
Seperti biasa Ryan sibuk dengan rutinitas kantornya, tapi sekarang dia sudah tak sesibuk kemarin kemarin, sekarang ada Fendi yang membantu mengerjakan semua tugas tugasnya.
Pria gemulai itu cukup cerdas, hanya butuh waktu beberapa menit dia sudah mulai mengerti apa yang harus ia kerjakan, Alvin mengajarinya tanpa rasa canggung, karena mereka sudah biasa bertatap muka si kampus.
Hari ini dia harus mengerjakan semua sendiri, karena Alvin menelpon akan datang ke kantor setelah jam makan siang, karena harus ke kantor dulu.
Ryan adalah sosok yang sangat indah di depan para wanita, karena karisma dan kekayaan yang dimilikinya, membuat banyak wanita datang menawarkan kesenangan secara gratis, asal bisa merasakan kenikmatan dari pria dingin dan suami Zerena itu.
Tidak terkecuali seorang wanita pengusaha muda yang berusaha mengambil hatinya.
Hari ini wanita itu datang ke kantor, bermodalkan surat perjanjian kontrak kerjasama yang harus mereka tanda tangani dan Ryan harus memeriksanya langsung.
"Selamat pagi Pak Ryan, maaf mengganggu waktu anda, bolehkah saya duduk?"
ucap wanita yang baru saja masuk dan langsung duduk di depan Ryan tanpa permisi terlebih dahulu.
Ryan yang melihat seseorang yang langsung nyelonong masuk, menatap tak kepada Dendi sekretarisnya.
Fendi menelan ludah, sebenarnya dia sudah berusaha mencegah agar wanita yang bernama Mekar itu, agar menunggu di ruang tunggu terlebih dahulu.
tapi dia ngebet sekali, seperti akan bertemu dengan suaminya saja.
Mekar menyilang kan kedua kakinya, sehingga menyibakkan rok yang cukup pendek yang dipakainya.
Ternyata isi rok itu hanya terhalang sebuah pengalaman segitiga, Fendi yang melihatnya menggelengkan kepala, dia tidak habis fikir bisa bisanya wanita ini berpakaian kurang bahan seperti ini.
Sementara Ryan tidak menatapnya sama sekali, dia kembali menatap laptopnya, menyelesaikan pekerjaannya, setelah selesai barulah ia menatap orang di depannya.
Mekar tersenyum menggoda pria di depannya,
"Ada yang bisa saya bantu?
ucap Ryan dingin.
pria itu menatap wanita yang sedang duduk di depannya.
"Maaf atas kelancangan saya Tuan, saya hanya ingin memastikan kontrak kerja sama kita tetap berjalan bukan?"
ucapnya sambil memilih rambut bergelombang ya yang panjang.
"Heeemmm
__ADS_1
Baiklah, saya akan.memeriksanya terlebih dahulu, karena Asisten saya sedang tidak ada di tempat Nona, anda bisa menunggu di kantor anda, sekertaris saya akan mengabari anda, kalau saya sudah membacanya!"
Setelah berbicara Ryan berdiri dan membuka pintu, mengusir dengan halus tamu seksinya.
Wajah Mekar berubah pias, tidak menyangka kalau paha mulus dan dada montoknya tidak bisa menggoyahkan iman pria beristri di depannya.
Fendi menutup mulutnya menahan tawa, dia bahkan tidak pernah menyangkan suami tenan kuliahnya akan bersikap sangat tegas pada wanita genit seperti Mekar.
Mekar menghentak hentakkan kakinya, begitu berada di luar ruangan CEO.
Tidak menyangka akan mendapat penolakan seperti tadi.
"Kita lihat saja, sejauh apa kamu bisa mempertahankan tongkat ajaibnya itu!"
Dia menjilat bibirnya sendiri dengan mesum, membuatnya semakin bersemangat untuk bisa ditiduri oleh Ryan.
Alvin yang sudah datang dan berpapasan, menatap aneh pada wanita dewasa itu.
Dia berjalan tergesa gesa, pekerjaan sudah menunggu, dia hari harus kejar target karena banyak yang harus ia selesaikan, dia masuk ke ruangan Dion yang biasa ia pakai bersama.
Sementara di dalam ruangan Ryan, dia sedang menatap Fendi seperti singa yang akan menerkam kelinci, Fendi menggigil hebat dibuatnya.
"Kau tahu, ini kesalahanmu yang pertama dan yang terakhir, jangan pernah membiarkan orang lain masuk ke ruangan ku, tanpa memberitahu terlebih dahulu, kecuali Istriku!"
Dia mengangguk dan dan mengambil langkah seribu, segera keluar dari ruangan Bosnya, jangan sampai Bosnya khilaf dan mematahkan lehernya.
Dia masuk ke dalam ruangannya, yang berada tepat di depan ruangan Bosnya, bedanya ruangannya transparan karena hanya dinding bagian depannya adalah kaca yang memperlihatkan segala aktifitas Fendi di dalam, termasuk pintunya.
Dan di bagian depan ada kaca yang terbuka seperti jendela tempat Fendi berbicara bila ada tamu yang akan berkunjung kemari.
Baru saja ia menghempaskan pantatnya dan duduk di kursi kerjanya tiba tiba telepon di mejanya berdering, dengan cepat ia menyambarnya.
"Suruh Alvin ke ruangan ku!"
Perintah sang Bos dingin dan mencekam.
lama lama Fendi merasa berada di dalam Freezer saja, seperti ikan bandeng yang di bekukan.
Dengan cepat ia menghubungi Alvin, dan menyuruhnya menghadap Bos, Alvin keluar dan bertanya melalui bahasa tubuhnya, Fendi hanya mengedikkan bahu, dan melanjutkan pekerjaannya yang tertunda.
Alvin masuk setelah mengetuk pintu terlebih dahulu, Ryan menatap sekilas lalu menyuruhnya duduk.
__ADS_1
" Periksa surat kontrak ini, pelajari dengan seksama, kalau ada yang aneh garis bawahi, dan perlihatkan padaku, aku tidak suka pemimpinnya!"
"Ok Bang, saya periksa dulu, saya akan membawanya kalau sudah selesai!"
Alvin berdiri, menunduk hormat, sebelum melangkah keluar.
Sekarang ia sudah berada di ruangannya, memeriksa poin demi poin surat perjanjian mereka, dan......
Ternyata ada satu poin yang menurutnya aneh, "setelah kontrak kerjasama disetujui, kedua belah pihak akan bertemu dan menandatangani semua proposalnya, tapi pertemuan ini private karena tidak ingin ada pihak lain lain yang mengambil kesempatan pertemuan hanya boleh dihadiri oleh kedua CEO perusahaan"
"Ini dia intinya!"
gumam Alvin.
Setelah memastikan semuanya, Alvin keluar lagi dari ruangannya, dia membawa surat kontrak itu, dan menunjukkan hasil penemuan sang ilmuwan.
Ryan membacanya dengan detail, ia tersenyum.
sudah ia duga sebelumnya, pasti Mekar akan melakukan sesuatu, tapi Ryan tetap menyuruh Alvin untuk ikut permainan wanita itu, dia ingin melihat apa yang akan dia lakukan.
"Hubungi, dan katakan padanya kapan dan dimana tempatnya!"
Ucap Ryan sambil menatap kertas kertas itu, dengan pandangan yang sulit diartikan.
Alvin segera keluar dan setelah masuk ke ruangannya, dia segera menghubungi mekar.
"Halo Nona Mekar!
Saya Asisten Bapak Ryan Sanjaya, beliau berpesan agar saya menanyakan dimana dan kapan tempat pertemuannya?
Anda bisa mengirimkan alamat nya nanti!"
"Baiklah, saya akan segera mengirim alamat lengkapnya, Pak Alvin!
terimakasih!"
Mekar menutup teleponnya, dia sangat senang karena rencananya berhasil, dia sudah tidak sabar menanti saat saat dia merintih kenikmatan di bawah tubuh sang CEO tampan.
Sementara Ryan tersenyum, tawanya pecah dan menggema di dalam ruangan,
" gadis binal, kau aku tidak tahu permainanmu, selalu begitu kelakuanmu dan tidak pernah berubah, kau mungkin lupa padaku, tapi aku tidak akan lupa!"
__ADS_1
Ryan mengernyitkan keningnya, dia harus memastikan semuanya, walau bagaimana pun, gadis itu tidak bisa dianggap sepele, dia banyak bekerja sama dengan perusahaan perusahaan besar karena kelicikannya yang menggunakan tubuhnya sebagai umpan, sekaligus sebagai alat untuk memaksa orang lain dan tunduk dibawah kakinya.