Suamiku Kakak Sepupuku

Suamiku Kakak Sepupuku
Bab 84


__ADS_3

Setelah Zerena pulang, mereka bertiga pun menuju ke mobil masing masing,


"Mita, bisa kita bicara sebentar?"


ucap seseorang yang tiba tiba sudah berada di belakang Mita.


Mita refleks berbalik, dan melihat siapa uang sedang berbicara di belakangnya.


"Ehh ada Dokter Alief!"


ujarnya sambil nyengir kuda.


"Ada apa ya Dok, apa masih ada yang harus saya kerjakan, bukankah ini sudah jam pulang, besok saja ya Dok kalau masih ingin nyuruh nyuruh saya!


saya capek Dok, badan saya pegal pegal ini!"


Kata Mita sambil memijat tengkuknya, seolah memperlihatkan ke Dokter Alief, kalau dia benar benar kelelahan.


Kedua temannya mendadak, tidak jadi meninggalkan tempat itu, mereka diam mencoba mendengar apa yang ingin Dokter Alief bicarakan.


"Mita, saya ingin bertanya apa boleh?"


ucapnya kembali memastikan.


"Bertanya apa ya Dok?"


"Em mm, Begini Mit, sebenarnya ini tentang Zerena!"


Ucap Dokter Alief menggantung ucapannya.


"Zerena...?"


"Zerena kenapa Dok, apa dia ada masalah, atau berbuat masalah?"


Mita bertanya bertubi tubi, membuat Dokter Alief memijat pelipisnya, karena pusing mendengar wanita cerewet di depannya.


"Apa kalian satu kampus?"


Ucap Dokter Alief grogi, padahal hanya pertanyaannya sangat sesederhana itu.


"Iya Dok saya satu kampus, satu sekolah mulai SD, SMP, sampai SMA!"


Mita bercerita dengan sangat antusias.


"Kalau begitu terimakasih atas infonya ya Mit!"


Dokter berlalu pergi dari hadapan Mita, membuat Mita yang sedikit lelet mikir tidak sampai memikirkan yang baru saja terjadi.


Sedangkan Radha dan Fitri sedang berpikir keras, karena perasaannya mulai tidak sinkron dengan logikanya, dia sudah mulai menaruh curiga pada Dokter baru itu.


"Kalian turun tidak dari mobil kalian, aku tahu lho kalau kalian mau nguping, eh bukan mau nguping, tapi memang lagi nguping!"


keduanya turun dari mobil, mengangkat kedua jarinya, jari telunjuk dan jari tengahnya,


kadang kadang anak muda jaman sekarang, saat meminta berdamai dengan seseorang maka akan melakukan hal seperti yang dilakukan Radha dan Fitri.


Keduanya berlari membungkam mulut Mita, agar diam,


"Ssttt, jangan kenceng ngomongnya!"


ucap Radha sambil berbisik.

__ADS_1


"Memangnya ada apa sih?"


Kata Mita yang kelewat lugu, eh salah kelewat dungu tepatnya.


"Kita keluar dulu dari sini, bentar kita omongin ok?"


Mita hanya mengangguk mengiyakan karena melihat kedua temannya itu tidak sedang main main.


Mereka masuk ke sebuah cafe, dan memesan minuman dingin disana, setelah pesanan datang dan mereka sudah minum hampir setengah dari gelas panjang yang disuguhkan.


Fitri akhirnya yang membuka suara,


"Mit, apa lalu tidak aneh, melihat Dokter Alief yang bertanya seperti tadi!"


"Lho emang kenapa?


wajar dong dia bertanya dan mengetahui, setiap mahasiswa yang magang.


"Ok, yang wajar itu kasi dia menanyakan tentang dirimu, dia kan bisa langsung bertanya kepada Zerena, dan lagian dia tidak menanyakan tentang dirimu bukan?"


Mita mencoba mencerna setiap kata kata Bu Bidan di depannya, eh Fitri maksudnya.


"Benar juga kata Fitri, jangan sampai Zerena mendapat masalah gara gara aku yang ember."


Batin Mita.


"Mit, aku perhatikan dia dari tadi siang, saat kita makan di kantin, dia ngeliat Zerena, kayak lagi mandangin bakso beranak level tujuh, ngiler sampai segitunya!"


Mita dan Radha sampai tersedak mendengar ucapan Fitri, tapi dalam hati keduanya membenarkan.


Ketiganya akhirnya kompak, besok besok kalau Alief meminta info tentang Zerena, semuanya harus diam dan tidak boleh memberi tahu apapun ke Dokter Alief.


Zerena berjalan mengikuti langkah Ryan yang panjang, keduanya masuk ke dalam rumah, Zerena bergegas masuk ke kamarnya untuk membersihkan tubuhnya sebelum menemui putranya.


"Kak, mandi dulu baru kerja lagi!"


Ryan menoleh melihat istrinya yang sudah kelihatan segar, sehabis mandi.


Rambutnya masih basah, Ryan bangkit membawa istrinya duduk di pinggiran kasur.


Lalu tangan Ryan membuka laci dan mengambil hair dryer, dan mulai mengeringkan rambut Zerena.


Zerena hanya menurut, karena percuma saja membantah, Ryan tidak akan mendengarkannya.


Zerena pamit menemui putranya, dia sangat rindu ingin melihat pria kecilnya yang tampan.


Anak kecil itu menggapai sang Bunda saat Bundanya mendekat dan memeluknya, diambilnya anak itu dari gendongan sang pengasuh atau tepatnya Baby sister.


Semua rasa lelah dan capeknya, tiba tiba lenyap begitu saja, saat melihat anak kecil itu, wajah imut dan menggemaskan membuat hati Zerena seperti disiram dengan Beard Brand, upps...


yakin mau disiram pakai susu beruang.


Zerena membawa putranya masuk ke kamar nya, tepat di samping Ryan,


Ryan yang baru saja selesai mandi dan berganti pakaian, membawa Aulian ke pangkuannya.


Ryan menciumi wajah putranya bertubi tubi, anak itu sampai terkekeh kegelian, Zerena menatap kedua pria yang memiliki wajah yang hampir sama itu.


Setelah puas bermain, dia membiarkan putranya bermain di kasur, sementara dia memandang istrinya.


"Bagaimana pekerjaanmu hari ini sayang?"

__ADS_1


tanya Ryan kepada Zerena.


"Semua lancar Kak, tidak ada kendala sama sekali!"


Ucapnya sambil tersenyum.


Tiba tiba ponsel Ryan berdering kencang, membuat sang pemilik bergegas membuka dan melihat siapa di sana.


Di layar tertera nama Dion, Ryan memberi isyarat ke istrinya untuk mengangkat telepon sebentar, mereka berbicara cukup lama, seperti nya ada hal yang sangat penting yang sedang mereka bicarakan.


Setelah selesai, Ryan kembali ke tempat dimana istri dan anaknya sedang bermain.


"Tok tok tok"


Terdengar suara pintu diketuk oleh seseorang.


"Siapa...?"


kayanya Ryan.


"Saya Bibi Tuan muda,!"


Ryan bangkit lalu membuka pintu.


"Ada apa Bi?


Di bawah ada yang mencari Nona muda!*


ucap bibi sambil berlalu dari hadapan majikannya.


"Siapa yang mencarimu sore sore begini?"


Kata Ryan sambil menautkan kedua alisnya.


Sedangkan Zerena hanya mengangkat kedua bahunya tak tahu.


Karena penasaran, keduanya turun sambil Zerena menggendong putranya.


mereka berdua berjalan menuju pintu utama, dimana tamunya masih menunggu.


"Ada apa?"


Ryan bertanya dengan suara datar seperti biasa, dan dengan mimik wajahnya yang dingin.


sang tamu mengangkat wajahnya, dan menatap Ryan lama.


"Siapa Kak?"


Tanya Zerena di belakang Ryan.


Tiba tiba tamu itu, menyalip tubuh Ryan, dia berhasil masuk dan melewati Ryan begitu saja, Zerena sampai kaget dibuatnya.


"Ada yah, tamu yang kayak gitu?


nggak ada sopan santunnya, padahal dia dokter lho!"


Batin Zerena setelah tahu itu adalah Dokter Alief.


Mata Dokter Alief nanar menatap Zerena,


Zerena sampai mundur beberapa langkah, karena takut pria itu akan menyakiti bayinya.

__ADS_1


Rahang Ryan mengeras, pria di depannya benar benar kurang ajar, dan tidak mencerminkan seorang dokter.


"Hai kau, bisa tidak kurang ajar, ini rumahku, dan wanita itu istriku!"


__ADS_2