
Karena rekomendasi dari Alvin, akhirnya Lisa mendapat pekerjaan yang layak di tempat itu, walau Dion menentangnya, tapi karena Alvin ngotot, terpaksa jabatan Kepala Divisi diberikan kepada Lisa.
Lisa sangat bersyukur, dan berjanji akan bekerja dengan baik, karena sudah diberikan kesempatan kedua oleh Alvin.
"Tapi Mbak Lisa harus ingat satu hal, kalau Dion hanya memindahkan Mbak Lisa, menurunkan jabatan Mbak Lisa menjadi pegawai biasa, kalau aku bakal menghilangkan Mbak Lisa dari dunia ini!"
Lisa menunduk mendengar ucapan Alvin, dia tahu ketiga pria A_R Group ini, tidak pernah main main dengan ucapannya.
"Saya minta maaf Pak Alvin, sungguh saya khilaf waktu itu, saya hanya bermaksud..."
"Sudahlah, yang penting bekerja saja dengan baik, dan jangan terlalu ikut campur, jika memang bukan urusan Mbak!"
Ucap Alvin memotong kalimat Lisa, Lisa begitu bahagia, kedatangan Alvin bagaikan dewa baginya.
_Flashback on_
Alvin masuk ke ruangan manager, dengan wajah serius dia mulai menanyakan perihal keberadaan Lisa di tempat ini.
"Pak Manager, kenapa Anda menempatkan Mbak Lisa disana, hanya menjadi pegawai biasa, apa Bapak tahu dia adalah sekertaris pribadi CEO kami di kantor pusat?"
Manager itu terdiam sebenarnya memang ini salahnya, dia tidak menanyakan kepada orang yang mengantar Lisa kemari, lalu seenaknya dia menjadikan Lisa pegawai rendahan.
"Maaf Pak, tapi hanya lowongan itu yang kosong saat Nona Lisa datang kemari, Pak Dion hanya berpesan agar memberinya pekerjaan yang layak!"
"Jadi maksud anda, pekerjaan ini layak?"
Alvin melempar gelas di tangannya ke tembem di depannya, pecahan beling berserakan, membuat Manager gemetar ketakutan.
"Ternyata di balik senyum manisnya, yang selalu menghiasi bibirnya, tersembunyi aura gelap dalam diri Pak Alvin!"
Manager itu membatin, baru menyadari kalau Alvin tidak ada bedanya dengan Dion, kalau Dion lebih menampakkan sikap dinginnya, tapi Alvin berbeda, dia seperti psikopat, yang bisa berubah-ubah.
Saat itu juga Alvin mengumpulkan semua petinggi perusahaan dan mengadakan meeting mendadak.
Sebenarnya bukan meeting, tapi lebih semacam pemberitahuan.
Tak satupun dari mereka yang berani membantah keinginan Alvin, saat itu juga Lisa yang hanya pegawai biasa, diangkat menjadi orang yang penting di perusahaan itu.
_Flashback off_
Setelah semua urusannya selesai, Alvin berkemas untuk pulang ke Jakarta.
__ADS_1
"Mudah mudahan yang kulakukan sudah tepat, kalau sampai dia macam macam, tamat riwayatnya!"
¢ ¢ ¢ ¢ ¢ ¢ ¢ ¢ ¢ ¢ ¢ ¢
Hari ini Ryan pulang cepat, masih sore dia sudah sampai di rumah, membuka pintu kamar tapi tak mendapatkan sesuatu yang dicarinya, dia berjalan ke kamar mandi ingin membersihkan tubuhnya terlebih dahulu, lima belas menit berlalu Ryan keluar dengan wajah segar dan tubuh yang masih polos, hanya terlilit handuk di pinggangnya.
Setelah mengeringkan tubuhnya, dia mencari pakaian di lemarinya, sedikit merapikan rambutnya, lalu dia turun mau mencari istri dan anaknya yang entah kemana berkelana.
Diujung tangga, di dengarnya samar samar suara Zerena dan putranya sedang tertawa, "mungkin mereka sedang bermain."
Gumam Ryan kemudian.
Dia berjalan menghampiri mereka, dari jauh dilihatnya istrinya sedang duduk di karpet bulu bersama putra kesayangannya.
,
Anak itu sudah mulai belajar berjalan, walau hanya satu sampai dua langkah, tapi itu sudah membuat orang tuanya senang.
"Hai sayang Ayah cari kemana mana ternyata disini!"
Ryan meraih tubuh putranya menggendong dan memeluknya, rindu saat saat seperti ini, karena sangat jarang mereka bisa bertemu seperti ini, saat berangkat kerja, kadang Aulian belum bangun, dan saat pulang Aulian sudah tidur.
Banyak waktu yang dia lewatkan, sampai tak bisa melihat proses perkembangan anaknya.
Tanya Ryan tanpa menatap istrinya, sibuk memasukkan tangannya ke bungkus camilan di tangan istrinya.
"Entahlah mungkin kangen sama istrinya Kak!"
Zerena menaikkan bahunya sambil mulutnya terus mengunyah, sementara bayi gembul di depannya terus berusaha melangkahkan kakinya, dan kembali terjatuh.
Dengan cucuran keringatnya, dia terus giat belajar, tanpa mengenal lelah, yang lelah malah bundanya yang ketiduran di pangkuan sang Ayah.
Setelah lelah pria kecil itu akhirnya berbaring di karpet, di sisi Ayahnya, Ryan tersenyum melihat putranya yang basah dengan keringat.
Anak itu beringsut mendekat, seperti dia mulai cemburu melihat Bundanya tertidur pulas di pangkuan Ayahnya.
Dia merangkak mendekat, dan ikut membenamkan kepalanya di pangkuan sang Ayah, ikut berbagi dengan Bundanya.
"Kenapa sayang, Lian capek ya???"
Ryan mengambil botol susu anaknya, dengan cepat anak itu meraih dan mulai meminum ASI yang sudah dimasukkan Zerena ke dalam botol.
__ADS_1
Karena kekenyangan, anak itu ikut tertidur sambil memeluk Bundanya, pemandangan yang sangat indah bagi Ryan, melihat kedua orang yang dicintainya pulas tertidur.
Mbak yang menjaga Aulian datang, tapi Ryan menaikkan jari telunjuknya ke bibirnya, memberi kode agar tidak mengganggu pria kecilnya yang kecapaian setelah kerja keras.
Setelah tertidur cukup lama, Zerena akhirnya terbangun, Wajah tampan suaminya menjadi pemandangan pertama saat dia membuka matanya.
Zerena segera bangun, tahu kalau sudah sejak tadi dia tertidur di pangkuan Ryan, pasti pria itu sudah pegal pegal.
"Kak Ryan pasti capek ya?
kenapa nggak bangunin aku kak?"
"Siapa bilang, tubuhmu kecil begitu, mana mungkin membuat aku pegal pegal?"
Zerena tersipu malu, itu yang selalu membuat Ryan menjadi gemes, ingin rasanya menggigit pipinya yang bersemu merah.
"Kak, aku bawa Aulian ke kamarnya dulu!"
Zerena menggendong putranya menuju ke kamarnya, dia nampak kewalahan membawa tubuh putranya.
Setelah meletakkan putranya di tempat tidurnya dan memanggil Baby sister yang mengurus pria kecil itu, Zerena lalu keluar untuk menemui suaminya kembali, dia melihat Ryan sedang asyik menonton acara di TV.
Zerena melangkah ke dapur, membuat dua cangkir coklat panas, setelah selesai dia membawanya ke ruang keluarga, dimana suami nya berada.
Zerena tersenyum manis di depan suaminya, lalu memberikan coklat yang masih mengepulkan asap, Ryan menerimanya dengan senang, minum coklat sore sore sepertinya akan menyenangkan, apalagi ditemani seorang wanita cantik di depannya.
"Kak, bagaimana keadaan di kantor, apa masih panas??"
Ryan menoleh menatap Zerena, dia tahu arah pembicaraan wanita cantik itu, pasti menanyakan tentang kejadian beberapa hari yang lalu.
"Jangan khawatir, semua akan baik baik saja, semua yang tidak menyenangkan dan tidak sedap di mataku, akan ditata dengan baik oleh Dion, jadi tidak perlu kau pikirkan!"
"Maksud aku apa wanita itu dipecat lagi oleh Dion?"
Ucap Zerena kembali mencoba mengorek keterangan dari suami es baloknya ini.
"Tidak sayang, dia hanya dipindahkan, bagaimanapun juga Dion masih punya perasaan!"
Menyesap coklat yang sudah mulai hangat, lalu melanjutkan kalimatnya.
"Tapi kalau aku yang turun tangan langsung, aku akan melemparnya ke jalanan, karena sudah berani kepada putri kesayangan Danjaya"!"
__ADS_1
Zerena bergidik ngeri mendengar ucapannya,
"Ais sangat menakutkan orang ini!"