
Ryan melangkahkan kakinya menuju ruangan dimana istrinya dirawat, nampak kedua mertuanya masih setia menunggui putri mereka yang tidak kunjung bangun.
"Ma kata dokter apa, kok istri aku nggak bangun bangun?"
Ucapnya menghampiri istrinya sambil memberikan kecupan kecil di kening wanita cantik itu.
"Kata Dokter, dia itu lagi tidur bukan pingsan, jadi biarin aja, besok pagi pasti bangun dan akan lebih segar!"
Ucap Mama Sinta menepuk pundak menantunya.
"Ya udah kita pulang ya Yan, kasihan Mama kamu kalau begadang juga, kamu juga tidur di samping istri kamu, tadi papa udah nyuruh orang untuk mengganti branker dengan yang lebih besar!"
"Ok Pa...
hati hati kalau gitu!"
Kedua orang tua itu bergantian mengecup kening putrinya, sebelum pulang.
Ryan menatap pergelangan tangannya ternyata sudah jam 10 malam, ia pun merebahkan tubuhnya di samping istrinya dengan hati hati.
Dengan sangat perlahan Zerena membuka matanya, dia merasa sangat asing dengan tempat ini, nuansa kamar yang serba putih, yang pastinya pasti bukan kamarnya.
Dia menoleh, dan melihat suaminya masih tidur, dia ingat kalau hari ini hari Sabtu, pasti pria itu ingin istirahat di rumah weekend ini.
"Tapi tunggu dulu, kok tsngan aku berat banget!"
Zerena memperhatikan tangannya, barulah ia sadar kalau ia berada di rumah sakit, saat melihat jarum infus menancap di pergelangan tangannya.
"Kapan aku sakit, kok aku nggak ingat yah kemarin?"
gumamnya.
Ryan yang merasakan pergerakan manusia di sampingnya, membuka matanya, dan melihat istrinya sudah bangun, dan benar saja wajahnya kelihatan sudah segar tidak pucat lagi seperti kemarin.
"Hai sayang, udah bangun rupanya!
kamu itu selalu bikin aku khawatir !"
ucapnya sambil mencubit kecil hidung istrinya itu.
"Emang aku sakit apa kak?"
Ucap Zerena sambil berusaha bangun.
Dengan sabar Ryan membantu istrinya untuk duduk sambil bersandarkan bantal.
"Kata Dokter kamu kena DBD!"
__ADS_1
kata Ryan seraya menatap lekat wajahnya.
"Kak aku lapar, tapi aku tidak mau makanan itu!Ujar Zerena sambil menggeleng dan menunjuk makanan yang berada diatas nakas.
"Ok, aku cariin kalau begitu!"
Ucapnya sambil berdiri, tapi langkahnya terhenti saat seseorang dari luar mengetuk dan membuka pintu, setelah mengucapkan salam orang itu masuk, dengan membawa paperbag berisi makanan, dan menggendong seorang anak kecil.
"Ayah....., Unda......
Lian angen Ama alian!"
Ucap anak kecil itu menghambur ke pelukan Ayahnya.
"Hai sayang, pagi pagi udah datang aja, kangen sama Bunda yah?"
Kata Ryan menyapa buah hatinya yang datang bersama dengan Alvin.
"Ini gue inisiatif bawa makanan buat kalian, kali aja kalian belum makan!"
Kata Alvin sambil menghempaskan bokongnya di sofa.
Zerena mengangguk dengan mata berbinar, tentu saja ia belum makan, "siapa juga yang Sudi makan makanan hambar itu!"
Ryan membuka satu persatu makanan yang ditata rapi, lalu menyuapi istrinya, lalu jangan lupakan anak gembul yang sedang mencari kesibukan sendiri, ia mulai mencecari Alvin dengan berbagai pertanyaan, apapun yang baru ia lihat dan membuatnya penasaran.
Umpatnya dalam hati.
Selesai makan Ryan merapikan semua rantang makanan yang isinya sudah berpindah ke dalam perut mereka berdua.
Seorang dokter wanita datang menemui mereka, dia meminta ijin untuk memeriksa keadaan pasiennya, "Oh ya, Dokter Zerena sudah tidak apa apa, hari ini sudah bisa pulang, mungkin ini efek saat anda magang, selalu kegigit nyamuk!"
"Makasih Dokter, ke depannya saya akan lebih hati hati lagi!"
ucap Zerena sambil tersenyum.
Dokter itu tersenyum dan beralih menatap Ryan, dia tersipu malu, saat pandangan keduanya saling beradu.
Ryan yang mengetahui gelagat Dokter itu, langsung duduk di samping istrinya, lalu mengecup kening Zerena dengan lembut.
"Emma oh iya Dok, kenalkan suami saya!"
Ucap Zerena sambil memegang lengan suaminya.
"Wajah dokter cantik itu memerah karena malu, dia pikir pria di depannya Kakak dokter Zerena, tapi ternyata dia adalah suaminya.
"Iya, selamat pagi pak, kalau begitu saya pamit dulu, masih harus memeriksa pasien yang lain!"
__ADS_1
Pamitnya sambil berlalu keluar dari ruangan itu.
Sedangkan Alvin dan Aulian raib entah kemana, seperti mereka benar benar cocok, dan Ryan perlu merekomendasikan Alvin untuk menjadi pengasuh Aulian saja.
"Sebentar sayang, aku keluar mencari suster untuk membuka jarum infus itu!"
Kata Ryan lalu melangkah keluar.
Baru akan menutup pintu tiba tiba ia dikejutkan dengan kedatangan wanita cantik dan seksi, tentu saja dia adalah Mekar.
Pagi pagi sudah datang saja kemari, apa dia tidak capek mengintil terus, Ryan saja capek, kok dia bisa setangguh itu, dasar otaknya yang sudah tidak bisa berpikir dengsn baik.
"Pagi Pak Ryan, tadi saya ke kantor anda dan karyawan anda bilang, kalau istri anda masuk rumah sakit, jadi saya berinisiatif untuk kemari, menjenguk wanita penyakitan anda!"
Mata Ryan membulat sempurna mendengar kata kata Mekar,
"Kurang ajar, istriku dibilang wanita penyakitan, dan apa itu, dia ke kantor?
dasar pembual, hari bukankah Weekend?"
"Bolehkah saya masuk?"
ucapnya mulai mendekat, dan menggenggam tangan Ryan, tapi dengan cepat Ryan menghempaskan tangan itu.
"Maaf Nona, tolong bersikaplah yang wajar, dan maaf istri saya masih tidak bisa ditemui, keadaannya masih belum stabil!"
Ucap Ryan dengan dingin dan menusuk.
Tapi bukan Mekar namanya, kalau ia akan berhenti sampai disitu saja, ia masih belum menyerah.
"Ternyata istri anda itu sangat merepotkan Pak Ryan, dia selalu saja menyusahkan anda, seharusnya anda memiliki istri yang tangguh, mandiri, dan kuat!"
"Saya sudah kuat dan tangguh, jadi saya hanya butuh istri yang lembut, manja dan apa apa mi ya ke saya!"
ucap Ryan membuat Mekar terbungkam seketika.
"Kalau begitu, saya pamit pulang dulu Pak Ryan, mungkin lain hari saya akan menjenguk istri manja anda!"
ucapnya sambil berlalu pergi dari hadapan Ryan.
Kalau saja dia bukan wanita, mungkin Ryan sudah menampar mulutnya dari tadi, tapi sayangnya dia wanita, wanita yang sangat menyebalkan.
Ryan memanggil suster yang kebetulan lewat, dan mengatakan niatnya untuk membawa istrinya pulang pagi ini.
Suster dengan senang hati, masuk dan membuka semua alat alat medis, yang menempel di tubuh Zerena.
Setelah selesai suster membawa semua alat itu keluar, sementara Ryan membantu istrinya berganti pakaian, setelah semua beres, mereka akhirnya pergi dari tempat itu, dan berjalan ke parkiran, di mana mobil mereka berada.
__ADS_1
Setelah istrinya masuk, diapun ikut masuk, kemudian ia teringat putranya, kemana Alvin membawanya, setelah menelpon Alvin sebentar, ia mulai mengemudikan mobil keluar dari area rumah sakit.