
"Ayah....
Lian mo malah nih!"
Ucap anak kecil itu sambil mengerucutkan bibirnya lucu.
"Lho Lian kok mau marah, emang kenapa sayang?"
Jawab Ryan sambil ingin meraih tubuh si kecil.
Tapi Aulian malah memukul tangannya, dan menolak Ayahnya.
"Ayah kalau pakai listelik jangan bolos bolos ayah....!
Unda omel omel dali tadina, katana bayalna muahhaall!"
Omel anak itu panjang lebar, membuat Ryan tergelak dan berpikir mencoba mencerna perkataan putra kecilnya itu.
"Oh tagihan listriknya mahal ya sayang, maafin Ayah deh kalau begitu, nanti Ayah kerja lebih keras lagi, biar bisa ganti semua uang untuk bayar listrik itu!"
"Agush, agush....!
jawab anak itu dengsn logat cadelnya, sembari menaikkan jempolnya, tanda setuju.
"Kalau gitu, Aulian bobo siang dulu ya sama mbaknya, biar listriknya nggak boros lagi sayang!"
Ryan mencoba merayu si anak gembul, bahaya kalau dia mendengar pembicaraan kedua orang tuanya yang kayaknya akan panas dan panjang.
"Wokeeeh Ayah!"
Ucap Aulian sambil beringsut dan turun dari tempat tidur!"
"Ayah antar sayang!"
Ryan berdiri ingin menggendong putranya, tapi anak itu menggelengkan kepalanya, sambil melotot ke arah Ayahnya.
"Anda' usyah Ayah, Lian udah gede, bisya jalan Syendili!"
Ucapnya sambil berjalan keluar menuju kamarnya, yang hanya bersebelahan dengan kamar orang tuanya.
Ryan menggeleng gelengkan kepalanya, ternyata banyak yang ia lewatkan dari tumbuh kembang putranya, "ke depannya, aku harus lebih memperhatikannya!"
Batinnya kemudian, setelah menutup pintu.
Dia beralih menatap wanita di depannya, benar benar cantik, apalagi kalau tanpa hijab seperti ini, seperti anak remaja yang masih sangat muda.
Ryan duduk di depan istrinya, sambil menopang dagunya, menatap wanita di depannya yang masih betah membisu.
"Masih marah hem?"
__ADS_1
Ucap Ryan, sambil memandang istrinya, ia sengaja duduk tidak terlalu dekat dengan istrinya.
Mengingat Zerena yang jago bela diri, Ryan takut nanti malah babak belur oleh perbuatan Zerena.
Zerena hanya menggeleng lemah, pura pura menjadi wanita lemah dan pasrah adalah trik jitunya saat ini.
"Bagaimana kalau kita keluar jalan jalan?"
Ryan terus membujuknya.
"Enggak, aku di rumah aja, di luar kan sudah ada yang bisa diajak makan dan nonton!
jadi aku mah apa atuh!"
Suara Zerena terdengar lirih.
Ryan tersedak air liurnya sendiri, mendengar sindiran istrinya, ditambah dengan potongan lagu dari Cita citata.
Zerena masuk ke kamar mandi, sebenarnya ia tidak berniat untuk mandi, tapi demi imagenya, dia terpaksa mandi lagi.
Sehabis mandi, ia masih melihat Ryan duduk mematung, sambil menghitung jumlah ubin di lantai.
Zerena tidak perduli, sekali kali ia juga harus tegas, agar Ryan tidak selalu menindaknya, dan melakukan semua atas kemauannya sendiri.
Sambil membuka lemari pakaian, ia masih sempat melirik Ryan dengan ekor matanya, pria itu masih setia memperhatikan istrinya.
Celananya pendek hanya sebatas pertengahan paha, dan atasannya pun sangat terbuka, lengannya hanya menggunakan tali, lebih mirip tank top.
Ryan melotot memperhatikan istrinya, sungguh pemandangan di depannya, membuatnya panas, bisa dibayangkan seorang istri cantik berpakaian seksi begitu.
Ryan mengusap kasar wajahnya, dia benar benar sudah tidak tahan, gairahnya sudah sampai di ubun ubun.
Dia mencoba mendekati istrinya, tapi wanita muda itu, tiba tiba berteriak.
"Stop, diam disitu dan jangan berani berani kemari, kalau tidak aku tidak segan segan mematahkan onderdilmu!"
Ucap Zerena membuat Ryan bergidik ngeri.
"Sana mandi, biar nggak bau ulat bulu!"
ucap Zerena sambil menutup hidungnya.
Ryan mau tidak mau, akhirnya menurut dan mandi di siang bolong.
Dengan handuk yang masih melilit di pinggang Ryan keluar dari kamar mandi, dia menatap istrinya yang masih duduk di sisi tempat tidur sambil memainkan ponselnya.
"Sayang, kamu jangan marah dong, aku tidak ngapa ngapain tadi, aku hanya mengerjainya saja!"
"Hanya mengerjainya saja, kamu tahu dengan begitu kamu telah memberinya harapan, dan membuatnya semakin dalam menginginkanmu!
__ADS_1
kamu sadar nggak sih?"
Zerena berteriak sambil melempar bantal ke arah Ryan, Ryan merasa terpukul baru kali ini istrinya marah seperti itu, dan tidak memakai embel embel Kakak di depan nama Ryan.
Ryan merasa tidak rela, Zerena memanggilnya dengan kata Kamu, selama bersama Zerena baru kali ini,Zerena seperti itu.
Dia menatap tajam wanita di depannya, Zerena pun tidak kalah tajam menatap suaminya, kali ini dia tidak boleh mengalah, dia harus membuat Ryan kapok, dan tidak mengulang perbuatannya.
"Ok aku salah, aku minta maaf, tapi tidak bisakah kamu bertanya baik baik, kenapa aku melakukan itu?
Kenapa hal sepele seperti ini kau besar besarkan?"
Ucap Ryan mulai terpancing emosi, dia berusaha menahan diri agar tetap tenang menghadapi wanitanya.
"Kau bilang hal sepele?
Kamu jalan dengan wanita lain kamu bilang hal sepele?
Apa kamu bisa menerima kalau aku keluar dan jalan bersama pria lain, makan di restoran, terus nongkrong di Mall, lalu nonton di bioskop?
kamu bisa menerimanya, dan tidak marah, yakin kamu bisa?
Kata kata Zerena membuat Ryan diam membatu, tentu saja dia akan menggantung pria yang berani mengajak istrinya jalan, "enak saja!"
Batin Ryan.
Sepertinya percuma saja kalau Ryan masih berusaha membela diri, ujung ujungnya dia semakin terpojok saja, dan tentu saja istrinya yang akan memegang kendali, lebih baik diam.
Kalau wanita sedang cemburu, pasti tidak akan ada yang bisa mengalahkannya, lebih baik diam, dan jadi suami penurut.
Tidak apa apa sekali kali mengalah, toh tidak akan merugikan dirinya, tapi memberi izin Zerena jalan dengan pria lain, itu tidak akan pernah terjadi.
"Bundanya Aulian, dengarkan!
terkadang dalam dunia bisnis, kita harus sedikit rela saat badan kita dikotori oleh hal hal seperti tadi yang kamu lihat, tapi bukan berarti aku akan melakukan sesuatu yang melanggar norma-norma!"
ucap Ryan lirih, tapi terkesan dingin.
"Tidak jauh berbeda dengan profesi mu sebagai dokter, yang harus melayani semua orang, termasuk lawan jenismu, terkadang harus kontak langsung dengan pasienku bukan?
apa pernah aku protes, dan melarangmu merawat pasien pria?
kembali Ryan berhasil menyudutkan Zerena.
Ryan tersenyum kecil melihat istrinya mulai termenung memikirkan kata katanya, sekarang Ryan merasa seperti pria tua hidung belang yang sedang berusaha menutup aibnya di depan istri sendiri, dengan cara menyudutkan istrinya.
"Sekarang kita keluar berdua, hari khusus hanya kamu, Ok?"
Ryan masih tetap berusaha meluluhkan hati wanita keras kepala di depannya, sebagai seorang istri Zerena bukannya tidak mau percaya pada suaminya, tapi ia harus bisa lebih berkelas dan tidak dipandang remeh oleh suaminya, apalagi soal sensitif seperti ini.
__ADS_1