
Setelah puas bercerita mereka akhirnya naik ke kamar untuk mandi dan melaksanakan shalat Maghrib bersama, karena sudah masuk waktu Maghrib.
Selesai shalat Ryan mengajak istrinya keluar jalan jalan, dengan senang hati Zerena menyambut senang ajakan suaminya, karena memang sudah lama mereka tidak pernah keluar menikmati waktu berdua.
Setelah bersiap siap, Ryan dan Zerena menemui anak mereka terlebih dahulu, walaupun masih bayi, tapi mereka membiasakan diri untuk pamit pada putranya, agar kelak Aulian bisa mencontoh kedua orang tuanya
Ryan memegang tangan istrinya keluar dari rumah, para pelayan dan pembantu yang lain, tersenyum melihat Tuan dan Nona muda mereka terlihat sangat bahagia.
Dengan sabar Ryan membuka pintu mobil untuk Zerena, mempersilahkan sang Ratu masuk ke dalam tandu bermesin itu.😅
Ryan mengitari mobil dan masuk dan duduk di samping Zerena.
Sengaja ia menyuruh supir pribadinya untuk istirahat,karena dia ingin menikmati waktu hanya berdua dengan Zerena.
Sepanjang perjalanan Zerena mengoceh dan bercerita panjang lebar kepada Ryan, menceritakan segala yang dialaminya di kampus saat bersama Alvin dan Mita, kekonyolan kedua sahabatnya itu selalu menjadi hiburan tersendiri bagi Zerena.
Tak lupa dia juga bercerita tentang anaknya yang sudah mulai bisa berbicara walaupun hanya berkicau seperti burung, dan kerapkali Zerena mengajarinya dia akan menirukannya dengan versinya sendiri.
Tak terasa mereka sampai ke sebuah taman bermain yang ramai pengunjung, Zerena nampak sangat antusias.
"Kak kita turun, aku mau bermain disana!"
Ucapnya sambil menunjuk salah satu wahana permainan, Ryan tersenyum sambil mengelus kepala istrinya yang terbungkus pashmina berwarna maroon, serasi dengan rok tutu yang dikenakannya, sedangkan bajunya, Zerena hanya mengenakan kaos lengan panjang yang lengannya agak lebar, serta tidak lupa memasukkan baju tersebut ke dalam rok yang dikenakannya.
Penampilannya sangat manis, seperti ABG pada umumnya.
Zerena turun dari mobil, sesaat setelah Ryan memarkirkan mobilnya, dia menunggu Ryan yang sedang ikut turun dan mengikutinya, Ryan meraih tangannya digenggamnya tangan mungil itu, mungkin takut istri ya hilang di kota kelahirannya sendiri.
Ryan menyuruh istrinya duduk disebuah bangku, lalu dia beranjak untuk membeli karcis untuk Zerena dan dirinya sendiri.
Setelah semua lengkap, mereka menaiki semua wahana permainan satu persatu, tawa riang Zerena terdengar begitu syahdu di telinga Ryan, kebagian istrinya begitu dalam hanya dengan membawanya ke tempat seperti ini, yang notabene adalah tempat nongkrong masyarakat biasa, yang tidak mampu membayar kalau harus ke Mall mall yang elit.
Tak terasa sudah hampir dua jam mereka naik, lalu turun ke wahana permainan itu, tak terasa perut Zerena berbunyi nyaring menandakan dia sedang lapar dan minta diisi.
__ADS_1
"Kak, kita cari makan, aku lapar!"
Ucapnya begitu turun dari tempat permainan, Ryan mengangguk lalu menarik tangan istrinya menuju tempat parkiran, tempat dia menitipkan mobilnya.
Tapi Zerena menahannya, Ryan menoleh lalu menatap bingung ke arah istrinya.
"Katanya lapar?,
kita cari restoran untuk makan sayang!"
Zerena menggelengkan kepala, sambil menunjuk ke arah warung warung yang telah disediakan untuk para pengunjung.
Di sana berjejer warung yang disediakan panitia penyelenggara, Ryan memicingkan matanya, menatap warung warung yang menjual beraneka ragam makanan khas Nusantara.
Setelah mendekat, dia melihat sekelilingnya, barulah ia mau masuk ke salah satu warung yang ada di situ, setelah memastikan tempatnya bersih dan penjualnya kelihatan sehat dan tidak penyakitan.
Dasar orang kaya, mau masuk makan saja, harus melihat kebersihan tempat dan penjualnya dulu.
Semua menata memandang kagum pada pasangan pasutri tersebut, bagaimana tidak jadi pusat perhatian, seorang pria muda, tinggi, berkulit putih, dengan penampilan fashionable, menggandeng gadis cantik berhijab yang tak kalah dengan pria di sampingnya.
Setelah duduk, Zerena memanggil pelayan, karena kebetulan warung yang satu ini mengambil tema restoran, dengan menempatkan beberapa pelayan yang siap melayani pembeli.
Seorang pelayan datang ke meja mereka lalu menyerahkan buku menu dengan sopan ke arah mereka.
Diam diam pelayan itu mencuri curi pandang saat Ryan sibuk mencari menu yang ingin dipesannya, dia juga sibuk bertanya kepada istrinya.
Tapi beberapa saat Ryan sadar, kalau dari tadi pelayan itu menatapnya, walau Zerena tidak menyadari hal itu.
"Maaf tolong tulis pesanan saya, saya memesan Sup Kondro, dan.......
Ikan bakar bandeng, dengan sambil jeruk nipis saja, minumnya es teh!"
Zerena berbalik menatap suaminya, penasaran dengan pesanan suaminya itu.
__ADS_1
"Kak, sup kondro itu apa???"
Ryan tersenyum, sambil mengelus pipi istrinya, dia seolah ingin menunjukkan kepada pelayan itu, bahwa kau tidak ada apa apanya dibanding istri kecilku ini.
"Istriku sayang, yang cantik jelita, jadi sup kondro adalah makanan khas dari Makassar Sulawesi Selatan, bahan dasarnya biasanya tulang dan iga sapi!
lagi pula suamimu bukan koki, jadi tunggu makanannya dan kamu bisa melihat dan mencicipinya!"
"Kalau gitu aku pesan makanan yang dari Makassar juga ya Kak?
Mbak, tolong ya aku mau pesan Coto Makassar, dan.....
ikannya dan minumnya disamain sama suami aku!"
Pelayan itu, pamit setelah mencatat semua pesanan mereka, malu karena terciduk mencuri curi pandang, dan sempat tergoda dengan suami orang, wajar sih....
siapa yang tidak akan tergoda dengan pria yang begitu sempurna di depan mata, walau hanya mengenakan celana jeans biasa, dan kaos senada dengan istrinya, tapi ia masih sangat tampan, bahkan jauh lebih tampan saat menggunakan pakaian kasual.
Menunggu beberapa saat, pesanan mereka datang.
Dua mangkuk sup dengan isi yang berbeda, yang satu berisi tulang dengan daging dibiarkan masih menempel di luar tulang tersebut, dan yang satunya daging yang iris tipis tipis.
Aromanya sangat menarik dan menggoda iman, belum lagi ikan bandeng besar yang telah dibakar, menjadi teman sup tersebut, lalu nasi putih sebagai pelengkapnya.
Melihat makanan lezat tersaji di depannya, Ryan melupakan semua hal sedari tadi mengusik hatinya, apakah makanannya higenis?, apa koki yang membuatnya terjamin kesehatannya?, Apakah bahan makanannya tidak mengandung zat zat yang beracun, dan masih banyak lagi pertanyaan pertanyaan yang bermunculan di otaknya.
Zerena uang melihatnya, menatapnya malas, "Tadi saja banyak protesnya, tapi begitu makanannya datang, yang paling duluan menyantap dia juga!"
Ryan meracik sup konro di depannya, dengan sambel, kecap, dan perasan jeruk nipis, merasai apakah sudah pas di lidahnya atau belum.
Setelah dirasa pas, dia menyendok kuah sup tersebut beserta isinya ke piring yang berisikan nasi putih.
Dia mengangguk anggukan kepala, merasai makanan uang konon kabarnya sangat terkenal enak di daerahnya, dan orang orang yang datang untuk berkunjung ke salah satu kota di Indonesia bagian timur itu, rela merogoh kocek dalam dalam untuk menikmati rasanya uang memang sangat luar biasa, bumbu yang meresap pada tulang tulang dan daging yang menempel, memiliki rasa yang unik dan dijamin setelah ini Ryan pasti akan mencari di mana dia dan istrinya nanti, bisa medapatkan makanan ini.
__ADS_1