
Setelah Zerena kenyang Ryan baru memakan mie ayam miliknya, karena takut kalau si Baby tiba tiba terbangun saat mereka makan, jadi dia lebih baik waspada, hihihi.....
Setelah menyikat gigi dan cuci muka akhirnya mereka tidur dan membawa putranya ikut tidur diantara mereka.
Hari yang ditunggu pun telah tiba hari ini Papa Andre, mama Vera, Sisil dan Rezky akan berangkat ke Malaysia.
pagi pagi mereka sudah siap siap untuk berangkat ke bandara, sedangkan di bandara Asisten pribadi papa Andre telah menunggu mereka karena mereka akan berangkat dengan pesawat pribadinya.
Semua ikut mengantar mereka ke bandara kecuali Zerena, karena dia tidak mungkin meninggalkan bayi mungilnya sendiri.
Iring iringan mobil keluar dari kediaman keluarga SANJAYA, setelah sampai di bandara, mereka pamit, mama Sinta tidak dapat menahan tangisnya, saat akan melepas putra putrinya seumur hidupnya baru kali ini berpisah dengan mereka.
"Anak anak mama harus kuat sayang ya, harus jadi kebanggaan mama, nggak boleh nakal disana, satu lagi jangan lupa telpon mama 1jam sekali".
Mereka saling berpandangan mendengar penuturan sang mama.
"Emangnya bisa setiap satu jam sekali kita nelpon mama?"
bisik Rezky kepada kakaknya.
Melihat itu papa Roy menggeleng melihat kelakuan istrinya itu,
"Ma, anak anak mau kuliah disana, bukannya mau piknik, kalau harus nelpon 1 jam sekali, kapan mereka kuliahnya ma".
Papa Roy gemes sendiri melihat kelakuan istrinya.
"Ya udah, atur sedemikian rupa aja, yang penting mama bisa mendengar kabar kalian",
ucapnya sambil tersenyum ke arah anak anaknya.
Dia menangis memeluk putra putrinya, melepas mereka untuk menimba ilmu, mencari bekal karena kelak mereka yang menggantikan Papanya mengurus semua aset milik keluarga SANJAYA.
"Raka mana?"
__ADS_1
Sisil mencari keberadaan sang adik bontotnya, walau sudah masuk SMA, tapi kelakuannya masih seperti anak kecil.
"Pasti dia ngambek kak, soalnya dia pengen ikut juga katanya".
Rezky berkata sambil ikut mencari cari keberadaan sang adik satu satunya.
Dilihatnya dari jauh Raka berlari ke arah mereka, anak itu berlari dan memeluk sang kakak yang akan meninggalkannya,
"Kamu dari mana?"
ucap Sisil mengelus punggung adiknya.
"Tadi Raka ada urusan sebentar kak".
Ucapnya sok sibuk.
"Ya udah sebentar lagi pesawatnya berangkat, sebaiknya kalian masuk",
Ucap Ryan melerai,dan mengakhiri drama mereka yang kunjung usai.
Dipeluknya kedua orang tuanya, lalu adik adiknya.
lalu berbisik pada Rezky.
"Kakak sudah bicara dengan Juan, dia akan mengajarimu, kamu tenang saja, selama bersamanya kamu aman",
Ok Boy!!"
Rezky mengangguk mengerti.
Hari ini Ryan akan ke kantor bersama mertuanya, sebelumnya Papa Roy sudah membicarakannya, akan menyerahkan jabatan CEO kepada Ryan, setelah kepada istrinya dia bergegas ke kantor bersama mertuanya.
Disana semua semua karyawan sedang menunggu kedatangan Bos dan menantunya, karena sebelumnya mereka telah diinformasikan bahwa hari bos mereka akan digantikan oleh sang menantu alias ponakan Pak Roy sendiri.
Mereka berkumpul di aula kantor untuk menyambut kedatangan bos baru mereka.
Tidak lama kemudian nampak pak Roy berjalan memasuki aula, pria 50 tahun itu masih nampak gagah dengan tubuh tinggi atletisnya, tidak seperti kebanyakan bos bos pada umumnya, yang berperut buncit.
Beda dengan Pak Roy dia selalu menjaga tubuhnya agar tetap atletis, dia selalu rajin berolahraga.
Dan membuat mereka melongo seorang pria muda berjalan disampingnya, tak kalah menakjubkan, seorang pria sempurna di mata mereka.
Papa Roy dan Ryan duduk di kursi yang telah disediakan.
lalu Papa Roy naik ke panggung dan mulai berbicara.
Sampai pada acara inti penyerahan jabatan CEO kepada menantunya.
"Baiklah saya perkenalkan CEO kita yang baru putra dari Bapak Andre Sanjaya"
kata papa Roy memberikan sambutan, Lalu Ryan berjalan ke arah papa Roy, dan memperkenalkan diri.
__ADS_1
Perkenalkan nama Saya Ryan Sanjaya, putra Andre Sanjaya, keponakan Roy Sanjaya.
semoga kita bisa bekerja sama dengan baik", ucapnya dingin tanpa ekspresi.
Ucapannya yang singkat tapi membuat semua yang ada di ruangan itu diam membeku seperti hawa dingin dari Ryan menyelimuti mereka.
Selanjutnya acara diserahkan kepada panitia, karena Roy dan Ryan berjalan meninggalkan tempat itu, menuju ruangannya.
Ryan memasuki ruangan itu tampak ruangan yang bersih dan cukup nyaman, di atas meja tampak foto Ryan bersama Zerena sedang menggendong Baby Lian.
Pasti ini pekerjaan mama Sinta, batinnya tersenyum.
Tok tok tok, terdengar suara ketokan pintu dari luar.
"Masuk", ucapnya.
"Maaf pak, say disuruh menemui bapak, saya Asisten pak Ryan yang ditunjuk oleh pak Roy".
Ryan hanya mengangguk, sambil menatap tajam kearah Asisten barunya itu,
Ucap pria tersebut.
"Aku tidak suka orang yang terlalu banyak bicara, lebih baik memperlihatkan kemampuanmu dalam bekerja dari pada banyak bicara yang tidak berfaedah".
"Iya pak saya mengerti",
lalu menyerahkan semua map yang ada ditangannya.
"Aku belum tahu siapa namamu?" kata Ryan tanpa menoleh sambil mengecek laporan dari Asisten barunya itu.
"Nama saya Dion pak", ucapnya sopan.
"Ya sudah kau boleh ke ruanganmu".
ucap Ryan tanpa menoleh ke arah Dion sang Asisten tampan.
Dihari pertama kerja Ryan benar benar disibukkan dengan berkas yang harus dia baca satu persatu lalu menandatangani nya.
Tak terasa jam makan siang telah tiba, semua karyawan berjalan ke kantin untuk mengisi perutnya, tapi Ryan masih berkutat dengan berkas berkas yang bertumpuk di mejanya.
"Maaf pak, ini sudah jam makan siang, apa tidak sebaiknya bapak makan dulu?"
ucap Dion saat masuk ke ruangan bosnya.
"Kau duluan saja, nanggung".
ucapnya dingin.
Dion berdiri mematung melihat bosnya tak beranjak dari kursinya.
Merasa diperhatikan Ryan mengangkat wajahnya, dan melihat ke arah Dion.
__ADS_1
"Kamu makanlah aku bisa menyusul nanti". ucapnya kemudian.
Dion mengangguk lalu bergegas pergi meninggalkannya, menuju ke kantin untuk mengisi perutnya.