
Ryan meregangkan otot otot punggungnya yang terasa kaku, dia melirik jam tangan branded yang melingkar di pergelangan tangannya, ternyata sudah masuk waktu Maghrib, dia bergegas meninggalkan pekerjaannya untuk menunaikan kewajibannya sebagai umat muslim.
Dinginnya air menyeruak masuk ke celah celah pori pori wajahnya, sesaat setelah selesai berwudhu, dia mulai melaksanakan shalat Maghrib walau tidak berjamaah bersama istrinya.
Selesai melaksanakan shalat, Ryan merapikan kembali pakaiannya, lalu bergegas keluar.
Hari ini karena terlalu sibuk dia sampai sampai tidak pernah mengirim pesan kepada Zerena apalagi menelponnya.
Saat tubuhnya sudah keluar dari ruangan rahasianya itu, nampak Lisa mengetuk pintu dari luar.
Ryan mempersilahkan Lisa untuk masuk, saat Lisa memasuki ruangan dia membawa nampan yang berisi teh hangat yang khusus dia racik sendiri demi si Big bos.
"Maaf Pak, ini saya buatkan teh hangat!"
ucapnya kikuk, takut bercampur satu, dia menggigit bibir bawahnya untuk mengurangi rasa takutnya.
"Apa saya menyuruh kamu membuatkan teh?"
Ryan berujar sambil membereskan semua tumpukan tumpukan berkas di mejanya.
"Lagi pula saya sudah mau pulang, lain kali tidak usah membawakan saya minum atau makanan, itu adalah tugas istri saya!"
Ryan berlalu dengan wajah dingin, dan tatapan membunuh, Lisa ketakutan dibuatnya.
Alvin yang memperhatikan dari jauh tertawa cekikikan, sepertinya dia baru saja mendapatkan tontonan menarik.
Alvin mengikuti Ryan dari belakang, dengan menggunakan mobil sport barunya.
"Wow.....
ini benar benar canggih!"
Alvin terus berteriak di jalanan dengan perasaan senang, dengan kecepatan tinggi dia melewati mobil Ryan.
Ryan tersenyum simpul saat mengetahui mobil yang meraung raung keras barusan adalah mobil milik Alvin.
Saat telah sampai dilihatnya mobil itu telah terparkir indah di depan pintu rumahnya.
Dan yang menjadi pemandangan yang memalukan adalah daritadi dia menggedor gedor pintu rumah, tapi sang empunya sama sekali tidak membuka pintunya.
Ingin rasanya Ryan tertawa terpingkal pingkal, tapi demi imagenya dia berusaha menahan senyumnya.
"Kenapa Vin??"
Ryan pura pura tidak tahu, kalau Zerena sedang mengerjai sahabatnya.
"Bang.....
daritadi aku gedor gedor pintu, tapi tidak ada satu pelayanpun yang mendengarnya,
masa iya jam segini sudah pada tidur?"
__ADS_1
"Ahh masa???
Alvin semakin kesal mendengar jawaban Ryan, sepertinya pria angkuh dan dingin itu telah sekongkol dengan istrinya.
Ryan lalu mengambil handphone miliknya lalu menelpon Zerena.
"Sayang....
buka pintunya!!!"
Lalu dengan sekejap mata pintu terbuka, tampak dibalik pintu Zerena tersenyum manis menyambut kepulangan suaminya, diambilnya tangan suaminya lalu menciumnya, reflek Ryan memegang kepala Zerena lalu mengecup puncak kepala istrinya.
"Bermesraan terus, lupa kalau disini masih ada orang, woi!"
Alvin menarik kedua orang itu masuk ke dalam rumah, pemandangan barusan membuatnya sangat kesal.
"Apa kalian tidak sadar disini masih ada pria suci haa?"
ucapnya sok drama, membuat Ryan dan Zerena saling berpandangan.
"Emang ngapain ke rumah orang malam malam, bukannya pulang ke rumah sendiri?"
perkataan Zerena semakin membuatnya kesal, dia melangkah menuju meja makan, karena daritadi perutnya sudah keroncongan minta diisi.
"Aku lapar mau makan dulu, silahkan kalau kalian mau ikut makan!"
Dasar Alvin, benar benar tidak punya urat malu, yang punya rumah siapa, yang nyuruh makn siapa?
Kedua suami istri itu hanya menggelengkan kepala melihat kelakuannya.
Dia harus menjaga Zerena sepanjang hari selama di kampus, dan memastikan Zerena sampai di rumah, tanpa kurang suatu apapun.
Setelah itu dia lanjut lagi ke perusahaan, dan lagi lagi harus membantu Ryan dan Dion, dengan sejumlah angka angka dan huruf huruf yang menari nari di layar laptop dan berjejer di berkas berkas laporan perusahaan.
Kalau begini keadaannya, lama lama Alvin bisa botak sebelum waktunya, dan matanya bisa rabun sebelum umurnya tua,hehehe....
Zerena mengambilkan makanan untuk suaminya, sementara Alvin mengambil makanannya sendiri, tidak ingin bercanda dengan Ryan, karena dia tahu pria itu memiliki tingkat rasa cemburu yang tinggi.
Alvin masih waras, dan tidak ingin berakhir tragis di kolam buaya, menjadi makan malam mas mas buaya, peliharaan Ryan the geng.
Alvin bergidik ngeri sendiri, mengingat suami sahabatnya itu yang penu misteri, tapi bukan misteri ilahi lho ya!
ups.🤭🤣
"Bang.....
Tadi Dion kemana, kok pulag cepat banget hari ini?"
Ucap Alvin di sela sela makannya, tapi Ryan hanya mengangkat bahunya, tanda tak tahu menahu.
Alvin memutar bola matanya malas, orang ini benar benar bikin kesal diajak bicara.
__ADS_1
Sekarang Alvin fokus memakan makanannya, ayam bakar dengan sambel terasi dan lalapan menjadi menu favoritnya, untung saja Zerena membuat banyak, jadi cukup untuk mereka makan bertiga.
Ryan memang sangat menyukai masakan istrinya, makanan apapun yang dimasak oleh Zerena akan menjadi menu makanan favoritnya.
Baru saja Alvin selesai makan, tiba tiba Handphonenya berdering, dilihatnya ternyata yang menelpon adalah Dion.
"Apa masih ada pekerjaan yang belum beres?"
Pikir Alvin, sambil menekan tombol hijau pada layar Handphonenya.
"Iya ada apa Dion?"
Ryan dan Zerena yang juga telah makan, menoleh dan memberi kode. kepada Alvin, tapi Alvin hanya memberi isyarat dengan jarinya kepada Zerena, karena masih mendengarkan Dion di seberang sana.
Tak lama setelah panggilan telepon telah putus, Zerena yang penasaran kembali bertanya.
"Vin,
Dion kenapa menelpon kamu malam malam?
Apa ada sesuatu yang terjadi?”
Zerena terus menggempur Alvin dengan pertanyaan pertanyaannya, sementara Ryan hanya menyimak dengan wajah dinginnya.
"Benar benar sangat menyebalkan mimik muka orang ini."
Alvin masih sempat mengumpat dalam hatinya,
saat melirik ke arah Ryan.
"Jadi hari Minggu nanti Dion akan membawa Mita untuk berobat."
"Emang Mita sakit Vin, kok aku nggak tahu?"
Kata Zerena mulai khawatir dengan keadaan sahabatnya, bagaimanapun juga mereka adalah 3 sahabat yang selalu saling menjaga dan mendukung satu sama lainnya.
"Ya aku cerita ke Dion, tentang keadaan Mita satu Minggu belakangan ini, karena aku khawatirkan Ren, dia kayak gitu!"
"Terus...?"
lagi lagi Zerena bertanya kepo.
"Tapi yang menjadi masalahnya Ren, Dion mau membawa Mita berobat ke orang pintar alias dukun!
Aku nggak habis pikir kenapa bisa bisanya orang terpelajar dan berpendidikan tinggi seperti Dion, masih percaya pada dunia perdukunan."
"Apa ke dukun?
terus Mita mau gitu???"
Alvin mengangkat kedua bahunya, dia memijit pelipisnya, pusing memikirkan kekonyolan Dion.
__ADS_1
Ryan berusaha menutup mulutnya, agar tawanya tidak meledak di tempat itu, dia berjalan buru buru ke atas, dengan alasan kebelet.
Dan kedua sahabat itu percaya begitu saja, Ryan tertawa terpingkal pingkal begitu sampai di kamarnya, untung saja kamarnya kedap suara jadi tidak seorangpun uang mendengarnya.