
Ryan telah menyuruh Bi Nani menyiapkan makan malam untuk istrinya, ayam geprek sambal goreng, dan tumis kangkung.
Zerena tersenyum saat melihat makanan kesukaannya tersaji di meja, matanya berbinar, dia mengecup pipi Ryan, karena pasti Ryan yang menyuruh pembantunya untuk membuatkan makanan ini.
Ryan menarik kursi, dan menuntun istrinya duduk, Zerena mengambil piring lalu mengambil makanannya sendiri, melupakan suaminya, yang penting sekarang adalah dia lapar, dan perutnya minta diisi.
Zerena makan dengan lahap dunia seakan miliknya sendiri, biarkan saja sekali kali pria es baloknya mengurus dirinya sendiri.
Ryan mengernyit heran melihat istrinya, tumben tumbennya nambah saat makan, biasanya ia paling irit kalau soal makan.
"Apa benar dugaanku, dia hamil?"
Batinnya terus memperhatikan istrinya yang makan tanpa etika sama sekali.
"Kak, Alvin sudah pulang, kok aku nggak lihat dari tadi?"
Ucapnya sambil celingak-celinguk mencari keberadaan sahabatnya.
"Sudah pulang, aku menyuruhnya ambil cuti seminggu, biar dia bisa istirahat, atau liburan!"
"Kok liburan, terus yang bantuin Kak Ryan di kantor siapa?"
Ucapnya Zerena.
"Itu karena dia udah jagain anak kita selama kamu sakit, dan membantu segala urusan kantor, biarkan dia istirahat sejenak,
Kau ini jangan terlalu kejam sama sahabat sendiri!"
Ucap Ryan sambil mengelus kepala istrinya.
"Kak, aku mengantuk!"
ucapnya sambil mengangkat tangannya, Ryan menatap istrinya uang tiba tiba berubah manja.
Perasaan kemarin dia tidak jatuh, dan kepalanya aman aman saja, tidak pernah terbentur sedikitpun.
Ryan berpikir tapi tetap menuruti kemauan Zerena, menggendongnya ala ala style bridal.
Sesampai di kamar, Ryan menurunkan istrinya di kasur, lalu merebahkan tubuh langsing milik Zerena.
Ryan menyelimuti istrinya, lalu ikut berbaring di samping istrinya, memeluknya dari belakang, mencoba menyalurkan kehangatan pada wanitanya.
Zerena meregangkan otot ototnya, badannya terasa berat, dengan malas ia membuka matanya perlahan, ternyata yang ia rasakan berat adalah tangan Ryan yang melingkar erat di pinggangnya.
Zerena mencoba melepasnya dengan hati hati, karena pria itu terlihat masih sangat nyenyak tidurnya.
Dengan cepat Zerena bangun melangkah ke kamar mandi, melihat suaminya tidur dengan memakai baju Koko lengkap dengan sarung, menandakan dia baru saja melaksanakan shalat subuh, tanpa membangunkan dirinya.
Dengan terburu buru, Zerena mengambil wudhu, lalu bergegas keluar kembali untuk melaksanakan kewajibannya sebagai umat muslim.
__ADS_1
Dia melipat kembali mukenah yang telah dipakainya, lalu menyimpannya, setelah itu dia melangkah keluar, dan mencari keberadaan putranya di kamarnya.
Setelah melihat putranya tidur meringkuk dibalik selimut tebalnya yang hangat, Zerena tersenyum, perlahan mendekat lalu mencium puncak kepala putranya yang sedang tertidur dengan lelapnya.??
Anak itu menggeliat dan membuka matanya, melihat Bunda di depannya, ia tersenyum dan memeluk wanita yang bertitel sebagai ibunya tersebut.
Zerena dengan telaten memandikan putra kecilnya, lalu memakaikan pakaian untuk Aulian, "Uhhh ganteng maksimal!"
ucapnya setelah memakaikan pakaian dan menyisir rambut anak itu, lalu membawanya turun ke bawah, keduanya berjalan mengitari taman yang ada di belakang rumah.
Mereka bermain main sampai lupa waktu, melihat matahari mulai terik,Zerena masuk ke dalam rumah, dia menyuruh pengasuh Aulian mengambil anaknya, karena belum makan dari pagi.
Zerena kemudian naik ke atas, untuk mengambil ponselnya, tapi alangkah terkejutnya saat melihat Ryan masih betah tertidur di sana, dengan dengkuran halusnya yang teratur, menandakan dia sedang tertidur nyenyak.
Zerena jadi bingung harus membangunkan atau membiarkan suaminya tertidur di situ.
"Zerena semakin terkejut saat melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 10 tepat.
"Ya Allah, dia marah nggak ya?"
Dengan terpaksa Zerena mencoba membangunkan Ryan, dia menggoyang goyangkan bahu suaminya.
Ternyata belum bangun juga, terpaksa Zerena mendekatkan mulutnya di telinga Ryan.
"Kak, bangun...
udah siang banget ini!"
Dan benar saja, Ryan mulai membuka matanya, sekilas ia memandangi wanita cantik di depannya, pikirannya belum sepenuhnya pulih, ia mencoba mengumpulkan seluruh kesadarannya.
Dia langsung berdiri dan masuk ke kamar mandi, saat melihat jam dinding, "Ahh sudah siang begini, Zerena kenapa tidak membangunkan aku!"
Umpatnya di kamar mandi, dia mandi kilat, saat keluar Zerena sudah tidak ada di kamar.
"Menyiapkan pakaianku saja dia enggan!"
Rutuknya, sambil mengambil pakaian sendiri dan memakainya.
"Kak, mau kemana, kok rapi amat?"
Ujar Zerena sembari merapikan makanan di meja.
"Mau ke kantorlah, emang kamu pikir aku ada kerjaan lain apa?"
ucapnya kesal.
"Tapi hari ini kan hari libur, ada perayaan hari besar untuk yang bukan Non-muslim Kak!"
Ryan melonggarkan dasinya, lalu duduk bersandar di kursi, ia memijat tengkuknya, ingin rasanya ia memarahi wanita di depannya, tapi tidak tega juga.
__ADS_1
"Seharusnya kan dia memberitahukan kepadaku dari tadi, bukannya membuat aku jadi kerepotan kayak tadi, awas ya, nanti aku kerjain baru tahu rasa!"
Batinnya, sambil memakan makanan yang telah disiapkan Zerena.
Habis makan ia kembali masuk ke kamar tanpa mengucapkan sepatah katapun, Zerena bingung melihat tingkah suaminya yang bersikap aneh menurutnya.
Ryan mengganti pakaiannya, lalu mengambil kunci mobilnya yang tergelatak bersama ponselnya di nakas.
Dengan memakai pakaian santai dan simple, Ryan berlari lari kecil menuruni anak tangga, Zerena yang sedang menyuapi Aulian di ruang keluarga.
Zerena memperhatikan suaminya berlalu di hadapannya, tanpa melihatnya sedikitpun.
Dada Zerena berdenyut perih, tidak biasanya suaminya seperti tadi, ia memperhatikan pria itu sampai menghilang di balik pintu.
Perlahan Zerena meraba dadanya yang terasa panas, apa ada yang salah.
"Perasaan aku tidak melakukan kesalahan apapun, aku juga menyiapkannya makanan dan dia masih sempat makan!"
Apa dia sekarang sudah mulai berubah?
atau aku yang sudah tidak menarik lagi, karena sudah punya anak!"
Perlahan air mata Zerena menggenangi pipinya, dia mulai berasumsi sendiri menurut versi dirinya.
Sementara Ryan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang, menikmati hembusan angin yang menerpa wajahnya, ia sengaja membuka jendela kaca mobilnya.
Dia ingin menikmati waktunya sendiri, jalan jalan sendiri, atau mungkin makan sendiri.
Tanpa ia sadari sikapnya barusan, telah menyakiti hati seorang wanita yang sangat penting dalam hidupnya, wanita yang memberi warna hari harinya selama ini.
Sudah sejam ia berkeliling tanpa tujuan, sampai ia melihat seseorang sedang berjalan masuk ke dalam restoran, iapun meminggirkan mobilnya, lalu ikut masuk mengikuti orang tersebut.
"Hai, sendiri saja?"
ucapnya basa basi.
"Ya, seperti yang kamu lihat!"
Ucap orang itu yang ternyata seorang wanita cantik dan seksi,
Mekar.....
ya dia adalah Mekar, wanita yang selama ini tidak bosan bosannya mengejar Ryan, tapi anehnya, tanpa dikejar dengan sendirinya, Ryan datang menyerahkan dirinya.
Boleh aku duduk?"
Tanya Ryan selanjutnya.
"Tentu, silahkan?"
__ADS_1
Ucap Mekar dengan senyum bersinar penuh kemenangan, akhirnya impiannya yang selama ini jatuh bangun ia kejar kejar, hari ini bisa ia lihat dengan nyata.