Suamiku Kakak Sepupuku

Suamiku Kakak Sepupuku
Bab 61


__ADS_3

Setelah menghabiskan makanannya, mereka keluar dari tempat itu, Zerena melihat jam tangannya, ternyata jam sudah menunjukkan angka 9, Zerena menyuruh Ryan mencari mesjid karena waktu Isya sudah lewat.


Ryan mengemudikan mobilnya dengan pelan, mencari Mesjid atau Musholla terdekat, setelah menemukan mereka mengambil wudhu lalu menunaikan tugasnya sebagai umat muslim.


Selesai mengerjakan shalat mereka kembali berkeliling, kini pandangan Zerena pandangan Zerena tertuju pada sebuah taman, tepatnya taman buatan yang dibuat khusus oleh penyelenggara.


Zerena mengajak Ryan ke sana, setelah mengambil karcis mereka masuk dan duduk di meja sesuai no yang tercantum pada karcis yang mereka beli.


Mereka membeli minuman botol dan cemilan sebelum duduk di sana, Zerena memilih tempat duduk yang berbentuk bangku panjang, dan mengarah ke sebuah tanaman tanaman hias, mungkin tanaman hias imitasi.


"Sayang, minum dulu!


Ucap Ryan sambil membuka penutup botol minuman dan memberikannya pada istrinya, Zerena tersenyum dan meminumnya sampai hampir setengahnya, Ryan tertawa kecil melihat istrinya yang kehausan, lalu meminum minumannya sendiri.


"Kak, lain kali kalau Aulian sudah pintar diajak jalan, kita kemari lagi, pasti dia senang sekali diajak kesini bermain."


"Hahaha....,


sayang, wahana semacam ini berpindah pindah, dari kota, ke kota lainnya, paling lama mereka hanya tiga hari."


Zerena menyandarkan kepalanya ke dada bidang suaminya, tempat yang paling disukainya, tempat yang membuatnya bisa tenang dan tertidur lelap.


Ryan mengelus puncak kepalanya, dan memberikan kecupan lembut di sana, membuat sang pemilik menengadahkan wajahnya sambil tersenyum manis.


Mereka sama sama terdiam menikmati irama jantung masing masing, melihat gemerlap lampu lampu taman, melihat indahnya tanaman tanaman hias, dan gelapnya langit malam


Mata elang Ryan, menangkap sesuatu di balik pohon, walau samar dia bisa memastikan orang itu sejak tadi mengawasinya.


Dengan cekatan, dia mengambil ponselnya dan mengirim pesan kepada seseorang, Ryan bukanlah orang bodoh, walau pergi hanya berdua dengan istrinya, tapi dia sudah memasang beberapa bodyguard di tempat tempat tertentu, yang tidak disadari orang lain, bahkan istrinya.


Setelah memasukkan kembali ponselnya, dia kembali memeluk istrinya.

__ADS_1


"Apa kau tertidur???"


Ryan menunduk menatap wajah cantik yang menggemaskan itu.


Mata bulat Zerena terbuka, mata indah itu selalu membuat Ryan terpesona, mata bulat dengan bulu mata lentiknya membuatnya sangat serasi dengan bentuk wajah yang agak bulat.


Terdengar notifikasi dari ponselnya, Ryan kembali mengecek ponselnya, sebuah pesan WA dari seseorang, itu yang dilihat oleh Zerena dengan ekor matanya, tapi tidak berniat untuk menanyakan langsung pada suaminya.


Zerena bangkit lalu memperbaiki duduknya, perlahan membuka cemilan yang dibelinya, sayang kalau tidak dimakan.


Bunyi kriuk kriuk dari mulut Zerena, menarik perhatian Ryan, dia pun memasukkan tangannya ke plastik pembungkus makanan olahan itu, "merasakannya ternyata tidak buruk!"


ucapnya, sambil menaikkan sebelah alisnya ke arah Zerena.


Tanpa terasa malam semakin larut, Ryan mengajak Zerena pulang, walau masih banyak pasangan muda mudi yang berseliweran, tapi lebih baik Ryan membawa Zerena menjauh dari tempat ini.


Sebelum masuk ke mobil Ryan kembali mengirimkan pesan ke orangnya, agar mengikutinya dari jarak aman, siapa tahu mereka macam macam.


Dia lalu mengambil ponsel dan menghubungi Dion.


"Dion, segera ke rumah sekarang, Alvin jangan lupa beritahu!"


Tanpa menunggu jawaban Dion, Ryan menutup panggilannya, dia mengemudikan mobilnya diatas kecepatan rata rata, untung saja Zerena sudah tidur, kalau tidak dia pasti akan berteriak dan menangis bagaimana tidak mobil itu suaminya mengemudikan mobilnya seperti seorang pembalap profesional.


"Kenapa dia bisa datang kemari, kurang ajar dia membuatku tidak tenang begini,aku harus waspada!"


Terdengar suara decitan ban mobil yang bergesekan dengan aspal jalanan, Ryan mengemudi dengan tenang tapi dengan kecepatan tinggi, siapa yang akan mengira bahwa sang pengemudi di dalam mobil tersebut bisa setenang itu.


Ryan bernafas lega saat mobilnya berhenti pas di depan pagar rumahnya, pak Satpam membuka pintu pagar, setelah mobil itu masuk pagar kembali tertutup dan dikunci oleh pak satpam.


Ryan menggendong tubuh Zerena yang sedang tertidur, sengaja tidak membangunkannya karena tidak ingin mengganggu tidur lelap istrinya.

__ADS_1


Dion dan Alvin berdiri saat dia masuk melalui pintu utama.


Ryan memberi isyarat agar menunggunya di ruang kerjanya, kedua pria tersebut melangkah meninggalkan ruang tamu menuju ke ruang kerja Ryan.


Di sana mereka duduk menunggu, entah apa yang terjadi kenapa tiba tiba dipanggil malam malam begini, Ryan tidak akan memanggil mereka kalau tidak ada yang darurat.


Sementara Ryan sedang membaringkan tubuh istrinya, kemudian berjalan ke arah lemari dan mengambil stelan baju tidur untuk istrinya.


Dengan lembut dan pelan pelan, dibukanya satu persatu pakaian Zerena, sampai yang tersisa hanya pakaian dalamnya saja, lalu menggantinya dengan baju tidur yang yang diambilnya.


Setelah semua selesai dia menyelimuti tubuh istrinya sebelum keluar, untuk menemui Dion dan Alvin.


Pintu terbuka, Dion dan Alvin menoleh, tidak mengerti kenapa tiba tiba bos dingin ini memanggil.


"Aku melihat seseorang, saat membawa Zerena ke taman tadi, aku yakin tidak salah orang, dia pasti sudah kembali!"


Dion dan Alvin saling menatap, tidak mengerti arah pembicaraan bosnya, tapi mereka tetap diam sambil memasang telinga masing masing.


"Dia adalah orang yang selalu datang dan ingin menghancurkan keluargaku, dulu kakekku dan kakeknya bersahabat, tapi semua berubah menjadi sebuah permusuhan, saat dia melihat bisnis kakek berkembang pesat, apalagi saat tahu kakek melebarkan sayap bisnisnya sampai ke Malaysia, dia sangat dendam tidak terima melihat kesuksesan kakek


Sampai suatu ketika, dia sengaja membuat mobil kakek dan nenekku kecelakaan, saat kami akan meninjau perkebunan sawit secara langsung.


Saat itu aku dan Zerena ikut dalam perjalanan itu, Kakek dan nenek tidak dapat diselamatkan,


tapi aku dan Zerena masih bisa diselamatkan oleh warga kampung di sekitar tempat kami kecelakaan.


Papaku Andre dan Papa Roy datang, mereka menyelidiki sampai tuntas siapa dalangnya, dan akhirnya mereka menemukan titik terang dan mengetahui bahwa sahabat kakek sendiri yang menyebabkan kematiannya.


Mulai saat itu Papa Andre dan Papa Roy mulai bekerja di bawah tanah, mencari orang orang yang bisa bergabung dan bekerjasama dengannya, sampai akhirnya karena campur tangan Papa, sahabat Kakek itu mengalami kecelakaan dan mobilnya meledak waktu itu.


Tidak ada yang tahu dalang dari kematian orang tersebut, tapi sampai sekarang putranya selalu beranggapan bahwa Papa yang menjadi dalang atas kematian orangtuanya.

__ADS_1


Tadi aku melihat, putranya sedang mengawasi aku dan Zerena, aku ingin kau perkuat penjagaan di rumah dan di perusahaan, dan Zerena jaga dia seketat mungkin, jangan sampai hal sama terjadi lagi!"


__ADS_2