Suamiku Kakak Sepupuku

Suamiku Kakak Sepupuku
Bab 138


__ADS_3

Mita tersadar dari lamunannya, sekarang ia telah berada di kamar mandi, dengan cepat ia mendorong tubuh Dion keluar, dengan pipi yang merona, malunya tuhh kebangetan.


Setelah Dion keluar, Mita mulai membersihkan seluruh tubuhnya, agar rasa pusing dan tak enak pada badannya segera menghilang.


Tidak menunggu terlalu lama, Mita sudah menyelesaikan ritual mandinya, matanya terasa semakin berat, mungkin pengaruh obat yang telah diminumnya.


"Kak.....!"


Mita memanggil Dion yang kelihatan sibuk dengsn ponsel di tangannya.


Dion menoleh, dia menyipitkan matanya melihat istri cantiknya keluar dengan wajah pucat, dan mata yang merah.


Dia juga melihat Mita bersandar pada dinding, untuk mempertahankan tubuhnya agar tidak jatuh.


Dion melempar ponselnya ke meja, dan bergegas menghampiri istrinya.


"Ternyata badannya panas!"


Batin Dion, lalu menggendong tubuh itu dan meletakkannya di kasur, setelah itu dengan telaten dia memakaikan pakaian ke tubuh Mita.


Setelah semua selesai, dia mengambil handuk kecil dan air hangat lalu mengompres kening Mita.


Wanita itu tampak menggigil kedinginan, tapi tubuhnya panas.


"Mungkin obatnya belum bekerja maksimal!"


Batin Dion, yang terus mengawasi istrinya.


Satu jam kemudian, dia kembali mengecek suhu tubuh istrinya, panasnya sudah mulai turun, dan dia sudah tidak menggigil lagi.


Dion menghembuskan nafas lega, dia juga ingin membersihkan tubuhnya dulu, biarlah malam pertamanya lewat, tidak mungkin dia memaksakan keinginannya pada istrinya yang sedang terkapar tak berdaya.


Dia mengambil handuk di lemari, dan berjalan ke kamar mandi, tidak lama ia telah selesai.


Tak mau berlama lama di sana, karena takut kalau istrinya kenapa napa.


Setelah memakai pakaiannya, dia juga ikut merebahkan tubuhnya di samping wanita yang kini telah menjadi miliknya seutuhnya.


Dengan lembut ia mengecup kening wanita itu, sebelum benar benar memejamkan matanya.


Sesekali masih terasa getaran di tubuh Mita, mungkin masih menggigil, Dion lalu mendekap dan memeluk tubuh langsing itu, agar tidak merasakan kedinginan lagi.


Kini hanya terdengar suara nafas yang teratur dua manusia yang tertidur pulas, tidak ada malam pertama, karena kecapean, membuat tubuh Mita drop, dan Dion pun sama tubuhnya sangat letih, butuh istirahat.


Kedua pengantin baru berjalan berdampingan masuk ke dalam rumah, orang tua mereka menyambut dengan suka cita.


Berharap proses pembuatan cucu mereka berjalan dengan lancar semalam.


"Bagaimana sayang apa semua berjalan lancar?"


Tanya Mami Dion tanpa sensor.


"Lancar ma!"

__ADS_1


jawab Dion dingin.


Dua pasang orang tua itu tersenyum bahagia, berharap tidak lama lagi akan lahir Dion atau Mita junior dianya mereka.


"Mam, aku antar Mita ke kamar untuk istirahat!"


Ucap Dion lagi tanpa memandang orang orang yang memperhatikan dia dan istrinya.


"Kak, kok bohong sih sama orang tua?


dosa tahu!"


Bisik Mita saat berjalan menjauh dari orang tua dan mertuanya.


"Biarin aja, emang kamu tega ngomong kalau kita nggak ngapa-ngapain semalam?


justru bisa bikin mereka sedih, dan bisa jadi penyakit mereka bakal kambuh karena syok!"


Balas Dion sok tahu.


"Emang kakak yakin mereka punya riwayat penyakit?"


Kembali Mita bertanya dengan wajah polosnya.


"Iyalah, mereka berempat sudah pada rawan, ibarat pohon udah mulai lapuk, jangan menyentuh mereka dengan kata kata yang bisa bikin mereka sedih, nanti bisa roboh mereka!"


Ucap Dion seakan menakut nakuti.


"Kamu istirahat dulu, badan kamu masih hangat, tadi kamu bilang kepalanya masih pening!"


Dion menoleh ke tempat tidur, melihat istrinya benar benar sudah terlelap dalam mimpi mimpi yang indah, percaya banget kalau istrinya mimpi indah!


Dion melanjutkan pekerjaannya, dia berkutat dengan laptop di depannya.


Setelah beberapa jam akhirnya Dion selesai juga, dia kembali menatap Mita tapi wanita itu masih tertidur juga, tampak peluh bercucuran dari keningnya.


Padahal AC masih menyala seperti biasa, tapi entah karena tubuh Mita yang drop atau karena efek obat dari dokter semalam.


Dia mendekat dan memegang tangan wanita itu, lalu berpindah ke keningnya.


"Normal normal saja, mungkin efek obat!"


batin Dion.


Lalu melangkah ke kamar mandi, rasanya tubuhnya gerah bekerja, ia ingin menyegarkan tubuhnya.


Selesai mandi dan berpakaian santai, dengan celana bola dan kaos longgar, dia keluar dari kamar.


"Cie cie yang pengantin baru!"


Ucap Mami dan Mama mertuanya kompak.


"Aish apaan sih Mam, jangan kayak gitu nanti Mutanya marah lho, dia kan agak sensitif orangnya!"

__ADS_1


Ucap Dion sambil merangkul kedua wanita kesayangannya.


"Iya Mama tahu, secara kamu kan yang lebih tahu Mita dibanding Mama!"


Ucap Mama mertuanya dengan mata mulai berembun.


"Lho kok Mama nangis?


lagian bukan salah Mama sampai harus terpisah dengan Mita, karena Mita bilang ke aku kalau Mama sudah maksa maksa tapi dianya yang enggan untuk ikut, dia terlanjur cinta sama negara Indonesia!"


Ucap Dion menenangkan wanita yang selama ini memendam rindu untuk putri satu satunya.


"Makasih nak, udah jagain putri Mama selama ini!"


Ucap wanita sambil memeluk Dion layaknya anak sendiri.


"Iya, dan mulai sekarang Mama tidak perlu takut lagi, kalau misalnya Mama kangen tinggal telpon, Dion bakal bawa dia menemui Mama!"


Mereka semua tertawa bahagia, Dion sangat bersyukur memiliki orang tua dan mertua yang begitu baik, tidak menuntut seorang menantu yang perfek menurut versi mereka sendiri.


Mereka makan siang walau sudah lewat jam makan siang dengan nikmat.


Bercerita tentang pengalaman hidup masing masing, dan mengenang pahit manis perjuangan mereka sampai bisa berada di titik seperti sekarang.


Orang tua Dion sukses dengan bisnis restorannya, dan begitu juga orang tua Mita yang menjadi pengusaha sukses di Sidney.


Malam pun menjelang, Dion pamit ingin melihat istrinya, tak lupa membawa makanan karena tak secuil pun makanan yang masuk ke perut Mita sejak pagi.


Dilihatnya Mita sudah terbangun dan sedang bermain dengan ponsel miliknya.


"Sayang, udah bangun ya?


ayo makan dulu!"


Ucap Dion sambil meraih ponsel di tangan istrinya dan mulai menyuapinya dengan tulus.


Setelah makan Dion membereskan bekas makan Mita.


Ayo mandi, biar kepalamu ringan!"


ucapnya mengelus lembut pipi wanita itu.


Mita memegang tangan suaminya,


"kak, maaf semalam.....!"


Dion menelan dengan susah payah salivanya, bagaimanapun dia adalah pria normal, dan Mita paham dengan itu.


Dia sengaja memberikan jalan kepada Dion, dia tahu apa kewajibannya sebagai istri.


Bak gayung bersambut, Dion merasa Mita telah siap untuk menjadi istri yang sesungguhnya.


Dengan perlahan Dion mulai melancarkan aksinya dengan penuh kelembutan, tak ada kekerasan, sehingga Mita tidak begitu merasakan kesakitan walau miliknya dikoyak, karena Dion memperlakukannya dengan sangat lembut.

__ADS_1


Hanya ******* manja yang terdengar dari mulut keduanya, sampai akhirnya mereka bisa berada di puncak nirwana bersama.


__ADS_2