
Zerena berlari menghampiri Ryan, pria itu tampak semakin gagah dengan kacamata hitamnya, kemeja pas body yang melekat di tubuhnya yang atletis membuatnya semakin mempesona.
Ryan tersenyum hangat saat melihat istrinya berlari ke arahnya dan masuk ke dalam dekapannya.
"Hai, dasar tidak tahu malu, ini di tempat umum sayang!"
Kata Ryan sambil terkekeh, awalnya dia yang ingin marah dan protes, tapi jadinya malah Zerena yang terbakar api cemburu.
"Sekarang Kakak masuk, aku nggak suka lihat mereka pada jelalatan melihat Kak Ryan!"
Ucapnya sambil mendorong tubuh suaminya masuk ke dalam mobil.
Zerena pun ikut masuk, sementara Ryan menelpon anak buahnya untuk mengambil mobil istrinya di rumah sakit.
Mereka berdua masuk ke sebuah cafe, Ryan yang selalu sibuk dengan pekerjaan kantornya, sedangkan Zerena yang selalu sibuk juga dengan kegiatan magangnya, membuat keduanya sampai tidak ada waktu untuk bersama.
Kalau sudah seperti itu, disitulah kadang kadang pelakor dan pebinor akan dengan mudah masuk, dan menyingkirkan sang pemilik yang sah.
Tapi tidak dengan mereka berdua, karena Zerena selalu menunggu kepulangan suaminya, bahkan kadang dia keluyuran ke kantor, saat pulang magang.
Kedatang mereka ke cafe itu, membuat seluruh perhatian pengunjung tercurah hanya untuk pasangan itu, bagaimana tidak, keduanya tampan dan cantik.
Mereka menghabiskan waktu sampai hari menjelang malam, mereka pulang karena mengingat putra mereka juga membutuhkan mereka di rumah, jangan sampai mereka menganggap Baby sister, dan Bi Nani serta Pak Udin adalah orang tuanya.
Dari dalam mobil hitam, seseorang sedang mengamati Ryan dan Zerena yang sedang bergandengan tangan keluar dari cafe, dia adalah dokter Alief.
Dokter Alief sangat penasaran, siapa pria yang telah menjadi suami wanita yang dicintainya itu, menurutnya dia juga berhak untuk memiliki Zerena.
Dia mengikuti mobil Ryan dari belakang, dalam jarak aman, Ryan yang mengemudikan mobilnya melihat mobil hitam yang berada di belakangnya, seperti sedang mengikutinya.
Dia memperhatikan mobil itu, "sepertinya itu mobil yang dekat area cafe tadi, siapa orang itu?"
Rywn bermonolog sendiri, dia tidak memberitahu Zerena, takut istrinya khawatir.
Ryan mengirim chat ke Dion, menyuruh menyelidiki mobil hitam yang mengikutinya, dengan cepat Dion bergerak cepat, menyuruh orang kepercayaannya menyelidiki mobil hitam yang mengikuti Bosnya.
__ADS_1
Saat sampai di pintu gerbang rumahnya, mobil itu masih mengikuti walau masih di jarak yang lumayan jauh, tapi dia bisa mengamati dengan jelas pergerakan Ryan dan Zerena.
Mobil Ryan masuk ke saat Pak Udin membuka pintu pagar yang lumayan tinggi.
Sementara Dokter Alief mengawasi dari jauh, setelah memastikan Ryan dan Zerena telah masuk, diapun mendekat dan turun dari mobilnya.
Pak Udin yang akan menutup pintu, menoleh saat seseorang memanggilnya.
"Pak boleh saya bertanya, ini benar rumahnya Zerena Sanjaya?"
Pak Udin menoleh, sejenak dia menatap pria berjas putih di depannya.
"Maaf Pak, saya dokter pembimbing Zerena!"
"Oh maaf Den, iya benar ini rumah Non Zerena!
Silahkan masuk kalau memang ada yang kepentingan!"
ucap Pak Udin dengan sopan.
Setelah itu Alief pamit lalu masuk ke dalam mobilnya, Pak Udin termangu di tempatnya, seperti ada yang janggal dengan dokter muda itu.
Di dalam kamar, tepatnya di meja kerja Ryan yang ada di kamarnya, Ryan membuka laptopnya dan mengecek CCTV.
Dia tersenyum melihat pria yang sedang berbicara dengan Pak Udin, "Nekad juga orang itu, dia bahkan berani mengikutiku!"
"Dion, orang itu telah mengikuti aku sampai di depan rumah, cepat kau selidiki siapa dia, dan maksud tujuannya!"
Ucap Ryan diujung telponnya, bagaimanapun dia tidak terima, istrinya dikejar kejar pria lain.
Apalagi pria itu bertemu dengan Zerena setiap hari di Rumah sakit, pasti dia akan melakukan berbagai cara agar bisa membuat Zerena simpatik kepadanya.
"Kak, minum dulu!"
Zerena menghampiri Ryan sambil membawa secangkir kopi, Zerena merasa kasihan melihat suaminya, sudah di rumah saja dia masih sibuk bekerja, bahkan belum mandi dsn mengganti pakaiannya.
__ADS_1
Dia tidak tahu, bahwa suaminya seperti itu karena memikirkan keselamatan dirinya.
siapa yang tahu, dia akan mencelakai Zerena atau bahkan melakukan cara cara busuk untuk bisa dekat atau memiliki Zerena, yang notabene sudah menjadi milik Ryan.
Ryan mengusap wajahnya, dia benar benar pusing, kenapa ada saja manusia seperti itu yang diciptakan Tuhan, bukankah banyak gadis gadis di luar sana yang masih sendiri, kenapa harus istri orang?
"Kak, kakak melamun?
Ayo mandi dulu!"
Zerena menarik tangan Ryan dan membawanya masuk ke kamar mandi, perlahan dia mulai melepaskan pakaian suaminya satu persatu, dia tidak sadar kalau dia sedang membangunkan singa yang sedang tertidur.
Ryan menatap istrinya dengan tatapan mendamba, dia menangkap tangan Zerena yang telah selesai mengisi air di bathtub, Ryan langsung mengecup bibir mungil itu, Zerena tersentak karena perlakuan Ryan yang tiba tiba.
Ryan kembali menyatukan bibirnya dengan bibir Zerena, kali ini dia tidak lagi memberinya kecupan, tapi ciumannya sudah menjadi ******* yang panas.
Ryan mulai mencumbui setiap jengkal tubuh istrinya, sampai dia mulai mengangkat tubuh indah itu masuk ke dalam bathtub, Zerena hanya pasrah dalam rengkuhan sang suami.
Setelah dirasanya cukup, akhirnya Ryan mulai melakukan pekerjaan yang sesungguhnya, keduanya melakukan penyatuan dalam bathtub yang berisi air hangat, suara ******* menggema di dalam kamar mandi yang luas dan mewah tersebut.
Ryan, memberikan nafkah batin untuk istrinya, karena itu adalah hal yang sangat penting dalam hubungan suami istri, seorang istri memang jarang meminta, karena filosofinya wanita itu tidak akan pernah meminta, sekalipun dia sangat menginginkannya.
Zerena mendesah panjang, dsn mencengkram bahu suaminya, saat Ryan menghentakkan miliknya, dan mengeluarkan semuanya di bawah sana.
Bukan Ryan namanya, kalau dia hanya melakukannya satu kali, dia akan berusaha membujuk Zerena agar mengabulkan keinginannya, untuk melakukannya lagi dan lagi.
Badan Zerena serasa remuk, Ryan benar benar buas, sampai membuatnya terkapar lemah, akhirnya Ryan yang memandikannya, setelah keduanya telah membersihkan diri, Ryan menggendong istrinya keluar dari dalam kamar mandi.
"Mau aku gantikan pakaianmu hem?"
Zerena dengan cepat menggeleng, dan berlari menuju lemari, lalu mencari pakaiannya.
Dia mengambil piyama yang lengan panjang, lalu memakainya, sedangkan Ryan pun ikut memakai kaos dan celana bolanya.
Keduanya berbaring di kasur besar nan empuk miliknya, Ryan memeluk wanita yang selalu ia panggil dengan sebutan gadis kecil.
__ADS_1
Gadis kecil yang telah berubah menjadi seorang Ibu, tepatnya Ibu muda yang masih cantik dan tentunya seorang calon dokter.