
Beberapa bulan telah berlalu, hubungan pengantin baru itu semakin romantis saja, sampai suatu hari Mita membuat heboh seisi rumah.
Saat sarapan pagi tiba tiba saja Mita mual dan muntah di meja makan, lebih tepatnya muntah di kemeja suaminya.
Dion melotot ke arah Mita, saat ini dia sudah rapi karena ada meeting pagi pagi dengan para staf kantornya.
Tapi sang istri telah mengotori pakaiannya, belum sempat ia menegur Mita, tiba-tiba wanita muda itu sudah berlari mencari toilet terdekat dari ruang makan.
Untung saja di dapur ada toilet, Mila buru buru masuk dan memuntahkan seluruh isi perutnya, Dion mengikuti dari belakang bukan karena khawatir tapi karena sedikit dongkol, ia ingin menasehati istrinya agar tidak seperti itu lagi.
Tapi sudah beberapa menit Mita tidak keluar keluar juga dari toilet, membuat Dion mulai gelisah.
Dia mulai mencoba mengetuk pintu kamar mandi, berharap istri ya segera keluar dari sana.
"Sayang, kamu masih di dalam kan?
tidak kenapa kenapa kan?"
ucap Dion mulai panik.
Dion mendorong pintu dengan kuat karena mengira pintu terkunci dari dalam, disana istrinya tergeletak sedang pingsan.
Dengan cepat dia menggendong istrinya menuju ke kamar, lalu menelpon orang tuanya yang keluar pagi pagi entah kemana, dan menghubungi dokter keluarga mereka.
Orang tua Dion datang dengan wajah cemas, tak lama setelahnya dokter pun datang dan memeriksa keadaan Mita.
"Istri saya sakit apa Dok?
tadi dia muntah lalu pingsan!"
ucap Dion sambil memperhatikan wajah istrinya yang pucat.
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, ini biasa terjadi pada wanita yang sedang hamil muda!
Kata dokter itu sambil tersenyum.
"Apa Dok, istri saya hamil?"
Tanya Dion tertawa, dilain pihak air mata berjatuhan di pipinya.
"Ya, istri anda hamil muda, tolong dijaga dengan baik karena masih sangat rentan terhadap sesuatu, saya bikinkan resep obat obatan, nanti segera ditebus!"
ucapnya sambil menyerahkan secarik kertas.
Dokter pamit, dan meninggalkan keluarga yang sedang berbahagia itu.
Perlahan Mita mulai membuka matanya, dia bingung karena suami dan kedua mertuanya berada di kamar.
Mami Dion memeluk menantu kesayangannya, dia menangis karena bahagia, Mita yang tidak tahu hal yang sebenarnya jadi bingung.
"Mami, kok nangis, Mami kenapa?"
ucapnya dengan wajah linglung.
"Sayang, terimakasih sudah memberikan kebahagiaan buat kami, terimakasih sudah bersedia menampung cucu Mami di perut kamu!"
Ucap Mami Dion sambil mengelus pipi Mita lembut.
__ADS_1
Mita bengong mendengar penuturan orang tua suaminya.
"Hamil?
jadi aku hamil?"
ucapnya sambil mengelus perutnya yang masih rata.
"Udah dong Mi, jangan dipeluk terus menantu kita, biarkan dia istirahat!
Dion temani istrimu batalkan semua kegiatanmu jari ini!"
Ucap Papi Dion tegas
sambil menggandeng tangan istrinya keluar dari kamar.
Setelah orang tuanya keluar Dion mendekat, mengecup kening istrinya lalu membaringkannya di kasur.
"Sayang, kamu istirahat yang banyak, maaf karena aku kurang peka soal kehamilan kamu!"
Mita hanya tersenyum sambil menutup matanya karena masih terasa pusing.
°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°
FLASHBACK OFF
Dion menggelengkan kepalanya sambil tersenyum, mengingat kisah cintanya dengan Mita, kini tak lama lagi dia akan menjadi seorang Bapak.
"Dion, kalau gitu aku pamit dulu!
ucap Ryan sambil menggendong putranya, dan menggandeng lengan Zerena berlalu dari tempat itu.
Dion hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan sahabatnya yang dingin dan tak pernah berubah itu.
"Kak Dion, kita pulang juga yuk, aku pegel seharian duduk terus!"
ucap Mita bergelayut manja di lengan Dion.
Dion tersenyum sambil mengelus kepala istrinya, dia benar benar bahagia bersama wanita yang sangat dicintainya.
Sementara Ryan sudah duduk di belakang kemudi mobilnya, dengan istri dan anak di sampingnya.
"Sayang, kamu udah nggak ada yang mau disinggahi, kalau masih sekalian aja!"
Ucapnya sambil menatap sayang kepada istrinya.
"Nggak ada Kak, kita pulang aja, kasihan Aulian!"
Ucapnya sambil mengelus putranya yang sudah tertidur.
"Ya udah kita pulang, terus bikin adik buat Aulian!
kata Ryan sambil menaik turunkan alisnya.
Zerena menatap Ryan jengah, kalau sedang berdua pria es balok itu tiba tiba bisa mesum gitu.
Sementara sebuah mobil tanpa sepengetahuan keduanya sedang mengikuti mereka dari tadi.
__ADS_1
"Aku harus tahu rumah Ryan, dengan begitu aku bisa masuk dengan mudah di dalam keluarga mereka!"
Batin sang pemilik mobil, yang tidak lain adalah Mekar.
"Kamu tidak tahu Ryan, aku bisa melalukan apa saja untuk mendapatkan sesuatu yang kuinginkan!"
Dia berhenti beberapa meter dibelakang mobil Ryan, dia menatap mobil di depannya dengan cermat.
lalu beralih ke rumah milik Ryan dan Zerena, setelah mengambil gambar dari kamera ponsel, dia meninggalkan tempat itu untuk menjalankan rencana selanjutnya.
Sementara Ryan memasukkan mobilnya ke dalam halaman rumah setelah melirik mobil hitam di belakangnya, dia sudah menduga wanita itu pasti akan mengikutinya, karena dia tadi sempat melihat Mekar di restoran, hanya saja dia tidak ingin merusak acara pertemuannya dengan sahabatnya.
"Sayang, kita shalat Maghrib berjamaah ya, aku mandi dulu di kamar Aulian, kamu mandi cepatnya di kamar kita!"
Kata Ryan sambil melenggang masuk ke dalam kamar putranya.
Sementara Zerena mengangguk, dan melangkah masuk ke kamarnya untuk mandi seperti kata suaminya.
Selesai mandi keduanya shalat bersama, mereka tidak pernah lupa bersujud kepada sang Khalik pemilik hidup dan mati.
Sekarang keduanya duduk di Sofa sambil bercakap cakap.
"Aku harus membicarakan ini kepada istriku, walau dia wanita tapi tidak bisa dianggap sepele, bisa saja dia membahayakan nyawa istri dan anakku!"
Batin Ryan.
"Sayang.....
tadi kamu melihat mobil hitam yang mengikuti kita di restoran sampai di depan rumah?"
Zerena mengangkat wajahnya dan mulai tegang, rahangnya mengeras.
karena dia sama sekali tidak menyadari kalau mobil mereka diikuti dari belakang.
"Siapa yang mengikuti kita Kak, kok kakak nggak ngomong saat di mobil?"
Tanya Zerena.
"Kakak tidak mau membuat kamu panik, bagaimanapun kamu tidak ada sangkut pautnya dengan orang orang yang ingin berbuat jahat ke kakak!"
"Kakak memberitahumu agar kamu dan anak kita bisa lebih berhati hati, besok pagi aku akan menelpon Alvin, dan menyuruhnya segera pulang, agar bisa menjaga kamu dari jarak jauh!"
Ucap Ryan sambil memeluk wanita yang kini telah menjadi istri dan Ibu dari anaknya.
"Tapi siapa yang berbuat seperti itu lagi Kak?
Kok banyak amat orang yang nggak suka sama kita, padahal kita nggak pernah ganggu hidup mereka lho!"
Ujar Zerena.
"Dunia bisnis memang seperti itu, tidak semua orang akan menyukai kita, bahkan orang yang paling dekat dengan kita pun bisa berubah jadi musuh!"
Ryan menarik nafas panjang, sebenarnya ia lelah dengan teror teror yang setiap saat mengancam keluarganya.
Andai saja semua bisa seperti yang diinginkannya, pasti akan lebih mudah.
Tapi Zerena pasti tidak mau kalau setiap hari hanya terkurung di rumah, dan hanya menjadi Ibu rumah tangga, dia masih muda dan masih banyak yang ingin dia wujudkan.
__ADS_1