
Jam sudah menunjukkan pada angka 3 dini hari, tapi Ryan masih mondar mandir di ruang kerjanya, yang masih menyatu dengan kamarnya, sesekali ia berjalan keluar untuk melihat istrinya yang tertidur nyenyak.
"Masa iya aku harus berbuat kasar pada perempuan, tapi kalau dibiarkan dia menjadi ular berbisa yang akan menebar racun di keluargaku!"
Gumam Ryan sambil terus berpikir keras.
Dia baru meninggalkan ruang kerjanya saat suara adzan berkumandang, perlahan ia mengambil air wudhu untuk segera melaksanakan shalat subuh.
Zerena menggeliat, meregangkan otot ototnya, dia menatap suaminya yang sedang melaksanakan shalat.
"Tumben Kak Ryan bangun duluan, dan tidak membangunkanku!"
batinnya.
Dia juga segera mengambil wudhu untuk melaksanakan shalat.
Saat keluar ia melihat suaminya sudah selesai, Ryan tersenyum manis di depan istrinya, lalu memberi isyarat kalau ia ingin tidur, karena semalaman belum pernah tidur sama sekali.
Zerena hanya mengangguk kecil, pertanda mengerti, ia buru buru shalat sebelum matahari benar benar muncul dari peraduannya.
Setelah merapikan semua peralatan shalatnya, Zerena melirik Ryan yang kini sudah tertidur pulas, nampak wajahnya yang begitu kelelahan.
"Apa pekerjaan di kantornya begitu banyak, sampai ia tidak tidur semalaman?"
Batin Zerena sambil mendekat dan menarik selimut dan menutup semua bagian tubuh suaminya.
Zerena berjalan keluar, lalu menuju ke kamar putranya, tampaknya pria kecil itu juga masih tertidur, Zerena tersenyum dan tidak mau mengganggu Aulian.
Zerena bergegas ke dapur, ia menyuruh bibi mengambil pekerjaan yang lain, sementara dia yang akan memasak untuk Ryan dan Aulian.
Matahari sudah menampakkan diri, tapi tidak ada tanda tanda keberadaan Ryan dan Aulian, Zerena melirik ke jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.
Ternyata sudah jam 8, tapi kedua pria itu belum juga menampakkan diri.
Zerena bergegas mengatur makanan di meja makan, lalu beranjak naik ke atas untuk melihat keberadaan suami dan anaknya.
Tapi di tangga ia berpapasan dengan mbak yang mengasuh Aulian,ternyata putranya sudah mandi dan berpakaian rapi.
Zerena berhenti sejenak dan berinteraksi dengan bayi mungil itu, setelah itu dia terus berjalan ke kamarnya, dia melihat suaminya masih terlena dalam dunia mimpinya.
"Ahh Kak Ryan masih tidur, sebaiknya aku mandi dulu!"
gumamnya lalu bergegas ke kamar mandi.
__ADS_1
Sementara, Ryan yang mendengar suara di kamar mandi jadi terbangun, dia melirik jam weker ternyata sudah jam 8.30.
Belum sempat ia bangun tiba tiba ponselnya berdering, ia menggapai benda pipih itu, dan melihat sia yang menelpon, ternyata yang menelponnya adalah wanita yang membuatnya gusar semalaman.
Bersamaan dengan itu, Zerena keluar dari kamar mandi, dan menatap aneh suaminya, yang memandangi ponsel yang terus menerus berdering di tangannya.
"Kok, nggak diangkat sih Kak, kalau penting gimana?"
Ujar Zerena yang melihat kelakuan suaminya.
"Malas, kalau yang nelpon ulat bulu kayak gitu!"
Ucapnya sambil melempar ponselnya ke kasur dan menarik handuk yang melilit di badan Zerena.
Tawanya menggema ke penjuru ruangan karena berhasil mengusili istri kecilnya itu.
Zerena terbelalak dengan wajah memerah menahan marah, tapi mau marah pada siapa karena pelakunya sudah lari masuk ke dalam kamar mandi.
Marah bercampur malu itu yang kini dia rasakan, suara ponsel yang terus-terusan mengusik indera pendengarannya menjadi sasaran kemarahannya, tanpa ba-bi-bu dia menggeser tombol hijau di ponsel itu tanpa melihat siapa yang menelpon.
"Pagi pagi bisa nggak tidak usah ganggu, kamu tahu suami saya melakukan apa?
dia menarik handuk yang melekat di badan saya, dan kamu tahu sekarang saya sedang bugil, ngerti kamu!"
Lalu dengan buru buru ia mengambil pakaiannya di lemari dan memakainya.
"Mati aku, tadi siapa yah?"
Gumamnya dengan nada khawatir, lalu kembali mengecek ponsel Ryan!"
"Syukurlah ternyata si ulat bulu, jadi nggak merasa malu aku!"
ucapnya sambil mengelus dadanya.
Serena tidak habis pikir, kenapa wanita itu seperti tidak ada capeknya mengganggu rumah tangganya, padahal di luar sana banyak pria singgle dan mapan, tapi kenapa harus suaminya.
Zerena menggelengkan kepalanya, sambil menata rambutnya di depan cermin.
Tidak lama Ryan keluar dari peraduannya, sambil nyengir kuda, karena tahu melakukan kesalahan sebelum masuk ke dalam ruangan sana.
Zerena menatap handuk miliknya, yang kini telah terlilit indah di tubuh Ryan, dengan mulut maju beberapa senti ke depan dia mendekat ke arah suaminya.
Sesaat dia terdiam di depan pria itu, dan tiba tiba senyuman licik terukir di bibirnya yang mungil.
__ADS_1
Ryan menautkan alisnya menatap istrinya, perasaannya mulai tidak enak, karena kalau Zerena sudah tersenyum seperti itu, maka sebentar akan terjadi sesuatu yang membahayakan tubuh dan nyawanya.
Tapi prasangka buruknya lenyap begitu saja, saat wanita muda di depannya itu tiba tiba mengelus dadanya yang bidang, lalu beralih mengelus rambutnya yang masih basah.
Beberapa detik kemudian Zerena telah menyatukan bibir mungilnya, dengan bibir Ryan yang masih basah.
Zerena terus memancing syahwat suaminya, dan memberinya rangsangan yang membuat pria itu lupa akan kesalahannya beberapa waktu yang lalu.
Ryan melenguh saat istrinya mulai memberikan kecupan dan gigitan kecil di leher dan dadanya, pria itu kehilangan akal.
Zerena terus menggencarkan aksinya, saat ini tangannya mulai bermain di bawah sana, onderdil Ryan terus dimainkannya.
Nafas Ryan memburu karena sentuhan2 Zerena, dia sudah tidak tahan untuk menuntaskan sesuatu yang telah Zerena ciptakan.
Tapi belum sempat Ryan meraih tubuh istrinya, tiba tiba wanita itu melepas pagutannya yang sedari tadi bermain main kesana kemari.
Dengan langkah seribu, ia berlari meninggalkan suaminya yang sedang mendamba itu.
Ryan benar benar terkejut dengan kelakuan istrinya itu, wajahnya memerah menahan nafsunya, bagaimana tidak, Zerena membuatnya melayang ke langit ke 7, lalu menghempaskannya begitu saja ke bumi, sakitnya tuh di sini!
Ryan berusaha menormalkan kembali keadaannya yang sangat memprihatinkan, untung saja imannya kuat, kalau tidak bisa saja dia jajan atau menghubungi si ulat bulu, demi melampiaskan hasratnya yang sudah di ubun ubun.
Zerena tersenyum ceria, saat menuruni anak tangga, di ruang tamu ia melihat pria yang selama ini sudah lama tidak ia lihat.
"Hai Ren, apa kabar??"
Sapa pria itu basa basi.
"Sangat baik Vin,
Lo darimana aja kok baru nongol?"
tanya Zerena balik bertanya.
"Ada deh, nggak boleh bilang bilang dulu!
Ucapnya sambil berlalu meninggalkan sahabatnya itu sendiri.
"Idih pelit banget jadi cowok!"
Sungut Zerena sambil menatap punggung Alvin yang semakin menjauh dari tempatnya duduk.
"Kok tiba tiba nongol aja tuh anak, kalau mau menghilang juga nggak bilang bilang, punya ilmu kali ya, bisa nongol dan hilang gitu aja!"
__ADS_1
Zerena terkekeh sendiri sambil menepuk jidatnya sendiri.