
Hari ini Ryan kembali ke kantor seperti biasa, sementara Zerena masih sibuk mengurus bayi kecilnya.
Sebenarnya Ryan sudah menyarankan agar menyewa jasa seorang Baby sister, tapi Zerena selalu menolak, dengan alasan ingin merawat dan mendampingi masa tumbuh anaknya.
Seperti biasa, Zerena akan menyiapkan makan siang untuk suaminya. saat ini dia sedang berkutat di dapur untuk membuatnya.
Dia tidak pernah mengandalkan Bibi kalau urusan makan siang suaminya, setelah berkutat selama satu jam, akhirnya makanan pun jadi.
Makanan itu dimasukkan ke dalam boks makanan yang sudah ia siapkan sebelumnya, makanan sederhana tapi favorit Ryan banget.😇
Ada ayam goreng kecap pedas', sambel terasi goreng Pete, dan sup jagung, ditambah nasi putih hangat, uhhhh menggugah selera.🤤ðŸ¤
Setelah selesai Zerena kembali ke kamar melihat putranya yang sedang tidur, dan mengganti pakaiannya, karena hari ini dia bermaksud mengantar sendiri makanan itu.
Setelah memompa ASI nya, dia kemudian turun dan mencari bi Nani.
"Bi......
Aku mau mengantarkan makanan untuk Kak Ryan, aku minta tolong dong jagain Aulian dulu".
"Iya Non, Bibi janji jagain dengan benar, lagian Baby-nya anteng gitu kok".
Sahut Bibi Nani tersenyum.
"Ya udah Bi, aku pergi dulu yah, titip Aulian",
Sahutnya sambil berlalu ke dapur mengambil paperbag yang berisi boks makanan suaminya.
Setelah sampai di kantor Zerena langsung ke Resepsionis menanyakan suaminya ada di tempat atau tidak.
"Permisi mbak, saya mau mengantarkan makanan untuk CEO perusahaan ini, apa beliau ada di tempat?"
Tanya Serena sopan.
Gadis muda yang mungkin 4 tahun di atas umur Zerena, memandang penuh selidik, karena selama bekerja disini tidak pernah ada seorang wanita pun yang mencari CEO di tempatnya bekerja.
Dan tiba tiba ada seorang gadis cantik berhijab yang tiba tiba mengantarkan makanan.
"Apa sebelumnya anda sudah ada janji bertemu dengan bos besar kami?"
Tanya sang gadis resepsionis.
Zerena menggeleng, "Saya Hanga ingin mengantar makanan ini sebentar, setelah itu saya pulang".
ucapnya mencoba meyakinkan gadis itu.
"Tapi kalau mau bertemu CEO, harus membuat janji dulu".
__ADS_1
Ucap gadis itu kembali.
Diperhatikannya gadis berhijab di depannya, walau masih sangat muda tapi diakuinya gadis ini sangat cantik bahkan dari pakaiannya saja, resepsionis itu tahu bahwa semua yang dipakai Zerena semua barang branded.
Mulai dari hijab, atasan, bahkan rok Plisket yang dipakainya itu bukan rok murahan.
Apa mungkin ini selingkuhan bosnya, karena seluruh kantor tahu kalau CEO mereka adalah menantu Bos besar mereka yaitu Pak Roy.
"Mbak, saya tidak punya banyak waktu,saya harus mengantar makanan. ini, nanti makanan ini dingin!"
Ucapnya sambil berlalu meninggalkan resepsionis yang sedang dilanda kebingungan.
Zerena buru buru masuk ke dalam lift, setelah sampai di lantai paling di atas, dia menuju ruangan CEO, dia tidak kesulitan mencari ruangan itu, karena waktu masih sekolah dia sering menemui papanya ke sini.
Mungkin karena saat itu Zerena masih remaja atau karena sekarang Zerena berhijab, jadi tak seorangpun yang mengenalnya.
Zerena akhirnya sampai di depan ruangan yang bertuliskan CEO, tangannya perlahan meraiih gagang pintu, tapi tiba tiba suara seorang perempuan menghentikannya.
"Berhenti.....
Siapa kamu, berani beraninya masuk kemari?"
kata wanita itu, yang ternyata adalah sekertaris pribadi sang CEO.
"Maaf kak, saya mau mengantar makanan untuk CEO!"
"Kamu siapa haaa.....
Berani beraninya mengantar makanan untuk CEO?"
bentak sekertaris itu kepada Zerena.
Lalu sekertaris itu merampas paperbag yang berisi makanan itu, dan melemparkannya ke lantai, dan di dorongnya tubuh Zerena hingga membentur pintu.
Ryan yang mendengar suara ribut ribut di luar, karena merasa terganggu akhirnya memutuskan untuk keluar dan melihat apa yang terjadi.
Dan betapa kagetnya Ryan setelah Ryan keluar dilihatnya Makanan berserakan di lantai, tapi yang membuatnya tak kalah kaget saat melihat istrinya tersungkur di lantai.
Rahangnya mengeras, tatapannya tajam menusuk, membuat sang sekertaris menelan salivanya karena takut.
"Maaf Pak, saya sudah melarangnya tapi dia bersikeras ingin masuk, makanya saya buang makanannya!"
ucapnya dengan nada manja sambil memegang tangan Ryan.
"Kamu tahu siapa wanita itu, wanita yang kau perlakukan sangat buruk itu adalah istriku, putri dari Presdir Roy Sanjaya".
Bentak Ryan sambil menghempaskan tangan sekertaris itu.
__ADS_1
Seperti petir di siang bolong, saat sekertaris itu mendengar ucapan CEOnya, bagaimana mungkin dia berbuat begitu bodoh kepada putri seorang Presdir," tubuhnya lemas lalu ambruk ke lantai, dia tidak menyangka ternyata wanita muda itu adalah salah satu pemilik perusahaan tempatnya bekerja.
"Tamatlah riwayatku", batinnya.
Sementara Ryan perlahan menarik tubuh Zerena, memeriksa setiap inci tubuh istrinya dan membawanya masuk ke dalam ruangan nya.
Di bawanya sang istri duduk di sofa yang ada di ruangan itu, "Sayang kenapa tidak bilang kalau mau kesini, aku bisa jemput kamu atau Dion yang jemput".
"Sebenarnya aku ke sini mau ngasih kejutan, tapi malah dapat kejutan Kak".
ucap Zerena tersenyum miris.
"Tapi kak makanan aku hancur, padahal aku masak sendiri makanan itu", ucapnya cemberut.
"Nggak apa apa sayang, lain kali kamu masakin aku lagi, tapi ingat jangan kesini tanpa sepengetahuanku lagi".
Zerena hanya mengangguk pasrah, dia benar benar tidak menyangka akan mendapat perlakuan kasar di kantor Papanya sendiri.
Karena tak ingin membuat istrinya sedih, Ryan memesan makanan, agar bisa makan siang dengan istrinya.
Setelah itu dia menyuruh istrinya istirahat, sedangkan dia pergi menemui Dion di ruangannya.
"Dion...."
ucapnya dengan suara datar.
Dion yang mendengar Bosnya datang ke ruangannya langsung berdiri dan menunduk memberi hormat.
"Pasti telah terjadi sesuatu, tidak mungkin bosnya datang sendiri kemari, kalau bukan karena sesuatu yang sangat mendesak", pikir Dion.
Ada apa Pak, kenapa tidak menelpon saya saja, kenapa harus Bapak yang kemari?"
ucap Dion merasa bersalah.
Ryan menggelengkan kepala, lalu duduk di sofa,
"Dion.....
tolong kau urus sekertaris ku itu, dia telah berani beraninya menyakiti istriku, aku tidak mau besok dia masih menampakkan batang hidungnya di sini.
"Dan ingat satu hal lagi, berikan pelajaran yang membuat dia akan mengingatnya seumur hidup, dan pastikan agar tak satu perusahaan pun yang mau menerimanya bekerja, ingat itu".
Ucapnya dengan tangan mengepal menahan amarah.
Dion menunduk memberi hormat, saat Ryan melangkah keluar dari ruangannya tanpa pamit, ditatapnya punggung sang Bos yang hilang di balik pintu.
Saat ini Dion melihat sisi lain dari Ryan, yang selama ini tak pernah dilihatnya.
__ADS_1
Walaupun Pak Roy sudah memberikan semua info mengenai keponakannya itu, yang dia tahu bahwa Ryan Sanjaya adalah Pebisnis yang berdarah dingin dan terkenal kejam terhadap lawan bisnisnya.