Suamiku Kakak Sepupuku

Suamiku Kakak Sepupuku
Bab 96


__ADS_3

Zerena melipat mukena yang tadi dipakai untuk shalat, lalu merapikan kembali pakaiannya, kemudian bergabung kembali bersama teman temannya yang lain.


Terlihat mereka sedang menikmati minuman botol, entah siapa yang berinisiatif untuk memesannya, atau mungkin membeli langsung di kantin Rumah sakit.


Di meja masih tersisa satu botol, Mita menunjuk ke meja, agar Zerena mengambilnya.


Zerena meraih botol dan memperhatikan kemasannya, karena masih tersegel dengsn baik, diapun membuka segel penutupnya dan mulai meneguk minuman botol itu.


Sementara di kejauhan, sepasang mata sedang memperhatikannya dengan senyuman penuh kemenangan.


"Yes, berhasil!


malam ini kau akan menjadi milikku selamanya, pria mana yang sudi menerima istrinya kembali, setelah melakukan malam panas bersama pria lain!"


Ternyata dia adalah Dokter Alief, dan minuman yang sedang diminum habis oleh Zerena adalah minuman yang telah ia suntikkan sesuatu di dalamnya.


Satu jam sebelum kejadian:


"Dokter Ryan memberikan satu kantong plastik minuman dingin kepada seorang pelayan kantin, lalu menyelipkan beberapa lembar kertas merah, membuat siapapun yang menerimanya pasti akan senang.


Kemudian menyuruh pelayan itu, membagi bagikan kepada tim kesehatan berada di ruangan A, pelayan itu menurut saja.


Tapi ada satu minuman yang khusus dan harus dia berikan kepada seorang Dokter magang yang bernama Zerena, dan kalau ia berhasil, dia akan mendapatkan 2x lipat dari yang ia terima sekarang.


Dengan semangat juang 45, pelayan itu mau saja, menuruti permintaan Dokter gesrek itu, tanpa berpikir panjang, yang baginya uang.


cukup untuk membayar kontrakannya beberapa bulan ke depan.


Dan sampailah sekarang minuman itu di tangan Zerena dan masuk ke dalam tubuhnya."


Semuanya bersiap siap untuk segera pulang, begitu pula dengan Zerena, dia berjalan sambil memegang lengan Mita karena tiba tiba kepalanya terasa pusing.


"Kamu kenapa Ren?"


Tanya Mita mulai tegang, melihat sahabatnya itu.


"Aku cuma pusing kok Mit, antar aku ke depan, Kak Ryan masih di jalan pas aku chat tadi, biar aku nunggunya di bangku besar di depan Rumah sakit!"


"Aku anterin aja deh, kamu ngapain disana sendiri, ntar kamu kenapa Napa lagi!"


Ucap Mita masih kekeh ingin mengantarnya.

__ADS_1


"Jangan Mit, nanti suami aku kecewa, dia udah capek capek ke sini, tapi akunya malah pulang duluan!"


Zerena pun tetap dengan pendiriannya ingin menunggu suaminya dan sebagai gantinya Zerena ikut mobil Mita, sampai di depan tempat yang ia janjikan kepada Ryan, dan menunggu di sana.


Zerena turun saat mobil berhenti di bangku yang ia maksud, Mita ikut turun tapi Zerena menahannya,


"kamu pulang aja, sebentar lagi Kak Ryan sampai kok, lagian aku nggak apa apa, Ok!"


Mita tidak sampai hati meninggalkan gadis berhijab itu sendiri di sana, walau banyak suster dan perawat yang berlalu lalang, karena pergantian jam kerja.


"Pulang sana!"


Zerena setengah berteriak mengusir Mita, membuat Mita kaget lalu kembali mengemudikan mobilnya setelah memastikan Zerena baik baik saja.


Beberapa menit setelah kepergian Mita, Zerena merasakan ada yang aneh pada tubuhnya, tubuhnya seperti terbakar karena kepanasan.


Bukan panas api tapi sesuatu yang lain, Zerena memegang tengkuknya, dan mulai berkeringat dingin.


Dokter Alief yang dari tadi berdiri tak jauh dari tempatnya, sekarang tersenyum menyeringai, ternyata umpannya berhasil, ikan masuk dalam jebakan.


Dia berjalan santai bak seorang pangeran dari kubangan lumpur.


"Dia menyentuh ujung hijab Zerena, Zerena yang merasa ada yang menyentuh mundur.


otak warasnya masih bekerja, belum sepenuhnya dipengaruhi iblis yang menggoda melalui minuman tadi.


"Kau mau apa, sudah kukatakan kita bukan muhrim, dan jangan coba coba menyentuhku!"


Zerena berteriak, karena Dokter Alief yang kini mulai kurang ajar, bahkan mengelus pipinya, membuat bulu kuduknya merinding.


karena jujur saja sentuhan itu membangkitkan gairahnya.


Zerena terus beristighfar di dalam hatinya, berharap semuanya akan baik baik saja, dia tidak ingin berakhir seperti dalam cerita cerita Novel yang sering ia baca.


Dengan setengah kesadarannya dia bangkit dan berdiri, Alief menahannya dengsn memegangi lengannya, tapi sekuatnya dia menghempaskan tangan pria itu.


"Tolong lepaskan saya, saya mau pulang!"


Ucapnya mulai menangis sesegukan, dia terus melangkah tertatih berusaha menjauh dari jangkauan Dokter Alief, tapi usahanya nihil.


Dokter Alief terus mengikutinya.

__ADS_1


Zerena sudah tidak sanggup lagi melangkahkan kakinya, seluruh tubuhnya bergetar hebat, tubuhnya merosot ke tanah, dia memeluk tubuhnya sendiri, berharap bisa membuatnya lebih baik.


Sekarang ia memeluk lututnya, dengan kepalanya bertumpu di lutut tersebut, dia menangis sejadi jadinya,


"Ya Allah berikan pertolonganmu, hamba pasrah kepadamu, hidup dan matiku ada di tanganmu ya Allah.


Tapi untuk saat ini, bila memang ada pilihan untuk hamba maka berikanlah kematian, walau pedihnya seperti tertimpa bumi beserta isinya, daripada hamba harus melakukan zina ya Allah!"


Zerena terus bergumam dalam Isak tangisnya, mengharap sebuah pertolongan, tubuhnya sudah lemas tak bertenaga, karena melawan hasrat yang bergelora.


Alief tersenyum melihat mangsanya sedang tidak berdaya, membayangkannya saja sudah membuatnya begitu bahagia, meniduri istri Ryan Sanjaya, adalah rekor terbaik yang harus diberikan penghargaan.


Karena jangankan menyentuhnya, melihatnya saja akan membuat sang pemilik murka, apalagi Alief yang sebentar lagi akan memasuki tubuh istri Ryan, "owww nikmatnya!"


batin Dokter Alief.


Dia sudah menyiapkan segalanya dengan baik, kamera kamar yang nyaman untuk adegan mesumnya nanti, dan kamera untuk merekam kegiatannya, karena setelah ini dia akan menyebarkan video mesumnya itu keseluruh media di kota ini.


Dia yakin setelah ini Ryan pasti akan membuang istrinya, dan dia akan dengan senang hati, menerima Zerena apa adanya, tanpa harta sekalipun.


"Kita akan hidup sederhana sayang, dikampung!


karena setelah ini aku tidak mungkin menjadi dokter lagi, kita akan bertani untuk kebutuhan kita sehari hari."


Dokter Alief terus mengkhayal, melihat wanita di depannya begitu tersiksa karena perbuatannya.


"Allah humma sholli ala sayyidina Muhammad wa' ala Ali sayyidina Muhammad!


Astaghfirullah, Astaghfirullah, Astaghfirullah!"


Zerena terus membaca istighfar dan shalawat dalam hatinya, perlahan kesadarannya mulai semakin berkurang, pria di depannya sudah tidak ada lagi, tapi berganti wajah suaminya yang tampan.


"Kak Ryan, tolongin aku Kak, aku takut Kak, aku kepanasan!"


Ucapnya merentangkan kedua tangannya ke arah Dokter Alief, karena mengira pria itu adalah suaminya yang datang untuk menolongnya.


Dokter Alief tertawa kecil, dengan mudahnya wanita ini bahkan menyerahkan diri untuk dia terkam.


Perlahan dia mendekat dan mengulurkan kedua tangannya untuk membantu Zerena berdiri,tetapi belum sempat dia menyentuh tangan wanita di depannya, tiba tiba sebuah pukulan berat mendarat di wajahnya, seperti tertimpa besi satu gerobak, Dokter Alief terjungkal ke belakang, dan tubuhnya menimpa sebuah pohon yang tumbuh di sekitar tempat itu.


Membuat yang melihatnya pasti kasihan, melihat pohon yang baru beberapa bulan di tanam dan baru setinggi dada manusia dewasa , kini harus roboh, karena tak kuat menahan beban pendosa seperti Dokter Alief.

__ADS_1


__ADS_2