
Wanita cantik itu berdiri di depannya, dengan bayi tampan yang bertengger lucu di pinggangnya.
Ryan mundur beberapa langkah, meneguk salivanya sendiri, wanita yang memenuhi isi kepalanya kini sedang berdiri di depannya.
Dia mengulurkan tubuh bayi tampan itu ke dada Ayahnya, Ryan reflek memegang dan menggendong putranya agar tidak terjatuh, dengan cekatan anak itupun memegang bahu Ayahnya dan memeluknya erat, seperti tahu kalau Ibunya sedang marah.
"Dasar pria tidak tahu diri, habis memarahiku, sekarang meninggalkanku, kau ingin membuat aku janda???"
Dengan emosi Zerena terus melangkah di depan suaminya yang sedang berjalan mundur.
"Kau senang sekali sepertinya haa?"
pukulan keras mendarat di lengan Ryan, tapi Ryan tergelak mendengar perkataan istrinya.
"Aish aku pikir dia sudah tidak marah lagi, ya sudah aku mengalah saja dulu, mungkin lagi PMS makanya dia sensitif begitu!"
"Aku minta maaf sayang, aku hanya kangen dengan rumah kita makanya aku kemari, dan mau melihat apa Pak Udin dan Bi Nani merawatnya dengan baik."
Zerena mencoba mencari pembenaran melalui sorot mata suaminya, setelah itu dia melangkah menuju ke kamar yang biasa mereka tempati bertiga.
"Kamu kemari dengan siapa?"
Suara Ryan kembali terdengar di telinga Zerena, suara yang dia rindukan seharian tapi malah menghilang tak ada kabar, untung saja Zerena menyimpan nomor ponsel Bi Nani, jadi dia bisa menghubunginya, dan menanyakan Ryan.
"Aku sendiri, lagian Aulian nggak rewel kok jadi gampang bawanya!"
"Ngapain dibawa, katanya mau bebas??"
Kata Ryan sambil menaik turunkan alisnya dengan senyum manisnya. to
"Mau bebas ngapain coba??
__ADS_1
dasar mesum!!!"
Zerena memukul dada Ryan dengan keras.
Zerena mendengus, masih ada rasa jengkel melihat Ryan, dia mengambil handuk lalu masuk ke kamar mandi, seharian berpikir membuatnya lelah gerah.
Masih banyak pertanyaan yang sebenarnya ingin mereka berdua selesaikan dan bicarakan, tapi demi menghindari pertengkaran mereka kompak tidak ada yang mau memulai untuk duluan membahasnya.
Walaupun dalam hati Ryan sudah bisa mentolerir semua keinginan istrinya, biarlah dia mengintai istrinya dari jauh, maksudnya menyuruh orang mengawasi istrinya.
Selama istrinya di kamar mandi Ryan melakukan panggilan video call dengan Dion dan Alvin, dia meminta kedua orang kepercayaannya itu menghandle semua urusan di perusahaan selama satu Minggu ini, karena urusannya belum selesai.
Begitu ia selesai Zerena keluar dari kamar mandi dengan handuk yang hanya menutupi bagian tengah tubuhnya, dan handuk kecil yang melilit rambutnya yang basah.
Ryan menghampiri Aulian yang sedang bermain robot robotan di lantai, dibukanya pakaian putranya sampai yang tersisa hanya popoknya yang sudah penuh dan sudah berat untuk anak itu bawa kesana kemari, pantas saja dia lebih memilih duduk saja dari pada berjalan.
Dia membawa Aulian masuk ke kamar mandi, menyiapkan air hangat untuk putranya, setelah sabun cair dan dan semua hal hal yang perlu untuk dimasukkan ke dalam bathtub, dia memasukkan Aulian kesana, anak itu tertawa riang sambil bermain air, setelah puas barulah ia membersihkan tubuh putranya dan menggendongnya keluar, setelah membungkus tubuh anak itu dengan handuk.
Aulian memeluk Ayahnya dengan mata berkaca kaca, bibirnya sudah diet menahan tangisnya, Zerena yang melihatnya mendekat lalu mengambil Aulian dari gendongan Ayahnya.
Aulian menarik narik ujung handuk yang dipakainya sambil terisak, mata Zerena melotot ke arah Ryan, bagaimana anak tampannya tidak menangis Ayahnya yang bodoh ini memakaikan handuk berwarna pink di tubuhnya.
Ryan menatap Zerena bingung, karena dia merasa tidak melakukan apapun, dan sudah memandikan putranya dengan baik dan benar.
"Kak, dia ini laki laki, bukan anak gadis, kenapa malah mengambilkan handuk yang berwarna pink, di sanakan banyak handuk selain warna pink?"
Ehhh rupanya anak itu menangis, karena Ayahnya salah ngasih handuk, Ryan yang berusaha menyenangkan hati sang anak malah berujung drama.
"Sejak kapan anak yang akan berusia 12 bulan beberapa hari lagi, mengerti soal warna!"
Ryan memijit pelipisnya bingung.
__ADS_1
Zerena segera menyingkirkan handuk dan memakaikan popok dan pakaian untuk putranya.
Sesekali anak itu berbicara memanggil Ayah atau Bunda, Oma dan Opanya, terdengar lucu bagi yang mendengarnya.
Setelah rapi Ketiganya turun setelah sebelumnya sudah shalat Maghrib dulu, dan Ryan menemui Bini Nani di belakang.
"Bi, Bibi masaknya buat Bibi dan Pak Udin aja, saya dan Zerena mau keluar dulu, nanti kami pulang kok!"
ucapnya sambil tersenyum tulus ke arah Bi Nani.
Bi Nani menatap kepergian majikannya, dia sangat bersyukur sekali, karena memiliki majikan sebaik mereka, selama beberapa bulan mereka tidak tinggal disini, tapi mereka tetap mengirim kan gaji tiap bulan dan uang belanja bulanan, bahkan uang belanja yang dikirimkan tidak main main, bisa untuk makan anak panti sebulan penuh.
Pak Udin kadang ke kantor untuk mengembalikan sisa uang belanja yang masih menumpuk banyak, karena takut kalau dibilang makan uang korupsi, tapi Ryan selalu aja menolak dan menganggap itu sudah kewajiban dia karena telah mempekerjakan kedua suami istri itu.
Malam ini, Ryan membawa istri dan anaknya ke restoran yang khusus menunya ada bebek geprek goreng, wah mantap banget itu, ditambah sambel goreng terasi yang ektra pedas, dijamin deh, Zerena bakal lupa kenyang.
Zerena akan khilaf makan saat Ryan membawanya ke tempat yang menyajikan Bebek goreng, asal jangan bebek goyang, karena bisa berabe tuh!
Sambil menunggu pesanan datang, Zerena merapikan pakaian putranya, yang sibuk bermain robot robotan yang dibeli Ryan dipinggir jalan saat menuju kemari.
Anak itu sangat senang membongkar pasang apapun mainan yang dipegangnya, mungkin saat besar nanti anaknya akan jadi seorang montir, yakni montir ganteng pastinya.
"Ya enggaklah masa iya, anak seorang CEO jadi montir, dengan tangan yang menghitam dan wajah berminyak karena oli!"
Batin Ryan yang menatap putranya yang serius membongkar mobil mainan yang dibelikan oleh Ayahnya setengah jam yang lalu.
Tidak lama makanan yang mereka pesan pun datang, nasi putih yang mengepulkan asap, bebek geprek dengan sambel goreng terasi pastinya, lalu sayuran sebagai lalapan, dan sup ayam tentunya.
Zerena segera mencuci tangannya, sebelum dia uang makan, dia menyuapi terlebih dahulu putranya, dia memang sudah mengajarkan putranya memakan makanan yang biasa ia dan keluarganya konsumsi sehari hari termasuk makan bebek geprek.
Ryan menunggu Zerena selesai menyuapi putranya, dia tidak ingin makan duluan, biarlah Aulian saja yang makan duluan, toh setelah itu Aulian akan kembali sibuk dengan urusannya membongkar semua badan robot robot di tangannya.
__ADS_1
Selesai sudah anak itu dengan acara makannya, kini giliran kedua orang tua itu yang akan makan tanpa gangguan dari sang montir cilik.
karena setelah ini banyak yang harus orang tuanya selesaikan, karena sampai sekarang mereka sepertinya masih belum baikan meski saling merindukan.ðŸ¤