
Hari ini Dion sangat bersemangat, pagi pagi ia sudah bangun dan mengepak semua barang barang bawaannya,
ya hari ini dia akan menemui orang tua Mita, dan melamar kekasih hatinya.
Setelah semua dirasa cukup, Dion turun dari apartemen miliknya, dia sudah memesan Taksi yang akan membawanya ke Bandara.
Sebelum ke bandara Dion menjemput Mita terlebih dahulu, Sipir taksi membunyikan klakson, membuat seorang gadis manis keluar dari rumah, dia memakai gaun berwarna kuning volkadot, dengan tali serut di bagian perutnya.
Dia tersenyum manis melihat kekasihnya sudah duduk menunggunya, dia masuk ke dalam dan duduk di samping Dion.
Taksi membawa mereka ke bandara, setelah sampai terdengar dari pengeras suara, pesawat yang mereka akan tumpangi akan segera berangkat.
Beberapa saat kemudian, pesawat pun terbang membawa mereka ke negara lain yang bernama Australia, orang tua Mita harus tinggal dan menetap disana, karena pekerjaan yang tidak bisa mereka tinggalkan.
Dion dan Mita berjalan membawa koper masing masing, sementara dari arah luar tampak sepasang pria dan wanita setengah baya, sedang celingak celinguk mencari cari keberadaan seseorang, yaitu putri semata wayang mereka.
Putri yang mereka tinggalkan demi untuk terus bisa menyekolahkan dan membuat hidup putrinya layak di mata teman temannya.
Wanita paru baya itu tersenyum, saat melihat seorang gadis berbaju kuning berjalan ke arahnya.
dia memeluk anak gadisnya, suaminya pun tidak ketinggalan.
"Papa, Mama....
Kenalkan Dion!"
Dion mengulurkan tangannya sambil menyebut namanya, sebagai seorang calon mantu, kesan pertama yang calon mertuanya lihat dari sosok calon menantunya adalah, dia pria dingin dan sangat irit bicara.
sama seperti Bosnya.
Mereka meninggalkan bandara menuju rumah orang tua Mita.
"Rumah yang sangat nyaman, ternyata di negara masih ada tempat yang asri seperti ini ya Ma?"
celoteh Mita sambil memakan camilan yang dibelinya di bandara tadi.
"Tentu saja ada, buktinya kamu sudah melihatnya, gadis cerewet!"
Ucap Mamanya Mita.
Mereka semua tertawa, melihat tingkah Mita yang konyol.
__ADS_1
Sekarang mereka sedang berada di meja makan, menikmati makan malam seperti sebuah keluarga yang utuh.
Selesai makan, Dion duduk bersama Papanya Mita, dia berusaha mencari kata kata yang harus ia ucapkan, untuk memulai pembicaraan, kalau dalam masalah perusahaan dialah jagonya, beda kalau melamar seorang gadis, apalagi langsung ke orang tuanya, otaknya serasa kosong dan hampa.
"Om, saya ingin membicarakan sesuatu dengan Om!"
Kata Dion memulai pembicaraan.
"Katakan Nak, ada apa?"
Jawab sang Papa, sambil menyesap kopinya.
"Emmm sebenarnya saya jauh jauh datang dari Indonesia, bermaksud ingin melamar, putri Om, saya mencintainya, dan ingin menikahinya!"
Ucapnya sambil bernafas lega, dia merasa sangat senang karena berhasil merangkai kata kata, walau tidak ada sisi indahnya, dipandang dari sudut manapun.
Papanya Mita memandang lekat lekat pria yang ada di depannya, dia kelihatan ragu, apa mungkin putrinya benar benar mencintai pria di depannya.
Dan bagaimana bisa putrinya yang cerewet bisa jatuh cinta pada seorang pria dingin dan sangat irit bicara seperti Dion, tampan sih iya, tapi dari segi sifat, dia tidak ada bagus bagusnya.
"Bagi Om, siapapun yang menjadi calon suami Mita tidak ada masalah, yang penting Mita mencintainya dan pria itu bisa membahagiakan putriku!
dan selanjutnya, kita tanyakan langsung kepada Mita saja, apa dia mau menikah dan bersedia menjadi istri Nak Dion"
Dion mengangguk, lalu mengikuti langkah Papanya Mita, bergabung dengan Mita yang sedang menonton TV di ruang keluarga.
"Kalian lagi ngomongin apa kok serius banget?"
Kata Mamanya Mita!
"Dion melamar anak kita, aku jawab terserah Mita saja, mau atau tidak jadi istri nak Dion!"
kata Papanya Mita, sambil menatap putrinya.
Mamanya Mita terdiam, jadi benar feeling-nya Dion adalah kekasih putrinya, dia dapat melihat tatapan lembut Dion kepada putrinya, selalu menjaga dan memberikan rasa nyaman untuk putrinya, itu yang Mamanya Mita lihat, dari pria muda di depannya.
"Mita, bagaimana apa kau menerima lamaran ini?"
Mamanya Mita bertanya kepada putrinya.
"Iya Pa,Ma....
__ADS_1
Mita mau jadi istri Kak Dion, sekarang juga boleh!"
ucapnya sambil mengedipkan sebelah matanya.
Papa dan Mamanya menganga melihat kelakuan anaknya yang sangat genit dan nakal, kelakuannya sangat berbanding terbalik dengan sikap Dion calon suaminya.
Padahal kedua orang tua itu ingin agar putrinya jual mahal sedikit, tapi kenyataannya Mita yang ngebet minta dikawinin.
Esoknya mereka berdua jalan jalan sebelum pulang, mereka ingin menghabiskan waktu yang tersisa untuk mengunjungi tempat tempat wisata di kota Sidney ini.
Bondi Beach adalah tempat wisata pertama yang mereka kunjungi.
mereka menyusuri sepanjang pantai, sambil menikmati keindahan alam yang sangat memanjakan mata.
Mita sangat senang, melihat Dion bisa tersenyum lepas, tapi pria itu ternyata sangat posesif, dia melotot ke arah pria pria bule yang memperhatikan Mita, dia melarang Mita menjauh darinya.
"Besok besok, kamu jangan pakai baju kekecilan kayak gitu, aku tidak suka mereka melihat tubuhmu!"
ucapnya sambil membuka switter uang dipakainya, lalu dililitkan ke pinggang Mita.
"Ayo kita pulang, sudah siang, nanti kita ke tempat lain lagi, kita ngebut biar bisa mengunjungi banyak tempat!"
Mita hanya mengangguk angguk seperti ayam, dia tidak banyak protes, uang penting tadi ia sudah selfie selfie, baginya itu yang penting, biar teman temannya pada iri melihatnya berada di pantai Bondi bersama pria Coolnya.
Hehehe...
Mereka meninggalkan tempat itu, dan mencari tempat yang menurut keduanya cocok, selanjutnya mereka berkunjung ke Taronga zoo.
kebun binatang yang menampilkan keindahan pelabuhan dan pusat kota, dan ikut menyaksikan pertunjukkan hewan.
Mita begitu bersemangat, menyaksikan indahnya kota Sidney dari sini, ini seperti di dunia fantasi.
Dia terus saja selfie dengan kamera ponselnya, dia sangat menyesal kenapa sampai lupa membawa kamera dari rumah.
tapi tak apa, kamera ponsel pun jadi, yang penting happy.
Langit sudah mulai gelap, akhirnya mereka pulang, "Besok kita lanjutkan sayang!"
ucapnya sambil mengacak-ngacak rambut Mita.
Gadis itu tersenyum sambil tertawa kecil, dia merasa seperti seorang ratu yang dimanjakan oleh Rajanya, walaupun Rajanya dingin dan datar gitu, tapi dia bersyukur karena Dion sangat peduli padanya.
__ADS_1
Keesokan harinya Dion membawa Mita ke Sidney Opera House, atau uang lebih dikenal dengan nama Gedung Opera Sidney, mereka ingin menonton pertunjukan idolanya, karena hari ini adalah hari terakhir mereka jalan jalan.
Puas disana Dion lagi lagi membawa Mita ke salah satu tempat paling terkenal di Sidney ini yaitu Royal Botanik Garden, taman indah yang luasnya mencapai 30 hektar, dengan berbagai macam tanaman dan pepohonan.